
Sore sekitar jam lima, Linda sudah bersiap untuk pulang. Resep obat, sedang diambil oleh ibunya, ke tempat obat yang ada di rumah sakit.
Linda menunggu di dalam kamar. Menunggu suaminya juga, yang tadi sudah membalas pesan yang dia kirim.
Polisi Ferry, sudah berjanji untuk datang menjemput dirinya, di saat dia sudah selesai melakukan jam tugasnya.
Sepuluh menit kemudian, polisi Ferry benar-benar sudah datang. Sedangkan ibunya, tiga menit setelah kedatangan polisi Ferry.
"Sudah semuanya kan?" tanya polisi Ferry, pada Linda, yang saat ini sedang duduk di kursi roda.
Linda hanya akan mengunakan kursi roda, sampai di tempat parkir saja. Karena dia belum bisa berjalan dengan, sama seperti orang-orang sehat pada umumnya.
Mobil sudah di posisi depan pintu masuk rumah sakit. Seorang security, menerima kursi roda yang tadi dipakai oleh Linda.
"Terima kasih ya Pak," ucap Linda dan ibunya, berbarengan.
Polisi Ferry, memasukkan barang-barang bawaan, yang akan di bawa pulang.
Beberapa saat kemudian, semuanya sudah selesai dan mobil berjalan menuju ke arah pintu keluar rumah sakit.
Linda, pulang ke rumah ibunya. Bukan ke rumah suaminya.
"Linda pulang ke rumah ibu ya Mas. Biar ada yang jagain dan merawat Linda juga untuk sementara ini," kata Linda, meminta persetujuan dari suaminya, polisi Ferry.
Polisi Ferry menoleh sekilas, kemudian mengangguk mengiyakan permintaan dari istrinya itu.
Dia merasa jika, Linda sedang ingin menghindar darinya, karena masih marah padanya.
Tapi, polisi Ferry memaklumi kondisi Linda yang memang karena ulah dirinya juga. Hingga Linda, harus di rawat di rumah sakit juga seminggu ini.
Polisi Ferry merasa bersalah. Tapi dia juga merasa sangat bersyukur, karena istrinya itu tidak pernah tega untuk melaporkan semua kejadian yang terjadi pada dirinya. Meskipun sebenarnya, Linda juga punya hak untuk melaporkan semua kejadian itu pada pihak yang berwajib.
Linda juga bisa minta untuk berpisah dengan mudah, jika dengan mengunakan alasan penganiayaan, dan kekerasan rumah tangga, yang dia lakukan selama ini.
Tapi ternyata Linda tidak pernah melakukannya. Linda tetap dan masih mau bertahan dengannya, meskipun sebenarnya tubuhnya tidak lagi bisa menerima kenyataan bahwa, suaminya itu, tidak memperlakukan dirinya sebagai seorang istri dengan baik.
Tak lama kemudian, mobil yang membawa Linda dan ibunya, dengan disupiri oleh polisi Ferry sendiri, masuk ke dalam pekarangan rumah ibunya Linda.
Sore sudah berganti dengan malam. Sehingga para tetangga, tidak ada yang tahu dengan kepulangan Linda dari rumah sakit.
Tapi, deru suara mesin mobil yang membawa mereka, tentu saja terdengar oleh para tetangga, yang rumahnya lebih dekat dengan rumah ibunya Linda.
Tetangga yang mendengar suara mesin mobil, keluar untuk melihat siapa yang datang.
"Eh, beneran Linda pulang ke sini."
"Iya tuh. Gimana ini?"
__ADS_1
"Gimana bagaimana?"
"Kan katanya penyakitnya menular."
"Iya juga ya."
"Terus bagaimana? Apa kita laporkan saja ke pak lurah?"
"Takut ah, sama suaminya. Kan galak dia."
"Ihhh, ngeri ya."
"Kasihan si Linda."
"Iya kasihan. Cantik-cantik kok jadi gitu."
"Kena karma mungkin."
"Ih, udah ah. Gak mau ikut-ikutan. Takut nular karmanya."
Para tetangga yang saling berbisik-bisik dengan menunjuk-nunjuk ke arah rumah ibunya Linda, akhirnya pada bubar sendiri-sendiri.
Mereka kembali pulang ke rumah, tanpa menengok Linda terlebih dahulu, karena berita penyakitnya Linda yang aneh dan menular.
Padahal biasanya, orang desa akan lebih bersimpati pada orang yang sedang sakit.
Tapi karena kasus Linda yang menurut mereka mengalami penyakit aneh, mereka akhirnya merasa takut untuk mendekat.
Meskipun mereka belum tahu kebenaran yang sesungguhnya.
*****
Di dalam rumah ibunya Linda, Erli menangis minta digendong oleh Linda, begitu melihat kedatangan mamanya.
"Mama... Mama... huwaaa... Mama ndong Ma!" Erli merengek-rengek minta untuk segera di gendong mamanya, Linda.
Tapi, polisi Ferry segera mengambil alih permintaan anaknya itu. Dia segera mengendong Erli, supaya tidak menangis lagi, karena meminta untuk digendong oleh Linda.
"Cup cup cup Sayang. Mama sedang sakit. Erli sama Papa saja ya. Biar Mama istirahat dulu," tutur polisi Ferry, meminta agar anaknya itu diam dan tidak rewel lagi.
Meskipun tidak paham betul dengan apa yang dikatakan oleh papanya, Erli terdiam juga, sambil terus melihat ke arah mamanya.
Sedangkan Linda, hanya bisa tersenyum ke arah Erli, sambil berbaring di tempat tidur, di kamarnya sendiri.
"Sini sama Mbah Kung Erli_nya!"
Bapaknya Linda, meminta pada menantunya itu, supaya menyerahkan Erli padanya.
__ADS_1
"Erli mau sama Mbah Kung?" tanya polisi Ferry pada anaknya, Erli.
Karena sudah seminggu lebih Erli bersama Mbah Kung_nya, dia pun jadi lebih akrab dan menurut.
Sekarang, Erli ada di dalam gendongan Mbah Kung. Sedangkan mbah putrinya, ibunya Linda, sedang membereskan barang-barang, yang tadi dibawa pulang dari rumah sakit.
"Assalamualaikum..."
Dari luar rumah, terdengar ucapan salam dari Danang. Adiknya Linda.
Dia baru saja pulang dari kuliahnya.
"Mbak Linda sudah pulang?" tanya Danang, pada ibunya yang membukakan pintu untuknya.
Danang bertanya demikian karena, melihat adanya mobil di depan rumah.
"Iya. Baru saja sampai." Ibunya Linda, menjawab pertanyaan anak laki-lakinya itu, dengan mengangguk-anggukkan kepalanya juga.
"Bagaimana keadaannya? Apa sudah lebih baik?" tanya Danang lagi, yang baru sempat menjenguk kakak perempuannya itu sekali, saat berada di rumah sakit.
Selain sibuk kuliah, adiknya Linda juga bekerja, untuk biaya kuliahnya. Dia tidak mau membebani ibunya, yang bekerja sendirian sekarang ini.
Bapaknya sudah tidak lagi bekerja, sama seperti dulu, sewaktu masih dalam keadaan sehat.
Itulah sebabnya, dia memutuskan untuk kuliah sambil bekerja juga.
"Sudah Nang. Tapi ya begitulah."
Danang berjalan menuju ke arah kamar kakaknya.
Tok tok tok!
Meskipun pintu kamar tidak tertutup, tapi Danang tetap mengetuk pintu kamar terlebih dahulu.
Tanpa menunggu jawaban dari dalam kamar, Danang langsung masuk ke dalam kamar kakaknya itu.
"Mbak. Mbak Linda beneran sudah sehat?" tanya Danang, dengan berlutut di samping tempat tidur Linda.
"Iya. Mbak sudah lebih baik Nang."
Danang melirik sekilas ke arah suaminya Linda. Tapi, dia tidak menyapa atau bertanya pada kakak iparnya. Yaitu polisi Ferry.
"Mbak bicara sama Danang, jika ada apa-apa. Jangan dipendam sendiri. Jika ibu tidak bisa di ajak bicara juga," ujar Danang, memberikan semangat pada kakak perempuannya itu.
Danang memang bukan siapa-siapa. Tapi setidaknya, dia adalah saudara Linda satu-satunya.
Dia juga laki-laki, yang sudah cukup umur. Jadi, tentu saja bisa ikut berpikir, jika ada sesuatu yang terjadi pada kakaknya, Linda.
__ADS_1
Danang juga tidak mau melihat keadaan kakaknya, yang terus menerus ditindas dan diperlakukan semena-mena, oleh suaminya sendiri.