Tante Melinda

Tante Melinda
Rasa Khawatir


__ADS_3

Setelah Danang selesai dengan urusannya di dalam ruangan HDR, dua pun menemui kakaknya, Linda. Mereka berdua, pulang bersama dengan mengunakan motor masing-masing.


Beberapa orang yang sempat melihatnya, beranggapan bahwa, gosip yang sempat berhembus tentang kedekatan dan hubungan spesial diantara mereka, jadi membenarkan.


Karena Linda dan Danang, memang tampak akrab. Dan tidak ada risih-risih nya sama sekali.


"Tuh bener kan... supervisor Linda memang pacarnya brondong!"


"Wah... sayang sekali cowoknya. Buat Aku saja itu dia!"


"Ahhh... pantes aja supervisor Linda semakin ke sini makin cantik dan kelihatan lebih muda. Ternyata punya mainan kayak gitu sih!"


"Memang bisa, pacaran dengan brondong bikin muda?"


"Bisalah... Secara, ini katanya, cairan brondong itu masih kental dan banyak nutrisinya."


"Apa hubungannya?"


"Buat masker atau jamu katanya bisa."


"Ehhh, kok Kamu fasih banget. Tahu apa pengalaman ini?"


"Hahaha... maunya sih bisa juga kayak si Tante itu, tapi..."


"Tapi apa? kurang cantik?"


"Bukan, harus banyak uangnya! Kan pacaran sama brondong juga perlu keluar uang."


"Ohhh buat jajan ma beliin tuh brodong barang-barang yang dia sukai ya?"


"Iyalah! Macam sugar gitu. Yang lagi viral-viral gitu."


Banyak sekali pembicaraan yang mereka lakukan. Terkait Linda, yang memang sudah tidak asing lagi untuk diperbincangkan.


Apapun yang menyangkut tentang Linda, pasti akan diperhatikan dan dibicarakan. Sama seperti berita-berita panas, yang patut untuk mereka kupas.


"Nang, bapak masih di rumah apa sudah di bawa ke rumah sakit?"


"Gak tau Mbak. Tadi yang kasih kabar bilang sih masih ada di rumah."


Linda mengangguk-anggukkan kepalanya, mendengar jawaban yang diberikan oleh adiknya itu.


"Tadi Mbak telpon mas Ferry. Tapi gak nyambung. Padahal maksud Mbak, biar dia urus secepatnya. Kan dia yang gak perlu ijin ini itu."


Setelah, Danang tidak lagi menanggapi.. Karena mereka berdua sudah tiba di area parkir sepeda motor.


Linda juga tidak melanjutkan ceritanya. Karena dia sendiri, harus mengeluarkan motornya. Dari deretan motor-motor yang berjejer di parkiran tersebut.


"Sini Danang yang keluarin!"


Danang membantu Linda terlebih dahulu, sebelum dia mengeluarkan sepeda motornya sendiri.


Setelah beberapa saat kemudian, keduanya sama-sama pergi meninggalkan tempat tersebut. Dengan mengendarai sepeda motor masing-masing.

__ADS_1


*****


Di tempat lain.


Ferry sudah selesai berpakaian. Dia duduk di tepi tempat tidur, sambil menunggu mbak Nana yang masih berada di dalam kamar mandi.


Handphone miliknya yang berada di atas meja, memang dalam keadaan non aktif. Itulah sebabnya, sedari tadi pagi, handphone tersebut tidak berbunyi sama sekali.


Tapi karena urusannya dengan mbak Nana dirasa sudah cukup. Ferry bermaksud untuk mengaktifkan kembali handphone miliknya.


Ting!


Ting!


Ting!


Beberapa notifikasi pesan dan panggilan muncul bersamaan, saat handphone tersebut diaktifkan.


Ternyata pesan pada panggilan yang masuk, tidak hanya satu kali. Juga bukan hanya dari satu orang saja. Tapi ada banyak, termasuk dari isterinya sendiri. Yaitu Linda.


Istrinya itu memang tidak mengirimkan pesan. Tapi langsung menghubungi dirinya, lewat panggilan telpon.


"Tumben Linda telpon di jam kerja. Ada apa ya?" tanya Ferry, dengan bergumam seorang diri.


Hampir saja dia menekan tombol untuk memanggil balik, saat pintu kamar mandi dibuka oleh mbak Nana.


Clek!


"Sudah selesai?" tanya Ferry, seperti orang yang dalam keadaan tidak sabar.


"Ada apa Mas? Kok kelihatannya cemas gitu."


Mbak Nana justru bertanya, dan tidak langsung mengenakan pakaiannya.


"Ini. Istriku tadi menelpon beberapa kali. Tapi karena handphonenya tadi non aktif, ya... gak tahu ada apa."


Mendengar penjelasan yang diberikan oleh Ferry, mbak Nana hanya mengangguk-anggukan kepalanya saja. Dia meneruskan kegiatannya yang sedang mengenakan pakaian.


"Kita langsung pulang. Tidak usah cari makan dulu. Mbak Nana tak antar sampai penitipan motor saja ya?"


"Ya."


Mbak Nana hanya menjawab pendek. Karena dia tidak suka jika sedang berduaan, tapi Ferry membicarakan atau mengkhawatirkan keadaan istrinya.


Beberapa saat kemudian, setelah selesai mengantar Mbak Nana mengambil sepeda motornya yang dititipkan di penitipan motor, Ferry langsung pergi menjemput Erli ke sekolah. Karena TPA Erli, tempat penitipan anak yang diikuti oleh Erli, jadi satu dengan sekolah TK nya.


Tapi sebelum dia mengambil anaknya, dia menelpon istrinya, Linda, terlebih dahulu.


Tut tut tut!


Tut tut tut!


Tapi ternyata, panggilan telpon yang dia lakukan tidak segera dijawab oleh Linda.

__ADS_1


"Ada apa ya?"


Ferry pun bertanya-tanya, apa yang terjadi pada istrinya. Karena yang dia tahu, saat ini istrinya ada di tempat kerja. Karena sekarang ini, jam pulang istrinya masih ada sekitar satu jam lagi.


Dengan mengelengkan kepalanya, Ferry membuang pikiran buruk yang ada di dalam hatinya.


Dia berpikir jika, telah terjadi sesuatu pada istrinya di tempat kerja. Dan yang lebih dia khawatirkan lagi adalah, Linda mengecek keberadaan dirinya di pengilingan padi.


Pada saat memikirkan hal itu, Ferry merasa bersalah. Dia merasa takut juga, seandainya istrinya itu benar-benar mengecek keberadaan dirinya di tempatnya jualan beras.


"Bagaimana jika itu benar?" gumam Ferry panik.


Tapi dia mencoba untuk menenangkan hatinya sendiri, agar tidak terlalu cepat menyimpulkan perasaan yang belum tentu benar.


Sekarang, dia turun dari atas jok motor, untuk menjemput anaknya, Erli.


*****


Di rumah ibunya Linda.


Bapaknya Linda, sudah tidak ada di teras belakang rumah lagi. Karena sudah dipindahkan ke ruang tengah.


Bidan yang memeriksa bapaknya Linda, sudah kembali ke rumah. Karena ada pasien yang sedang menunggunya. Tapi masih ada beberapa tetangga yang menemani ibunya Linda, menunggui suaminya yang masih belum sadar.


Bidan yang ada di dekat rumahnya, juga sudah memeriksa keadaan bapaknya Linda. Dan memberikan penjelasan kepada orang-orang, agar tetap menjaga sampai bapaknya Linda sadar nanti.


Tapi jika mau di bawa ke rumah sakit, juga diperbolehkan. Karena dalam keadaan seperti ini, tidak bisa dipastikan juga bisa kembali seperti sediakala.


"Bapak masih belum sadarkan diri. Tapi Bu bidan sudah memeriksanya tadi," kata ibunya Linda, memberikan penjelasan kepada Danang dan Linda yang baru saja datang.


"Kenapa tidak langsung di bawa ke rumah sakit Bu?" tanya Linda, yang merasa khawatir dengan keadaan bapaknya.


"Tadi bu bidan juga memberikan saran seperti itu. Tapi..."


"Ya sudah. Ayo di bawa ke rumah sakit sekarang!"


"Nang. Minta tolong pada yang punya mobil untuk bawa bapak ke rumah sakit. Cepat ya!"


Linda meminta pada Danang, supaya mencari kendaraan, yang bisa membawa bapaknya pergi ke rumah sakit.


"Nang. Cari yang pick up ya!" teriak ibunya, di saat Danang sudah berjalan sampai di depan pintu.


"Kenapa pick up Bu?"


"Harus pick up gitu?"


Danang dan Linda bertanya bersamaan. Karena permintaan ibunya, yang harus mobil pick up untuk digunakan sebagai kendaraan ke rumah sakit.


"Bapakmu pingsan. Bagaimana membawanya dengan kendaraan atau mobil yang biasa?"


Akhirnya Linda dan Danang mengerti, bagaimana sebenarnya pemikiran mereka.


"Iya. Danang cari mobil pick up aja."

__ADS_1


__ADS_2