
Pagi sudah datang mengantikan malam. Kesibukan manusia juga di mulai lagi, sama seperti kesibukan yang biasanya.
Berbeda dengan Linda, dia tidak terburu-buru untuk bersiap-siap. Karena hari ini dia tidak pergi bekerja, dan hanya punya rencana untuk menjemput bapaknya di rumah sakit. Bersama dengan Erli juga.
Hari ini Erli dimintakan ijin, untuk tidak masuk sekolah terlebih dahulu. Karena ikut pergi ke rumah sakit, untuk menjemput simbah Kakung nya yang pulang hari ini.
Linda sudah mempersiapkan segala sesuatunya, yang akan dia bawa bersama dengan anaknya. Karena dia juga akan ikut bermalam di rumah ibunya, untuk nanti malam.
Ferry ada di luar kota. Jadi dia tidak ada masalah jika tidak pulang ke rumah.
Sekarang, mereka bertiga berangkat bersama-sama. Hanya dengan mengunakan satu sepeda motor.
Linda akan mengantar Ferry terlebih dahulu, baru kemudian bersama dengan anaknya ke rumah sakit. Karena Ferry tidak mungkin menitipkan sepeda motornya di pengilingan padi.
"Dek,. nanti Aku berhenti di belakang pasar saja ya. Aku nungguin yang ajak ke luar kota di sana saja."
"Lho, gak ke pengilingan padi langsung Mas?" tanya Linda heran. Karena biasanya, pemilik pengilingan padi menunggunya di tempat usahanya itu.
"Gak usah. Tadi Mas udah kasih tau kok. Gak usah jauh-jauh ke sana."
Linda hanya mengangguk saja, tanpa menyahuti perkataan yang diucapkan oleh suaminya. Dia hanya berpikir lain, untuk saat ini.
Tak lama kemudian, mereka tiba di pasar. Ferry pun mengarahkan sepeda motornya, menuju ke arah belakang pasar.
"Kamu langsung ke rumah sakit aja gak apa-apa Dek. Mas nunggu di sini sendiri." Ferry meminta pada Linda, supaya pergi dan tidak usah menunggui dirinya.
"Beneran gak apa-apa Mas?" tanya Linda memastikan.
"Iya," jawab Ferry dengan pasti.
Linda pun akhirnya mengambil alih stang motor, dan berpamitan pada suaminya. "Aku pergi dulu ya Mas." Dia menyalami tangan Ferry, dan mencium punggung tangannya.
Begitu juga dengan anaknya, Erli. Yang ikut menyalami dan mencium tangan papanya.
Setelahnya, mereka berdua pergi meninggalkan Ferry sendiri. Menunggu kedatangan seseorang yang akan menjemputnya nanti.
"Erli mau ikut Mama beli jajan gak?" tanya Linda pada Erli, yang saat ini sudah duduk depan.
Mendapatkan ajakan untuk membeli jajanan, tentu saja membuat Erli langsung bersorak senang. Dia berteriak dan meminta jajanan yang banyak.
__ADS_1
"Mau Ma, mau! yang banyak ya Ma!"
Linda hanya menanggapi perkataan anaknya itu, dengan menganggukkan kepalanya. Kemudian mencari tempat parkir motor. Agar memudahkan dirinya dalam mengawasi.
*****
"Nang, terima kasih ya."
Linda mengucapkan terima kasihnya, pada Danang yang menyusul ke pasar. Dia menyerahkan Erli dan semua jajanan yang diminta Erli pada Danang juga.
"Iya Mbak, hati-hati."
"Eh, ini beneran Mbak Linda gak mau minta bantuan Danang atau siapa gitu?" tanya Danang, memastikan bahwa kakaknya itu benar-benar bisa melakukan apa-apa sendiri.
"Iya. Kamu tenang aja. Dan tolong jaga bapak dan Erli ya! Mbak akan segera menyusul ke rumah. Jika urusan ini sudah selesai."
Danang hanya mengangguk mengiyakan. Dia tidak banyak bicara, karena ada Erli diantara mereka berdua.
"Erli sama om Danang dulu ya! Jemput mbah Kakung dan mbah Putri di rumah sakit."
"Mama gak ikutan jemput ke rumah sakit?" tanya Erli, yang merasa heran dengan apa yang dikatakan oleh mamanya.
"Mama ada perlu sebentar. Nanti, jika Mama sudah selesai akan menyusul kok. Erli ikut om Danang ya!"
"Iya Ma. Tapi Mama cepet ya!"
Linda pun kembali mengangguk mengiyakan permintaan anaknya itu. Dia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya, dengan apa yang akan dia lakukan setelah ini.
"Ya sudah Mbak. Danang pergi dulu ya!"
Linda mengangguk lagi, dengan tersenyum senang. Dia ingin membuat anaknya tetap percaya, jika dia akan segera menyusulnya nanti.
Tak lama kemudian, Erli pergi bersama dengan Danang. Tapi mengunakan sepeda motor yang tadi dipakai oleh Linda.
Sedangkan Linda sendiri, mengunakan sepeda motor yang dibawa Danang. DNA itu bukan motornya Danang sendiri. Tapi meminjam dari temannya.
Ini dilakukan oleh Linda dan Danang, karena ada sesuatu yang harus mereka lakukan. Dan harus berganti dengan sepeda motor, supaya tidak dicurigai.
Karena jika mengunakan sepeda motor Linda ataupun Danang sendiri. Bisa dengan mudah diketahui.
__ADS_1
Sebenarnya, Linda dan Danang sudah saling bicara. Tentang masalah yang dia dengar dari kang Mus.
Linda bertanya pada Danang, semalam. Saat dia dan Ferry datang ke rumah sakit, untuk menjenguk bapaknya. Dan inilah kesepakatan yang mereka putuskan.
Awalnya, Danang ingin ikut untuk menemani Linda. Tapi Linda tidak memperbolehkan adiknya itu untuk ikut. Karena keadaan bapak, yang masih membutuhkan perhatian.
Linda tidak mau terjadi sesuatu pada bapaknya lagi. Karena saat ini, keadaan bapaknya sudah tidak bisa stabil seperti dulu lagi.
"Jangan sampai masalah ini didengar oleh bapak atau ibu Nang. Terutama bapak."
"Aku tidak mau jika terjadi sesuatu pada bapak, seandainya tahu kebenaran tentang semua ini."
Begitulah pesan yang disampaikan oleh Linda pada adiknya. Dia tidak ingin menambah beban pikiran bapaknya. Ke semua itu bisa membahayakan kesehatan bapaknya juga.
Apalagi, saat ini bapaknya juga baru saja pulang dari rumah sakit.
Sebelum melajukan sepeda motornya, Linda menghela nafas panjang. Seakan-akan ingin memenuhi paru-paru nya hingga penuh. Setelah itu baru pergi dari tempatnya parkir tadi.
*****
Di belakang pasar, sudah tidak ada Ferry.
Di beberapa sudut tempat, kios atau warung, juga tidak ada sosok Ferry.
Dengan gerakan yang pelan tapi pasti, Linda akhirnya membuka handphone miliknya. Membuka satu aplikasi, yang bisa menunjukkan di mana lokasi seseorang. Dari ponsel yang dimiliki oleh orang tersebut.
"Oh, mereka sudah sampai di jalan xxx. Baiklah, Aku akan menyusul mereka, dengan melacak jejak dari petunjuk ini."
Akhirnya, dengan memantapkan diri dan hatinya. Linda kembali melajukan sepeda motornya, untuk mengikuti ke mana arah yang dituju oleh suaminya.
"Semoga apa yang Aku sangka ini salah, dan kecurigaan serta berita itu juga tidak benar."
"Meskipun Aku tidak benar-benar mencintai dia, tapi Aku juga tidak mau Erli terluka. Jika harus mendapatinya kedua orang tuanya harus berpisah."
"Aku bertahan hanya untuk Erli."
Sekarang, Linda menyadari semua yang dia rasa dan lakukan selama ini. Jika dia hanya ingin Erli tetap berkembang sebagaimana mestinya, sama seperti layaknya anak-anak yang lain. Utuh dalam keadaan normal, yang punya mama dan juga papa.
Dia mengabaikan bagaimana dengan hati dan perasaannya sendiri.
__ADS_1