
Dag dig dug!
Dag dig dug!
Jantung Ferry berdetak kencang tak karuan. Dia sangat khawatir dengan kondisi dirinya sendiri saat ini. Meringkuk dalam lemari kecil, sehingga dia tidak bisa bergerak sedikitpun.
Ferry tidak punya pilihan lain, selain menyembunyikan dirinya sendiri di lemari ini.
Dia merasa terkejut, saat mendengar suara istrinya di ambang pintu. Dan sedang berdebat dengan mbak Nana.
Dengan cepat, Ferry menyambar baju dan celananya yang berserakan di lantai kamar. Tapi ternyata, dia lupa mengamankan ponsel dan dompetnya. Yang tadi dia letakkan di atas meja.
Ferry mendengar semua pembicaraan dan perdebatan mereka, yang saat ini ada di dalam kamar hotel. Tempat dirinya dan mbak Nana beristirahat.
Tadi, Ferry dan mbak Nana sudah sempat bermain-main dengan segala gaya selama tiga ronde. Dan hampir memasuki ronde ke empat, saat pintu kamar diketuk dari luar.
Itulah sebabnya, pintu tidak segara dibuka. Karena mbak Nana harus memakai pakaian terlebih dahulu.
Sedangkan Ferry hanya sempat mengenakan kaos dalam dan celana pendeknya saja.
Dan sekarang, dia harus berada di dalam lemari, yang sudah di isi dengan tas miliknya juga.
Masih untung bisa dia tempati, karena tas milik mbak Nana, belum sempat dimasukkan ke dalam almari pakaian ini.
Sekarang, Ferry semakin cemas. Di saat Linda berjalan melewati lemari, tempat dia bersembunyi. Untuk pergi memeriksa ke kamar mandi.
'Semoga Linda tidak berpikir untuk membuka lemari ini.'
Ferry berharap dalam hati. Supaya Linda tidak melihatnya dalam keadaan seperti sekarang ini. Dia tidak tahu, bagaimana cara untuk memberikan penjelasan kepada istrinya itu. Seandainya nanti Linda benar-benar bisa menemukan dirinya.
'Pergi Lin. Pergilah! Aku tidak mau Kamu sakit hati karena menemukan keberadaan diriku di sini.'
'Aku tau Aku salah. Tapi Aku juga tidak mau melihatmu kecewa, dengan apa yang Aku lakukan ini. Sungguh, Aku tidak bisa melihat bagaimana hancurnya hatimu.'
'Pergilah Lin. Pergi cepat!'
Ferry terus berharap supaya Linda tidak bisa menemukan dirinya. Dia benar-benar putus asa, jika Linda bisa menemukannya saat ini. Karena itu artinya, Linda tidak akan pernah bisa memaafkan dirinya. Untuk semua kesalahan yang sudah dia lakukan kesekian kalinya.
Ferry sudah berjanji untuk tidak main tangan lagi, sejak Linda masuk ke rumah sakit akibat penganiyaan yang dia lakukan.
Dia berjanji, asalkan Linda tidak meninggalkan dirinya.
__ADS_1
Apalagi setelah itu, tak lama kemudian Ferry juga harus menerima kenyataan bahwa. Dia dipecat dari jabatannya sebagai seorang polisi. Sehingga membuat dirinya tidak punya pekerjaan, dengan tanggungan hutang yang cukup banyak.
Jika kesalahan demi kesalahan yang sudah dia lakukan sedari dulu, di tambah lagi dengan kesalahan dalam perselingkuhan ini. Kemungkinan besar Linda tidak akan pernah bisa memaafkan dirinya.
Linda pasti akan menceraikan dirinya. Hal yang tidak bisa dibayangkan oleh Ferry, seandainya dia harus berpisah dari istrinya itu.
"Nang, tidak ada."
Terdengar suara Linda yang baru saja keluar dari dalam kamar mandi. Memberitahu pada adiknya, jika Ferry tidak ada di dalam sana.
"Coba buka semua tirai Mbak!"
Krek!
Krek!
Terdengar suara tirai yang dibuka, sehingga kamar tampak lebih terang dari pada tadi.
Tapi pencarian yang dilakukan oleh Linda dengan Danang, tidak membuahkan hasil. Sehingga mereka berdua juga hampir putus asa.
Pinjol dan laki-laki dewasa, pengamanan hotel, masih ada di luar pintu kamar. Berjaga-jaga jika terjadi sesuatu pada tamu dan orang yang sedang melakukan sidak di kamar tersebut.
Mereka berdua tidak mau ikut campur dalam urusan rumah tangga orang lain. Yang penting tidak ada pertumpahan darah di hotel mereka. Itu sudah cukup bagi pihak hotel.
Dia merasa sedikit lebih lega, karena Linda tidak bisa menemukan di mana suaminya berada.
Padahal di dalam hatinya, dia juga bertanya-tanya. Di mana kira-kira kekasih gelapnya itu menyembunyikan diri.
Mbak Nana jadi berbangga hati, karena kekasihnya itu ternyata bisa mengamankan dirinya sendiri. Di saat genting seperti sekarang ini.
Meskipun sebenarnya dia tetap saja tidak merasa tenang, jika Linda dan adiknya belum pergi dari kamarnya.
"Sudah-sudah, sana pergi! Menganggu orang istirahat saja," desis mbak Nana kesal.
"Mbak. Mungkin kita salah tempat. Salah sasaran."
Danang mencoba untuk menenangkan hati kakaknya, agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Dia khawatir jika, mbak Nana kalap. Kemudian menerjang Linda, sama seperti yang hampir saja terjadi tadi.
"Tapi Nang, mbak yakin. Itu dompet dan handphone milik mas Ferry," sahut Linda kekeh. Jika dompet dan ponsel yang saat ini sedang dipegang mbak Nana adalah milik suaminya.
"Masih ngeyel!"
__ADS_1
"Mana? Mana suami Kamu Mbak? Jangan asal nuduh ya!"
"Aku bisa melaporkan mbak pada pihak yang berwajib, dengan tuduhan pencemaran nama baik. Dan juga perlakuan tidak menyenangkan."
Linda tersenyum tipis, mendengar perkataan yang diucapkan oleh mbak Nana.
"Anda begitu yakin sekali!"
Tidak mau kalah, Linda juga mengucapkan perkataan yang membuat mbak Nana naik pitam.
Dengan cepat, dia maju untuk menampar wajah Linda.
Untungnya, Danang juga cepat menangkap tangan mbak Nana. Sehingga tamparannya itu tidak mengenai sasaran. Wajah Linda pun selamat, dan tidak merasakan rasa panas akibat tamparan tangannya mbak Nana.
"Eghhh... Awas saja kalian berdua!"
Mbak Nana berusaha untuk melepaskan tangannya, yang masih dipegang dengan erat oleh Danang.
Danang pun akhirnya melepaskan tangannya mbak Nana, karena sebenarnya dia juga tidak ingin menyakiti perempuan. Sebab dia membayangkan jika itu adalah kakak ataupun ibunya.
"Sudah Mbak. Ayo kita pergi. Mungkin kita bisa mencari mas Ferry di tempat lain."
Linda mengangguk mengiyakan ajakan adiknya. Dia juga tidak mau, berada di kamar ini terus. Karena itu bisa membuatnya naik darah.
Tapi dia masih merasa penasaran, dengan dompet dan ponsel yang ada di tangan kirinya mbak Nana. Sehingga dengan gerakan cepat, dia merampas dompet dan ponsel tersebut.
"Ehhh..."
Mbak Nana tidak sempat lagi untuk mempertahankan dompet dan ponsel tersebut. Sehingga Linda bisa mengambilnya. Dan pada saat dia ingin mengambilnya lagi dari tangan Linda, Danang pun mencegahnya.
"Maaf Mbak. Jika itu memang miliknya Mbak, pasti akan dikembalikan lagi. Mbak Saya hanya ingin melihatnya saja."
"Tolong mengerti ya Mbak. Karena sesama perempuan, seharusnya Mbak juga tahu. Bagaimana keadaan hati seorang perempuan yang diselingkuhi suaminya."
Tapi sebelum mbak Nana sempat menjawab ataupun mengatakan sesuatu, Linda sudah membuka dompet tersebut.
"Mas Ferry!"
Linda menyebut nama suaminya sendiri, karena di dalam dompet tersebut, ada kartu identitas dan juga SIM milik suaminya. Jelas sekali, dengan fotonya Ferry juga.
"Mbak, ini milik suami Saya!" KTP dan SIM milik Ferry, dikeluarkan oleh Linda dari dalam dompet.
__ADS_1
Dia menunjukkan dua kartu identitas tersebut, di depan wajah Mbak Nana.