Tante Melinda

Tante Melinda
Jalan Takdir


__ADS_3

Hari terus berganti, memberikan banyak pelajaran, untuk semua orang yang bisa berpikir. Jika hidup ini berproses.


Tidak ada yang instan, dalam keadaan seperti apapun. Sebab, kebahagiaan maupun penderitaan pasti pada akhirnya. Sebab, perputaran roda kehidupan, juga akan terus berganti. Sesuai dengan garis takdir yang telah ditetapkan oleh Allah SWT.


Linda meyakini bahwa, apa yang dia jalani sudah menjadi suratan takdir. Yang tidak bisa dilawan. Meskipun banyak sekali cobaan yang telah dilaluinya.


Dan sekarang ini, Linda sudah ada pada proses kehidupannya yang lain, bersama dengan suami barunya. Yaitu Romi.


Laki-laki itu, yang sebenarnya adalah cinta pertamanya. Sayangnya, dulunya mereka berdua tidak sempat bersatu. Karena ada sesuatu hal, sehingga pemilik di kehidupan masing-masing.


Tapi garis takdir membawa mereka untuk bersatu kembali. Meskipun sama-sama sudah pernah merasakan kebahagiaan dan kesedihan dalam mengarungi kehidupan rumah tangga. Tetap saja, mereka menganggap ini adalah yang pertama kalinya untuk mereka. Karena kisah menyatukan cinta mereka kembali.


Dan semuanya itu akan di mulai dengan pindahnya Linda ke kota besar, mengikuti suaminya, Romi.


Erli, anaknya Linda bersama dengan Ferry, juga akan ikut bersama dengan mereka berdua. Sehingga Erli harus pindah sekolah.


Linda, juga sudah resmi keluar dari perusahaan tempatnya bekerja. Sehingga dia tidak punya tanggungan lagi di perusahaan tersebut, sebagai seorang karyawan.


Kini, mereka bertiga sedang bersiap-siap untuk berangkat ke kota besar. Menjalani kehidupan baru mereka.


"Erli baik-baik ya di sana! Jangan rewel dan bikin Mama serta ayah repot." Simbah kakungnya, memberikan pesan kepada cucunya itu, sambil menahan air mata.


Dia merasa sangat sedih karena harus berpisah dengan Erli. Yang sudah terbiasa dengan dirinya.


Ibunya Linda, juga memberikan banyak pesan dan nasihat untuk Linda dan juga Romi. Supaya bisa merawat Erli dengan baik.


Tadinya, Romi berencana untuk membawa Linda beberapa bulan setelah dia kembali dari kota besar terlebih dahulu. Jadi, dia akan kembali di kota besar sendiri, kemudian kembali lagi ke kampung dan membawa linda ke kota besar.


Tapi ternyata, rencana Romi itu tidak terlaksana. Karena dia tidak mau meninggalkan istrinya itu sendirian.


Apalagi waktunya berada di kampung sudah molor sangat lama, sebab dia harus membantu segala sesuatu untuk perawatan pamannya. Yang saat ini masih berada di rumah sakit jiwa.


Jadi, dia memutuskan untuk membawa Linda dan juga Erli bersama dengannya sekarang.


"Om Danang. Nanti sering telpon Erli ya!"


"Kenapa? Apa Kamu di rumah saja sama Om?" tanya Danang, mendengarkan permintaan dan pesan dari keponakannya itu.


"Gak mau!" sahut Erli cepat.


Dia langsung berlari menuju ke tempatnya Romi berdiri, kemudian bersembunyi di balik kakinya Romi.


Danang dan yang lainnya, akhirnya tertawa senang, karena melihat tingkah Erli yang sedang mencari perlindungan pada ayah sambungnya itu.


Hal ini membuat semua orang merasa senang, karena akhirnya Erli mempercayai Romi untuk bisa melindunginya.

__ADS_1


Della mendekati keponakannya itu, sambil membawa boneka supaya dibawa Erli ke kota besar. Agar dia ada teman, untuk bermain-main. Sebelum sebutkan teman di kota besar sana.


"Ini buat Erli. Dia bisa di ajak bicara lho!"


Awalnya, Erli tidak percaya. Tapi dua juga kaget, disaat Della mempraktekkan cara membuat boneka tersebut bicara. Bahkan menangis juga.


"Jadi, tekan saja pada bagian leher belakangnya, pasti akan berbunyi. Jika nanti tidak bisa bicara lagi, minta pada ayah Romi, untuk mengganti baterainya ya!"


Erli menerima hadiah boneka tersebut dengan senang hati dan mengucapkan terima kasih. "Terima kasih Tante Della."


Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya bus yang akan membawa mereka bertiga ke kota besar telah datang.


Erli dan Linda naik terlebih dahulu, baru kemudian Romi menyusul di belakangnya.


Semua orang yang berada di luar bus, menangis haru. Karena harus berpisah dengan mereka bertiga.


Sekarang, Danang mengajak ibu dan bapaknya untuk pulang ke rumah. Dengan dia yang memboncengkan bapaknya, sedangkan Della memboncengkan ibunya.


"Sudah Pak, jangan ditangisi. Nanti Erli malah gak kerasan di sana. Bisa-bisa dia akan merengek-rengek minta pulang terus."


Danang memberi nasehat kepada bapaknya, supaya tidak bersedih hati secara berlebihan, karena ditinggal Erli ke kota.


"Bapak gak ada hiburan di rumah nanti Nang," ujar bapaknya, membuat alasan.


"Ada TV lho Pak," sahut Danang, memberikan contoh untuk mencari hiburan.


Sebenarnya, Danang juga merasa sangat sedih. Dia membenarkan perkataan bapaknya karena memang seperti itulah yang terjadi di rumah seandainya ada Erli.


Bapaknya itu akan terlihat sangat bahagia dan sehat, jika sedang bercanda dan tertawa bersama dengan cucunya.


"Tapi, Erli harus ikut sama mbak Linda sama mas Romi Pak. Jangan kayak gitu lah Pak. Kasian nanti, kalau Erli gak betah di sana."


"Hahhh...."


Bapaknya itu, hanya bisa membuang nafas panjang, tanpa menyahuti perkataan dari anaknya, Danang. Sebab, apa yang dikatakan oleh anaknya itu memang benar adanya.


Sekarang, dia terhadap supaya cucunya itu bisa betah. Dan sehat-sehat saja di sana. Dan kapan-kapan, bisa pulang untuk menjenguk dirinya di kampung.


*****


Di sebuah rumah makan.


Pak Rudi dan juga pak Komarudin, sedang melakukan makan bersama. Setelah pulang kerja malam ini.


Sebenarnya, mereka juga mengundang pak Yus. Tapi pak Yus tidak bisa memenuhi undangan makan malam mereka, karena ada kepentingan sendiri.

__ADS_1


"Kita sudah tidak ada target yang menantang lagi pak Komar," gerutu pak Rudi, yang sudah tidak punya semangat karena linda sudah resmi tidak menjadi karyawan di perusahaan.


"Cari saja mangsa baru pak Rudi!"


"Ck! malasnya Aku. Gak ada yang bisa membuatku nafsu. Gak seperti dengan Linda," terang pak Rudi berterus terang.


Pak Komarudin, menganggukkan kepalanya beberapa kali. Karena dia memang mengakui, jika pesona Linda itu tidak ada duanya.


Meskipun sebenarnya dia sudah beberapa kali membawa wanita lain setelah Linda, dia masih tetap terbayang-bayang dengan permainannya bersama dengan Linda dulu.


Sayangnya, dia memang sudah tidak bisa mendekati Linda lagi. Meskipun dengan banyak iming-iming, yang tentunya menggiurkan untuk semua wanita.


"Hahhh..."


Tanpa sadar, pak Komarudin membuang nafas kasar. Yang membuat pak Rudi memperhatikan dirinya.


"Kenapa pak Komarudin?" tanya pak Rudi cepat. Dia berpikir bahwa rekan seprofesinya itu, sebenernya merasakan hal yang sama seperti dirinya juga.


Tapi, pak Komarudin hanya malu untuk mengakuinya.


"Gak apa-apa Pak Rudi. Aku, Aku hanya sedang berpikir... siapa lagi yang akan menjadi target ku nanti. Sebab, kemarin ada beberapa cewek yang masih sangat muda-muda baru masuk. Dan ini masih sangat fress!"


Pak Komarudin jadi bersemangat kembali, setelah mengingat bahwa, tadi pagi, ada beberapa karyawan baru. Yang sepertinya masih anak-anak ABG, yang baru keluar sekolah.


Kadang kala, usia mereka masih rawan dengan keadaan dan godaan yang menggiurkan. Sehingga mudah untuk ditaklukkan.


Hal ini membuat pak Rudi ikut bersemangat sehingga menyahuti perkataan pak Komarudin. "Awas, bagi-bagi Jia ada barang Bagus. Atau, bagi aku satu yang masih sangat fress. Agar kita bisa main sama-sama."


Pak rudi menaikkan satu alisnya, memberikan kode pada pak Komarudin. Supaya mau menerima permintaannya itu.


"Tenang pak Rudi! Yang penting ini..."


Pak Komarudin menyanggupi permintaan pak Rudi, dengan memberikan tanda. Jika harus ada timbal balik dari kesanggupannya itu.


"Gampang itu, bisa diatur! Kapanpun dan berapa banyak yang Kamu butuhkan, asal sipppp, pasti Ok! hahaha..."


"Hahaha..."


Mereka berdua, tertawa-tawa senang. Karena akhirnya memiliki rencana untuk bisa bersenang-senang. Dengan paket mereka yang baru.


Mereka berdua tidak menyadari, jika ada seseorang yang juga merupakan karyawan di perusahaan tempat mereka bekerja.


Orang tersebut, mengawasi keduanya sejak tadi. Dan dia juga tahu apa yang sedang mereka bicarakan.


Hal ini memang sudah menjadi perhatiannya sejak lama. Sayangnya, dia tidak punya bukti sehingga tidak bisa melakukan apa-apa.

__ADS_1


Tapi kali ini, sepertinya keberuntungan sedang berpihak kepadanya. Sehingga dia memiliki banyak bukti. Meskipun hal itu belum bisa membuat kedua orang yang berpengaruh tersebut bisa dia taklukkan.


Namun, dengan memiliki beberapa bukti ini, orang tersebut akan terus mencari bukti yang lainnya lagi. Supaya bisa membuat perhitungan pada kedua orang tersebut.


__ADS_2