Tante Melinda

Tante Melinda
Bukan Rahasia Lagi


__ADS_3

Linda berjalan kembali menuju ke tempat kerjanya. Di belakangnya, ada pak Komarudin yang juga berjalan mengikuti langkah Linda. Meskipun Linda tidak pernah memintanya untuk ikut.


Semua orang, yang ada dan mereka berdua lewati, menatap aneh dan penuh kecurigaan. Apalagi, di saat Linda masuk ke dalam ruangannya, dan diikuti oleh asisten manager tersebut.


Padahal, Linda sendiri tidak menyadarinya. Dia sedang memikirkan tugas yang tadi diberikan oleh pak Rudi padanya.


Begitu tiba di ruangannya, pak Komarudin menutup pintu ruangan tersebut.


Klek!


"Pak Komar?"


Linda terkejut dengan apa yang dilakukan oleh atasannya itu.


"Kamu yakin mau ikut dengan pak Rudi ke Jakarta?" tanya pak Komarudin, tanpa mengalihkan perhatian dari wajah Linda yang terkejut.


"Kan ini tugas Pak. Apa Saya bisa menolaknya?" tanya Linda balik, pada pak Komarudin.


Helaan nafas panjang terdengar dari asisten manager tersebut.


"Hati-hati Lin."


Akhirnya, dia mengatakan apa yang ada di dalam hatinya. Pak Komarudin meminta Linda untuk berhati-hati, saat berada di Jakarta.


"Pak Rudi bisa melakukan apa saja padamu di sana."


Linda mendongak menatap ke arah pak Komarudin. Dia berpikir jika, pak Komarudin sedang cemburu, seandainya apa yang mereka lakukan kemarin, juga akan dilakukan oleh pak Rudi.


"Apa kamu bisa menservis ini lagi? sepertinya, dia ketagihan denganmu."


Pak Komarudin menunjuk ke arah bawah, dengan gerakan wajah dan matanya. Memberikan isyarat yang ingin dia sampaikan.


Linda yang sudah pernah menservisnya kemarin, sepertinya paham dengan apa yang diinginkan oleh atasannya itu.


Tapi, sepertinya Linda masih ada keraguan yang memang tidak pernah dia katakan.


"Ayo Linda. Aku sudah tidak sabar lagi."


Dengan gerakan cepat, pak Komarudin menundukkan kepalanya Linda, hingga berada pada posisi yang dia inginkan. Dan itu adalah hal yang sangat dia nantikan.


Linda dengan gerakan ragu memulai gerakannya. Tapi, lama kelamaan, dia bisa juga melakukannya dengan baik. Dan Linda pun ikut terpengaruh, dengan apa yang dirasakan oleh asisten manager tersebut.


Apalagi saat mendengar suara pak Komarudin yang terdengar puas dengan semua yang sudah dia lakukan.

__ADS_1


Linda pun ikut merasa puas. Dengan apa yang dia lakukan untuk atasannya itu.


Setelah beberapa saat kemudian, "Kamu tidak mau Aku servis juga?"


Linda hanya menanggapi pertanyaan tersebut dengan senyuman tipis.


"Apa Kamu tidak penasaran? Aku bisa membuatmu terbang, dan yang pasti akan ketagihan juga Lin," tutur pak Komarudin, mengiming-imingi Linda, dengan servisnya.


"Waktunya tidak mungkin cukup Pak. Kembalilah, sebelum ada orang lain yang ingin masuk dan tahu apa yang terjadi di sini."


Akhirnya, pak Komarudin sadar, jika pada saat ini mereka berdua masih ada di jam kerja. Dan tentu itu akan menjadi bumerang bagi mereka berdua, jika sampai ada yang memergoki.


"Eh iya. Aku sampai lupa saking keenakan."


"Hemmm... bagaimana jika akhir pekan ini, kita pergi ke suatu tempat. Di mana kita berdua bisa..."


Pak Komarudin tidak menuntaskan kata-katanya. Dia hanya mengedipkan sebelah matanya, untuk memberikan kode pada perempuan yang sudah membuat dirinya merasa melayang untuk sesaat tadi.


"Tapi Pak. Saya..."


"Ah, gampang itu Lin. Kamu bisa bilang pada suaminya Kamu, jika ada lembur. Kamu kan hari senin udah berangkat ke Jakarta. Jadi akhir pekan lembur untuk menyelesaikan pekerjaan yang harus Kamu tinggalkan selama seminggu ke depan nanti."


Linda belum bisa memutuskan untuk menerima tawaran dari atasannya itu. Dia ragu, untuk membohongi suaminya sendiri di rumah.


'Bagaimana ini?'


"Aku tunggu keputusanmu besok."


Pak Komarudin berjalan menuju ke arah pintu, saat selesai berkata demikian. Dia keluar, dan bersikap seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu yang tidak seharusnya terjadi juga di antara mereka berdua tadi.


Ternyata, keberadaan pak Komarudin di ruangan Linda, mendapatkan perhatian dari beberapa karyawan. Yang tentunya kebetulan ada dan melihatnya masuk tadi.


"Tuh lihat! asmen baru keluar. Pasti abis..."


( asmen singkatan dari asisten manager )


"Huhs! Jangan kenceng-kenceng ngomongnya. Nanti ada yang denger."


"Ah... sudah banyak yang tau juga, bagaimana kelakuannya kan? bukan rahasia lagi itu!"


"Pasti Mbak Linda kena juga kan? gak mungkin gak deh... secara dia itu bukan siapa-siapa."


"Sudah-sudah. Gak usah ngurusin urusan mereka. Yang penting, kita kerja aja yang bener."

__ADS_1


Banyak dari para karyawan, yang membicarakan tentang perilaku asisten manager tersebut. Karena ternyata, pak Komarudin itu sudah terbiasa melakukan hal semacam ini, pada orang-orang yang menjadi incarannya.


"Kasihan ya mbak Linda."


"Kasihan apa? Orang dia juga suka pastinya. Pak Komarudin itu joss lho!"


"Hah, kok Kamu tau? apa Kamu juga pernah?"


"Hehehe... kata leader yang dulu. Dan sekarang leader itu dipindahkan ke gedung sebelah. Paling pak Komarudin udah bosen. Hahaha..."


Ada juga yang membicarakan hal semacam ini sebagai sebuah lelucon.


Mungkin karena mereka sudah terbiasa menghadapi hal-hal semacam ini. Jadi, menurut mereka semua itu adalah hal yang biasa saja.


*****


Di pengilingan padi.


Romi sedang sibuk dengan pekerjaannya. Erli, ada di sebelahnya dengan beberapa mainan yang memang sengaja di bawa. Agar Erli bisa tenang dan tidak berlari-larian ke sana ke mari.


Banyak pembeli beras, yang datang dan menyapa Erli. Mereka semua suka melihat anak kecil yang cantik itu.


"Hai cantik. Sedang apa?"


Sapa salah satu pembeli, yang sedang menunggu antrian untuk dilayani oleh Ferry.


Ferry hanya melihat sekilas ke arah anaknya, yang masih asyik sendiri dengan kegiatannya. Yaitu bermain.


"Kok ikut Mas Ferry ke sini terus. Mamanya ke mana Mas?" tanya pembeli, yang merasa penasaran. Karena dia tidak pernah melihat keberadaan mamanya Erli.


"Mamanya kerja di pabrik Mbak," jawab Ferry, sambil menimbang beras yang diminta oleh pembeli.


"Wah, jarang di rumah dong Mas. Anaknya cantik begitu, mamanya juga pasti cantik dong ya?"


Ferry hanya mengangguk saja. Meskipun di dalam hatinya, membenarkan apa yang dikatakan oleh orang tersebut.


Itulah sebabnya, Ferry juga merasa cemburu, jika istrinya, Linda, seperti tidak memperhatikan dirinya. Meskipun dalam hal-hal yang sepele.


"Gak takut istrinya ada main Mas di pabrik?" tanya orang itu lagi, seperti sedang menuduh bahwa Linda tidak setia.


"Dia jadi leader di sana. Banyak pekerjaan dan tangung jawab yang harus dia kerjakan. Tidak mungkin sempat berpikir seperti itu."


Jawaban yang diberikan oleh Ferry, seakan-akan memberikan penjelasan kepada orang tersebut, jika istrinya itu adalah istri yang baik dan setia.

__ADS_1


Apalagi, selama ini Linda memang selalu patuh pada kewajiban sebagai seorang istri yang baik. Dan sedari dulu, istrinya itu tidak pernah menuntutnya macam-macam. Meskipun dia sendiri berbuat semaunya.


Meskipun sebenarnya, di dalam hatinya Ferry, tetap saja ada rasa ketakutan yang sama, seperti yang tadi dikatakan oleh orang tersebut.


__ADS_2