
Kedekatan antara Erli dan simbah kakungnya, memang tidak bisa diragukan lagi. Itulah sebabnya, saat dia menangis dengan suara yang keras, membuat simbah putrinya merasa khawatir. Jika nanti suaminya itu akan terbangun.
Dan ternyata memang benar. Tak lama setelah simbah putrinya selesai menenangkan Erli, suara simbah kakungnya terdengar dari dalam kamar.
"Bu... Bu... itu Erli, Erli kenapa?" tanya Simbah kakungnya dari arah kamar.
"Tuh kan, Mbah Kung jadi terbangun mendengar tangisannya Erli. Kita ke dalam yuk, tengok Simbah Kakung!"
Erli yang masih sesenggukan, menganggukkan kepalanya, mengiyakan ajakan simbah putrinya. Yang mengajaknya untuk pergi ke kamar, menengok keadaan simbah kakungnya.
"Nang, itu..."
Danang langsung mengelengkan kepalanya, meminta pada ibunya supaya tidak bertanya lagi tentang keadaan kakak perempuannya itu. Karena Danang merasa jika, ibunya belum saatnya untuk tahu. Apalagi ada Erli juga di antara mereka. Nanti, bisa-bisa anak kecil itu akan mendengarkan pembicaraan mereka berdua.
Akhirnya, ibunya Linda terdiam. Dia berjalan menyusul Erli yang sudah masuk terlebih dahulu ke dalam kamar simbahnya.
Danang sendiri kembali keluar rumah, untuk memasukan sepeda motor miliknya dan juga milik kakaknya. Karena selain malam sudah semakin larut, di luar mulai turun hujan lagi.
Di dalam kamar Linda.
Dia memang sudah berbaring di tempat tidur. Tapi matanya masih terjaga. Tidak mau diajak untuk terpejam, meskipun sudah dia paksakan sedari tadi.
"Mas Ferry ngapain ya ini?" gumam Linda bertanya pada dirinya sendiri.
Dia sengaja tidur di rumah ibunya, karena memang terbiasa seperti itu. Jika Ferry ada pekerjaan di luar kota.
Jadi, tadi Linda tidak mungkin pamit untuk pulang ke rumah. Karena itu akan menjadi pertanyaan bagi ibunya dan juga bapaknya. Sebab itu diluar kebiasaannya selama ini.
"Tidak mungkin dia menghubungi mbak Nana kan? Secara, ponsel dan dompet mas Ferry masih Aku pegang."
"Oh iya, ponsel mas Ferry kan masih non aktif. Coba Aku aktifkan. Siapa tahu, ada pesan atau panggilan masuk dari mbak Nana."
"Aku juga ingin tahu, apa isi pesan-pesan dari ponselnya. Karena selama ini, Aku memang tidak pernah merasa curiga jika dia ada main sama salah satu bakul berasnya."
__ADS_1
Linda berbicara sendiri, tetang dirinya dan juga suaminya. Meskipun dia juga tidak tega, melihat bagaimana keadaan suaminya tadi.
Sekarang, Linda bangkit dari tempat tidur. Kemudian berjalan ke arah meja riasnya. Di sana, ada tas kecil miliknya. Yang biasanya berisi dompet dan ponsel miliknya saja.
Tapi sekarang ini, tas kecil itu harus dipenuhi dengan ponsel dan dompet milik suaminya juga. Yang tadi dia sita dari tangan mbak Nana.
Dengan hati yang berdebar-debar karena rasa was-was, Linda mengaktifkan kembali ponsel milik suaminya. Yang sedari tadi dia lupakan keberadaannya.
Linda semakin was-was, deg-degan dengan wajahnya yang pias. Di saat ponsel tersebut dalam proses pengaktifan.
Begitu ponsel, notifikasi pesan dan panggilan saling bersahutan memberikan kabar. Ada dari teman dan kenalan, menanyakan berbagai macam hal juga.
Tapi yang paling banyak dari mbak Nana. Pesan yang dia kirimkan seperti kereta. Bahkan, mbak Nana masih saja berani untuk menghubungi Ferry lewat panggilan telpon. Ada notifikasi panggilan dari mbak Nana hingga lebih dari tiga puluh kali. Sedangkan pesanannya mencapai lima puluhan.
"Ck!"
Mulut Linda berdecih. Tak pernah menyangka, jika mbak Nana masih punya nyali dan tidak tahu malu.
Sekarang, semua pesan dan panggilan telpon tersebut dia kirim ke pihak keluarga Ferry. Supaya ada bukti, dan dia tidak disalahkan. Seandainya terjadi sesuatu pada waktu yang akan datang.
Akhirnya, Linda tidak jadi mengirimkan bukti-bukti tersebut ke pihak keluarga Ferry di luar sana.
Dia hanya menyimpan ke dalam ponselnya sendiri. Jadi, seandainya bukti yang ada di ponsel Ferry dihilangkan jejaknya, dia masih ada bukti yang lainnya. Di dalam ponselnya sendiri.
*****
Di dalam kamar ibunya Linda.
"Mbah Kung," panggil Erli menarik-narik tangan Mbah Kung nya.
"Ada apa Sayang? Kenapa tadi Erli nangis?" sahut Simbah kakungnya, di saat Erli memanggilnya.
Kini, bapaknya Linda sudah duduk bersandar di bantal yang ditumpuk. Tapi masih di atas tempat tidur. Sedangkan Erli duduk di sebelahnya, di tengah-tengah tempat tidur.
__ADS_1
"Mbah Kung sudah sembuh kan ya? sudah sehat kan? bisa main dengan Erli lagi kan?" tanya Erli memberondong.
"Hehehe... iya-iya. Mbah Kung sudah sembuh kok," Mbah Kung justru terkekeh, mendengar pertanyaan demi pertanyaan yang diajukan oleh cucunya itu.
Dia merasa sangat senang, karena bisa kembali pulang ke rumah.
Senyaman apapun keadaan di rumah sakit, orang pasti akan memilih berada di rumah sendiri. Meskipun rumahnya tidak besar dan lengkap seperti di rumah sakit. Tapi orang-orang pasti akan memilih untuk tetap tinggal di rumah, meskipun sedang dalam keadaan sakit.
Karena ada kata-kata bijak yang mengatakan bahwa, rumahku adalah istanaku.
Erli masih bercanda-canda dengan simbah Kakung dan putrinya, saat Linda masuk ke dalam kamar tersebut.
Karena pintu kamar tidak tertutup, Linda pun langsung masuk begitu saja. Tanpa mengetuk pintu atau membukanya terlebih dahulu.
"Pak," sapa Linda, begitu dia sampai di pinggir tempat tidur bapaknya.
Bapaknya Linda mendongak menatap anaknya. Begitu juga dengan ibunya. Sedangkan Erli hanya melihat sekilas, kemudian kembali mempermainkan jari-jari tangan simbah kakungnya.
"Duduk sini Lin," ajak ibunya, yang bergeser ke tempat lain. Supaya linda bisa ikut duduk di pinggiran tempat tidur. Sama seperti yang dia lakukan.
Sedetik dua detik sunyi. Tidak ada yang mulai bicara, karena Erli juga hanya diam saja. Sambil tetap mempermainkan jari-jari tangan simbah kakung, tanpa menyapa atau melihat ke arah mamanya.
"Bapak gak ada yang dikeluhkan?"
Akhirnya Linda memecah kesunyian diantara mereka. Dia yang sedari tadi belum melihat keadaan bapaknya, jadi bertanya hal yang sewajarnya saja.
"Gak ada Lin. Obat yang ditebus Nanang sendiri di apotek, membuat Bapak merasa sedang sehat dan tidak dalam keadaan sakit seperti kemarin-kemarin itu."
Mendengar jawaban dan penjelasan yang diberikan oleh bapaknya, Linda mengangguk-anggukkan kepalanya senang.
"Oh ya, tadi Danang ke mana Bu?" tanya Linda, yang tidak melihat keberadaan adiknya.
"Mungkin ada di kamar. Hujan lagi kok, jadi gak mungkin dia keluar untuk kumpul-kumpul bareng remaja lainnya. Meskipun ini malam. minggu." Ibunya memberikan jawaban, yang masuk akal juga menurut Linda.
__ADS_1
"Emhhh... Erli. Kita tidur yuk Sayang, sudah malam. Simbah Kakung perlu istirahat dan tidur. Kan biar cepat sehat lagi," ajak linda pada anaknya, yang sedang mendiamkan dirinya.