
Linda menikmati kegiatannya di rumah. Sudah lama dia tidak bisa seperti sekarang ini.
Memasak dengan ditunggui oleh suami dan juga anaknya. Melayani mereka berdua, yang seakan-akan tidak sabar. Untuk segera menyantap hasil masakannya.
"Ma, buruan! Erli lapar," rengek Erli tidak sabar.
Dia juga memegangi perutnya dengan kedua tangan. Seakan-akan memang sudah sangat kelaparan.
Berbeda dengan papanya, Ferry, yang hanya bisa berbaring di tempat tidur. Suami Linda itu, memanggil namanya terus menerus. Seakan-akan takut jika dia dilupakan oleh istrinya.
"Dek. Buat Papa jangan lupa ya!"
"Jangan panas-panas!"
Begitu teriaknya dari dalam kamar.
Linda harus bisa memberikan jawaban untuk anak dan juga suaminya, agar bisa bersabar sebentar.
"Sabar ya Sayang!"
"Mama sedang mengoreng kentang. Jika Kalian berdua masih berisik, kentang goreng akan di makan Mama sendiri!"
Di dalam kamar Erli yang sedang menunggui papanya, mengajak tos.
"Pah. Tos yuk!"
"Tos buat apa?" tanya Ferry bingung, dengan ajakan anaknya itu.
"Bikin Mama ngambek-ngambek. Hihihi..."
Erli segera menutup mulutnya sendiri, mengunakan kedua telapak tangannya.
"Hihihi... pinter anaknya Papa," puji Ferry, dengan mengacungkan jari jempol pada Erli. Setelah mereka berdua melakukan tos bersama.
Do ambang pintu kamar, Linda berdecak. Mendengar perkataan anaknya yang masih cekikikan dengan suaminya.
"CK. Gitu ya ternyata!"
Erli dan Ferry, sama-sama saling pandang karena terkejut. Mereka berdua tidak tahu jika, Linda sudah ada di depan pintu kamar.
"Mama..."
Erli berteriak, kemudian berlari menubruk mamanya. Karena tinggi tubuhnya hanya sebatas kaki atasnya Linda, dia pun memeluk kedua kaki tersebut. Dengan menenggelamkan wajahnya.
"Erli seneng Mama di rumah. Masak buat Erli, nemenin Erli main. Pokoknya Erli seneng banget!"
Linda merasa terharu, mendengar perkataan anaknya itu. Dia mengelus-elus pucuk kepala Erli, dengan gemas.
"Sayangnya Mama hak sedang merayu kan, biar gak kena marah?"
__ADS_1
Erli mendongak menatap ke atas. Kemudian dia juga mengelengkan kepalanya beberapa kali.
Linda yang dalam keadaan menunduk, melihat bagaimana anaknya. Dia tersenyum senang, kemudian melepaskan tangan anaknya, yang melingkar di kakinya bagian atas.
Sekarang, Linda jongkok, untuk mensejajarkan dirinya dengan erli.
"Erli mau sekolah gak?" tanya Linda pada anaknya, yang memang sudah ada pada usia taman kanak-kanak. Tapi untuk tingkat TK kecil.
Dengan cepat, Erli mengangguk mengiyakan pertanyaan yang diajukan oleh mamanya.
"Mau Ma, mau!" teriak Erli dengan melompat-lompat kegirangan.
Ferry hanya ikut tersenyum saja, di tempat tidur. Melihat bagaimana dengan istri dan anaknya, yang terlihat sangat senang.
Dalam hati Ferry, dia merasa bersyukur. Karena dengan adanya musibah yang dia alami kemarin sore, mendekatkan kembali hubungan keluarga kecil mereka yang terasa hambar akhir-akhir ini.
"Tapi, di TK mana Dek? jika Kamu mau mendaftarkan Erli sekolah."
Linda mengalihkan perhatiannya pada Ferry. Dia tahu, suaminya itu pasti merasa cemas dengan keadaan Erli jika sudah masuk sekolah nanti.
Dia sendiri tidak mungkin bisa salalu mengantar dan menjemput Erli. Karena dia juga harus kerja, dari pagi hingga sore. Bahkan kadang sampai malam hari.
Sedang suaminya sendiri, juga sedang tidak bisa melakukan aktivitas apa-apa. Sama seperti biasanya.
Mungkin, untuk lima atau enam bulan kemudian, suaminya itu sudah bisa berjalan dan mengantar jemput Erli. Tapi, untuk dua bulan kemudian, pastinya belum bisa.
"Kita pikirkan nanti Mas. Ada banyak sekolah TK sekarang. Bahkan, ada yang sampai siang atau sore. Jadi TK itu ada TPA juga."
"TPA?" tanya Ferry, yang belum tahu apa singkatan dari TPA.
"Tempat penitipan anak Mas," jawab Linda memberikan penjelasan kepada suaminya.
"Oh..."
Mulut Ferry hanya membola. Baru kemudian dia mengangguk mengerti.
"Emhhh... bagaimana jika di taruh di TK yang ada di desa Linda Mas? Setidaknya, ibu atau bapak bisa menjemput Erli, jika berangkatnya Mas sendiri yang antar."
"Tapi untuk sementara waktu, saat Mas masih belum bisa ya Linda yang antar Erli."
Linda memberikan usulan, supaya mereka tidak kebingungan dengan sekolahnya Erli nanti.
"Yeee... Erli sekolah TK. Ada banyak teman yang di dekat rumah simbah juga TK Pa, Ma!"
Erli justru merasa senang, dengan usulan mamanya. Karena di rumah simbahnya, dia sudah ada teman. Rumah mereka ada di sekitar rumah simbahnya juga.
Teman bermain Erli, jika dia sedang ada di rumah simbahnya.
"Apa gak tahun depan aja? Biar kita gak merepotkan ibu dan bapak juga." Ferry sepertinya punya pemikiran yang lain.
__ADS_1
Linda melihat suaminya itu, untuk meminta penjelasan.
"Hemmm..."
Ferry membuang nafas panjang, sebelum dia memberikan penjelasan kepada istrinya, Linda.
Menurut Ferry, jika dia sedang dalam keadaan sehat, dia bisa antar jemput Erli sendiri. di TK mana pun, dia siap.
"Tapi Mas, jika tahun depan, erli ada di usia TK besar. Apa dia bisa mengimbangi teman-temannya yang sudah sekolah sedari TK kecil?"
"Bahkan sekarang ini, ada Paud. Pendidikan anak usia dini."
Linda kembali memberikan alasan, kenapa sekolah Erli tidak bisa di tunda hingga tahun depan lagi.
Ferry menghela nafas panjang. Dia melihat anaknya yang diam melihat kearahnya. Seakan-akan berharap agar dia menyetujui usulan mamanya tadi.
"Tapi minta persetujuan dari ibu dan bapak dulu Dek. Jika mereka keberatan gak usah. Nanti kita sewa tukang ojek saja dulu. Taruh TK dekat-dekat sini, atau pengilingan padi."
"Iya Mas. Begitu juga bagus," ujar Linda menanggapi.
Akhirnya, kesepakatan mengenai sekolah Erli selesai.
Linda pamit pada anak dan suaminya, untuk menyiapkan makan siang mereka bertiga.
Meja dan kursi di tata Linda sedemikian rupa, di dalam kamar. Ini karena Erli ingin makan bersama dengan papanya di dalam kamar. Karena papanya tidak mungkin bisa duduk di kursi.
Jadi, kursinya diposisikan di dekat tempat tidur, agar Erli merasa sedang duduk bersama saat makan bersama dengan papanya.
Erli juga ikut sibuk membantu mamanya, dengan menata piring dan sendok di meja makan.
Linda, yang membawakan nasi, lauk dan sayurnya. Karena semua masakannya masih dalam keadaan panas.
Sekarang, mereka bertiga siap untuk menyantap makanan untuk pertama kalinya, ada di rumah. Dengan makanan yang di masak sendiri oleh Linda.
Hal yang sudah tidak pernah lagi dia lakukan, sejak bekerja di pabrik.
Karena kesibukannya bekerja, dan waktu yang sedikit ada di rumah. Membuatnya seakan jauh dari anak dan suaminya sendiri.
Melupakan semua tugas utamanya sebagai seorang istri dan mama dari anaknya.
Di sela-sela menyuap makanan ke dalam mulutnya, Erli berkata pada mamanya, "Ma. Nanti malam makan kayak gini lagi ya!"
Linda hanya mengangguk saja, kemudian tersenyum melihat anak dan suaminya makan dengan lahapnya.
Ferry yang tidak bisa makan sendiri, harus disuapi oleh Linda.
"Terima kasih ya Dek," ucap Ferry, saat suapan terakhir kalinya sudah selesai dia kunyah dan telan.
Senyuman Linda mengembang sedari tadi. Ada kepuasan tersendiri, dengan melihat Erli dan Ferry yang tersenyum, saat menikmati makanan hasil masakannya sendiri.
__ADS_1