
Hari senin ini, Linda ijin untuk tidak masuk kerja, karena dia pergi berobat ke dokter bersama dengan suaminya.
Erli sudah diantar sekolah oleh Ferry, sehingga dia tidak ikut mengantarkan mamanya berobat.
Setelah mendaftar dan mengantri, akhirnya Linda diperiksa oleh dokter. Dan yang membuatnya tidak percaya adalah, dokter justru memberitahunya bahwa, dia sedang dalam keadaan hamil.
"Hamil Dok?"
Linda dan Ferry bersamaan mengajukan pertanyaan kepada dokter. Karena tidak pernah menyangka, dengan apa yang dikatakan oleh dokter barusan.
"Iya. Istri Anda hamil Pak," jawab dokter tersebut dengan melihat ke arah Ferry.
"Selamat ya Pak, Bu."
Dokter justru memberikan ucapan selamat kepada keduanya, yang masih belum bisa percaya begitu saja dengan apa yang mereka dengar ini.
Setelah mengucapkan terima kasih, Ferry menuntun Linda dengan wajah berseri-seri. Karena dia merasa sangat bahagia dengan kabar gembira yang dua dengar tadi.
Tapi untuk memastikannya, Linda disarankan untuk periksa ke dokter kandungan. Agar bisa melakukan pemeriksaan yang lebih teliti.
Akhirnya Linda melakukan pemeriksaan urine, dan ternyata memang hasilnya positif. Sehingga Ferry merasa sangat bersyukur. Dia juga menciumi punggung tangan istrinya itu, sangking bahagianya.
"Erli pasti sangat senang, jika mendengar akan punya adik. Bukankah selama ini dia ingin punya adik," terang Ferry dengan senyuman yang terus menerus ada pada bibirnya.
Linda hanya tersenyum tipis, karena sebenarnya dia belum siap untuk punya anak. Tapi nyatanya justru dia sedang hamil sekarang ini.
Dalam hatinya, Linda bertanya-tanya, kapan terakhir dia suntik KB, dan ternyata dia memang melupakan jadwal suntik nya, yang seharusnya dua bulan yang lalu.
"Pantas saja Aku bisa hamil. Ternyata Aku lupa suntik dua bulan yang lalu. Hum..."
Meskipun merasa sedih dan kecewa, tapi Linda akhirnya menerima kenyataan bahwa, dia dalam keadaan hamil anak keduanya.
"Semoga saja hubungan kami ini bisa menjadi lebih baik, dengan adanya anak ini. Karena aku melihat kesungguhan mas Ferry, yang sudah mau berusaha untuk lebih baik."
Linda akhirnya ikut merasakan kebahagiaan, menyambut kehamilan keduanya ini. Dia juga berharap, agar hubungannya dengan suaminya itu tidak lagi rengang seperti kemarin-kemarin.
Mereka berdua akhirnya pulang, setelah membeli oleh-oleh untuk Erli, dan membeli buah-buahan untuk Linda.
"Nanti jika Kamu tidak kuat kerja berhenti saja Dek. Kamu keluar kerja gak apa-apa. Mas pasti akan bekerja lebih giat lagi, untuk memenuhi kebutuhan kita nanti."
"Iya Mas. Linda akan berhati-hati dalam kehamilan ini. Karena linda juga sedang kerja. Linda akan beristirahat jika merasa capek."
Mereka berdua merasakan kebahagiaan dengan ikatan pernikahan yang sempat retak beberapa waktu terakhir kemarin.
__ADS_1
Keduanya berharap supaya, anak keduanya ini bisa mengubah semuanya yang kemarin menjadi kebahagiaan untuk selamanya.
Tapi nasib seseorang tidak ada yang tahu. Kebahagiaan, ada kesedihan. Dan senyuman, bisa berubah menjadi sebuah tangisan dengan sangat cepat.
Bruakkk!
Srakkk!
Dughh!
"Agrhhh..."
"Masss..."
Kecelakaan beruntun yang ada di depan sana, membuat Linda terpental ke pinggir trotoar, yang ada pembatas jalan.
Sedangkan Ferry, terseret bersama dengan motornya beberapa meter jauh secara tak beraturan, dengan menyeret kendaran yang ada dibelakangnya.
Sama seperti nasibnya yang tadi, karena kendaraan yang ada didepannya mengenai motornya juga.
Akhirnya lalu linta macet total, karena kecelakaan ini membawa banyak korban. Termasuk Linda dan juga Ferry.
Mereka berdua sudah tidak sadarkan diri. Tidak tahu keadaan apapun yang terjadi pada mereka setelahnya.
*****
"Mas... Mas..."
Lirih suara Linda, mencari keberadaan suaminya.
"Lin, Linda. Kamu sudah sadar?" tanya ibunya, yang menunggunya.
"Linda... Linda di mana Bu?"
"Kamu ada di rumah sakit Lin. Kamu dan Ferry kecelakaan."
Akhirnya ibunya menceritakan tentang keadaan dirinya, yang sudah tidak sadarkan diri selama seharian ini.
"Bagaimana keadaan mas Ferry Bu?"
"Ferry... Dia, Dia ada di ruang ICU. Dia kritis Lin," jawab ibunya dengan air mata yang mengalir.
Ibunya menangis, menceritakan tentang keadaan menantunya itu.
__ADS_1
Linda juga ikut menangis, mendengar kabar tentang suaminya, yang masih berada di ICU dengan keadaannya yang kritis.
"Anaknya Linda bagaimana Bu?" tanya Linda lagi, saat ingat bayinya, dengan memegang perutnya sendiri.
"Yang sabar ya Linda. Anakmu tidak bisa diselamatkan oleh dokter."
Linda kembali menangis tersedu-sedu, karena di saat dia bisa menerima kehadiran anaknya itu, justru Tuhan mengambilnya lagi, bahkan di saat belum sempat dilahirkan dan dia rawat juga.
Ibunya hanya bisa menepuk-nepuk punggung tangan anaknya itu, sambil menangis juga. Mengingat semua kejadian yang dialami oleh anaknya itu.
"Aku ingin melihat mas Ferry Bu."
"Jangan Linda. Kamu masih belum bisa bergerak dengan baik. Sebaiknya Kamu banyak istirahat. Ibu panggil dokter dulu ya, untuk periksa Kamu."
Tanpa menunggu persetujuan dari Linda, ibunya beranjak dari tempat duduk, kemudian mencari suster dan dokter. Untuk memeriksa keadaan anaknya yang baru saja sadar.
Tak lama kemudian, ibunya sudah kembali masuk bersama seorang suster dan juga dokter.
Dia berdiri tak jauh dari tempat tidur Linda, memperhatikan bagaimana dokter yang sedang memeriksa dengan selatan, satu persatu lukanya Linda dan juga tekanan darahnya.
"Bagaimana anak Saya Dok?" tanya ibunya Linda, di saat dokter selesai memeriksa.
"Ini harus menjalani operasi Bu. Karena tulang kakinya yang patah itu harus segera ditangani. Ini hasil Rontgen ekstremitas menunjukkan jika ada tulang yang patah. Jadi harus dilakukan operasi, karena takut akan menjadikan penyebab kecacatan."
Rontgen ekstremitas adalah pemindaian guna mendapatkan gambar dari tulang pada tangan dan kaki.
Ibunya Linda menangis mendengar keadaan anaknya. Dan Linda sangat kaget, karena sedari tadi kakinya memang terasa sangat sakit. Meskipun dia berusaha untuk bisa menahannya.
"Tapi ada kemungkinan untuk sembuh kan Dok?" tanya linda penuh harap.
Dia tidak ingin cacat dan merepotkan orang lain. Apalagi dia masih muda, dan ada Erli yang harus dua rawat juga.
"Bisa Bu. Nanti tulangnya itu akan di sambung dengan operasi pemasangan pen."
Pemasangan pen (fiksasi internal) adalah salah satu prosedur bedah yang dilakukan untuk menangani patah tulang.
"Apakah Saya masih bisa berjalan setelah operasi?" tanya Linda meminta penjelasan.
Akhirnya dokter memberikan penjelasan kepada Linda, jika pasien pasca operasi pen harus beristirahat dan tidak berjalan selama tiga bulan, bisa lebih. Jadi harus mengunakan alat bantu. Sepertinya kursi roda atau penyangga.
"Tiga bulan!" tanya Linda dan juga ibunya bersamaan.
Linda memikirkan bagaimana keadaannya Danang, yang akan segera menikah dengan Della tiga minggu lagi.
__ADS_1
Tapi saat dia ingat dengan Della, dia juga akhirnya ingat dengan pamannya Della atau Romi. Yang membuatnya bisa merasakan rasa sakit di kepalanya.
Meskipun pada akhirnya dia juga ketahuan jika sedang dalam keadaan hamil. Tapi itu justru membuat bencana untuk dirinya dan juga suaminya.