Tante Melinda

Tante Melinda
Di Mata Orang Lain


__ADS_3

Malam hari, di rumah ibunya Linda.


Linda akhirnya pulang ke di rumah ibunya. Dia sudah terlalu lelah, setelah seharian bekerja di pabrik. Apalagi, Erli juga ada di rumah ibunya. Dan hari juga sudah malam.


Sedangkan suaminya, Ferry, sedang ada dalam perjalanan ke luar kota. Bersama dengan pemilik pengilingan padi.


Apalagi tadi, saat jam pulang kerja, dia harus menemui pak Rudi terlebih dahulu. Memenuhi permintaan dari managernya tersebut.


Dia akan semakin kelelahan, jika harus balik ke rumah. Sedangkan besok paginya, dia juga kembali ke rumah ibunya. Untuk menitipkan Erli lagi, karena dia harus bekerja juga besok pagi.


"Erli. Mama tidur duluan ya Sayang. Itu ada martabak manis. Di makan saja sama simbah dan om Danang," pamit Linda, yang tampak sudah mengantuk.


"Mama gak makan dulu?" tanya Erli. Karena dia tidak melihat mamanya sedang makan, sedari pulang kerja.


"Mana masih kenyang Sayang," sahut Linda, sambil mengelus-elus rambut anaknya.


Akhirnya Erli tidak lagi bertanya-tanya. Dia membawa satu kotak kardus, yang berisi martabak manis yang di bawa mamanya.


Sedangkan Linda, langsung masuk ke dalam kamar. Dia hanya ingin tidur sebentar saja.


"Mbah... Simbah!"


Erli memanggil-manggil simbah nya, dengan berlari-lari kecil menuju ke dapur.


"Eh, ada apa Erli?"


Ternyata Danang yang menyahuti. Dia baru keluar dari dalam kamar mandi.


"Om. Ini makan sama Erli yuk!" ajak Erli, dengan menunjukkan kotak martabak manis yang dia bawa.


"Simbah mana Om?" tanya Erli, karena tidak melihat keberadaan Simbah kakung dan juga Simbah putrinya.


"Oh. Simbah sedang pergi ke tempat orang mantu kan tadi? Kamu gak mau di ajak juga kan?" Danang mengingatkan pada Erli, di mana keberadaan kedua simbahnya sekarang ini.


"Eh iya. Hehehe..."


"Memang Mama ke mana?"


Sekarang, ganti Danang yang bertanya pada Erli. Karena dia tidak melihat keberadaan kakaknya, Linda. Yang tadi baru saja dia dengar suara motornya.


"Mama ada di kamar. Mama langsung tidur katanya," sahut Erli, memberikan penjelasan kepada Danang.


"Oh... kok gak mandi atau ke kamar mandi dulu gitu?"


Erli tidak tahu, apa maksud dari pertanyaan yang diajukan oleh Danang. Dia hanya melihat dengan bingung, saat Danang selesai bicara.


"Om. Mau gak?"


Erli bertanya pada Danang, setelah selesai membuka kotak martabak manis. Yang sekarang ini sudah dia letakkan di atas meja. .

__ADS_1


Dia mengambil satu iris martabak tersebut, kemudian mencobanya dengan cepat.


Satu gigitan besar, berhasil masuk ke dalam mulutnya Erli. Tapi toping yang ada di dalam martabak tersebut, berceceran di kursi. Di tempat Erli makan.


"Hati-hati Erli, tuh, pada kececeran! Nanti dikerubungi semut lho. Makanannya pelan-pelan aja!"


Danang memperingatkan keponakannya itu, supaya makan dengan perlahan-lahan.


Erli hanya mengangguk saja. Karena mulutnya masih penuh dengan martabak yang sedang dia kunyah.


"Om. Enak Om. Ambil ini!"


Erli kembali menyodorkan martabaknya, agar Danang bisa ikut menikmati juga.


"Iya-iya. Ini Om ambil."


Danang akhirnya mengalah. Dia mengambil satu potong martabak manis, yang ditawarkan oleh Erli sedari tadi. Meskipun sebenarnya dia sudah dalam keadaan kenyang.


Clek!


Pintu terbuka dari luar. Datang ibu dan bapaknya Linda. Mereka berdua, baru saja pulang dari pesta pernikahan tetangga.


"Wah... makan apa Sayang?"


Ibunya Linda, bertanya pada cucunya, Erli, saat dia sudah dekat dengan tempat duduknya Erli dan juga Danang.


Erli kembali menawarkan martabaknya, pada simbah putrinya.


"Mbah Kakung. Ini ambil!" Erli juga menawarkan martabaknya, pada simbah kakungnya.


"Iya nanti saja. Mbah masih kenyang Sayang," ucap Simbah kakungnya itu. Kemudian berjalan menuju ke arah kamarnya sendiri.


"Lho, mama sudah pulang?" tanya ibunya Linda, pada Erli.


Dia melihat sepeda motor anaknya, dan juga kue martabak manis. Yang biasa di bawa Linda, sebagai oleh-oleh untuk anaknya, Erli.


Tapi Erli hanya mengangguk saja, sebagai jawaban atas pertanyaan dari simbah putrinya itu.


"Terus, mama mana?" tanya simbahnya lagi.


"Mbak Linda tidur Bu. Kecapekan pasti dia," jawab Danang, mengantikan Erli yang tidak menjawab pertanyaan dari ibunya.


"Oh..."


Ibunya Linda hanya membola saja mulutnya. Dia tidak lagi bertanya. Dia juga tidak mengambil martabak tersebut. Tapi langsung berjalan menuju ke arah kamar Linda.


Clek!


Ibunya Linda membuka pintu kamar tersebut. Tapi dia hanya melihat dari pintu saja, dan tidak mendekat ke tempat tidurnya Linda.

__ADS_1


Dia hanya memastikan bahwa, anaknya itu memang dalam keadaan tertidur.


Pintu kamar kembali di tutup oleh ibunya Linda. Dia beralih menuju ke arah kamarnya sendiri, untuk berganti pakaian rumah.


*****


Di dalam kamar ibunya Linda.


"Pak. Itu Linda kecapekan gitu tiap hari. Apa gak kasihan Erli dan suaminya?"


"Maksud Ibu apa?"


Keduanya, ibu dan bapaknya Linda, jadi berbincang tentang keadaan yang dialami oleh Linda saat ini.


Dulu, di saat Ferry masih menjadi seorang polisi, Linda tidak bekerja. Hanya ada di rumah saja. Melayani suaminya, dan juga mengurus rumah tangga. Dan di saat ada Erli, dia juga fokus pada anaknya. Menjaga dan mengurusnya sendiri.


Tapi ternyata, kehidupan yang dijalani oleh Linda saat itu tidak sama seperti yang terlihat oleh mata orang lain.


Linda menderita dan tertekan secara mental dan fisik.


Dan ternyata, keuangan dalam keluarga Linda, juga tidak sama seperti yang terlihat di luaran.


Semua tidak sama seperti yang dibayangkan oleh ibunya sendiri, atau oleh orang lain.


"Itulah Bu. Kehidupan seseorang, apalagi keluarga, hanya mereka sendiri yang tahu. Bagaimana permasalahan demi permasalahan yang ada. Orang lain hanya bisa melihat dan berkomentar saja."


Ibunya Linda, tampak mengangguk mengiyakan perkataan suaminya itu.


Dia juga sadar jika, dia sering dibilang hidup enak sekarang ini. Oleh para tetangga dan orang-orang yang melihatnya.


Karena sekarang Linda sudah berkeluarga. Hanya ada Danang saja yang dia biayai sekarang ini. Bahkan, suaminya yang sudah tidak bisa bekerja dengan benar pun dikatakan enak.


"Iya-ya Pak. Orang hanya tahu, karena melihat kita dari luarnya saja. Mereka tidak tahu, bagaimana keadaan kita yang sebenarnya Karena mereka tidak ikut terlibat di dalamnya."


Ibunya Linda menyadari semua itu. Karena itu juga, dia tidak lagi mencampuri urusan keluarga Linda.


Ibunya Linda ingin, anaknya itu bisa menjadi seorang istri yang baik dan bisa mengatur segala sesuatunya. Karena dengan begitu, Linda tidak akan merasa jika, hidupnya tidak lagi didekte sama ibunya.


Ibunya itu tidak tahu, apa dan bagaimana dengan Linda sekarang ini.


Apa yang dilakukan Linda di tempat kerja, dua juga tidak tahu. Karena yang dia tahu hanyalah, Linda menjadi seorang leader. Dan untuk saat ini, Linda sudah naik jabatan sebagai seorang supervisor.


Dengan demikian, keuangan Linda sudah semakin meningkat. Dan karena itu, bisa dipastikan bahwa, kehidupan anaknya itu sudah kembali membaik.


Karena Linda sudah bekerja sendiri, dengan gaji yang besar.


Begitu juga dengan menantunya, Ferry. Yang saat ini sudah punya pekerjaan baru. Sebagai pedagang beras di pengilingan padi.


Meskipun sudah tidak lagi menjadi seorang polisi. Setidaknya, dia sudah tidak lagi menjadi seorang pengangguran.

__ADS_1


__ADS_2