
Linda dan Danang sudah ada di atas jok motor masing-masing, pada saat Ferry keluar dari dalam hotel.
Dengan langkah gontai menuju ke tempat Linda dan Danang, dia menenteng tas miliknya, yang tadi dia sembunyikan di dalam almari pakaian.
"Maaf Dek," ucap Ferry untuk pertama kalinya, saat dia sudah ada di dekatnya Linda.
"Nang, bonceng dia ya!"
Linda tidak menanggapi permintaan maaf yang diucapkan oleh Ferry. Dia justru meminta pada adiknya, Danang, supaya memboncengkan Ferry untuk pulang ke rumah.
Ferry pun tidak bisa melakukan apa-apa, dan tidak lagi mengatakan apa-apa. Dia menurut saja, apa yang dikatakan oleh istrinya itu.
Linda pergi lebih dulu, baru kemudian Danang menyusul di belakangnya. Dengan memboncengkan Ferry di jok belakang motornya.
Tadi, sebelum Linda dan Danang pergi ke area parkir hotel. Dia sudah menemui mas Marno, temannya mas Pinjol, yang saat itu masih stay di lobby hotel.
Linda menyerahkan sejumlah uang untuk dibagikan kepada mas Pinjol dan laki-laki dewasa yang sudah membantunya.
"Terima kasih atas semua bantuannya ya Mas. Ini ada sedikit uang untuk beli rokok, sama mas Pinjol dan bapak yang tadi," kata Linda dengan menyerahkan sejumlah uang pada mas Marno.
*****
"Nang," panggil Ferry pada Danang, yang saat ini memboncengkan dirinya.
"Hum," sahut Danang, yang masih malas untuk bicara dengan mas iparnya itu.
"Maaf Nang. Mas..."
"Udah Mas. Buat apa bicara dengan Danang. Percuma, Danang gak bisa bantu juga. Semua terserah mbak Linda." Danang menyahut cepat, dengan suara yang keras. Karena bersaing dengan deru suara mesin motor dan kendaraan pemakai jalan lainnya.
"Hahhh!"
Ferry membuang nafas kasar. Dia tidak tahu, pada siapa harus mencari bantuan. Agar bisa membujuk istrinya yang sedang dalam keadaan marah seperti itu.
Sekarang, mereka bertiga sudah sampai di depan rumah.
"Nang, Kamu pulanglah."
Linda menyuruh Danang untuk pulang. Dia ingin menyelesaikan permasalahannya dengan Ferry sendiri. Hanya berdua saja dengan suaminya itu.
"Tapi Mbak..."
"Gak apa-apa Nang. Pulanglah. Kasian bapak dan ibu. Nanti mereka khawatir dan mencari keberadaan Mu."
"Mbak nitip Erli dulu ya!"
Danang akhirnya mengalah. Dia mengangguk mengiyakan permintaan kakaknya itu.
__ADS_1
Linda juga mewanti-wanti pada adiknya itu, supaya tidak memberitahukan permasalahannya dengan Ferry, pada orang tuanya. Apalagi keadaan bapaknya yang baru saja pulang dari rumah sakit.
Danang akhirnya menurut. Dia pamit pulang pada Linda, tapi tidak pamit pada Ferry. "Ya sudah kalau begitu Mbak. Danang pulang dulu."
"Iya. Hati-hati ya!"
Setelah motor Danang tak terlihat lagi, Linda baru masuk ke dalam rumah. Di susul dengan Ferry, yang sedari tadi juga masih ada di depan. Tidak langsung masuk ke dalam rumahnya.
Linda duduk di kursi, begitu juga dengan Ferry.
"Dek..."
"Kita bisa baikan lagi, tapi dengan satu syarat." Linda berkata dengan datar.
Linda memotong kalimat Ferry yang belum selesai diucapkan. Karena baru memanggilnya saja.
"Beneran Dek?"
Ferry bertanya dengan cepat. Wajahnya tampak menyiratkan bahwa dia merasa lega. Karena istrinya itu memaafkan dirinya. Yang jelas-jelas ketahuan sedang berada di kamar hotel, bersama dengan wanita lain.
"Kamu gak tanya apa syaratnya?" tanya Linda, dengan melihat ke arah suaminya.
Kini Ferry bersimpuh di depan Linda. Dia memegang kedua tangan Linda, dan menggenggamnya erat.
Bahkan dia juga menciumi punggung tangan Linda beberapa kali. Sangking senangnya, mendengar perkataan yang diucapkan oleh Linda barusan.
Dengan sangat yakin, Ferry menyanggupi permintaan syarat yang belum dikatakan oleh Linda padanya. Dia tidak merasa keberatan, dengan permintaan syarat yang harus dia kerjakan. Yang penting, istrinya itu memberikan maaf padanya.
"Syaratnya adalah, yang pertama. Mas harus bersedia menandatangani surat perjanjian diantara kita berdua. Dengan disertai materai."
"Dan itu disahkan di depan notaris."
"Syarat apa itu Dek? Kenapa harus di depan notaris?" tanya Ferry bingung dengan syarat tersebut.
"Nanti Aku buatkan surat perjanjian tersebut. Dengan dibantu pihak notaris. Jadi surat itu sah dan legal." Linda memberikan penjelasan kepada suaminya. Agar Ferry tidak menganggap bahwa, syarat yang dia ajukan bukan main-main.
"Baiklah. Mas ikuti aja yang Kamu inginkan."
"Tapi... Kamu memaafkan Mas kan Dek?"
Ferry belum merasa lega , karena belum ada kata maaf yang diucapkan oleh istrinya itu secara langsung.
"Tidak. Aku tidak memaafkan orang yang sudah berkali-kali menipuku. Memberikan Aku kehidupan yang tidak bisa dikatakan baik, sejak awal."
Ferry menunduk. Dia sadar jika, semua yang dikatakan oleh istrinya itu memang benar adanya.
Dulu, di saat awal pernikahan. Ada kebohongan yang dia lakukan. Untuk menyingkirkan Romi dari kehidupan Linda.
__ADS_1
Setelah menjadi istrinya, dia juga sering kdrt. Bahkan yang lebih parahnya lagi, Linda sampai pingsan dan harus masuk ke rumah sakit.
Baru saja Linda keluar dari rumah sakit, dia harus kehilangan pekerjaannya sebagai seorang polisi. Dengan banyak tanggungan hutang. Yang membuat Linda harus bekerja di pabrik.
Setelah dia mulai bisa menghasilkan uang yang belum seberapa, malah main api dengan berselingkuh.
Dan kini, istrinya justru memergokinya sendiri di kamar hotel, bersama dengan selingkuhannya juga. Bahkan Linda tidak berbuat kasar padanya, atau pada selingkuhannya.
Bagaimana bisa Ferry meminta lebih banyak lagi, jika kini Linda benar-benar tidak bisa memaafkan dirinya sebagai seorang laki-laki dan sebagai suami.
Ferry sadar. Dia pantas mendapatkan semua itu dari Linda.
Bahkan seandainya Linda menuntut cerai, semua orang pasti akan mendukung keinginan istrinya juga. Karena di sini, dia memang bersalah atas semua kejadian ini.
"Dek," panggil Ferry, yang masih bersimpuh di depan Linda. Kepalanya menunduk, dan tidak berani menatap ke arah wajahnya Linda.
Sedangkan Linda juga masih duduk berdiam diri di kursi tamu.
"Mas benar-benar minta maaf Dek. Mas janji gak akan pernah melakukannya lagi untuk kedepannya nanti. Mas janji Dek."
Helaan nafas panjang, terdengar ditelinga Ferry. Sehingga dia mendongak menatap ke arah wajah istrinya itu.
"Maafkan Mas ya Dek!"
Berkali-kali Ferry mengucapkan kata maaf. Tapi tidak sekalipun, Linda mengucapkan bahwa, dia memberikan maaf padanya.
"Bangunlah Mas. Aku tidak pantas memberikan maaf padamu."
"Dek..."
Linda tidak menggubris panggilan Ferry. Dia melepaskan tangannya dari genggaman tangan suaminya itu, kemudian beranjak dari tempat duduknya.
Dia berjalan menuju ke kamar mandi.
Di tempatnya berada, Ferry memukul kursi tamu miliknya.
Bug!
Bug!
Bug!
"Bodoh kau Ferry... bodoh!"
Untungnya, kursi tamu di rumahnya merupakan kursi sofa, yang ada busanya. Sehingga tangannya yang tadi memukul juga tidak terluka.
Ferry juga memaki-maki dirinya sendiri. Dia merasa sangat menyesal, karena sudah menyia-nyiakan waktunya bersama dengan wanita lain. Dan bukan dengan istrinya sendiri.
__ADS_1
Tapi penyesalan memang datang belakangan. Sehingga kata maaf, seperti senjata yang tidak ada gunanya juga.