
Perkataan temannya tadi, membuat bapaknya Linda kepikiran. Itulah sebabnya, dia berdiam diri sedari tadi, sedang istrinya sudah menawarinya beberapa kali untuk makan.
"Pak. Makan dulu ya, obatnya nanti di minum seperti biasanya."
Ini sudah ke tiga kalinya, istrinya mengatakan hal yang sama. Sejak menyediakan makanan di atas meja. Tapi suaminya hanya diam saja, seakan-akan sedang tidak berada di tempatnya duduk saat ini.
Puk puk puk...
"Pak," panggil istrinya lagi, sambil menepuk-nepuk pelan bahu suaminya.
"Eh, emhhh... i_iya Bu. Ada apa ya?"
"Ada apa Pak? Bapak ini bikin Ibu khawatir saja. Sedari tadi diammm... terus. Padahal sudah bolak-balik Ibu ajak ngomong."
Istrinya mengerutu sendiri, karena suaminya tidak memperhatikan panggilannya tadi.
"Hemmm... gak apa-apa Bu."
"Ck! Gak apa-apa bagaimana? Ibu sudah nyuruh Bapak makan sampai tiga kali. Tapi Bapak tetap diam dan tidak menyahuti perkataan Ibu!"
Istrinya berdecak kesal, karena suaminya itu tidak mau berterus terang. Seperti sedang menyembunyikan sesuatu darinya.
"Hhh...."
Mendengar suaminya membuang nafas panjang, membuat dirinya memicingkan mata. Memikirkan apa yang sedang dipikirkan oleh suaminya itu.
"Apa Bapak merasakan rasa sakit? Di mana, apa perut, kepala atau punggung?"
Bapaknya Linda mengelengkan kepalanya beberapa kali, mendengar semua pertanyaan yang diajukan oleh istrinya. Karena semuanya itu tidak ada hubungannya dengan diamnya kali ini.
"Terus?"
Istrinya terus mendesak, supaya dirinya bercerita. Apa yang sedang dia pikirkan. Sehingga melamun saja sedari tadi.
"Bu. Ibu ingat gak, Bapak pulang dari rumah sakit kapan?"
Mendengar pertanyaan tersebut, istrinya tampak berpikir. Kemudian memiringkan kepalanya, untuk mengingat-ingat kembali. Kapan suaminya itu pulang dari rumah sakit.
"Hari sabtu kalau gak salah Pak. Dua minggu yang lalu."
"Memangnya ada apa sih Pak? Kan udah pergi kontrol juga. Dan besok adalah waktu untuk kontrol ke dua."
"Makanya Pak, ini makan dulu. Terus di minum obatnya. Biar gak sakit lagi."
Istrinya memberikan jawaban, tapi juga memberikan beberapa nasehat. Yang tentunya berkaitan dengan kondisinya yang memang tidak dalam keadaan sehat.
"Apa waktu itu Ferry di rumah?"
Tapi bukannya melakukan apa yang dikatakan oleh istrinya, bapaknya Linda justru mengajukan pertanyaan lagi.
__ADS_1
"Emhhh... kayaknya gak deh Pak. Kan waktu itu, yang jemput bapak cuma Danang sama Erli kan. Mengunakan mobil sewa yang biasa ada di sekitar rumah sakit."
"Bahkan Linda juga gak ikut karena ada lembur katanya."
Bapaknya Linda hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, mendengar penjelasan yang diberikan oleh istrinya itu.
Dia mencoba untuk menyambungkan penjelasan yang dia dengar sekarang ini, dengan cerita yang tadi dia dengar dari temannya. Yang kebetulan lewat, karena mau ke sawah.
"Kenapa memangnya Pak?" tanya istrinya bingung. Karena tidak biasanya, suaminya ini bertanya hal-hal yang sudah lalu.
Padahal kemarin-kemarin, suaminya itu tidak membahas tentang ketidakhadiran Ferry maupun Linda, disaat dirinya pulang dari rumah sakit.
"Gak apa-apa Bu. Bapak kan kemarin gak sempat tanya-tanya. Masih lemes juga badannya Bapak waktu itu."
Mendengar jawaban yang diberikan oleh suaminya, ibunya Linda hanya menganggukkan kepalanya saja. Karena sejak pulang dari rumah sakit, suaminya itu memang tidak banyak keluar dari dalam kamarnya.
"Ya sudah. Sekarang, Bapak makan. Terus obatnya jangan lupa di minum ya! Ibu mau pergi ke warung sebentar."
Bapaknya Linda hanya mengangguk mengiyakan perkataan istrinya. Karena dia memang harus segera meminum obatnya, supaya bisa lekas sembuh dari penyakitnya.
*****
Erli bersorak kegirangan, setelah melihat kedatangan papanya.
Siang ini, seperti biasanya. Dia pulang sekolah dijemput papanya. Kemudian ikut ke pengilingan padi sebentar, lepas asyar baru pulang ke rumah.
"Papa-papa, tadi Erli membuat gambar Papa dan Mama dong. Ini lihat?"
"Wah... bagus banget gambarnya Sayang!"
Ferry memuji gambar yang ditujukan anaknya, meskipun sebenarnya gambar tersebut hanyalah gambar orang-orangan yang mirip dengan lidi.
Meskipun demikian, dari bentuk rambut di kepala, Ferry bisa membedakan mana gambar dirinya sendiri, dengan gambar istrinya, Linda.
Deg!
Ferry sangat terkejut, saat melihat gambar lainnya. Yang membuat Ferry merasa heran, karena di sisi paling pinggir, yang berada di dekat Erli, ada satu anak lagi dengan perawakan anak laki-laki.
Ini karena bentuk rambutnya yang pendek, sama seperti gambar dirinya.
"Sayang. Ini kok ada anak satu lagi siapa? cowok lagi."
Akhirnya Ferry bertanya pada Erli, karena ingin tahu. Apa yang sedang dipikirkan dan diinginkan oleh anaknya itu.
"Itu adiknya Erli Pa!" Erli menjawab dengan suara yang lantang, sambil tersenyum lebar.
Deg!
Ferry kembali merasa terkejut dengan jawaban yang diberikan oleh anaknya kali ini.
__ADS_1
'*Tidak mungkin Erli tahu apa yang terjadi pada kedua orang tuanya kan?'
'Tapi, kenapa dia bisa pas gitu gambarnya? Apa benar, anak yang dikandung mbak Nana nantinya berjenis kelamin laki-laki?'
'Dan... oh ya, kemarin itu... Aku juga pernah bermimpi. Jika punya anak laki-laki.'
"Pa, Papa. ayok pulang!"
Ferry tersadar dari lamunannya, saat Erli menarik-narik tangannya. Supaya segera menghidupkan motornya.
"Eh, i_iya Sayang!"
Tak lama kemudian, Ferry sudah pergi dari halaman depan sekolah Erli. Dengan membawa berjuta tanya yang tidak bisa dia jawab sendiri.
Di perjalanan.
"Emhhh... Sayang."
"Itu gambarnya, maksud Papa, Erli pengen punya adik lagi. Cowok gitu?" tanya Ferry pada anaknya, yang duduk di depan. Dengan bantuan kursi khusus.
Erli pun menganggukkan kepalanya, mengiyakan pertanyaan yang diajukan oleh papanya. Kemudian dia berkata, "Temannya Erli ada yang sudah punya adik bayi Pa. Cowok juga. Makanya, Erli juga mau Pa."
Ferry terdiam mendengarkan jawaban dan keinginan yang disampaikan oleh anaknya itu.
"Pa. Beli di mana adek bayi Pa?"
Sekarang, Ferry justru terkejut. Mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Erli barusan.
'Beli? Apa pemikiran mbak Nana dan suaminya juga sama seperti Erli. Jadi benih bayi yang sekarang ini dia kandung, diibaratkan dibelinya dariku. Dengan barter rumahnya.'
'Jadi yang dikatakan oleh Linda juga ada benarnya. Jika dia menganggap bahwa, rumah itu hasil kerja kerasku.'
'Kenapa serba kebetulan? Pertanda apa ini?'
Hati dan pikiran Ferry gundah gulana. Dia tidak tenang dengan perasaannya sendiri. Setelah melihat gambar dan mendengarkan keinginan anaknya tadi.
"Pa. Papa! Udah kelewat Pa!"
"Ehhh..."
Ciiittt...
Ferry mengerem mendadak. Di saat mendengar teriakan Erli, yang mengatakan bahwa pengilingan padi sudah terlewati.
Sekarang, dia membelokkan arah motornya. Untuk kembali ke tempat penggilingan padi.
"Pa, itu!"
Erli menunjuk ke arah bangunan pengilingan padi, yang sekarang ini dia tuju.
__ADS_1
Ferry merasa tidak tenang, karena pikirannya yang sedang kacau saat ini. Sehingga lupa arah dan tempat tujuannya, yang ingin pergi ke tempat kerjanya selama ini.