
Ferry dengan cepat naik mengantikan posisi mbak Nana, yang tadi memegang stang motor. Jadi, sekarang dia ada di depan. Membonceng mbak Nana yang datang menjemputnya.
Mbak Nana datang tak lama kemudian, setelah Linda dan Erli tak lagi terlihat. Karena sebenarnya, posisi dia sudah ada di belakang pasar. Di saat Ferry baru saja datang, di antar oleh istri dan anaknya tadi.
"Cepet sekali tadi Mbak Nana sampai. Untungnya, istri dan anakku udah pergi," ujar Ferry dengan perasaan yang was-was. Karena waktu mbak Nana datang memang tidak berselang lama kemudian. Setelah istrinya pamit.
"Hihihi... gerak cepat lah Mas. Takutnya, istrinya mas Ferry berubah pikiran. Kemudian datang untuk ambil mas Ferry lagi. Hehehe..."
"Oh..."
"Mas. Kita ke hotel yang pertama kali kita bisa... itu ya!"
Mbak Nana gemas sendiri, saat ingin bicara sesuatu yang menurunnya tidak bisa dia katakan secara mudah. Karena ada sesuatu yang ingin dia lakukan secara langsung, tanpa harus mengatakannya.
"Kenapa ke sana?" tanya Ferry, tanpa menolehkan kepalanya ke arah belakang. Karena wajahnya mbak Nana, sudah ada begitu dekat dengan telinganya yang tertutup helm.
Bahkan sesekali, mbak Nana sudah genit. Dengan mengigit kecil lehernya.
Itu bisa dilakukan dengan mudah oleh mbak Nana, karena dua tidak mengunakan helm. Sebab, helm miliknya dipakai oleh Ferry. Karena tadi, Ferry tidak mungkin menunggui dirinya dengan masih mengenakan helm dari rumah.
"Mbak. Jangan di gigit-gigit. Nanti merah, bisa curiga istriku."
"Ihsss... mas Ferry gak usah bicara istri Napa sih! Masih dua hari juga lho. Ilang-ilang Mas tanda merahnya."
Mbak Nana tidak mau kesenangannya di larang Ferry. Karena dia sudah bertekad untuk bisa mendapatkan Ferry. Apapun resiko yang bisa dia hadapi di kemudian hari nanti.
Mereka berdua mengobrol, dan saling bercanda di atas motor yang melaju di jalan raya. Dengan tangan Mbak Nana yang memeluk erat pinggang Ferry.
Tapi mereka berdua juga tidak tahu, jika ada seseorang yang akan menyusul, ke mana mereka pergi.
*****
Linda memarkirkan sepeda motornya, di antara deretan motor-motor yang parkir di halaman sebuah bangunan hotel. Yang terletak di pinggiran daerahnya. Di antara motor yang terparkir, dia tidak tahu, yang mana motornya mbak Nana.
Jadi, hotel ini terletak jauh dari perkampungan. Dan sudah ada di perbatasan antar kabupaten.
__ADS_1
Melihat bentuk bangunan, hotel ini hanya hotel kecil. Bahkan terlihat kumuh, jika dilihat dari standar sebuah hotel. Yang seharusnya bersih dan rapi. Juga seragam kerja yang digunakan oleh karyawan hotel.
Di hotel ini, semuanya tidak terlihat. Maksudnya, antara pegawai dan pengunjung hotel. Tidak bisa dibedakan dari pakaian yang dikenakan. Karena para pegawainya mengenakan pakaian biasa. Tidak ada tanda pengenalnya juga.
'Ini hotel apa? hotel mesumkah? yang kadang kala disebut-sebut oleh beberapa orang itu.' batin Linda bertanya-tanya, tentang hotel yang saat ini ada di hadapannya.
Pada saat Linda berjalan ke arah loby hotel, yang ada juga hanya dua Mas-mas. Yang merangkap juga sebagai penjaga pintu masuk hotel.
Dua Mas-mas tadi, langsung berdiri menyambut kedatangan Linda.
"Good morning sis, is there anything I can help you with?" Sapa salah satu dari mereka berdua.
Mungkin mereka berdua menyangka bahwa, Linda adalah tamu, atau turis dari luar negeri. Yang kesasar di hotel ini.
Atau bisa jadi, Linda adalah turis miskin. Yang tidak bisa menginap di hotel yang besar. Hotel yang ada di tengah-tengah kota kabupaten.
"Maaf. Aku sedang mencari seseorang."
Mendengar Linda menjawab pertanyaan mereka dengan mengunakan bahasa ibu, alias bahasa daerah mereka sendiri, tentunya membuat keduanya melongo.
"Sorry. Aku tidak cari masalah. Aku hanya mencari keberadaan suamiku. Tapi jika kalian tidak mau memberikan akses atau keterangan yang Aku inginkan, Aku bisa melaporkan ijin dari hotel ini."
"Apa maksudmu Mbak? datang-datang kok mengigau!"
Mas-mas yang tadi, bertanya pada Linda dengan kesal. Dia sepertinya sudah terbiasa dengan keadaan seperti ini.
Linda tersenyum kecut. Dia mengeleng beberapa kali, saat mendapatkan tatapan intimidasi dari kedua mas-mas yang ada di depannya. Yang sedang dalam keadaan kesal karena mendengar ancamannya.
"Eh Mbak. Mana ada bukti suaminya Mbak ada di sini? Kenapa cari suaminya kok ke sini juga?"
Linda hanya tersenyum tipis, mendengar pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh pegawai hotel.
"Aku memang tidak ada bukti. Aku juga tidak tahu, motor atau mobil Maba yang dua gunakan untuk datang ke sini. Tapi alat pelacak ini tidak mungkin salah kan!"
Linda memperlihatkan layar handphone miliknya, pada kedua pegawai hotel tersebut. Dan lokasi yang ada di layar handphone tersebut memang posisi hotel ini.
__ADS_1
"Dengan siapa suami Mbak bule datang? Masa punya istri cantik begini masih cari mangsa yang lain?"
Mas-mas yang bertanya, melihat ke arah Linda. Dari atas ke bawah, dari bawah ke atas. Begitu beberapa kali. Sampai-sampai Linda,merasa risih dengan cara Mas_nya itu menatapnya.
"Mas! Jaga mata Anda."
"Eh, emhhh... bukan gitu maksudnya Mbak. Aku hanya ingin mendapatkan kejelasan. Dari mana Mbak bule yakin, jika suaminya Mbak ada di sini."
"Iya Mbak. Bisa jadi lho, aplikasi itu ngawur. Kan kadang-kadang juga gak semua tepat. Siapa tahu, tadi pas dia lewat di depan sana. Terus koneksi tertutup. Jadi keterangan yang diterima Mbak bule ada di hotel ini."
Mendengar perkataan yang diucapkan oleh dua orang laki-laki di depannya saat ini, membuat Linda sedikit ragu. Tapi dia juga tidak hilang akal.
Dengan segera, dia membuka galeri foto di ponselnya. Supaya mas-mas ini bisa melihat bagaimana wajah Ferry. Kemudian mencocokan dengan wajah para tamu yang baru saja datang.
Tapi kedua mas-mas ini mengeleng cepat.
"Aku gak liat ada tamu yang wajahnya kayak polisi gitu. Malah takut Aku. Bisa-bisa kena tembak nantinya."
"Iya. Aku juga gak mau menerima tamu dengan perawakan polisi begitu. Takutnya dia sedang sidak atau melakukan penyelidikan tentang hotel ini."
Linda menghela nafas panjang, saat mendengar ocehan kedua pegawai hotel ini. Dia jengah, karena merasa dipermainkan oleh keduanya. Padahal dia hanya ingin tahu keberadaan suaminya sendiri.
"Boleh Aku lihat daftar tamu hari ini?"
"Untuk yang beberapa jam kebelakang saja."
Linda meminta pengertian dari keduanya. Agar diberikan ijin untuk melihat buku daftar tamu hotel.
"Maaf Mbak bule. Kami menjaga privasi semua tamu-tamu kami. Kecuali ada surat ijin untuk penyidikan atau membantu proses hukum."
"Sebaiknya Anda mencari suami Anda di luar hotel Kami. Atau, Anda bisa melaporkan pada pihak berwajib. Agar mereka saja yang melakukan penyidikan."
Linda tersenyum miris, mendengar perkataan dan nasehat dari keduanya.
"Hah!"
__ADS_1
Dengan membuang nafas kasar, Linda berbalik tanpa pamit pada kedua pegawai hotel tersebut.