Tante Melinda

Tante Melinda
Tak Sengaja Mendengar


__ADS_3

Di tempat kerja. Linda sedang mengawasi pekerjaan anak buahnya. Sama seperti para leader, dia juga ikut membantu pekerjaan mereka yang memerlukan bantuannya.


Para karyawan baru yang kemarin, sudah di beri tempat. Sesuai dengan apa yang mereka bisa, dan dibutuhkan bagian produksi juga.


"Itu di Dani, taruh di bagian tali. Yang Heru, taruh bagian lem. Soalnya dua orang itu kan yang gak bisa jahit."


Begitulah tadi pagi Linda memberikan arahan kepada leader yang ditugaskan Linda. Untuk mengatur pekerjaan karyawan baru.


Dan sekarang, saat Linda berkeliling untuk mengawasi, Dani bertanya pada Linda. "Maaf mbak supervisor. Ini mau tukar tali yang rijek ke mana?"


"Kamu kasih ke bagian input aja. Nanti dia yang akan menukarkan ke bagian aksesoris."


Dani mengangguk mengerti dengan jawaban yang diberikan oleh Linda. Tapi sebelum Linda berjalan lagi, Dani segera bertanya lagi. Karena sepertinya, dia tidak mau melewatkan kesempatan untuk bisa berbicara dan dekat dengan supervisor Linda.


"Maaf mbak supervisor. Saya Dani. Boleh tahu nama Mbak supervisor?"


Linda mengerutkan keningnya, mendengar pertanyaan yang diajukan oleh karyawan barunya itu.


"Kamu gak liat id card ini, ada kan nama di sini. Besar juga kan tulisannya? Dan untuk nama Kamu, Aku sudah tahu."


"Hehehe... maaf Mbak supervisor. Cuma pengen kenalan aja sama mbak yang cantik."


Dani terkekeh sendiri, mendengar jawaban yang diberikan oleh Linda. Karena dia sadar jika, triknya ini diketahui oleh supervisor yang dia kagumi kencantikannya.


Setiap karyawan, ada id card pengenal, dengan nama dan foto yang sangat jelas. Jadi, mudah juga untuk dikenali. Karena dipakai dengan cara dikalungkan di leher.


Tapi sepertinya Dani bukan pemuda yang gampang menyerah. Dia punya mental yang bagus juga, untuk bisa mendapatkan apa yang dia inginkan.


Sama seperti usahanya kali ini, untuk bisa berkenalan langsung dengan Linda.


Linda hanya tersenyum tipis, mendengar alasan yang akhirnya dikatakan juga oleh Dani.


"Ok. Namaku Melinda. Tapi orang-orang memanggil dengan nama Linda. Gak terlalu panjang."


"Wah... nama yang bagus dan cantik. Secantik orangnya. Suka deh sama Mbak Linda."


"Ck, dasar! Udah sana balik kerja lagi!"


"Hahaha... siap mbak Linda!" ucap Dani dengan mengedipkan sebelah matanya.


"Tengil juga dia." Linda bergumam seorang diri, sambil menggelengkan kepalanya. Mendengar apa yang tadi dikatakan oleh Dani.


Sekarang, dia kembali berkeliling area sewing. Untuk memantau pekerjaan anak buahnya yang lain.


Di tempat Dani tadi.

__ADS_1


"Dan, gila lu ya!" seru Heru, yang ada tak jauh dari tempatnya Dani berada.


"Apa gila?" tanya Dani cepat.


Dani tidak paham dengan perkataan temannya itu. Karena dia merasa tidak terjadi apa-apa.


"Berani banget lu tadi sama supervisor Linda. Orang bule gitu," ujar Heru memberikan penjelasan kepada temannya yang pemberani.


"Ah, mbak Linda ramah gitu. Gak marah juga dia!" sahut Dani, tanpa melihat Heru. Karena tangannya sudah kembali melakukan pekerjaannya.


Para pekerja bisa berbincang-bincang dengan santai, yang penting tangan mereka tetap melakukan pekerjaan yang memang harus mereka lakukan. Karena itu adalah tangung jawabnya sebagai seorang karyawan.


Karena ada beberapa atasan yang melarang anak buahnya untuk berbicara, satu sama lainnya, jika sedang bekerja. Alasannya karena dengan berbicara, pekerjaan mereka jadi tidak fokus dan bisa mengurangi target produksi.


Untuk Linda sendiri, sebenarnya tidak mempermasalahkan soal itu. Yang penting anak buahnya tetap bisa memenuhi target, sesuai dengan SPK yang seharusnya.


Itulah sebabnya, devisi yang dipimpin oleh Linda dianggap sebagai devisi sewing yang paling santai. Tidak ngoyo, sama seperti devisi sewing yang lain.


*****


Di rumah sakit.


Dokter mengatakan bahwa bapaknya Linda sudah bisa dibawa pulang ke rumah besok pagi. Tapi tetap disarankan untuk kontrol dan berobat rutin. Supaya kondisi kesehatannya tetao stabil.


Danang dan ibunya tentu sangat senang, mendengar penjelasan dokter.


"Alhamdulillah...Terima kasih Dok.


Danang dan ibunya mengucap syukur, mendengar berita tersebut.


"Sama-sama. Oh ya, Anda bisa melakukan pembayaran administrasi sekalian untuk hari ini dan besok. Meskipun pulangnya besok, tapi administrasi tetap harus dibayarkan."


"Oh ya Dok. Nanti Saya akan ke bagian administrasi."


Danang mengangguk mengerti. Dia merasa lega, karena bapaknya akan pulang besok. Dan itu adalah hari sabtu.


"Mbak Linda harus segera Aku kabari. Biar dia tidak ikut lembur besoknya. Dia bisa ikut jemput bapak untuk pulang ke rumah. Dia pasti senang."


Akhirnya, setelah bergumam seorang diri, dia pun pamit pada ibunya, untuk pergi ke bagian administrasi rumah sakit.


"Bu. Danang ke admin ya. Mau lihat dan cek, kita kurang berapa dari uang yang Danang titip kemarin."


"Iya Nang. Semoga saja gak nambah banyak-banyak."


Danang mengangguk, mendengar harapan yang diucapkan oleh ibunya. Dia juga berharap hal yang sama seperti itu.

__ADS_1


Sebelum sampai di ruang administrasi, Danang berhenti terlebih dahulu, untuk menghubungi kakaknya. Dia ingin menyampaikan berita baik ini untuk Linda.


Tapi sebelum panggilannya diterima oleh Linda, ada seseorang yang menegurnya.


"Lho Nang. Danang kan ini, adiknya Linda?"


Danang pun mengangguk mengiyakan pertanyaan orang tersebut. Dia tahu, jika orang yang menegurnya saat ini adalah kang Mus. Saudara jauh dari ibunya.


"Iya kang Mus. Kang Mus mau jenguk siapa?" tanya Danang, untuk basa-basi. Karena tidak mungkin orang hanya jalan-jalan saja, di rumah sakit.


"Ini mau jenguk adik. Maksudnya, anaknya adikku. Panas banget tadi pagi, dan harus dirawat. Ini Aku baru bisa nyusul."


"Oh ya, Kamu sendiri ngapain?"


Akhirnya Danang menjawab pertanyaan kang Mus, mengenali kondisi bapaknya.


"Emhhh... ya sudah. Nanti Aku mampir jenguk pak Lek."


"Ya, makasih kang Mus." Danang memberitahu nomer kamar rawat bapaknya pada Danang.


"Eh Nang, maaf sebelumnya. Aku mau tanya sesuatu. Mungkin ini sedikit sensitif, tapi Aku hanya ingin memberikan info ini. Bukan bermaksud untuk jadi provokasi atau apa ya... emhhh pokoknya ini tentang suaminya Linda."


Danang mengeryit heran, mendengar perkataan kang Mus yang dia anggap pendiam. Karena menurut Danang, kang Mus ini bukan orang yang suka mencampuri urusan orang lain.


"Apa Kamu gak pernah mendengar, kakakku Linda itu bercerita tentang suaminya yang sekarang berdagang beras?"


"Maksud kang Mus apa ya?" tanya Danang, yang tidak mau bertele-tele.


Kang Mus tampak menghela nafas panjang, sebelum melanjutkan ceritanya yang tadi.


"Itu lho, suaminya Linda. Kata anak-anak yang ada di pengilingan padi, ada main sama bakul berasnya."


"Maksudnya bagaimana Kang?"


Danang ingin kejelasan tentang berita yang disampaikan oleh kang Mus. Dia tidak mau membuat opini sendiri, terkait dengan apa yang dia dengar tadi.


"Mas ipar Kamu selingkuh Nang."


Danang terkejut mendengar jawaban kang Mus.


Dan yang tidak mereka berdua ketahui adalah, handphone milik Danang yang tadi menghubungi Linda, masih dalam keadaan on. Dan Linda sudah menerima panggilan telpon tersebut.


***


Nitip promo novel TK yang baru saja tamat

__ADS_1



Terima kasih....


__ADS_2