
Linda masih berada di rumah sakit, untuk menunggui bapaknya. Bersama dengan ibunya juga.
Sedangkan suaminya, Ferry, pulang terlebih dahulu bersama dengan adiknya, Danang.
"Linda mau resign dari kerjaan Bu."
Tiba-tiba, Linda berkata hal yang tidak pernah disangka-sangka oleh ibunya sendiri. Karena selama ini, tidak ada keluhan apapun yang dilakukan oleh Linda. Terkait pekerjaan yang dia lakukan di perusahaan sepatu tersebut.
"Kenapa?"
Linda tidak langsung menjawab pertanyaan tersebut. Dia menghela nafas panjang, kemudian membuangnya perlahan-lahan sebelum membuka mulutnya untuk bicara.
"Linda sudah tidak nyaman."
Jawaban yang diberikan oleh Linda, membuat ibunya bingung. Karena dia memang tidak tahu, bagaimana keadaan di pabrik sepatu. Tempat di mana Linda bekerja.
"Maksudnya tidak nyaman bagiamana?"
Suasana hening sejenak, sebelum akhirnya Linda membuang nafas kasar.
"Hahhh!"
Ibunya menatap anak perempuannya itu, dengan wajah bingung. Selama ini, dia memang kurang memperhatikan kondisi anaknya sedari kecil. Itulah sebabnya, dia tidak pernah tahu. Bagaimana keadaan hati dan pikirannya Linda selama ini.
Apalagi, Linda juga tidak pernah mengeluhkan apa-apa. Anaknya ini selalu terlihat baik-baik saja, di balik wajahnya yang cantik sedari kecil.
Akhirnya ibunya Linda sadar. Jika dia tidak bisa memahami bagaimana keadaan anak-anaknya.
Kehidupan keluarga mereka yang kurang mampu, membuatnya harus berpikir untuk bisa mendapatkan uang. Agar bisa membantu perekonomian keluarga tetap bisa, berjalan dengan baik.
Dia dan suaminya, kurang memperhatikan kondisi kejiwaan anak-anak mereka sendiri.
Mungkin hal ini, juga terjadi pada sebagian besar keluarga kelas bawah. Yang hidup dalam keadaan sulit. Sehingga hanya bisa berpikir, bagaimana caranya tetap bisa bertahan hidup. Dari uang untuk bisa memenuhi kebutuhan hidup mereka.
__ADS_1
Pemikiran ini juga sudah menjadi hal yang lumrah untuk sebagian masyarakat pada umumnya.
Suami istri bekerja seharian. Sedangkan anak-anak mereka, hanya diserahkan kepada pengasuh atau pihak penitipan anak. Dengan mengandalkan uang mereka untuk membayar jasa tersebut.
Tapi yang terabaikan justru kondisi mental kejiwaan anak tersebut. Yang merasa kurang kasih sayang, kepercayaan pada diri sendiri dan problematika yang akan muncul di kemudian hari.
Apalagi jika kesibukan kedua orang tua mereka, justru berakibat fatal. Dengan terjadinya sebuah perpisahan, atau perceraian kedua orang tuanya.
Dilema umum yang terjadi, untuk kondisi masyarakat di jaman sekarang. Dengan adanya tuntutan terhadap kebutuhan hidup, yang semakin menanjak.
"Apa Kamu ingin mengurus Erli sendiri?"
"Maksud Ibu, Kamu ingin menjadi ibu rumah tangga biasa di rumah? Mengurus anak dan suami Kamu, sama seperti dulu?" tanya ibunya Linda, mencoba untuk menebak apa yang sebenarnya dipikirkan oleh anaknya itu.
Tidak ada jawaban yang diberikan oleh Linda, saat ibunya memberikan pertanyaan tersebut.
Dia hanya diam saja, tanpa memberikan menjelaskan pada ibunya. Terkait dengan rencananya untuk segera resain dari pekerjaannya yang sekarang.
Padahal menurut ibunya Linda, posisi jabatan yang dimiliki Linda sangat bagus. Gajinya juga sudah lumayan besar. Dan tentunya, Linda bisa memiliki koneksi yang bagus. Seandainya ada anggota keluarga, atau tetangga mereka. Yang ingin ikut masuk ke perusahaan tersebut.
Tapi sepertinya Linda sudah memikirkan hal ini masak-masak. Dia tidak mungkin gegabah, dalam memutuskan sesuatu. Apalagi ini berhubungan dengan perekonomian keluarganya sendiri.
Dulu, Linda sangat bersemangat untuk bekerja. Kata Linda, dia bisa membuktikan pada suaminya, si Ferry, jika dia tidak hanya bisa berpangku tangan saja. Tapi dia juga bisa menghasilkan uang. Bahkan jauh lebih besar daripada penghasilan dari suaminya dulu. Di saat suaminya itu masih bekerja sebagai seorang polisi.
Apalagi sekarang, Ferry hanya menjadi pedagang beras saja. Pasang surut keuangan pasti ada.
Untungnya, sekarang Linda bekerja. Dan ini juga yang ditakutkan oleh ibunya Linda, seandainya anaknya itu harus keluar dari pekerjaannya yang sekarang ini.
Kesulitan ekonomi, akan membuat Ferry stress. Sehingga membuat menantunya itu kembali ringan tangan. Dan ibunya Linda tentu tidak mau jika, hal itu terjadi lagi pada kehidupan keluarganya anaknya itu dikemudian hari.
"Lin," panggil ibunya Linda, di saat anaknya itu masih berdiam diri. Dan tidak mau mengatakan apa-apa.
"Tidak ada Bu. Linda hanya bosan dengan pekerjaan yang itu-itu saja."
__ADS_1
Akhirnya Linda mengelus-elus suara, meskipun sebenarnya, ibunya sangat yakin. Jika bukan seperti itu alasan yang membuat Linda ingin keluar dari pekerjaannya.
"Ya terserah Kamu Lin. Yang menjalani pekerjaan itu Kamu sendiri. Yang merasakan juga Kamu sendiri. Enak dan tidaknya, Kamu juga yang tahu. Jadi Semuanya juga terserah Kamu."
Mendengar perkataan yang diucapkan oleh ibunya, Linda hanya mengangguk saja. Dia tidak menambah atau mengatakan sesuatu, tentang keadaan yang sebenarnya dia pikirkan saat ini.
Beberapa saat kemudian, Linda menoleh ke arah bapaknya. Yang saat ini dalam keadaan tertidur.
'Pak. Linda tidak pernah meminta apapun pada Bapak. Tapi kali ini, Linda minta bapak kembali sehat ya! Linda masih ingin melihat bapak hidup bersama kami.'
Batin Linda mengucapkan banyak hal. Tapi tentu saja, itu hanya ada di dalam hatinya. Sama seperti biasanya.
Apa-apa hanya bisa Linda batin. Tanpa mau dia keluarkan, agar orang lain tahu. Bagaimana perasaan dan keadaan hatinya saat itu.
Linda tampak mengeluarkan handphone miliknya, yang ada di dalam kantong celananya.
Dia akan menghubungi pak Yus. Untuk meminta ijin, atau dibuatkannya permohonan cuti. Intuk beberapa hari kedepannya.
Dalam keadaan seperti sekarang ini, Linda juga tidak bisa mengabaikan tanggung jawabnya. Sebagai seorang supervisor begitu saja. Karena memang ada banyak sekali pekerjaan, yang seharusnya dia selesaikan untuk hari ini. Dan besok-besok nya juga.
Tapi sepertinya Linda tidak jadi menghubungi pak Yus. Karena ini sudah malam. Dan waktu untuk bekerja juga sudah selesai. Dia merasa tidak enak hati, jika harus menghubungi pak Yus di jam bebas tugas. Apalagi, hanya untuk membahas ijin atau cutinya saja.
Akhirnya Linda kembali memasukkan handphone tersebut, ke dalam kantong celananya.
Dia akan menghubungi pak Yus besok pagi. Atau bisa juga, dia akan meminta pada Danang. Supaya pergi bekerja, dan mengurus surat city yang dia butuhkan.
"Tadi Danang bilang tidak, jika balik ke rumah sakit lagi Lin?"
Tiba-tiba ibunya bertanya tentang adiknya. Yang hingga malam hari ini, belum juga datang ke rumah sakit.
"Tidak. Danang tidak bilang apa-apa Bu. Kenapa memangnya?" Jawaban yang diberikan oleh Linda, merupakan pertanyaan juga. Yang tidak bisa dijawab dengan cepat oleh ibunya.
"Ibu lapar?"
__ADS_1
"Biar Linda beli makanan ke luar dulu ya! mau dibelikan makanan apa?" tanya Linda, menduga-duga. Jika ibunya sedang merasa lapar.
Tapi ternyata dugaan Linda tidak benar. Karena ibunya mengeleng beberapa kali, untuk menjawab pertanyaannya yang tadi.