
"Ma. Mama! Papa, Mama kenapa?" tanya Erli yang melihat Linda sedang memegangi kepalanya dengan kedua tangan, duduk bersama dengan papanya di teras depan rumah.
"Mama gak apa-apa Sayang, cuma pusing saja," jawab Linda, berusaha untuk tetap tersenyum. Meskipun dipaksakan ke arah anaknya.
Ferry melambaikan tangan pada Erli, supaya lebih mendekat ke tempatnya duduk bersama dengan Linda.
"Sini Sayang!"
Ferry mengajak Erli dengan menarik tubuh anaknya itu, agar bisa duduk di atas pangkuannya. Sedangkan di dalam rumah, masih terdengar pembicaraan tentang rencana pernikahan, yang akan segera dilakukan.
Yang pada akhirnya disepakati jika, tanggal sebelas bulan depan acara akad pernikahan dilakukan di rumah ini.
Itu artinya, pernikahan Danang dan Della kurang dari tiga minggu, dihitung dari sekarang.
Setelah mencapai kesepakatan, akhirnya acara dilanjutkan dengan makan-makan. Karena Della dan Romi, sudah menyediakan makanan untuk semua tamunya.
"Mbak Linda mana?" tanya ibunya Danang karena tidak melihat Linda.
"Ada di depan sama mas Ferry dan Erli juga Bu," jawab Danang, sambil menunjuk ke arah luar rumah dengan dagunya.
"Kok di luar, suruh masuk sini! panggil untuk makan. Gak enak ini sama tuan rumah, malah keluar."
Danang mengangguk mengiyakan permintaan ibunya, untuk memangil kakak perempuannya itu untuk masuk kembali. Karena acara makan sedang di mulai. Karena setelah, ini mereka akan segera pulang.
Setibanya di luar rumah, Danang melihat Erli yang sedang ada di pangkuan papanya.
"Mbak Linda, mas Ferry, ayo masuk! itu acaranya sedang makan, nanti setelah ini kita pamit pulang." ajak Danang sambil berbisik.
"Ya Nang sebentar ya!"
Ferry meminta pada Erli, untuk turun dari pangkuannya. Kemudian mengajaknya masuk ke dalam rumah lagi.
"Erli, masuk dulu ya!"
__ADS_1
Erli mengelengkan kepalanya, melihat keadaan mamanya yang sedang pusing.
"Dek, kita masuk sebentar ya! nanti pulang kita bel obat di apotik."
Linda mengangguk mengiyakan, meskipun sebenarnya dia malas untuk masuk kembali ke rumah. Sebab masih ada pamannya Romi, yang ada di dalam sana. Sedangkan jika dia mendengar suara pamannya itu, dia kan teringat dengan kejadian masa kecilnya. Dan itu kembali membuatnya kepalanya terasa sangat sakit.
Sebenarnya, Linda sudah berusaha mengabaikan. Dengan mengajak anaknya untuk berbincang-bincang, supaya dia tidak mendengar perbincangan bapaknya dan juga pamannya Romi.
Sayangnya, telinganya termasuk sensitif jika harus mendengarkan suara orang tersebut.
Sebenarnya Linda sangat tersiksa dengan keadaan seperti ini, tapi dia harus mampu berdiam diri agar tidak membuat kecurigaan dengan yang lain. Tapi sayangnya, apa yang dia lakukan itu tetap tidak terlepas dari perhatian Romi, yang duduk di samping adiknya, Della.
"Dek. Itu Mbak nya Danang kenapa dia? sepertinya sedang menahan rasa sakit pada kepalanya. Apa dia sedang sakit" tanya Romi dengan berbisik di dekat adiknya, dengan sesekali melirik ke arah Linda.
Beberapa saat kemudian, sakit kepala Linda tidak bisa di tahan lagi, sehingga dia memejamkan matanya beberapa kali untuk mengusir perasaannya yang sedang tidak baik-baik saja.
"Mas. Linda ke luar dulu ya!"
Linda sudah tidak kuat, menahan sakit kepalanya, karena suara-suara yang terdengar dari mulut pamannya Romi, yang juga sedang berada dalam rumah. Padahal Linda belum menyendok makanannya.
"Linda tambah pusing Mas. Mending berada di luar saja. Maaf maaf."
Ferry tidak lagi memaksa. Dia membiarkan Linda keluar dari dalam rumah, dan meminta Erli untuk tetap berada di samping papanya, untuk menghabiskan makanannya sendiri.
Sebenarnya Romi ingin bertanya, tapi dia tidak mau jika Ferry merasa tersinggung, dan mengira dia ikut campur dengan urusan mereka. Apalagi sampai terlihat perhatian dengan Linda.
Romi harus bisa menahan diri, meskipun dia merasa kasihan. Karena melihat Linda yang tampak kesakitan.
Di luar rumah, Linda langsung menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi yang ada di teras rumah. Mencoba untuk menghilangkan rasa sakit yang ada di kepalanya.
"Kenapa harus pamannya Kak Romi?" Linda bergumam seorang diri, dengan pertanyaan yang tidak mungkin bisa dia jawab.
"Apakah benar, laki-laki yang dulu itu adalah Pamannya kak Romi? tapi Aku juga tidak mungkin melupakan suara itu. Bahkan baru tadi Aku mendengarnya lagi, setelah sekian puluh tahun lamanya.
__ADS_1
Linda tidak percaya jika bisa bertemu dengan laki-laki yang sudah melecehkan_nya di waktu masih kecil dulu.
Linda berusaha untuk mengusir bayangan masa lalunya, dengan memejamkan mata.
Tak lama kemudian, dari dalam rumah terdengar bapaknya yang sedang berpamitan pada Tuan Rumah.
Linda terpaksa menemui Della dan juga Romi untuk bersalaman. Tapi dia tidak menyalami pamannya Romi. Karena dia tidak mau melihat wajah laki-laki tersebut.
Setelah kepergian tamunya, yang melakukan lamaran kepada keponakannya, pamannya Romi juga ikutan pamit pulang.
"Oh ya Del, sebelum paman pulang, boleh gak Paman bertanya, itu lho tadi, emhhh... cewek Bule yang ikut Danang melamar, yang tidak mau masuk ke dalam rumah. Dia siapa?"
"Halah Paman-paman! tanya gitu aja kok sambil muter-muter. Bilang saja mau kenalan!" cibir Della pada pamannya, yang memang sudah punya dua istri.
Hehehe... cantik sih, makanya Paman tanya. memangnya dia siapa?"
"Dia itu calon iparnya Della Paman. Jadi, paman jangan macam-macam. Della gak mau jika Paman buat ulah. Della bisa malu!" Della mengancam pamannya, yang sedang penasaran dengan sosoknya Linda.
"Ada apa Del?" tanya Romi yang baru saja masuk ke dalam rumah. Karena sedari tadi, dia masih ada di teras. Padahal mobil yang membawa Linda dan keluarganya, sudah tidak terlihat lagi.
"Gak apa-apa kok Mas," sahut Della cepat.
Dia masih berusaha untuk melindungi pamannya, karena jika romi tahu pamannya itu bertanya-tanya tentang Linda, bisa-bisa Romi akan marah nantinya.
"Paman itu sudah punya dua istri, tidak usah nambah lagi. Dan ingat, paman itu sudah tua." Romi berusaha untuk menasehati pamannya. Seakan-akan dia sudah tahu, apa yang tadi sedang ditanyakan oleh pamannya itu.
"Halah... Kamu saja Romi, yang tidak tahu barang bagus!"
Pamannya itu justru mengejek Romi, karena Romi gagal dalam pernikahannya, dan belum menikah lagi.
"Bukan begitu Paman. Tapi Romi tidak mau asal ambil istri. Semuanya perlu dipikirkan secara matang."
"Hum..."
__ADS_1
Pamannya itu tidak lagi membantah. Tapi dia masih merasa penasaran dengan sosok Linda yang berbeda dengan keluarganya yang lain. Karena Linda yang memang berbeda.
"Tapi kenapa Aku merasa tidak asing ya, dengan sosok mbak nya Danang yang bule itu... cuma... di mana dan kapan ya?"