Tante Melinda

Tante Melinda
Cukup Tahu


__ADS_3

Dua bulan kemudian.


Kehidupan berumah tangga Linda, kembali membaik. Tidak ada kata-kata yang kasar, yang keluar dari mulut polisi Ferry untuknya.


Suaminya itu, juga tidak pernah lagi mengamuk. Apalagi, selama dia mendapatkan skorsing dari kantor.


Satu bulan di rumah, polisi Ferry juga ikut membantu pekerjaan Linda, untuk berberes rumah mereka. Dia juga mau ikut menjaga anaknya, yang mulai bisa merangkak.


Linda pun akhirnya ikut merasakan kebahagiaan, dan mulai percaya lagi pada suaminya itu.


Dia berpikir jika, kehidupannya akan kembali membaik, meskipun nanti, di saat suaminya itu sudah kembali aktif bekerja, jabatannya akan diturunkan.


Dan bisa jadi, suaminya itu akan dipindahtugaskan ke kantor polisi kota lainnya.


Linda hanya bisa pasrah, dengan apa yang terjadi pada suaminya saat ini.


Meskipun ada juga kekhawatiran dalam hatinya Linda, dengan keadaan dirinya dan juga suaminya nanti, jika apa yang menjadi perkiraan tersebut benar adanya.


"Dek. Jika Mas pindah tugas, Adek juga ikut ya," kata polisi Ferry, pada Linda.


"Apa itu sudah ada surat keputusan untuk pindahnya Mas?" tanya Linda, yang masih merasa belum siap, jika harus jauh dari desanya.


Linda berpikir jika, ada sesuatu yang terjadi, misalnya sama seperti yang terjadi kemarin-kemarin, dia akan lebih sulit untuk mencari pertolongan dan tempat berlindung.


Meskipun sebenarnya, Linda sangat berharap supaya, suaminya itu benar-benar berubah dan tidak lagi sama seperti dulu.


"Belum. Surat pindah akan datang satu minggu sebelum Mas aktif lagi. Ini cuma seandainya saja kok," jawab polisi Ferry menjelaskan.


"Terus... rumah ini bagaimana Mas?" tanya Linda ragu.


"Kita sewakan, atau jual. Gak apa-apa kan? kita bisa beli lagi di tempat yang baru."


Linda terdiam, mendengar jawaban yang diberikan oleh suaminya itu.


"Terserah Mas saja. Yang penting, semuanya baik-baik saja ke depannya nanti."


"Iya Dek. Terima kasih ya, sudah mau memberikan kesempatan untuk Mas. Janji deh, gak akan ngulang lagi," ujar polisi Ferry, sambil memegang dan menepuk-nepuk punggung tangan istrinya, Linda.


Linda hanya mengangguk dan tersenyum, mendengar perkataan yang diucapkan oleh suaminya itu.


Sekarang, Linda mau memindahkan anaknya yang sedang tertidur ke box bayi. Anaknya itu ketiduran, setelah lama bermain-main , di dekat suaminya, yang sedari tadi memang menjaga anaknya itu.

__ADS_1


"Dek," panggil polisi Ferry, di saat Linda sudah selesai memindahkan anaknya.


"Ya Mas."


Linda mendekat ke tempat duduknya polisi Ferry, kemudian dia duduk di samping suaminya itu.


"Maaf ya, mobil kita harus dijual, untuk denda bayar denda."


"Tapi Mas janji, akan beli mobil lagi nanti, jika keadaan kita sudah membaik lagi," imbuh polisi Ferry, saat memberitahu pada istrinya, Linda, jika dia sudah menjual mobilnya.


'Pantas saja, Aku tidak lihat mobilnya di garansi,' batin Linda yang memang tidak bertanya, ke mana mobil yang ada di rumah.


Sebenarnya, mobil itu punya polisi Ferry sendiri, sebelum dia menikah dengan Linda. Rumah ini, juga milik polisi Ferry.


Rumah ini dibeli, beberapa bulan sebelum pernikahan mereka dilangsungkan.


Meskipun sebenarnya, polisi Ferry tidak yakin jika, Linda pada akhirnya memilih dirinya sebagai seorang suami.


Tapi karena beberapa temannya memberikan saran, untuk membeli rumah terlebih dahulu, akhirnya polisi Ferry pun mengikuti saran dari teman-temannya.


Dan begitulah akhirnya, polisi Ferry bisa mengajak isterinya, Linda, yang baru saja dia nikahi, untuk pulang ke rumahnya sendiri.


Mereka berdua, tidak perlu tinggal di rumah mertua, orang tuanya Linda, atau hidup di asrama polisi, yang ada di dekat kantor, tempat tugasnya polisi Ferry.


Linda pun akhirnya memberikan jawabannya, atas pertanyaan suaminya tadi.


Meskipun sebenarnya, Linda juga sudah mendengar beberapa rumor bahwa, rumah yang dia tempati saat ini, sudah digadaikan oleh suaminya juga.


Linda menunggu suaminya itu untuk bercerita. Tapi ternyata, hanya mobil yang di bahas.


Mungkin, polisi Ferry tidak mau membuat istrinya itu semakin pusing dan juga bingung, jika tahu kebenaran tentang rumahnya ini.


'Padahal seandainya dia bercerita pun, Aku tidak akan marah. Ini rumahnya sendiri. Aku hanya ikut menempati, di saat sudah menjadi istrinya. Aku tidak ada hak juga untuk marah.'


Tapi, sepertinya polisi Ferry tidak mau membahas tentang rumahnya ini.


"Ya sudah. Ayo kita juga harus tidur. Besok, Mas mau ke penggilingan padi. Katanya, ada tempat kosong. Mungkin, Mas bisa buat usaha di sana."


Linda mengerutkan keningnya, mendengar perkataan yang diucapkan oleh suaminya itu.


Sebenarnya Linda tahu jika, suaminya itu banyak sekali usahanya, di luar tugasnya sebagai seorang polisi.

__ADS_1


Tapi karena dia tidak fokus, dan ada saja kelakuannya, usahanya itu tidak menghasilkan apa-apa.


Polisi Ferry suka berjudi.


Dan karena hobby judinya itu, kejadian pemukulan terjadi. Dan korbannya, meminta ganti rugi yang cukup besar, untuk tutup mulutnya.


Meskipun sebenarnya, kejadian itu tidak mungkin bisa ditutup-tutupi juga. Karena banyak sekali, orang yang melihat dan mengetahui kejadiannya.


Polisi Ferry pun akhirnya tidak bisa mengelak lagi, dan menerima syarat dari orang tersebut, untuk sejumlah uang untuk ganti rugi.


Sekarang, tinggalkan satu motor biasa, yang ada dj rumah, dan digunakan untuk keperluan kendaran polisi Ferry sehari-hari.


Dan Linda, hanya bisa pasrah saja, karena tidak bisa melakukan apa-apa untuk bisa mendapatkan penghasilan tambahan, untuk keluarga kecilnya.


Dia sudah tidak lagi bekerja. Dan sekarang, ada anaknya yang masih bayi, yang harus dia jaga juga.


*****


Di kota besar, Romi yang sedang patah hati, saat Linda memutuskan untuk pulang dan menikah dengan polisi Ferry, tidak pernah tahu jika, apa yang terjadi pada dirinya, ada sangkut pautnya dengan calon suami dari kekasihnya itu.


preman-preman yang datang mengacaukan bengkel las miliknya, adalah orang-orang suruhan teman dari polisi Ferry sendiri.


Polisi Ferry memang langsung bertindak, saat tahu, siapa kekasih Linda. Gadis yang ingin dua nikahi.


Itulah sebabnya, Romi tidak bisa pulang ke desa, karena uang yang terkumpul, dirampas oleh para preman, yang katanya menjaga keamanan di daerahnya itu.


Romi memang belum begitu paham dengan wilayah barunya. Apalagi, daerah ini termasuk daerah yang cukup ramai, karena bukan di pinggir kota.


Tapi sepertinya, Romi tidak bisa melepaskan diri dari Linda.


Dia masih saja mencari tahu, bagaimana keadaan mantan kekasihnya itu, dari adiknya, yang saat ini sudah kuliah.


Dan adiknya Linda, ternyata juga kuliah di tempat yang sama, seperti adiknya Romi.


Tapi, karena sama-sama cowok, mereka juga bisa berteman dengan baik, meskipun beda tingkatan.


Dari adiknya Linda inilah, adiknya Romi sedikit banyak tahu tentang keadaannya Linda sekarang.


Baik di saat Linda sedang berbahagia, atau sedang dalam keadaan seperti sekarang ini.


Saat keadaan keluarganya di ambang kehancuran.

__ADS_1


Namun, Romi hanya bisa diam dan cukup tahu. Meskipun sebenarnya, dia juga tidak tega melihat keadaan Linda yang jauh dari kata baik-baik saja.


__ADS_2