Tante Melinda

Tante Melinda
Operasi


__ADS_3

Danang dipanggil untuk segera kembali ke rumah sakit, karena harus mengurus surat persetujuan operasi pen, yang akan dilakukan oleh Linda.


Ibunya Linda tidak berani tanda tangan, karena dia tidak tahu apa-apa. Jadi meminta pada Danang yang mengurusnya saja.


"Bagaimana Bu? Apa mbak Linda sudah sadar?" tanya Danang, begitu dia masuk ke dalam kamar rawat Linda, dan bertemu dengan ibunya.


Dia juga melihat ke arah tempat tidur, di mana kakak perempuannya itu sedang menangis.


"Mbak. Mbak Linda yang sabar ya! Pasti mbak Linda bisa sembuh," bujuk Danang, supaya Linda bisa menerima kenyataan yang sedang dia hadapi sekarang ini.


"Anakku Nang, anakku! Mas Ferry juga. Hiks... kakiku..."


Linda seakan-akan sedang meratapi nasibnya sendiri, yang tidak pernah dia sangka-sangka sebelumnya. Padahal dia dan suaminya, baru saja mendengar berita bahagia, dengan kehamilan keduanya ini.


Danang mengengam tangan Linda, untuk memberikan kekuatan, jika dalam keadaan apapun, dia akan selalu ada.


"Mbak. Mbak Linda adalah wanita yang kuat. Tidak pernah mengeluh tentang keadaan apapun. Mbak pasti bisa melewati semua ini dengan baik, sebagaimana biasanya. Danang saja kagum dengan kesabaran dan keikhlasan mbak Linda selama ini."


Danang mengatakan semua itu, dengan mata berkaca-kaca dan suara yang serak. Karena merasa sesak di dalam dadanya juga.


Dia juga merasa kasihan dengan nasib Linda yang selalu saja ada masalah. Meskipun dia juga tahu, jika Linda tidak pernah mengeluh pada siapapun tentang keadaan dirinya. Baik saat sedih, kecewa maupun sakit yang dia rasakan selama ini.


"Aku mau lihat mas Ferry Nang," pinta Linda, pada adiknya itu.


"Danang tanya ke dokter dulu ya! Sekalian membicarakan tentang operasi pen yang harus dilakukan secepatnya."


Linda mengangguk mengiyakan perkataan Danang. Karena dia juga tidak bisa melakukan apa-apa tanpa bantuan Danang, untuk saat ini.


Tak lama sepeninggal Danang, Romi dan Della datang. Karena hari sudah sore, sehingga mereka berdua sudah pulang.


"Assalamualaikum..."


"Assalamualaikum..."


Romi dan Della mengucapkan salam bersamaan, di saat memasuki ruangan Linda.

__ADS_1


"Waallaikumsalam..."


Ibunya Linda menjawab salam mereka berdua, sedangkan Linda hanya menjawab dalam hatinya saja.


Linda tersenyum miris, melihat kedatangan mantan kekasihnya itu. Bersama dengan calon adik iparnya, yang tentu saja tahu berita ini dari adiknya sendiri. Yaitu Danang.


"Apa yang terjadi Mbak Linda? kok bisa seperti ini," tanya Della prihatin.


Tapi Romi segera menyentuh pundak adiknya itu, supaya tidak banyak bertanya. Yang bisa membuat Linda bersedih hati.


"Bukannya tadi Danang sudah memberitahu, bahwa kecelakaan itu terjadi karena kecelakaan beruntun. Jadi pastinya bukan dari dua korban saja."


Romi akhirnya memberikan penjelasan, karena dia yakin, jika Linda tidak mungkin bisa menceritakan tentang kejadian yang terjadi pada dirinya saat itu.


"Danang ke mana Bu?" tanya Romi, yang tadi sudah menghubungi Danang. Dan mengatakan bahwa Danang sedang berada di rumah sakit.


"Dia ke ruangan dokter. Mengurus surat persetujuan operasi pen yang akan dilakukan Linda besok pagi."


Mendengar penjelasan tentang operasi pen, Romi melihat ke arah kakinya Linda.


"Semoga operasinya besok lancar ya Dek," doa Romi, yang hanya diangguki oleh Linda, tanpa melihat kearahnya.


"Oh ya Bu. Handphone Linda mana?"


Linda ingat, jika dia harus segera memberikan kabar pada keluarganya Ferry. Supaya ada yang bisa menjaga suaminya itu. Di saat dirinya sendiri tidak bisa menjaganya.


"Handphonemu dan juga miliknya Ferry hilang. Gak tahu ke mana. Tapi sudah dilaporkan ke pihak polisi kok. Mungkin terpental atau di mana juga gak tau." Penjelasan ibunya, justru membuat Linda merasa sangat bersalah.


Dia tidak hafal dengan nomor handphone milik keluarganya Ferry. Karena semuanya ada di dalam memory card dan juga ponselnya.


*****


Akhirnya Linda bisa menjalani operasi pagi ini, setelah dia melihat kondisi suaminya di ruang ICU terlebih dahulu.


Danang dan juga ibunya, menunggu di luar ruangan operasi. Sedangkan Erli, di jaga Simbah kakungnya di rumah. Karena dia tidak diperbolehkan untuk ikut datang ke rumah sakit.

__ADS_1


Urusan pekerjaan, Della yang mengurus segala ijin dan sebaginya. Karena Danang juga repot di rumah sakit.


Selain menunggui Linda, Danang juga bolak balik melihat keadaan kakak iparnya, Ferry.


"Nang. Kamu jangan lupa makan lho! pergilah makan dulu, biar ibu yang nungguin." Ibunya mengingatkan Danang, karena sedari tadi tidak melihat anaknya itu memakan sesuatu.


"Ibu juga belum makan apa-apa sedari tadi. Apa ibu merasa lapar? Danang belikan makanan ya!"


Tapi ibunya mengelengkan kepala. Dia merasa tidak lapar sama sekali.


"Tapi ibu harus makan. Biar gak ikutan sakit nanti," terang Danang pada ibunya, kemudian dia beranjak dari tempat duduknya, untuk pergi mencari makanan.


Ibunya tidak lagi melarang. Karena apa yang tadi dikatakan oleh Danang memang benar adanya.


Tapi dia juga merasa tidak enak makan, di saat melihat keadaan anaknya. Ibunya Linda hanya bisa menangis dan berdoa, untuk keselamatan dan kesembuhan anaknya itu.


*****


Siang harinya, Linda sudah kembali berada di ruang rawat inapnya. Dia tidak diperbolehkan untuk bergerak sama sekali, terutama pada bagian kakinya yang baru saja selesai menjalani operasi pemasangan pen.


Tak lama kemudian, bos pengilingan padi dan kang Mus datang menjenguk Linda. Tapi mereka berdua sudah lebih dulu menjenguk Ferry, yang berada di ruangan ICU.


Mereka berdua turut prihatin, dengan keadaan Ferry dan juga Linda.


Mereka juga menceritakan tentang keadaan Ferry yang sekarang sudah jauh lebih baik daripada kemarin-kemarin, dengan bekerja lebih keras lagi. Karena ingin membahagiakan istri dan anak-anaknya.


"Dia itu punya harapan, agar usahanya maju dan lancar. Sehingga Mbak Linda tidak perlu repot-repot bekerja di pabrik lagi."


Bos pengilingan padi, menceritakan tentang keinginan Ferry, yang sempat dia dengar beberapa hari kemarin.


"Katanya, dia ingin menebus kesalahannya di masa lalu. Yang sudah membuat istrinya itu sering tidak bisa tersenyum." Bos pengilingan padi, kembali menceritakan tentang cita-cita Ferry. Yang sempat dia semangati juga.


"Waktu itu, Saya justru bertanya kepadanya. Kok baru sekarang niatannya, gak dari dulu? Dia jawab, Aku khilaf, dan banyak hal yang Aku sesali. Meskipun Aku tahu, istriku itu tidak pernah mengatakan rasa kecewanya padaku."


Linda tersedu-sedu mendengar cerita dari Bos pengilingan padi tersebut.

__ADS_1


Dia merasa jika, suaminya itu memang benar-benar sudah berubah juga akhir-akhir ini. Dengan memberinya perhatian yang lebih.


Tapi siapa yang tahu, bagaimana keadaan ke depan nanti. Karena semua itu sudah diatur oleh Tuhan dalam suratan takdir.


__ADS_2