Tante Melinda

Tante Melinda
Tawaran Kemarin


__ADS_3

Pagi ini, di rumah ibunya Linda.


"Nang. Kamu ada rencana ke mana, setelah wisuda besok?" tanya Linda, di saat adiknya itu, membantunya untuk mengeluarkan sepeda motor dari dalam rumah.


"Belum tahu Mbak." Danang menjawab pertanyaan dari Linda, dengan wajah datar.


Dia memang belum tahu, ke mana setelah lulus dari kuliah ini. Karena pekerjaan yang dia lakukan selama ini, hanya membantu orang-orang yang membutuhkan tenaganya.


"Tapi kemarin ada teman yang menawari untuk kerja di kota Mbak." Danang kembali berkata, melanjutkan kalimatnya yang tadi.


"Oh... tapi, apa tidak kasian dengan ibu dan bapa, jika kamu tinggal?" tanya Linda lagi. Yang memikirkan bagaimana dengan ibu bapaknya jika di tinggal ke kota sama Danang.


"Ya bagaimana lagi?" tanya Danang balik.


Dia juga tidak mau meninggalkan rumah. Tapi jika tidak ada pekerjaan yang sesuai, mau tidak mau, dia harus mencari pengalaman baru di kota. Di mana dia akan bisa mengembangkan kemampuannya, sesuai dengan apa yang dia pelajari selama ini.


"Kamu mau gak kerja di pabrik Mbak? Syukur-syukur kalau bisa dapat kerjaan di office."


"Mau Mbak. Sayangnya, cowok itu susah melamar pekerjaan di pabriknya Mbak itu. Teman-teman SMA Danang banyak yang tidak di terima," jawab Danang, yang terlihat jelas jika sedang cemas.


Mungkin dia merasa takut jika, pada saat melamar pekerjaan di pabrik tersebut tidak diterima. Sama seperti nasib beberapa temannya.


Dari penjelasan yang diberikan oleh Danang, beberapa teman cowok yang masuk, mereka dimintai uang pelicin oleh seseorang.


Berbeda dengan cewek. Mereka dengan mudah diterima oleh pihak perusahaan. Yang penting memenuhi persyaratan yang di minta sebagai lampiran untuk berkas lamaran yang diajukan.


Entah apa yang membedakan antara cewek dan cowok, di mata perusahaan. Karena, para pekerja di pabrik tersebut, memang lebih banyak cewek dibandingkan dengan cowok.


Dan ternyata, itu bukan hanya ada di pabrik tempat Linda bekerja. Tapi di semua pabrik. Terutama garmen.


Dalam dunia kerja, tak bisa dimungkiri bahwa karyawan wanita memang lebih detil, berkonsentrasi, dan lebih rapi dalam merealisasikan strategi pencapaian target produksi.


Selain itu, karyawan wanita juga dikenal memiliki kepribadian yang tidak gegabah dalam mengambil keputusan. Lenih banyak berpikir dan teliti.


Reputasi baik tersebut, bisa jadi karena sedari kecil perempuan diajarkan untuk selalu menghormati dan menghargai kaum pria.


Jadi, ketika wanita tumbuh dewasa, mereka berkembang menjadi sosok yang lebih sabar, teliti, dan pendengar yang baik. Tapi siapa yang sangka. Ternyata sifat-sifat feminin tersebut justru membawa mereka menjadi lebih bersinar di dunia kerja, di banding dengan para pria.

__ADS_1


Lagipula, wanita lebih mudah di atur dan tidak banyak protes.


Mungkin dari sifat dasar ini juga, yang membuat perusahaan memilih mengutamakan untuk merekrut karyawan cewek, di banding dengan menerima karyawan cowok.


"Iya sih Nang. Emang lebih susah cowok di banding cewek. Tapi nanti Mbak coba tanya ke bagian HRD saja. Semoga saja ada," tutur Linda, membenarkan perkataan yang diucapkan oleh adiknya, Danang.


"Iya Mbak. Syukur jika ada. Danang gak usah ke kota, dan meninggalkan ibu serta bapak sendiri di rumah."


"Mbak juga kerja. Punya rumah sendiri. Jadi gak bisa sering ke sini juga," kata Danang, yang menyetujui untuk dicarikan pekerjaan di perusahaan yang sama dengan Linda.


"Ya sudah. Kamu fokus dengan wisuda Kamu saja dulu."


Danang mengangguk mengiyakan perkataan Linda. Kemudian membersihkan bagian-bagian tertentu motor miliknya Linda. Supaya tidak terlalu kotor saat di bawa pergi kerja.


"Erli Sayang!"


Linda kembali masuk ke dalam rumah, dengan memanggil nama anaknya. Yang saat ini sedang sarapan bersama dengan Simbah kakungnya.


"Aja apa Ma? nyam nyam nyam..." tanya Erli, yang masih menguyah makanan yang ada di dalam mulutnya.


"Kalau makan, apalagi menguyah jangan sambil bicara. Nanti tersedak!" Linda memperingatkan anaknya.


"Hehehe... iya-ya."


Linda terkekeh geli, menyadari jika dia yang sudah menyebabkan Erli berbicara pada saat makan.


"Sarapan dulu Lin!"


Ibunya Linda, muncul dari arah dapur. Dia menawari Linda, untuk sarapan terlebih dahulu, sebelum berangkat bekerja.


"Iya Bu. Tapi ini gak sempet, udah jam segini. Takutnya macet nanti di jalan. Jadi telat masuk."


Linda menolak tawaran ibunya, untuk sarapan terlebih dahulu sebelum berangkat. Dia tidak ingin terjebak kemacetan lalu lintas di pagi hari. Karena sekarang ini, jalanan di daerahnya ini selalu macet pada pagi dan sore hari. Di jam masuk dan pulang kerja para karyawan pabrik.


"Nanti mas Ferry datang untuk menjemput Erli Bu. Tapi mungkin agak siangan atau menjelang sore. Jadi Linda gak balik ke sini. Langsung pulang ke rumah saja."


"Iya gak apa-apa Lin. Kamu hati-hati kerjanya! Itu nanti sarapan dulu ya!" Kata ibunya, memperingatkan Linda lagi.

__ADS_1


"Ya Bu."


*****


Di tempat parkir perusahaan.


"Mbak Linda," panggil seseorang, yang baru saja keluar dari dalam mobil.


Parkiran sepeda motor dengan mobil, memang berbeda. Tapi Linda harus berjalan melewati parkiran mobil. Jika berjalan dari parkiran sepeda motor ke pintu masuk perusahaan.


Jadi, jika ada seseorang yang mengenalnya, pasti akan ditegur juga.


Begitu juga dengan Linda. Jika dia merasa kenal dengan seseorang, yang keluar dari dalam mobil, dia akan menegurnya, sebagai bentuk sapaan ramah tamah saja.


Dan lagi ini, ada seseorang yang memanggil namanya.


"Pak Yus. Selamat pagi," ucap Linda, saat tahu siapa orang yang tadi menyapa dirinya.


"Makin cantik aja nih Mbak Linda. Hehehe..." pak Yus berkata dengan memuji.


"Hehehe... pak Yus bisa saja."


"Oh ya Mbak Linda, katanya mau dipromosikan menjadi asisten manager ya?" tanya pak Yus, yang membuat Linda mengerutkan keningnya.


Linda bingung dengan perkataan pak Yus. Dia kemarin menolak tawaran pak Rudi, yang memintanya untuk mengantikan Bu Wiwin. Tapi kenapa pagi ini pak Yus justru bertanya kepada dirinya tentang hal itu. Ini membuat Linda jadi merasa tidak enak hati. Seandainya Bu Wiwin sampai mendengarnya.


"Pak Yus dengar dari mana?" tanya Linda ingin tahu.


"Semalam, kebetulan Saya sedang makan bersama teman. Eh, ketemu pak Rudi. Jadilah ngobrol ngalor ngidul. Dan dari obrolan tersebut, pak Rudi kasih tahu jika dia ingin mempromosikan Mbak Linda."


Sekarang, Linda semakin bingung. Sebab, pak Rudi tahu jika dia menolak tawaran tersebut. Tapi kenapa cerita-cerita ke orang lain juga.


"Tapi, masih ada Bu Wiwin pak Yus?"


"Hahaha... itu gampang di atur mbak Linda," sahut pak Yus, sambil terkekeh kecil.


Linda tidak tahu, bagaimana harus bersikap. Karena dia juga tidak mau jika, ada orang-orang yang semakin memojokkan dirinya, sebagai orang yang memanfaatkan kesempatan.

__ADS_1


Sekarang ini saja, dia sudah banyak yang tidak suka. Baik dari orang-orang yang ada di dekatnya, ataupun dari orang-orang yang hanya mengenal dirinya dari kata orang.


Hal yang belum tentu benar, bisa menjadi benar. Dan semua itu dari kata orang.


__ADS_2