Tante Melinda

Tante Melinda
Dampak Yang Ada


__ADS_3

Waktu pulang kerja, sore harinya.


Devisi tempat Linda bekerja, mendapatkan jatah untuk lembur sampai malam. Padahal, semua SPK yang seharusnya dikerjakan sudah selesai.


Tapi ternyata, pak Rudi meminta pada supervisor yang menjadi atasannya Linda secara langsung, untuk memberikan beberapa pekerjaan dari devisi lainnya.


Dengan alasan yang dibuat, karena devisi tersebut tidak bisa menyelesaikan SPK yang seharusnya.


Padahal, SPK tersebut seharusnya bisa diselesaikan untuk besok pagi.


Tapi pak Rudi tidak mau tahu. Dia meminta devisi Linda untuk segera menyelesaikan pekerjaan tersebut.


Akhirnya, Linda mengirim pesan pada pak Komarudin, bahwa dia tidak bisa ikut bersama dengannya. Karena harus menyelesaikan pekerjaan yang diberikan oleh pak Rudi.


Meskipun pak Komarudin juga tahu, apa yang diinginkan oleh pak Rudi, tapi dia hanya bisa membalas pesan dari Linda, jika dia tidak apa-apa. Dan tetap meminta Linda untuk patuh pada tugas yang diberikan kepadanya.


"Mbak Linda. Ini kan tugas devisi lainnya Mbak. Buat apa kita capek-capek lembur sampai malam, jika devisi yang punya saja malah pulang," kata salah satu anak buahnya Linda memprotes.


"Ya mau bagaimana lagi. Ini karena kalian dipercaya oleh pak Rudi. Jika kalian bisa. Gak apa-apa juga. Dengan begini, kalian juga punya lemburan. Gajian nanti, uang kalian yang paling besar dibandingkan dengan devisi lainnya."


Apa yang dikatakan oleh Linda memang ada benarnya. Karena dengan banyaknya lemburan, itu akan membuat slip gaji mereka bertambah banyak juga.


Tapi ini juga yang membuat iri beberapa devisi lainnya.


Devisi tempat Linda bertugas, dikatakan sebagai Devisi kesayangan, anak emas dan lain-lainnya, yang sebenarnya bukan seperti itu juga.


Lembur kerja ini, memang menjadi idaman sebagian besar para karyawan pabrik. Karena dengan mendapatkan lemburan, itu artinya gaji mereka akan ikut bertambah juga.


Itulah sebabnya, Devisi Linda dikatakan sebagai Devisi kesayangan. Karena selalu mendapatkan kesempatan untuk bisa lembur kerja hingga malam hari.


Bahkan, pada hari sabtu yang seharusnya libur, juga tetap masuk untuk lembur kerja.


Padahal kerja pada hari sabtu itu mendapatkan gaji dua kali lipat, dibanding dengan hari biasa.


Tentunya ini menjadikan devisi lainnya iri. Mereka semua memiliki pemikiran bahwa, Linda mengunakan cara-cara yang tidak seharusnya dilakukan.


Yaitu dengan cara mistis. Agar bisa mendapatkan perhatian dan hatinya pak Rudi.


Padahal semua itu tidak benar. Linda tidak pernah melakukan hal semacam itu. Bahkan, Linda yang sering mendapati hal-hal aneh dibeberapa tempat kerjanya.


Sepertinya kembang ijo, atau kenanga, garam atau beras kuning.


Hal-hal yang biasa digunakan untuk persyaratan. Jika ingin menggunakan cara mistis atau lewat belakang.


"Mbak Linda."

__ADS_1


"Mbak Linda."


Linda menoleh ke arah suara. Tapi lagi-lagi Linda tidak mendapati seseorang yang memanggil namanya.


Tak lama kemudian, buku kuduknya berdiri. Dia merasa sangat tidak nyaman. Apalagi udara disekitarnya menjadi lebih dingin daripada tadi.


"Apa sih sebenarnya yang terjadi?" gumam Linda, bertanya pada diri sendiri.


*****


Malam ini, sepulang kerja lembur.


Linda berjalan bersama dengan beberapa anak buahnya, menuju ke tempat parkir motor.


Sekarang, Linda sudah membeli sepeda motor, untuk dirinya sendiri. Sebagai kendaraan untuk berangkat dan pulang kerja. Supaya suaminya tidak perlu repot-repot. Untuk antar jemput dirinya.


Apalagi jika cuaca hujan. Linda merasa kasihan pada Erli. Karena selalu ikut juga bersama dengan papanya.


Linda tidak mau jika anaknya itu sampai sakit. Akibat terkena hujan atau angin malam.


Jadi, sekarang Linda bisa berangkat dan pulang kerja dengan bebas. Dia hanya memberikan kabar pada suaminya, jika ada lembur atau pulang terlambat dari jam kerjanya.


"Lin!"


Ternyata ada pak Rudi, yang sedang berjalan sendiri di belakangnya.


"Ya Pak," jawab Linda, yang akhirnya berhenti dan pamit pada teman-temannya.


"Kalian duluan ya!"


Teman-temannya Linda, anak buahnya juga, hanya mengangguk mengiyakan saja. Mereka semua melanjutkan perjalanan menuju ke arah parkir.


Sedang Linda berhenti dan menunggu pak Rudi yang tadi memanggil namanya.


"Kamu berani pulang sendiri?" tanya pak Rudi ragu.


Linda mengangguk. Tapi dia tidak mengatakan apa-apa sebagai penjelasan.


"Kamu ada sesuatu yang terjadi lagi gak di pabrik?" tanya pak Rudi lagi, seakan-akan menebak apa yang terjadi pada Linda akhir-akhir ini.


"Pak Rudi tanya apa?" Linda pura-pura bertanya. Karena dia juga tidak merasa yakin jika, apa yang ditanyakan oleh pak Rudi ada hubungannya dengan kejadian-kejadian aneh yang dia alami.


"Ya itu, hal-hal yang tidak wajar gitu. Kamu pasti tau apa yang Aku maksud."


Linda mengangguk. Tapi dia tidak mungkin bercerita tentang suara-suara aneh, yang seperti memanggil namanya.

__ADS_1


"Apa?" tanya pak Rudi ingin tahu.


Linda ragu untuk bercerita. Apalagi, mereka berdua masih ada di tempat area perusahaan. Dia tidak mau jika, ada seseorang yang ikut mendengarkan semua cerita yang akan dia sampaikan kepada pak Rudi.


"Emhhh... bagaimana jika kita cari tempat untuk makan. Kamu bisa bercerita banyak hal nanti."


Pak Rudi seakan-akan tahu, apa yang sedang dipikirkan oleh Linda saat ini.


Oleh karena itu, dia memberikan tawaran pada Linda, untuk mencari tempat bercerita. Dengan alasan untuk makan malam terlebih dahulu.


Tapi Linda sepertinya keberatan. Dia melihat jam di pergelangan tangannya. Dan ini sudah pukul sembilan malam lebih.


"Tidak usah Pak. Kapan-kapan saja. Ini sudah malam."


"Saya takut jika besok malah terlambat datang paginya." Linda berkata memberikan alasan.


Dia hanya ingin pulang sekarang. Badannya juga terasa sudah sangat capek, lengket dan ingin segera pulang untuk beristirahat.


"Ya sudah kalau begitu. Besok saja Kamu cerita," sahut pak Rudi, memberikan kebebasan kepada Linda untuk segera pulang.


Linda mengangguk, kemudian pamit untuk pulang terlebih dahulu.


"Kalau begitu, Saya pulang dulu Pak."


Dengan segera, Linda melanjutkan langkahnya menuju ke arah parkir sepeda motor.


Di tempat parkir tersebut, tinggal beberapa orang saja yang belum pulang. Dan mereka rata-rata adalah para laki-laki. Yang memang bukan orang daerah ini. Mereka semua adalah orang-orang rantau. Dari beberapa daerah di Indonesia.


Jadi, mereka kebanyakan mengontrak rumah untuk ditempati bersama. Atau ada juga yang memang hanya kost saja.


Desa sekitar pabrik, jadi berkembang menjadi desa yang sangat maju.


Karena adanya orang-orang dari daerah luar, yang mengharuskan mereka untuk punya tempat tinggal di sekitar perusahaan.


Oleh karena itu, warga sekitar banyak yang membuat kontrakan atau rumah kost-kostan. Menjadi ladang penghasilan untuk masyarakat sekitar.


Begitu juga dengan warung-warung makan dan toko-toko, yang menyediakan berbagai macam kebutuhan.


Daerah ini jadi lebih ramai dari sebelumnya. Menjadi pusat kegiatan industri dan perekonomian masyarakat sekitarnya.


Tapi tentu saja, dampak positif ini juga tidak luput dari dampak negatif juga.


Baik dari segi pandang masyarakat, dan juga pergaulan orang-orangnya. Mereka jadi lebih mementingkan kepentingan pribadi, dan mengesampingkan kepentingan bersama di masyarakat.


Semua sudah tidak lagi sama seperti dulu. Dan itu sudah lumrah terjadi pada suatu perubahan.

__ADS_1


__ADS_2