
Malam berikutnya, Romi datang lagi ke rumah Linda. Dia berharap, agar malam ini tidak ada lagi orang yang datang dan jadi saingannya. Sama seperti kemarin, di saat ada dokter Khan An. Yang memiliki niat yang sama dengannya.
Tok tok tok!
"Assalamualaikum..."
"Waallaikumsalam..."
Dari dalam rumah, bapaknya Linda menjawab salam yang diucapkan oleh Romi.
Clek!
"Ehhh... Nak Romi. Mari Nak, mari!" ajak bapaknya Linda, mempersilahkan pada romi yang bertamu malam ini.
Meskipun sebenarnya dia juga merasa bingung, karena kakak iparnya Danang ini, datang dua malam secara berturut-turut.
Dia jadi berpikir bahwa, antara Romi dan anaknya, Linda sudah ada sesuatu yang sedang mereka jalani. Mungkin saja sama seperti waktu dulu.
"Silahkan duduk Nak Romi," ajak bapaknya Linda, dengan mempersilahkan Romi agar duduk di ruang tamu.
Setelahnya, dia juga ikut duduk di ruang tamu. Menemani tamunya itu untuk berbincang terlebih dahulu. Sebab, Linda baru saja menyuapi anaknya di ruang tengah, atau depan TV.
"Maaf Nak Romi. Bapak... bukannya Bapak kepikiran apa-apa ya, cuma kan sekarang Linda itu statusnya sudah menjadi janda. Takutnya, orang-orang luar itu nanti kepikiran yang aneh-aneh mau gosip dan Linda. Kasian Linda nya nak Romi."
Mendengar perkataan bapaknya Linda, Romi justru seperti mendapatkan angin segar. Sebab dengan begini, dia bisa langsung meminta Linda kepada bapaknya. Tanpa harus banyak berbasa-basi.
"Maaf Pak sebelumnya. Sebenarnya, kedatangan Romi kemarin malam itu sudah meminta kepada Dek Linda, supaya mau menjadi istrinya Romi Pak. Tapi karena ada dokter Khan An yang tiba-tiba muncul, akhirnya dek Linda tidak memberikan jawaban yang pasti kepada Romi. Makanya, sekarang Romi datang lagi, untuk bertanya kepastiannya pada dek Linda Pak."
Mendengar jawaban dan penjelasan dari Romi, bapaknya Linda menyipitkan matanya.
Dia berpikir bahwa, seharian ini, Linda tidak membahas tentang Romi atau laki-laki manapun, yang ingin meminta dirinya menjadi seorang istri.
"Kok Linda diam saja ya nak Romi?"
Bapaknya Linda, justru merasa bingung dan bertanya kepada Romi, atas diamnya Linda.
"Mungkin saja, Dek Linda belum menemukan waktu yang pas. Untuk memberitahu Bapak maupun Ibu," terang Romi, yang bisa diterima oleh bapaknya Linda.
Mungkin saja, Linda belum bisa memberikan pernyataan kepada bapaknya, jika Romi ingin memintanya menjadi istri.
"Ya sudah Nak Romi. Bapak ke dalam dulu ya! Nanti Bapak panggilkan Linda juga."
Romi mengangguk-anggukkan kepalanya, tanpa bersuara lagi. Sebab, dia memang ingin bertemu dengan Linda. Untuk memastikan bahwa, niatnya yang semalam sudah disampaikannya diterima atau tidak.
Dia tidak mau berlama-lama, apalagi jika pamannya sampai datang, kemudian meminta linda menjadi istrinya yang ketiga.
Hal itu tidak akan pernah bisa diterima oleh Romi, seandainya Pamannya masih nekat dengan niatannya.
Akhirnya Linda datang menemui Romi di ruang tamu, dengan masih mengunakan kursi rodanya. Tapi Erli tidak ikut keluar bersama dengan mamanya.
"Assalamualaikum Kak Romi," ucap Linda, sebab Romi berdiri membelakangi posisinya. Dengan memandang jendela, melihat pemandangan malam di depan rumah ini.
__ADS_1
"Ehhh, waallaikumsalam..."
Romi menjawab salam Linda, setelah dia membalikan badannya.
Setelahnya, dia berjalan kembali ke kursi tamu. Kemudian duduk, dengan posisi kursi yang letaknya berada lebih dekat dengan linda.
"Maaf Dek. Kakak... Kakak datang lagi, untuk meminta kepastian pada dek Linda."
Linda menatap sekilas ke arah romi, kemudian kembali menundukkan kepalanya. Karena dia masih merasa bingung, dengan keputusan yang yang akan dia ambil.
"Jika Kamu memang tidak mau dan tidak nyaman bersamaku, Kakak juga tidak akan memaksa kok."
Mendengar perkataan yang diucapkan oleh Romi, Linda menggigit bibir bawahnya sendiri. Mencoba untuk menenangkan hati dan pikirannya, serta dapat mengambil keputusan yang akan dia ambil.
"Linda... Sebenarnya Linda..."
"Assalamualaikum..."
"Waallaikumsalam..."
Linda dan Romi, menjawab bersamaan. Salam yang diucapkan oleh seseorang yang baru saja datang bertamu.
Dan mata Linda langsung membulat, setelah melihat siapa yang datang kali ini.
"Linda, Linda mau mas Romi!"
Akhirnya Linda melanjutkan kalimatnya, yang tadi sempat terputus. Karena dia harus menjawab salam dari tamunya.
Tamu yang baru saja datang, dan belum sempat dipersilahkan untuk duduk, melihat keduanya dengan tatapan mata yang tajam.
Tamu tersebut merasa kecolongan dan kalah cepat, di saat ingin melamar janda muda. Yang dia inginkan.
"Paman. Paman dengar sendiri kan? Dek Linda menerima lamaran Romi Paman. Jadi, sebagai perwakilan dari orang tuanya Romi, Paman harus meminta secara langsung. Agar lamaran ini bisa diresmikan secara simbolis malam ini juga."
Tentu saja, Pamannya Romi tidak pernah menyangka, jika keponakannya itu justru memberikan sebuah ejekan. Yang tidak bisa dirasakan orang lain.
Tapi dia tentu saja merasakannya. Apalagi, Romi tahu betul, bagaimana niatnya yang ingin meminta Linda, supaya mau menjadi istri ketiganya.
"Kak. Bisa antar Linda ke dalam?"
Mendengar permintaan Linda, Romi sebenarnya merasa bingung. Tapi dia tidak bertanya apa-apa.
Dengan cepat, dia segera mendorong kursi roda Linda, untuk di bawa ke ruang tengah.
"Kamu tidak apa-apa Dek?" tanya Romi hati-hati, dengan masih mendorong kursi rodanya linda.
"Tiba-tiba Linda merasa sangat pusing Kak," terang Linda memberikan alasan.
Setelah tiba ruang tengah, Romi mengatakan pada bapak dari ibunya Linda, bahwa ada pamannya yang sedang menunggu di ruang tamu. Untuk membicarakan sesuatu yang sangat penting.
Karena bapak dan ibunya Linda tidak tahu apa-apa, mereka akhirnya keluar. Untuk menemui Pamannya Romi.
__ADS_1
"Dek. Kamu gak apa-apa? Apa perlu ke dokter?" tanya Romi, yang melihat Linda sedang kesakitan. Dengan memegang kepalanya sendiri tadi.
Tapi ternyata Linda menggelengkan kepalanya, dan tidak mau diajak pergi periksa ke dokter.
Dia hanya perlu beristirahat, untuk menghilangkan rasa sakitnya kali ini.
"Gak apa-apa Kak. Linda, Linda hanya ingin beristirahat saja." Erli memegangi tangan mamanya, dengan wajah sedih. Karena ikut merasa khawatir, dengan keadaan mamanya.
"Ada apa Dek? Tadi, Kamu baik-baik saja. Tapi setelah memberikan jawaban untukku tadi, kenapa tiba-tiba Kamu merasa kesakitan?"
Linda hanya menggelengkan kepalanya beberapa kali, sebab belum bisa menjawab, dan menceritakan apa yang sebenarnya dia alami saat ini.
"Gak apa-apa Kak. Nanti, nanti Linda akan cerita pada Kakak. Tapi, untuk sementara, bolehkah Linda meminta tolong pada Kakak, untuk memijit pelipisnya Linda?"
Meskipun sebenarnya Romi belum mengerti situasi apa yang sedang dihadapi oleh Linda, Dia hanya bisa mengikuti, apa yang diminta oleh Linda tadi.
Dengan hati-hati, Romi memijat politik linda perlahan-lahan. Memberikan efek rileks dengan pijatan lembut. Supaya rasa pusing yang dialami Linda segera pergi.
"Apa ini sering terjadi?" tanya Romi, dengan masih memijit pelipisnya Linda.
Linda yang dalam keadaan terpejam, hanya bisa menggelengkan kepalanya. Katena hal ini hanya dia alami, jika ada pamannya Romi yang tadi.
Romi masih memijit pelipisnya Linda, sambil berpikir. Kira-kira apa yang terjadi pada wanita ini, sebab dia merasa jika, ada sesuatu yang tidak bisa diceritakan dengan mudah oleh Linda sendiri.
Tapi dia tetap berharap, supaya Linda mau menceritakan tentang apa yang dialaminya, kepada dirinya suatu saat nanti.
"Kakak siap untuk mendengarkan apapun yang ingin Kamu bicarakan Dek. Jadi, jangan pernah sungkan-sungkan pada Kakak ya!"
Linda hanya mengangguk saja, membiarkan tangan Romi yang masih memijitnya.
Dia terpaksa melakukan semua ini, karena tidak ada yang bisa dia mintai bantuannya. Di saat yang mendesak seperti sekarang ini.
Tadi, dia juga tidak punya pilihan lain. Selain menjawab iya, atas pertanyaan yang diajukan oleh Romi, yang bermaksud melamarnya.
Mungin, apa yang dilakukan oleh Linda ini, terkesan terburu-buru. Tapi dia tidak punya pilihan lain. Sebab jika dia tidak segera menjawab pertanyaan Romi, pamannya tadi, bisa-bisa akan mengutarakan keinginannya, yang sama seperti keponakannya kemarin.
Yaitu ingin menjadikan dirinya sebagai seorang istri.
Tapi Linda tahu, jika pamannya Romi itu sudah memiliki dua istri. Jadi, dia tidak mungkin mau, untuk dijadikan istri ketiga.
Dia tidak ingin menyakiti hati siapa pun. Sebab, dia juga tidak mau jika suatu hari nanti akan merasa tersakiti.
*****
Hai gaesss ποΈ
Sambil nungguin TK up Tante Melinda lagi, mampir yuk ke novel keren ini.
Di jamin gak bakalan nyesel pokoknya π
Novel ini dari othor Riski Iki
__ADS_1