
Pagi hari, di saat toko belum buka, Linda sudah sampai. Dia duduk-duduk di depan, untuk menunggu kedatangan Bu Bos-nya, yang membawa kunci toko.
Beberapa saat kemudian, teman Linda yang lain, karyawan toko, datang juga.
"Hai Lin, udah datang aja pagi-pagi."
Salah satu dari mereka, menyapa Linda dengan akrab.
"Gak juga kok Mbak. Biasanya juga jam segini Linda datang." Tutur Linda, menyahuti sapaan akrab temannya itu.
Tak lama setelah itu, pemilik toko baju datang. Tapi bukan Bu Bos-nya, melainkan Pak Bos.
"Lho Pak Bos, ibu Bos mana?" tanya teman Linda yang lain, yang sudah lama bekerja di toko baju tersebut.
"Ibu pusing. Lagi ngidam," jawab pak Bos, memberitahu keadaan istrinya.
"Ohhh... Selamat pak Bos."
"Wah, nambah lagi anaknya Bos."
"Maunya cewek pa cowok Pak nanti lahirnya?"
"Hahaha... terima kasih semuanya," kata pak Bos, menanggapi perkataan dari anak buahnya itu.
"Kalau Bapak sih apa sajalah. Yang penting sehat dan normal." Pak Bos berkata lagi, menjawab pertanyaan dari salah satu pegawai toko baju miliknya.
Dengan dibantu oleh dua orang pegawai, Pak Bos membuka tokonya.
Crettt!
Crettt!
Crettt!
Clek!
Rolling door toko di buka satu persatu. Begitu juga pintu utama untuk masuk ke dalam toko, yang dibuka sendiri oleh Pak Bos.
Sekarang, semuanya sudah masuk, dan melakukan segala sesuatu, untuk membersihkan dan menempatkan baju-baju dagangan, yang ada di gantungan dan juga manekin.
"Lin," panggil pak Bos, yang melihat Linda berjalan dengan membawa salah satu manekin, untuk ditempatkan di luar toko, agar menarik perhatian pembeli.
"Ya pak Bos," jawab Linda, masih dengan membawa manekin tersebut.
"Kamu taruh dulu manekin itu, setelah itu baru ke sini."
"Oh iya. Iya Pak Bos."
__ADS_1
Akhirnya, Linda melakukan apa yang dikatakan oleh Bos-nya itu. Dan tak lama kemudian, dia sudah kembali ke depan meja kasir, di mana Pak Bos berada.
"Sudah Pak Bos. Ada yang bisa Saya bantu kerjakan?" tanya Linda, karena pak Bos hanya menunduk saja, dan tidak memberikan tugas apa-apa padanya.
"Kamu bantu Saya, mencatat pesanan baju-baju, yang akan dikirim minggu depan ke toko. Ini akan dikirim dari Jakarta. Jadi, jangan sampai ada kesalahan. Karena akan lama, jika harus memperbaiki."
"Iya Pak. Tapi..."
"Tapi apa?" tanya Pak Bos pada Linda, yang sepertinya ragu, untuk mengatakan apa yang dia ingin katakan.
"Saya... Saya gak bisa Pak Bos. Biasanya yang nulis siapa?" tanya Linda, dengan takut-takut, saat bertanya.
"Awalnya gak bisa, lama-lama juga bisa langsung Linda," sahut pak Bos, dengan mata berkedip-kedip.
Linda mengerutkan keningnya, memikirkan perkataan yang diucapkan oleh pak Bos-nya itu.
"Nanti Saya ajari. Sini!"
Dengan ragu, Linda melihat sekeliling, di mana teman-temannya yang lain, sedang sibuk sendiri. Mereka semua, mengerjakan pekerjaan masing-masing, yang memang seharusnya dikerjakan.
"Ayok sini!" ajak pak Bos lagi, dengan memelankan suaranya, agar tidak didengar oleh pegawai yang lain.
Linda mengigit bibirnya, karena merasa takut. Keringat dingin mengucur dari pelipisnya, tanpa Linda sadari.
Alam bawah sadarnya, memberikan peringatan berbahaya. Ini sama seperti waktu dulu, di saat malam pesta orkes dangdut.
"Ayo Lin sini. Buruan!"
Terdengar lagi suara pak Bos, yang memintanya untuk bisa lebih dekat dengannya.
Dan Linda semakin merasakan ketakutan yang luar biasa.
Selama beberapa hari terakhir, Linda memang merasa sangat senang, karena mendapat perhatian dari pak Bos-nya itu.
Bahkan, istrinya pak Bos, ibu Bos-nya, merasa cemburu, dan sering marah pada Linda.
Dan Linda merasakan kebahagiaan serta kepuasan tersendiri, dengan apa yang dia rasakan dengan sensasi yang berbeda, karena mendapatkan perhatian dan kecemburuan sekaligus, dari dua orang.
Padahal jika malam hari, Linda menyadari semua itu salah. Tapi jika pagi hari, dia lupa dan terus menerus mencari-cari cara, bagaimana agar bisa mendapatkan perhatian khusus dari pak Bos-nya, sehingga ibu Bos, akan merasa marah.
Tapi kini, di saat ada kesempatan untuk bisa mendapatkan perhatian khusus dari pak Bos-nya itu, tanpa sepengetahuan dan gangguan dari ibu Bos-nya, Linda justru merasakan ketakutan itu.
Hal yang sama sekali tidak dia harapkan, karena dia akan sangat merasa bersalah.
"Lin," panggil pak Bos, dengan memegang tanganya.
Linda dengan cepat menepis tangan pak Bos, yang bermaksud untuk memegangi tangannya. Dan ini membuat pak Bos jadi semakin penasaran, dengan Linda.
__ADS_1
"Linda, diam. Atau nanti teman-teman Kamu curiga."
Akhirnya, Linda benar-benar tidak bisa melakukan apa-apa, selain diam dan melakukan apa yang diminta oleh pak Bos padanya.
Tapi lama-kelamaan, Linda jadi kelabakan dan terlena, dengan apa yang dilakukan Pak Bos padanya.
Linda merasa sangat heran, karena dia jauh lebih merasa puas, saat ada orang lain yang membantunya melakukan, apa yang biasanya dia lakukan sendiri, di dalam kamar.
"Bagaimana, enak kan?" tanya Pak Bos, di belakang Linda, dalam jarak yang aman.
Tanpa bisa menjawab, dan mengeluarkan suaranya, Linda hanya bisa mengangguk mengiyakan saja.
Deru nafas Linda, masih belum bisa stabil. Dia merasa letih, tapi juga puas.
"Besok-besok, bisa kita lakukan lagi. Dan Kamu tidak perlu takut jika akan hamil."
Perkataan pak Bos, membuat Linda tersenyum dengan samar.
Meskipun Linda merasa senang, tapi dia juga merasa ketakutan, seandainya ketahuan oleh orang lain. Apalagi, jika sampai Bu Bos tahu, apa yang terjadi antara dirinya, dengan pak Bos.
*****
Hari berganti hari, tak terasa, Linda sudah hampir tiga bulan bekerja di toko baju tersebut.
Dan selama sebulan terakhir ini, Linda jadi semakin dekat dengan pak Bos.
Apalagi, Bu Bos juga sering tidak datang ke toko, karena kehamilannya itu, membuatnya harus banyak beristirahat di rumah saja.
Tapi sepertinya, lama kelamaan, apa yang terjadi antara Linda dengan pak Bos, di ketahui oleh teman-temannya yang lain.
Mereka semua, sering kali membicarakan tentang hal itu, di belakang Linda, ataupun Pak Bos dan ibu Bos mereka.
Linda menjadi tidak nyaman, dan berniat untuk keluar dari toko baju, tempatnya bekerja.
Dia juga sudah bosan dan jenuh, dengan rutinitas sehari-hari di toko tersebut, bersama dengan pak Bos-nya juga.
Tidak ada tantangan, yang bisa membuat Linda merasa tertantang.
Jadi, apa yang dirasakan oleh Linda awal-awal mendapatkan perhatian dari pak Bos-nya, juga berangsur-angsur hilang.
"Aku mau kerja apa ya?" gumam Linda, bertanya pada dirinya sendiri, dengan apa yang mungkin bisa dia kerjakan, selain bekerja di toko baju tersebut.
"Ah, Aku coba saja cari kerjaan di gudang kayu. Kan banyak itu, tak jauh dari pasar dan desa sebelah pasar."
Akhirnya, Linda memutuskan sendiri, jika besok dia akan pamit untuk keluar kerja, dan pergi mencari pekerjaan yang lainnya.
Yang menurut Linda, akan jauh lebih baik, dan dia bisa bebas dari pak Bos-nya, dan juga semua omongan teman-temannya.
__ADS_1
Dia juga tidak akan berurusan lagi, dengan ibu Bos, yang selalu cemberut, jika datang ke toko.