
Wajah Ferry pias. Dia terkejut mendengar cerita dan pertanyaan yang diajukan oleh bapak mertuanya itu, tentang kepergiannya di waktu bapak mertuanya itu pulang dari rumah sakit.
"Memangnya, siapa wanita itu nak Ferry?" tanya bapaknya Linda, mengajukan pertanyaan. Dari semua cerita yang tadi dia ceritakan ulang. Karena informasi dari tetangganya.
"Emh... itu, dia adalah..."
"Itu yang mengajak mas Ferry Pak. Orang yang meminta mas Ferry untuk me_nyupiri mobilnya ke luar kota. Karena suami dari wanita itu sedang sakit."
Linda muncul di belakang mereka berdua, dengan memberikan penjelasan kepada bapaknya. Dengan membantu suaminya itu, untuk menjawab pertanyaan yang tadi diajukan oleh bapaknya juga.
"Oh... berarti bukan pacarnya Ferry kan?" tanya bapaknya Linda dengan lugunya. Karena seperti itulah cerita yang dia dengar dari tetangganya, kemudian mulai menjalar ke mulut tetangga yang lainnya juga.
Wajah Ferry semakin pucat. Dia merasa tersindir, saat mendengar jawaban istrinya, dan juga perkataan yang diucapkan oleh bapak mertuanya itu.
"Gak lah Pak. Wanita itu memang sudah sering minta tolong pada mas Ferry. Jika suaminya sedang tidak sehat."
Bapaknya Linda mengangguk-anggukkan kepalanya, mendengar jawaban dan penjelasan yang diberikan oleh anaknya sendiri. Meskipun dia tidak tahu, jika anaknya itu sedang melindungi anak mantunya.
"Bapak sudah minum obatnya?" tanya Linda, yang memang sengaja mengalihkan perhatian bapaknya dari permasalahan Ferry.
"Sudah. Besok itu obat yang terakhir. Bapak sudah bosan minum obat terus Lin!" keluh bapaknya, sambil menggelengkan kepalanya beberapa kali.
"Ya harus Pak. Namanya juga mau sembuh. Besok biar Danang yang beli ke apotek. Gak usah bawa resep gak apa-apa. Yang penting itu bungkus obatnya dijadikan contoh bisa kok ke apotekernya."
Akhirnya Linda dan bapaknya, membicarakan tentang perihal sakit dan obat yang menang diperlukan bapaknya.
Sedangkan Ferry, hanya bisa diam mendengarkan saja. Karena dia juga tidak berani menyela. Dengan perasaannya yang masih was-was dan rasa bersalah campur aduk sedari tadi.
Tapi setidaknya dia merasa lega. Karena istrinya itu membantu dirinya untuk memberikan penjelasan kepada bapak mertuanya itu.
"Ya sudah, Bapak lebih baik istirahat saja. Tidur Pak," tutur Linda meminta pada bapaknya agar segera pergi tidur.
"Ya. Bapak pergi tidur dulu ya!"
Linda dan Ferry pun sama-sama menganggukkan kepalanya, mengiyakan perkataan bapaknya yang pamit untuk pergi tidur. Menyusul istrinya yang sudah tidur lebih dulu di dalam kamar.
Setelah beberapa saat kemudian.
"Dek. Terima kasih."
Linda mengalihkan atensinya dari layar kaca ke arah suaminya.
__ADS_1
"Terima kasih untuk apa Mas?" tanya Linda yang tidak paham dengan maksud ucapan suaminya barusan.
"Kamu... Kamu bantu Mas jawab pertanyaan dari bapak tadi Dek."
"Oh..."
Mulut Linda hanya membola, tanpa meneruskannya dengan kata-kata yang lain.
"Er_erli sudah tidur?" tanya Ferry, mencoba untuk mencari bahan pembicaraan. Yang bisa membuat mereka bisa berbicara dengan baik.
"Iya sudah."
Ternyata Linda hanya menjawabnya dengan jawaban yang pendek, tanpa ada sambungnya lagi.
"A_Aku tidur dulu ya Dek." Ferry pamit untuk pergi tidur. Menyusul anaknya yang sudah tertidur di dalam kamar.
Linda pun tidak mencegahnya. Dia hanya menganggukkan kepalanya, mengiyakan kata pamit yang diucapkan oleh suaminya tadi.
"Kamu gak tidur? Kamu kan tadi juga kerja lembur Dek, pasti capek. Tidurlah cepat!" Ferry mengingatkan pada istrinya itu, supaya segera pergi tidur juga.
"Iya Mas. Sebentar lagi."
Linda sendirian membuang nafas panjang, dengan memejamkan matanya, meskipun masih menghadap ke arah layar televisi.
Dia tadi sempat terkejut juga, di saat mendengar cerita dan pertanyaan yang diajukan oleh bapaknya. Yang ditujukan untuk suaminya.
Sebenarnya tadi Linda ingin menyusul bapak dan suaminya yang sedang menonton televisi. Tapi dia mengurungkan langkahnya, di saat mendengar suara bapaknya yang sedang berbicara dengan Ferry.
Itulah sebabnya, dia tahu kalau bapaknya sedang mengorek keterangan tentang mbak Nana. Wanita yang dilihat oleh tetangganya saat ada di pasar.
'Semoga tidak ada lagi berita-berita selanjutnya, tentang mas Ferry. Itu tidak baik untuk kesehatan bapak.'
Linda berharap agar bapaknya itu tidak mendengar suara-suara sumbang di luar rumah, untuk memberitakan tentang apa pun soal suaminya dan juga kehidupan rumah tangganya bersama dengan seorang mantan polisi, yaitu Ferry. Suaminya sendiri.
*****
"Berarti mas Kak Danang gak punya pacar?" tanya Della, yang saat ini sedang bersama dengan Danang.
Ternyata malam minggu ini, Danang sengaja janjian ketemu sama Della. Di sebuah taman, yang berada tak jauh dari kantor kecamatan.
Dengan dua minuman kaleng dan beberapa makanan ringan, mereka berbincang-bincang di taman tersebut.
__ADS_1
"Iya Del. Ngenes ya? Hahaha..."
Danang tertawa dengan miris. Mentertawakan keadaan dirinya sendiri. Yang memang belum pernah berpacaran dengan cewek manapun selama ini.
"Emhhh... kenapa Kak?" Della justru bertanya tentang alasan Danang, kenapa tidak berpacaran.
"Hahhh... gak ada yang mau Del."
Della menyipitkan matanya, mendengar jawaban yang diberikan oleh Danang.
Dia tentu saja tidak percaya begitu saja, dengan jawaban yang diberikan oleh Danang kali ini. Karena menurutnya, wajah Danang tetap menarik, meskipun tidak setampan artis-artis yang sering wara-wiri di layar kaca. Baik untuk sinetron, film ataupun iklan.
Wajah Danang dan Linda memang tidak ada mirip-mirip nya. Jadi, orang-orang juga tidak akan percaya begitu saja. Jika ada orang yang bertanya tentang hubungan keduanya, kemudian ada yang menjawab dengan mengatakan bahwa, mereka berdua itu adalah saudara kandung.
"Del. Della!"
"Eh... emhhh... apa Kak?"
Ternyata Della sedang melamun, sehingga tidak mendengarkan panggilan Danang.
"Kamu melamun? Apa Kamu takut jika ketahuan pacarmu?" tanya Danang dengan hati-hati. Karena takut juga, seandainya pacarnya Della memergoki mereka berdua. Kemudian ada kesalahpahaman yang bisa saja terjadi. Sehingga membuat hubungan Della dan pacarnya bermasalah.
"Emhhh... hehehe..."
Tapi Della justru meringis dan cengengesan sendiri. Karena dia juga tidak punya pacar. Sehingga merasa lucu, saat mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Danang.
"Ck? malah cengengesan. Aku gak mau lho Del, jika dianggap merebut pacar orang," decak kesal, terdengar dari mulut Danang. Yang membuat wajahnya menjadi tampak masam. Entah apa yang dia rasakan saat ini.
"Pertanyaan yang diajukan Kakak itu yang buat Della ketawa. Della gak punya pacar. Jadi... siapa yang mau marah? Nyamuk?"
Danang justru tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Della.
"Gak mungkin."
"Kok gak mungkin?"
Della mengerutkan keningnya, mendengar perkataan Danang yang tidak percaya dengan jawabannya tadi.
"Mana ada cewek semanis Kamu gak punya pacar Del. Aku gak percaya!"
Danang akhirnya blingsatan sendiri, saat sadar dengan jawaban yang dia berikan. Apalagi saat melihat wajah Della yang menatapnya dengan mata menyipit.
__ADS_1