
Malam yang sama, di sebuah kamar. Tapi di tempat yang lain.
"Emhhh... Mas. Mas Ferry. Mau lagi..."
Ferry membuka matanya perlahan-lahan, di saat ada suara yang terdengar merajuk, dengan memanggil namanya. Apalagi, sentuhan tangan yang ada di atas dadanya, membuatnya harus berpikir sejenak.
"Mas..."
"Sekarang jam berapa?"
Ferry justru bertanya hal yang tidak ada sangkut pautnya, dengan permintaan dari orang yang saat ini berbaring manja di sampingnya.
"Baru jam sembilan malam Mas. Masih lama," jawab orang tersebut.
"Mbak. Tapi..."
"Mas. Kan tadi udah ijin sama mamanya Erli. Ke luar kota itu pulang besok. Gak mungkin malam ini juga kan?"
Ya beginilah malam ini. Ferry ternyata tidak pergi ke luar kota, bersama dengan pemilik pengilingan padi. Tapi justru bersama dengan mbak Nana. Melakukan hal yang tidak seharusnya mereka berdua lakukan.
Sebenarnya, tadi Ferry sudah menolak tawaran yang diberikan oleh mbak Nana. Dia memberi alasan, jika ke luar kota itu ada bayaran yang harus dia terima.
Dan itu biasanya dikasih Ferry kepada istrinya, Linda. Karena Linda lah yang memegang uang dari keuntungan penjualan beras. Dan juga uang yang dia dapatkan dari pekerjaan sampingan.
Misal di ajak ke luar kota, atau menjadi supir bagi yang membutuhkan tenaganya.
"Iya Mas, gak apa-apa. Nanti Aku bayar dengan gaji yang sama seperti bos pengilingan padi jika membayar."
"Nanti Aku lebihin untuk Mas jajan sendiri."
Begitulah kira-kira tadi, iming-iming yang diberikan oleh mbak Nana.
Tentu saja, Ferry jadi berpikir ulang. Untuk menolak ajakan tersebut. Karena ini sangat menguntungkan bagi dirinya sendiri.
Uang akan tetap ada, bahkan ada lebihnya. Di tambah lagi, dia juga akan merasa puas. Karena selama istrinya itu bekerja di pabrik, mereka berdua jarang bisa bermesraan.
Jika ada hubungan yang baik pun, hanya sebatas masuk dan keluar. Begitu saja, tanpa aja permintaan yang bisa membuat mereka memiliki sensasi yang berbeda.
__ADS_1
Bisa dikatakan jika, hubungan yang terjadi sekarang ini hanya sebatas sebagai tanggung jawab, tugas dan kewajiban saja.
Tidak ada rasa yang bisa membuat mereka menjadi lebih dekat. Dari hati ke hati. Hanya ada, karena sudah biasa saja selama ini. Sehingga meskipun semuanya tetap terpenuhi, rasanya akan berbeda.
Ferry menerima tawaran dari Mbak Nana karena, dia merasa yakin jika, Linda tidak memiliki nomer handphone milik temannya. Yang merupakan pemilik pengilingan.
Jadi, tidak mungkin Linda akan menghubungi pemilik pengilingan padi, jika hanya untuk sekedar bertanya tentang dirinya.
lagi pula, Linda bukanlah seorang wanita yang suka penasaran dan mencari tahu tentang segala sesuatu yang tidak berhubungan dengan dirinya.
Itu menurut Ferry sebagai suaminya selama ini.
Beberapa saat kemudian, karena terus menerus mendapatkan stimulasi dari gerakan tangan Mbak Nana, di atas dadanya. Akhirnya Ferry pun tepengaruh juga.
Dengan gerakan cepat, dia berbalik sehingga berada di atas tubuh mbak Nana.
"Gak capek? Kan udah tiga kali tadi," tanya Ferry, sambil menatap lekat di depan wajah Mbak Nana.
Mbak Nana tersenyum manis. Dia mengusap wajah Ferry, dan berhenti tepat di rahang Ferry. "Mas gagah banget sih. Mana bisa Aku melepaskan kesempatan untuk bisa bersama mas Ferry," ujar mbak Nana, sambil mengecup bibir Ferry sekilas.
"Kamu menggodaku?"
Mbak linda tidak pernah tahu jika, Ferry adalah mantan seorang polisi. Dia juga tidak tahu, bagaimana wajah Linda. Istrinya Ferry.
Yang dia tahu hanya Erli. Yang memiliki wajah cantik, tapi dengan kulit dan perawakan seperti Ferry. Tidak ada postur dan wajah serta kulit bule pada Erli.
Dan Ferry juga tidak pernah menunjukkan foto-foto dirinya, yang bersama dengan keluarganya sendiri.
Mbak Nana hanya tahu sebatas orang-orang lain tahu. Jika Ferry pedangan beras di pengilingan padi tersebut. Dengan membawa seorang anak kecil yang harus dia jaga. Karena istrinya harus bekerja di pabrik yang ada di kotanya ini.
Karena itu juga, mbak Nana berpikir jika, Ferry adalah seorang laki-laki yang bertanggung jawab. Penyayang dan juga perhatian.
Sedangkan dia, mbak Nana, adalah seorang istri yang kaya. Karena suaminya adalah seorang pelayaran.
Materi memang terpenuhi. Dia jualan di toko yang ada di rumahnya, hanya untuk kesibukan semata. Karena dia belum ada anak. Sedang di kota ini, dia seorang diri.
Dia berasal dari kita Batam. Meskipun sebenarnya ayahnya berasal dari Jawa juga. Tapi mereka semua, dari pihak keluarganya mbak Nana, sudah ada di kota Batam sejak dia belum lahir.
__ADS_1
Mbak Nana kembali ke Jawa, dan menetap di kota ini karena suaminya. Meskipun sebenarnya, suaminya juga bukan asli orang sini.
Tapi karena orang tua angkat suaminya yang berasal dari kota ini, dan sekarang sudah meninggal dunia. Sejak itulah, mbak Nana dan suaminya di minta untuk tinggal di rumah peninggalan kedua orang tua angkat dari suaminya.
Dan itu baru tiga tahun lalu. Sejak dia kehilangan anak pertama, untuk selamanya.
Suaminya berinisiatif untuk membawanya ke kota ini. Sesuai dengan pesan terakhir dari ibu angkatnya. Suaminya itu berpikir bahwa, mbak Nana akan melupakan kesedihannya dan bisa bangkit dari trauma. Agar bisa memiliki anak lagi nanti.
Setelah beberapa menit kemudian.
"Mbak. Mbak pakai pengaman gak?" tanya Ferry, yang baru saja selesai dengan kegiatannya.
"Pengaman apa Mas?" tanya Mbak Nana bingung.
"KB atau apa gitu," kata Ferry, yang baru ingat jika dia tidak mungkin bisa bertanggung jawab. Seandainya mbak Nana akan hamil akibat dari perbuatan mereka berdua ini.
"Gak Mas. Tapi Mas Ferry gak usah khawatir."
Ferry menoleh cepat ke arah mbak Nana. Dia bingung dengan jawaban yang diberikan oleh wanita di sebelahnya ini.
"Aku memang sengaja ingin punya anak dari mas Ferry. Aku ingin anakku bisa cantik seperti Erli Mas." Mbak Nana mengatakan keinginannya untuk bisa punya anak dengan Ferry.
"Mbak. Mbak Nana sadar dengan ucapan Mbak kan? Lalu bagaimana dengan suaminya mbak Nana?"
Ferry mengingatkan pada mbak Nana, jika dia punya suami. Dan sekarang, suami itu sedang pergi berlayar. Jadi, tidak mungkin Mbak Nana hamil, jika suaminya itu tidak ada di rumah.
"Mas tenang saja. Minggu depan suamiku pulang. Jadi, misalnya ini nanti jadi, gak akan ketahuan kan?"
Jawaban yang diberikan oleh mbak Nana, membuat Ferry menghembuskan nafas lega. Dia tidak tahu, apa dia harus bahagia, kecewa dan sedih, atau...
"Mas. Mas Ferry jangan cemas. Aku sudah perhitungakan semaunya."
Ferry menoleh ke arah mbak Nana, yang saat ini memiringkan tubuhnya. Dengan kepala di angkat dan bertumpu pada tangan. Dia menatap ke arah Ferry dengan intens.
"Aku ingin kita bisa seperti ini untuk ke depannya juga Mas."
"Tapi, Aku tidak bisa pergi-pergi mbak Nana. Karena bisa jadi, istriku akan curiga dengan semua ini jika terlalu sering," sahut Ferry. Dia merasa takut juga jika, Linda akan tahu apa yang dia lakukan bersama mbak Nana.
__ADS_1
"Tenang Mas. Aku akan mencari cara, supaya kita tetap bisa aman."
*****