
Istirahat pada sore hari.
Linda tidak pergi ke kantin untuk makan. Dia sedang berada di dalam ruangan, karena menyelesaikan laporan yang harus dia kerjakan, untuk target lembur malam ini.
Dia juga harus sudah menyerahkan laporan tersebut, pada asisten manager pada saat pulang nanti.
Tok tok tok!
Linda menoleh ke arah pintu.
Salah satu anak buahnya masuk, dengan membawa kotak makanan.
Pintu ruangan memang sengaja tidak ditutup oleh Linda. Karena dia masih takut, dengan apa yang sedari siang dia alami. Yaitu adanya suara yang memanggil namanya, tapi ternyata tidak ada orang.
Tentu ini membuat Linda merasa sangat tidak nyaman. Rasa takutnya ini, memang belum sempat dia ceritakan kepada orang lain lagi. Selain pada temannya yang tadi makan siang bersama di kantin perusahaan.
"Mbak Linda. Ini makanan dari pak Rudi."
Ternyata, kotak makanan tersebut diberikan oleh pak Rudi untuk Linda.
"Dari pak Rudi? Kok dia tau jika Aku gak istirahat untuk makan ke kantin?" tanya Linda yang merasa heran.
Dia pikir, tadi tidak ada orang yang tahu jika, dia tidak pergi ke kantin perusahaan untuk beristirahat.
"Apa sih Mbak, yang tidak diketahui oleh pak Rudi?"
"Apalagi, istirahat sore seperti ini, tidak banyak juga kan karyawan yang lembur sampai malam."
Orang tersebut memberikan penjelasan, yang tentunya memang benar adanya.
Karena tidak semua karyawan dan bagian gedung yang diperlukan untuk dapat lembur sampai malam hari.
Hanya pada bagian-bagian tertentu, yang memang membutuhkan waktu untuk kepentingan ekspor saja. Yang diperoleh untuk mendapatkan lembur hingga malam harinya.
"Hehehe... iya juga ya."
"Terus ini kapan Kamu ketemu pak Rudi? kok bisa nitip ke Kamu?" Linda bertanya lagi, karena memang tidak melihat keberadaan pak Rudi di luar ruangannya.
"Tadi Aku juga gak istirahat makan di kantin perusahaan Mbak. Aku makan di luar. Dan kebetulan ketemu di warung itu sama pak Rudi. Makanya, dia nitip ini buat Mbak Linda."
"Ohhh... terima kasih ya!"
Ank buahnya Linda, mengangguk sambil tersenyum. Kemudian dia undur diri, untuk kembali bersama dengan teman-temannya yang lain.
Linda memandang kotak makanan yang sekarang ini sudah berada di atas mejanya.
"Tau aja sih pak Rudi itu, jika Aku gak istirahat dan perlu makan."
__ADS_1
Tapi karena memang Linda merasa sudah cukup lapar, akhirnya dia memakan juga, kiriman makanan yang dia terima itu.
"Bilang terima kasihnya nanti aja jika ketemu. Gak usah kirim pesan atau telpon."
Akhirnya, Linda menunda pekerjaannya untuk sementara waktu. Dia menikmati makanan tersebut, yang memang di pesan pak Rudi untuknya.
Linda tidak berpikir lain, dari apa yang sudah dilakukan oleh manager gedungnya itu.
*****
Waktu pulang, Linda tidak bisa ikut bersama-sama dengan yang lain.
Setelah semua anak buahnya pulang, Linda harus mengecek kembali semua pekerjaan yang tadi sudah diselesaikan oleh tim nya.
Dia ditemani oleh beberapa operator bagian ekspor.
"Semua sudah selesai dan siap di kirim ya Mbak Linda?"
Linda mengangguk mengiyakan pertanyaan dari salah satu orang tersebut.
Laporan yang di buat oleh Linda, diperiksa orang tersebut. Baru kemudian orang itu tanda tangan, untuk bisa dipertanggungjawabkan. Jika laporan tersebut sudah bisa diserahkan pada pihak atasan yang berwenang.
Setelah dirasa cukup, Linda membereskan peralatan. Mengambil tas miliknya, baru menutup pintu ruangannya.
Ternyata di luar pintu, pak Komarudin sudah menunggu dirinya.
"Pak Komarudin!"
"Maaf jika membuat Kamu terkejut Lin. Aku hanya memastikan, jika Kamu memang belum pulang."
Linda mengangguk sambil tersenyum tipis, mendengar perkataan yang diucapkan oleh asisten manager tersebut.
Setelahnya, Linda berjalan bersisian dengan pak Komarudin, menuju ke tempat parkir mobil.
Karena asisten manager tersebut, memang mengunakan mobil sebagai kendaraannya untuk berangkat dan pulang kerja.
"Oh ya Lin. Tadi, uangnya sudah Aku kirim ke no rekening Kamu ya."
Tiba-tiba Linda baru ingat jika, dia belum membuka handphone miliknya, sejak selesai menghubungi suaminya tadi.
"Oh ya Pak maaf. Saya belum buka hape sedari tadi."
Sekarang, Linda mencari keberadaan handphone miliknya, yang ada di dalam tas.
Setelah menemukan handphone tersebut, Linda menemukan notifikasi pesan dari pihak bank, jika ada sejumlah uang yang masuk ke no rekening miliknya.
"Pak. Ini banyak sekali. Saya kan cuma butuh. dua puluh juta," ucap Linda, yang tidak percaya dengan apa yang dia lihat dari isi pesan tersebut.
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Lebihan uangnya bisa buat Kamu. Beli tas atau sepatu untuk kerja."
Linda tidak menyangka jika, uang yang dikirim Pak Komarudin ke rekening miliknya begitu banyak. Dan lebihan dari uang itu, sama dengan jumlah uang gaji yang dia terima dari perusahaan selama satu bulan kemarin.
Dia tidak tahu, bagaimana caranya nanti mengembalikan uang tersebut.
"Nanti Saya akan mencicil uang ini Pak. Saya benar-benar mengucapkan terima kasih."
Linda merasa lega. Karena sudah ada uang, yang bisa digunakan untuk membantu adiknya, Danang.
"Tidak usah dipikirkan. Itu adalah uang hadiah untuk Kamu dari Saya."
"Ini semua untuk Kamu Linda. Yang penting, Kamu tahu kan, apa yang Aku minta?"
Pak Komarudin, menjelaskan pada Linda, apa yang seharusnya dilakukan oleh Linda untuknya.
Dan Linda tidak pernah habis pikir, jika uang sebanyak itu, diberikan kepadanya secara cuma-cuma tanpa harus menggantinya.
Meskipun dengan apa yang sudah dia ketahui secara pasti, apa yang diinginkan oleh asisten manager tersebut.
Sekarang, mereka berdua sudah sampai di mobil. Pak Komarudin mengeluarkan kunci mobilnya, dan membukakan pintu untuk Linda.
"Terima kasih Pak."
Linda mengucapkan terima kasih, atas apa yang dilakukan oleh asisten manager tersebut untuknya.
Dia merasa sangat senang. Karena diperlukan oleh pak Komarudin dengan baik dan tidak sama seperti suaminya selama ini.
Linda masih tersenyum sendiri, saat Pak Komarudin masuk dan duduk di belakang kemudi.
"Bagaimana? Apa Kamu juga butuh kendaraan sendiri untuk kerja?" tanya pak Komarudin, yang sangat tahu bagaimana keadaan Linda selama dua bulan ini.
Pak Komarudin tahu jika, Linda berangkat dan pulang kerja diantar jemput oleh suaminya.
Bahkan, anaknya juga harus ikut bersama suaminya itu, dalam perjalanan pulang dan pergi.
"Sebenarnya iya Pak. Tapi nanti saja jika sudah ada uang untuk beli kendaraan motor," jawab Linda, tanpa memiliki pemikiran yang lain.
"Aku bisa usahakan Lin."
"Maksud Pak Komarudin?" tanya Linda dengan cepat.
Dia tidak mengerti, apa maksud dari perkataan yang diucapkan oleh asisten manager tersebut.
"Ya kendaraan bermotor untuk Kamu," sahut pak Komarudin, dengan menyalakan mesin mobilnya.
"Ah, gak usah Pak. Besok saja jika Linda ada uang sendiri."
__ADS_1
Linda tidak mungkin menerima tawaran untuk mendapatkan motor. Meskipun dia butuh, tapi dia tidak mau menyusahkan pak supir, yang baru saja membantunya untuk uang yang dia butuhkan.
Dia bukan tipe orang yang serakah dan aji mumpung.