Tante Melinda

Tante Melinda
Mendapat Tugas Baru


__ADS_3

Bekerja di perusahaan besar atau pabrik garmen seperti Linda ini, tentu berdampak besar pada kehidupan orang yang bersangkutan. Terutama waktu untuk dirinya sendiri ataupun untuk keluarganya. Jika mereka sudah berkeluarga.


Ini karena, orang- orang yang bekerja di pabrik harus berangkat bekerja pada pagi hari, dan pulang sore hari, sesuai dengan jam kerja mereka.


Belum lagi, jika ada jam lembur untuk memenuhi permintaan target kerja. Karena kadang kala, ada waktunya sebuah pabrik, harus kejar waktu untuk permintaan ekspor barang yang mereka produksi.


Sama seperti yang akhirnya terjadi pada Linda sekarang ini, saat dia sudah bekerja di pabriknya sekarang ini.


Dari pagi buta, dia sudah harus bangun dan memasak untuk sarapan, dan makan siang suaminya dengan anaknya, Erli.


Karena untuk makan malam, Linda masih sempat untuk memasaknya sendiri saat pulang sore. Tapi jika harus ada lembur, dan pulang malam, dia membeli makanan jadi, yang siap untuk di makan.


Untungnya, Ferry juga tidak protes. Dia ikut saja senyaman_nya Linda melakukan tugasnya di rumah.


Sama seperti pagi ini. Linda kesiangan bangun. Dan tidak sempat memasak. Karena jika dia harus memasak terlebih dahulu, dia akan terlambat untuk berangkat kerja.


"Mas. Linda gak sempet masak nih. Nanti beli mateng aja ya buat sarapan dan makan siang?" tanya Linda, saat mereka berdua baru saja bangun tidur.


"Iya gak apa-apa. Kamu buruan mandi. Biar Aku saja yang bangunin Erli."


Linda mengangguk setuju, dengan usulan yang diajukan oleh suaminya itu. Dia bergegas pergi ke kamar mandi, sedangkan Ferry, keluar dari dalam kamar, menuju ke kamar anaknya, Erli.


Ferry membangunkan Erli, kemudian memandikan anaknya itu di kamar mandi yang lainnya. Setelah selesai, baru dia mandi sendiri.


Dan sekarang, mereka bertiga siap untuk berangkat.


Erli memang lebih sering di ajak juga. Mengantar dan menjemput mamanya, Linda. Karena tidak ada yang menjaganya di rumah, jika harus ditinggal sendirian.


Pagi-pagi, Linda harus bisa mengatur waktu sedemikian rupa, agar tidak terlambat datang ke tempat kerja. Tapi, sebisa mungkin, pekerjaan di rumah juga selesai sebelum dia berangkat.


Tapi, kadang karena rasa capek dan kantuk, dia bisa juga terlambat untuk bangun. Dan akhirnya seperti pagi ini.


Begitu tiba di depan gerbang bangunan pabrik, Linda tidak sempat untuk membeli makanan. Jadi, dia hanya meminta pada suaminya itu, untuk sarapan bersama dengan anaknya sendiri di warung.

__ADS_1


"Mas. Nanti jangan lupa sarapan dulu ya. Erli di suapin. Aku masuk dulu!" Linda pamit untuk langsung masuk ke dalam pabrik.


"Kamu gak sarapan dulu Dek? nanti lemes lho," tanya Ferry, yang merasa kasihan jika istrinya itu tidak kuat bekerja. Karena waktu untuk beristirahat masih nanti siang. Yaitu jam dua belas, di saat jam istirahat kerja.


"Gak apa-apa Mas. Yang penting jangan lupa Erli ya!"


Ferry mengangguk mengiyakan permintaan istrinya itu. Di baru kembali, setelah Linda tak terlihat lagi, karena berjalan di antara kerumunan para pekerja pabrik yang jumlahnya mencapai ribuan orang.


"Erli mau sarapan apa Nak?" tanya Ferry, pada anaknya yang duduk di depannya, dengan mengunakan kursi rotan untuk menopang tubuhnya. Tempat duduk untuk balita, yang digunakan untuk naik kendaraan bermotor.


"Bubur ayam ya Pa?" Erli bertanya pada papanya, dengan meminta sarapan bubur ayam pagi ini.


"Ok. Kita meluncur!"


Begitulah kegiatan keluarga Linda pada pagi hari. Rutinitas sehari-hari, yang mungkin saja ada pada keluarga yang lainnya juga.


*****


Di tempat kerja Linda.


Masalah kualitas yang tidak bisa dikatakan baik, sesuai dengan permintaan konsumen. Ini bisa membuat orderan yang datang ke perusahaan menurun. Dan akibatnya, perusahan bisa merugi. Jika terjadi dalam waktu yang lama, dan tidak segera ditangani, akan mengakibatkan kerugian yang besar dan bisa-bisa, pabriknya akan tutup pada saat ini juga.


"Kerja sesuai dengan SPK dan SOP. Utamakan kualitas, tapi tidak mengabaikan kuantitas juga. Karena tanpa keduanya, ekspor juga tidak terpenuhi sesuai dengan permintaan konsumen yang datang."


"Harap diingat semuanya bahwa, perusahaan ini berjalan tidak hanya sendirian. Tapi, semuanya juga tergantung dari apa yang kita hasilkan. Itu artinya, kita harus tetap menjaga kualitas dan kuantitas yang tepat, sehingga bisa berjalan bersama-sama. Seimbang dengan apa yang telah kita dapat sebagai upah gaji kita."


Pak Rudi memberikan beberapa pesan dan nasehat pada semua bawahannya.


Manager ini memang jarang mengunakan kata-kata kasar dan keras jika ada metting. Mungkin, dia berpikir jika, semuanya itu tidak ada gunanya, jika anak buahnya tidak paham dengan apa yang dia katakan.


Itulah sebabnya, dia lebih memilih mengunakan kata-kata baku, agar anak buahnya yang tidak hanya dari daerahnya mengerti, apa yang dia katakan dan inginkan.


"Paham semuanya?"

__ADS_1


"Paham Pak. Siap!"


Metting selesai. Semuanya keluar dari ruangannya. Kecuali Linda dan asisten manager nya. Pak Komarudin.


Kelompok yang dipimpin oleh Linda, memang sedang ada masalah.


Kemarin, packing untuk produksi yang dia lakukan ada yang tidak sesuai sehingga QC, quality control, melapor ke atasan.


Ini membuat manager dan asisten manager mendapat teguran langsung dari pihak atasan. Baik dari pihak QC, dan juga pengelolaan perusahaan.


"Linda. Jika ada masalah, bisa dibicarakan dengan pak Komarudin. Atau jika dia tidak bisa membantu, bisa langsung bicara dengan Saya juga."


"Iya Pak. Maaf," sahut Linda dengan mengangguk. Tapi dengan wajahnya yang tetap menunduk.


Dia tahu jika, kelompoknya melakukan kesalahan. Dan itu juga karena kelalaiannya, sebagai seorang leader di kelompoknya tersebut.


"Pak Komarudin. Pantau langsung kelompoknya Linda. Dia masih terbilang baru di sini. Jadi, mungkin belum bisa mengatasi segala sesuatunya."


"Baik Pak." Pak Komarudin juga mengiyakan permintaan dari atasannya itu.


"Minggu depan, ada pelatihan untuk leader ke Jakarta. Linda sudah Saya rekomendasikan ke pihak HRD, agar bisa dikirim ke Jakarta untuk ikut pelatihan tersebut."


Pak Komarudin menatap ke arah manager tersebut, dengan mata menyelidik. Dia berpikir bahwa, atasannya itu ada maksud lain, sehingga mengirim Linda bersama dengannya ke Jakarta. Dan itu tanpa dibicarakan terlebih dahulu dengannya.


Tapi, pak Komarudin juga tidak bisa melakukan apa-apa. Karena keputusan ini memang mutlak bagi manager tersebut.


Mungkin karena itu juga, tadi dia diberikan tugas untuk memantau kondisi kelompok yang dipimpin oleh Linda.


"Linda. Kamu siap-siap berangkat ke Jakarta minggu depan bersama Saya ke Jakarta. Ini pelatihan langsung, di pabrik besar. Dan bukan hanya Kamu saja yang berangkat. Ada beberapa leader dari gedung lainnya juga."


Linda hanya bisa mengangguk saja. Karena dia tahu jika, dia memang butuh pelatihan tersebut, untuk kinerjanya yang lebih baik lagi.


Apalagi, pelatihan ini juga tidak hanya untuk satu orang. Ada beberapa karyawan, terutama untuk leader, dari berbagai macam kelompok dan gedung.

__ADS_1


Ini akan menambah wawasan dan pengalaman Linda, untuk pekerjaan yang dia lakukan untuk perusahaan ini juga.


__ADS_2