Tante Melinda

Tante Melinda
Masih Berusaha


__ADS_3

"Kasihan sekali itu Mbak bule. Cantik-cantik kok suaminya masih selingkuh."


"Kalau Aku yang jadi suaminya, udah tak kelonin terus di dalam kamar. Gak usah pergi ke mana-mana. Hahaha..."


"Dasar otak lu aja yang mesummm!"


"Hahaha... kayak lu gak aja!"


Kedua mas-mas yang tadi, justru bergunjing sendiri, di saat Linda sudah kembali berjalan menuju ke arah luar loby hotel.


Dia merasa putus asa, dan juga malu. Karena tidak menemukan keberadaan suaminya, yang saat ini entah sedang ada di mana dan melakukan apa.


"Sepertinya Aku gagal mendapatkan bukti. Apa Aku yang tidak menyadari, bahwa sebenarnya Aku sendiri yang salah selama ini?" Linda justru menyalahkan dirinya sendiri, dengan apa yang dilakukan oleh suaminya.


"Apa Aku harus menunggu di seberang jalan, agar bisa memergoki mereka berdua?"


"Tapi jika apa yang tadi dikatakan oleh mas-mas itu benar bagaimana? Aku yang salah paham?"


"Bisa jadi kan, jika mas Ferry memang pergi ke luar kota?"


"Aku yang terlalu curiga dengannya, apa Aku yang menjadi paranoid? Ketakutan dengan apa yang sebenarnya Aku lakukan sendiri dulunya?"


Paranoid adalah masalah psikologis yang ditandai dengan munculnya rasa curiga dan takut berlebihan. Orang yang paranoid cenderung sulit atau bahkan tidak bisa memercayai orang lain dan memiliki pola pikir yang berbeda dari kebanyakan orang. Ini bisa menjadi gangguan mental pada orang itu sendiri.


Pertanyaan demi pertanyaan Linda ajukan, untuk dirinya sendiri. Atas semua yang saat ini sedang dia alami.


Tapi sebelum Linda menghidupkan mesin motornya, masih di area parkir hotel, dia teringat dengan kang Mus.


"Aku bisa bertanya pada kang Mus, untuk tahu nomor handphone pemilik pengilingan padi. Mungkin Aku bisa bertanya pada pemilik pengilingan padi, di mana dia sekarang. Apa benar dia sedang bersama mas Ferry atau tidak."


Sayangnya, Linda juga tidak tahu, berapa nomor handphone milik kang Mus.


"Huh, aku lupa."


Linda mengurut keningnya sendiri, melupakan semuanya.


Tapi dia tidak hilang akal. Dia pun akhirnya mengirim pesan pada Danang, untuk meminta nomor handphone milik kang Mus.


Sambil menunggu pesan balasan dari Danang, Linda berusaha untuk menghubungi suaminya.


..."Nomor yang Anda hubungi sedang tidak aktif, atau sedang berada di luar jangkauan."...


Begitu operator seluler memberikan penjelasan kepada Linda, karena panggilan telpon yang dia lakukan tidak bisa tersambung.


"Huhfff... handphone mas Ferry sedang tidak aktif ini."


Tapi karena dia segan untuk menunggu lebih lama di area parkir hotel, akhirnya Linda pergi juga dari tempat itu.

__ADS_1


Dia mencari tempat yang lebih nyaman untuk menuggu. Dan tidak jauh dari hotel itu, ada warung makan kecil, yang tampak sederhana.


Meskipun sebenarnya bukan tujuan Linda untuk pergi makan. Tapi setidaknya dia bisa minum teh atau es sirup. Sambil memikirkan apa yang akan dia lakukan selanjutnya.


"Buk. Pesen teh manis hangat ada?" tanya Linda pada ibu warung, di saat dia masuk ke dalam warung makan.


"Eh... iya-iya ada."


Sepertinya, ibu pemilik warung kaget dengan kedatangan Linda yang menurutnya bule.


"Mbak bule kok bisa bahasa kita ya?" tanya ibu warung yang penasaran.


"Hehehe... Saya gak bule Bu. Asli orang sini kok," jawab Linda, yang mendudukkan dirinya di bangku panjang. Khas tempat duduk di warung-warung kecil.


Ada beberapa orang yang sedang makan, semuanya laki-laki, tersenyum ke arah Linda juga.


"Oh... tak pikir tadi bule kesasar di warungnya Ibu. Hihihi..."


"Wes Bu, buruan itu mbak bule nya dibuatkan minum. Malah di ajak ngobrol terus."


Ibu warung tersenyum masam, karena di tegur salah satu dari laki-laki yang sedang makan.


Sepertinya mereka adalah para langganan warung ibu ini. Karena tampak bersikap seperti biasa, tanpa rasa canggung saat menegurnya tadi.


Tak lama kemudian.


"Iya, kebetulan lewat dan sedang haus Bu," jawab Linda seadanya.


Dia tidak mungkin memberikan penjelasan dan jawaban yang benar. Karena dia tidak mau, ada orang lain yang mengetahui tentang permasalahan keluarganya.


Di saat Linda baru saja meminum teh hangat yang tadi disediakan oleh ibu warung, handphone miliknya berdering. Tanda jika ada panggilan masuk untuknya.


Ternyata itu dari adiknya, Danang. Sehingga dengan cepat, Linda menekan tombol hijau untuk menyambungkan panggilan telpon tersebut.


..."Ya halo Nang. Apa Kamu punya?"...


..."Mbak ada di mana?"...


Bukannya menjawab pertanyaan dari Linda, Danang justru bertanya tentang keberadaan kakaknya.


..."Jawab saja lah Nang. Mbak butuh nomor handphone kang Mus. Mbak mau tanya nomor pemilik pengilingan padi."...


Linda berusaha untuk memberi penjelasan kepada adiknya, supaya adiknya itu tidak bertanya apa-apa lagi.


..."Ya sudah. Nanti Danang kirim nomornya kang Mus lewat pesan saja."...


..."Iya-iya, gak apa-apa. Eh, itu... emhhh... bapak udah ada di rumah?"...

__ADS_1


..."Ini baru saja jalan mobilnya Mbak. Erli sudah duduk bersama ibu juga."...


..."Oh ya sudah ya kalau begitu. Kamu jangan bilang-bilang ke ibu atau bapak ya Nang. Mbak juga nitip Erli dulu."...


..."Iya Mbak. Tenang saja."...


Klik!


Linda membuang nafas lega, setelah menutup panggilan telpon dari Danang.


Sekarang, dia menunggu adiknya itu, untuk mengirim pesan padanya. Karena nomor kang Mus aja dikirim lewat pesan.


Ting!


Notifikasi pesan dari Danang, diterima oleh Linda. Dengan cepat, Linda membuka pesan tersebut. Dia ingin tahu, dan segera bertanya pada kang Mus.


Setelah mengetahui nomor handphone milik kang Mus, Linda langsung menelponnya. Dia tidak mau mengirim pesan, karena menurutnya itu akan lebih lama lagi.


Orang-orang yang ada di warung, bersama ibu warung juga, saling pandang. Mereka semua mungkin sedikit bingung. Melihat bagaimana Linda yang dalam keadaan cemas dan was-was sejak mendapatkan telpon barusan.


Linda akhirnya sadar, jika dia menjadi pusat perhatian orang-orang. Dia tersenyum tipis, sambil menganggukkan kepalanya.


"Maaf ya, maaf."


Linda pamit untuk keluar sebentar, karena dia tidak mau jika apa yang akan dia tanyakan pada kang Mus, di dengar oleh orang lain.


Tut tut tut!


Tut tut tut!


..."Halo. Siapa ini?"...


Di seberang sana, kang Mus menjawab panggilan telpon Linda dengan bingung. Karena nomor yang masuk dan melakukan panggilan, tidak dia kenali.


..."Halo kang Mus. Maaf ini Linda Kang."...


..."Lho, Linda? ada apa Lin? apa ada sesuatu yang terjadi pada bapakmu?"...


Kang Mus berpikir jika ini tentang keadaan bapaknya Linda, yang dia ketahui jika sedang berada di rumah sakit.


..."Bukan bapak kang. Linda hanya ingin bertanya pada kang Mus. Emhhh... mau minta tolong."...


..."Minta tolong? apa Lin?"...


..."Kang Mus tahu nomor handphone milik pemilik pengilingan padi tidak? kang Mus kan temannya. Mungkin saja tahu."...


..."Emhhh... ada apa to Lin?"...

__ADS_1


Linda tidak langsung menjawab pertanyaan dari Kang Mus. Dia merasa jika tidak seharusnya menceritakan tentang Ferry pada kang Mus juga.


__ADS_2