
"Romi?"
Ibunya Linda bertanya, dengan menyebut nama orang yang saat ini ada di depannya.
"Iya Bu. Saya Romi," jawab Romi lagi, dengan menganggukkan kepalanya. Mengiyakan pertanyaan yang diajukan oleh ibunya Linda.
Danang akhirnya berinisiatif untuk berbisik di dekat telinga ibunya, memberikan penjelasan tentang siapa tamu yang datang ke rumahnya sore ini.
"Dia kak Romi Bu. Yang dulu pacarnya mbak Linda, sebelum menikah dengan mas Ferry."
Deg deg deg!
Jantung ibunya Linda semakin bertambah kencang. Setelah mengetahui siapa tamunya ini, begitu mendengar bisikan anaknya itu. Mukanya juga tampak pucat.
Entah apa yang sedang dia pikirkan saat ini.
Romi hanya tersenyum, melihat perubahan warna pada wajah ibunya Linda. Setelah melihat Danang selesai membisiki ibunya.
"Ayo Kak masuk!"
Danang mengajak Romi untuk masuk ke dalam rumah.
Tapi Romi tidak segera mengikuti ajakan Danang. Dia menyalami ibunya Linda lagi, untuk kedua kalinya. Karena tadi dia sudah sempat menyalami ibunya Linda ini, di saat menyebutkan namanya sendiri tadi.
Ibunya Linda hanya melongo tak percaya dengan apa yang dia lihat saat ini. Dia berpikir bahwa, Romi sudah tidak mau lagi datang ke rumahnya ini. Karena perlakuannya yang dulu pada pacar anaknya di masa lalu.
Setelah dipersilahkan untuk masuk dan duduk di kursi, Romi mencoba untuk bertanya pada Ibunya Linda.
"Katanya bapak sakit ya Bu, di mana sekarang bapak?"
Pertanyaan yang diterima oleh ibunya Linda, semakin membuatnya bingung dengan pertanyaan yang tidak pernah dia duga sebelumnya.
"Emhhh... itu, itu tadi nak Romi dengar dari siapa ya? Kok tau, jika bapak sakit."
Dengan tenang, Romi memberikan jawaban atas pertanyaan yang dia ajukan barusan para ibunya Linda.
"Saya dengar dari adik Saya. Kebetulan, dia sekarang bekerja di perusahaan yang sama seperti Linda dan Danang.
"Benarkan Nang?"
Danang termenung sejenak, mendengar pertanyaan yang diajukan oleh Romi padanya. Dia lupa, jika adik kelasnya yang pernah dua temui kemarin-kemarin itu adalah adiknya Romi.
"Itu lho si Della Nang," kata Romi, mengingatkan Danang pada nama adiknya.
__ADS_1
"Eh, i_iya Kak. Hehehe... Aku kok malah kelupaan sih."
"Tapi... waktu itu Della bilang, dia cuma ngantar temannya Kak. Masa iya dia kerja di sana juga?"
Danang justru tidak memperhatikan, jika Della sekarang ini sudah bekerja di perusahaan yang sama. Di mana dirinya dan Linda juga bekerja.
"Iya. Awalnya emang Della cuma antar temannya. Tapi ternyata ada lowongan pekerjaan yang menarik hatinya, sehingga dia mencoba untuk menawarkan diri. Untuk melamar pekerjaan di sana juga."
"Oh... begitu ya Kak. Tapi, Della ada di bagian apa ya? Kok, Aku gak pernah liat."
Danang bertanya, sambil mengingat-ingat, di mana pernah melihat Della lagi, setelah pertemuan mereka yang terakhir waktu itu.
"Mungkin Kamu emang gak pernah liat dia lagi. Dia ada di HRD. Tapi kebagian tugas yang urus BPJS atau apa itu lho..."
"Jika temannya Della, ada di bagian klinik. Soalnya emang lulusan jurusan kesehatan."
Danang kembali menganggukkan kepalanya, begitu mendengar semua penjelasan yang diberikan oleh Romi.
Sekarang dia tahu, kira-kira dari mana mantan pacar kakaknya itu mengetahui kondisi kesehatan bapaknya.
Tapi sebelum Danang sempat berbicara, Romi kembali melanjutkan penjelasannya. Dari mana dia tahu, jika bapaknya Linda itu sedang dalam keadaan sakit.
"Della memberitahu pada Saya, saat Saya datang kemarin. Kebetulan, Saya sedang ada proyek di perusahaan tempat adik Saya bekerja. Jadi, di pabrik tempat Kamu kerja itu juga."
"Ya pokoknya lumayan lama untuk proyek itu selesai."
Penjelasan Romi yang panjang lebar, membuat ibunya Linda sampai lupa untuk membuatkan minuman untuk tamunya itu.
Sampai saat bapaknya keluar dari dalam kamar mandi, dan mendengar pembicaraan di ruang tamu.
"Lho, ternyata ada tamu to. Kok, gak disuguhi minum Bu?"
"Ya Allah... sampai lupa Ibu. Maaf ya nak Romi, Ibu lupa. Sebentar-sebentar, Ibu buatkan minum dulu!" pamit ibunya Linda, kemudian berdiri dari tempat duduknya.
Dia pergi ke dapur, untuk membuatkan minuman yang seharusnya sudah dia buat sedari tadi.
Sekarang, tempat duduknya digantikan oleh suaminya. Setelah bersalaman dengan Romi terlebih dahulu.
*****
Di rumah Linda.
Suasana malam di rumah Linda, sama seperti biasanya. Tidak ada perbedaan yang mencolok, setelah kejadian yang terjadi pada minggu kemarin.
__ADS_1
Erli masih belajar bersama dengan papanya, Ferry. Sedangkan Linda sendiri, memasak makanan untuk makan malam mereka bertiga.
Sebenarnya bukan hanya memasak saja. Karena ada pekerjaan sampingan yang dikerjakan oleh Linda sambil memasak. Yaitu mencuci di mesin cuci.
Jadi dia masak sekalian melakukan pekerjaan mencuci, yang memang baru bisa dia kerjakan di malam hari. Sebab tidak sempat mencuci pada pagi harinya. Dengan alasan terbatasnya waktu, yang dia gunakan bersiap-siap untuk pergi bekerja.
Selama ini Ferry juga tidak mempermasalahkan soal pekerjaan rumah. Dia juga tidak pernah mengkritik istrinya itu, tentang keadaan dan pekerjaan rumah yang sering keteteran. Sehingga hanya bisa dikerjakan pada malam harinya.
"Mas, makan udah siap ini. Tolong Erli diambilkan ya! Linda mau mengeringkan pakaian dulu."
Ferry mengangguk mengiyakan permintaan dari istrinya.
"Sayang. Papa ambilkan makan dulu ya? Setelah selesai makan, baru lanjut mewarnai gambar lagi."
"Iya Pa," sahut Erli cepat.
Dia senang, karena papa dan mamanya sekarang ini sudah saling bicara dan juga banyak tersenyum. Tidak sama seperti beberapa hari yang lalu.
Erli memang tidak tahu, apa yang sedang terjadi pada kedua orang tuanya.
Tapi hatinya bisa merasakan suasana rumah yang tidak tenang, karena hubungan antara kedua orang tuanya yang sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja.
"Makan sendiri apa Papa suapi?" tanya Ferry, begitu dia kembali ke tempatnya Erli berada.
Ferry membawa satu piring yang berisi nasi putih hangat bersama dengan ayam goreng, kesukaannya Erli.
"Erli makan sendiri Pa!"
Dengan semangat, Erli menyahuti pertanyaan yang diajukan oleh papanya. Di saat melihat lauk yang ada di atas piring.
"Mas, sayurnya masih ada di panci lho! Linda lupa naruh di meja," kata Linda dengan berteriak dari arah belakang, di mana tempat cucian berada.
"Iya Dek!" sahut Ferry paham.
"Tuh denger, mama buat sayur juga. Erli mau sayurnya juga gak?" tanya Ferry menawari anaknya.
"Gak usah Pa. Erli gak suka sayur."
Erli menolak. Dia tidak mau jika diberikan sayur di atas piring yang dia makan. Dia sudah cukup dengan nasi bersama ayam goreng nya saja.
"Hum..."
Ferry hanya membuang nafas panjang, di saat mendengar jawaban yang diberikan oleh anaknya.
__ADS_1
Padahal dia juga sudah tahu, jika Erli memang susah untuk makan sayur, pada saat makan seperti ini.