
Linda berangkat kerja, bersama dengan Danang. Tapi dengan mengunakan sepeda motor sendiri-sendiri.
Mereka berdua mengunakan kendaraan sendiri karena, mengingat waktu pulang kerja mereka, yang tidak bisa bersamaan nantinya.
"Danang kan bisa ikut pulang sore juga nanti Lin," ujar ibunya, yang tidak tahu jika kedua ada di gedung yang berbeda. Dengan pekerjaan yang berbeda juga.
"Gak bisa Bu. Ada aturannya sendiri untuk Danang. Dia di PPIC juga baru. Jadi harus banyak belajar dan ikut lembur juga. Biar bisa cepat menguasai pekerjaan yang harus dia lakukan."
Danang membenarkan perkataan kakaknya.
"Oh, gitu ya." Ibunya berkata menanggapi, sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Di saat tahu jika, ke dua anaknya itu tidak bisa kerja bersama-sama.
Ibunya jadi berpikir bahwa, itu disebabkan karena Linda dan Danang berbeda tingkat pendidikannya. Karena kedua anaknya itu, memang tidak sama untuk tidak tingkatan ijasahnya.
Linda hanya tamatan SMA. Sedangkan Danang sarjana.
Erli tentu saja merasa sangat senang, dengan kehadiran simbah putrinya di rumah ini. Apalagi tak lama kemudian, simbah kakungnya juga menyusul datang.
"Horeee..."
Teriakan Erli, membuat Ferry juga ikut tersenyum senang di dalam kamarnya sendiri.
"Yeye... simbah datang!"
"Yeye... simbah di rumah Erli!"
Ibunya Linda, hanya menggelengkan kepalanya. Melihat bagaimana tingkah cucunya yang sedang berteriak dengan melompat-lompat kegirangan.
"Assalamualaikum..."
Bapaknya Linda, mengucapkan salam. Begitu dia sampai di depan pintu rumah.
Sedangkan pak lek ojek, langsung pamit kembali ke pasar tadi. Jadi, tidak ikut mampir ke rumah Linda.
"Waallaikumsalam..."
"Waallaikumsalam..."
Erli dan simbah putrinya, menjawab salam tersebut bersamaan. Dan Ferry, menjawab dari dalam kamar dengan pelan.
"Waallaikumsalam."
Begitulah kira-kira. Erli dengan senang hati bermain bersama kedua simbahnya, yang ikut menjaga papanya.
Melakukan apa-apa, yang diperlukan Ferry, secara bergantian.
*****
__ADS_1
Di pabrik, ternyata kasus Bu Win sedang heboh.
Sebenarnya, kemarin-kemarin itu masih berlanjut dari hanya sebatas desas-desus saja. Yang seterusnya diselidiki oleh pihak HRD.
Dan sekarang, semuanya jadi terungkap. Beberapa orang yang memang menjadi korbannya, sudah memberikan kesaksian. Sehingga Bu Win tidak bisa mengelak lagi.
Bu Wiwin, atau yang lebih dikenal dengan nama Bu Win, berperawakan tomboy. Dari postur tubuh dan penampilan, jika bukan orang yang mengenalnya, pasti menyangka jika dia adalah seorang pria. Karena tidak ada dua gunung kembar yang menonjol, di areal dadanya. Hanya saja dia tidak punya jakun.
Bahkan, suaranya juga besar dan berat. Khas laki-laki pada umumnya.
Dari beberapa sumber yang dapat dipercaya memberikan kabar bahwa, Bu Win ini juga penyuka sesama jenis.
Linda bergidik ngeri, mendengar berita tersebut.
"Masa sih benar kayak gitu?" tanya Linda, yang tidak percaya begitu saja. Di saat ada salah satu dari mereka yang memberikan kabar tersebut.
"Iya Mbak. Kan keseharian Bu Win juga emang deket-deket ma satu orang. Dan dia akan berganti, jika ada target baru yang dia inginkan." Orang tersebut memberikan beberapa contoh pada Linda.
Linda memang tidak pernah memperhatikan hal-hal semacam itu. Dan setelah mendengar penjelasan yang diberikan oleh temannya, Linda bisa menarik kesimpulan tentang kehidupan di sebuah pabrik.
Yang diperhatikan oleh Linda pertama kalinya adalah, para atasan, akan lebih cepat mengenali anak buahnya yang punya paras cantik dan menarik. Menurut mereka tentunya.
Untuk yang kedua, sesama karyawan akan segera mem-bully teman sekerjanya, yang dirasa tidak se_frekuensi dengan mereka.
Pasti ada beberapa kelompok dalam satu devisi. Dan di situ juga, akan ada teman yang memiliki dua muka. Alias Sengkuni, yang bersikap baik di sini, dan juga di sana. Mereka ini jenis orang yang suka mengacu domba sesama temannya.
Yang ketiga, Linda perhatikan bahwa, para atasan akan memiliki anak buah yang di anak emaskan, alias disayang. Jarang di perintah, dan dibaik-baiki.
Untuk anak yang terlihat lebih dekat dengan atasan, pastinya akan di musuhi teman yang lain. Dan ini akan berakibat pada yang no dua tadi.
Empat urutan yang diperhatikan oleh Linda adalah, persaingan dalam model pakaian dan juga make up.
Padahal, mereka sesama jenis. Sama-sama perempuan. Tapi akan ada persaingan yang bertujuan untuk mendapatkan pujian dan juga perhatian sebagai yang tercantik.
Sebenarnya normal-normal saja, jika ada yang memuji. Dan para wanita akan tetap merasa tersanjung, dengan pujian tersebut. Padahal, yang memuji itu juga sama jenisnya dengan mereka.
Urutan yang inilah, yang akhirnya menimbulkan persaingan dan rasa dengki. Yang pada akhirnya balik lagi ke urutan kedua dan ketiga.
"Mbak Linda, dipanggil pak Rudi ke ruangan!"
Linda tersadar dari lamunannya, saat ada salah satu dari anak buahnya yang datang memberitahu.
"Eh ya. Terima kasih ya!"
Linda beranjak dari tempatnya duduk, kemudian berjalan menuju ke arah ruangan manager.
Tok tok tok!
__ADS_1
"Masuk!"
Clek!
Linda membuka pintu ruangan, begitu pak Rudi memintanya masuk.
"Bapak panggil Linda?" tanya Linda , memastikan bahwa apa yang disampaikan oleh orang tadi benar.
Pak Rudi mengangguk mengiyakan pertanyaan yang diajukan oleh Linda. Kemudian meminta Linda untuk duduk di kursi yang ada di depannya.
"Duduk Lin."
Linda pun akhirnya duduk. Dia menunggu pak Rudi yang masih sibuk dengan gawai nya.
Beberapa saat kemudian, pak Rudi baru baru meletakan handphone miliknya di atas meja. Dan mengajak Linda bicara.
"Kamu sudah dengar tentang berita Bu Win?" tanya pak Rudi, tentang apa yang menjadi berita pagi ini.
Linda hanya mengangguk saja, tanpa menyahuti dan menjawab pertanyaan tersebut.
"Kamu tidak bertanya tentang kebenaran yang sesungguhnya?" tanya pak Rudi lagi.
Linda hanya menggeleng. Dia juga tidak punya keinginan untuk tahu. Karena semuanya akan menjadi berita, sehingga tanpa mencari tahu, pasti akan tahu dengan sendirinya nanti.
"Kamu gak penasaran?"
Sepertinya, pak Rudi sengaja memanggil Linda hanya untuk mengetahui, apakah Linda orang yang suka bergosip atau tidak.
"Buat apa penasaran Pak? Kan semuanya bukan urusan Linda. Jika memang ada kaitannya dengan Linda, sedari tadi, pastinya Linda akan dipanggil pihak HRD kan?"
Pak Rudi mengangguk-anggukkan kepalanya, mendengar jawaban yang diberikan oleh Linda barusan.
"Kamu benar Lin. Emhhh... tapi, biasanya orang-orang akan lebih penasaran dan ingin tahu. Apalagi jika dia punya akses untuk berita yang lebih akurat."
Linda hanya tersenyum tipis, mendengar perkataan yang diucapkan oleh pak Rudi.
Tapi karena Linda memang tidak pernah ingin tahu, dan Linda juga berpikir bahwa, itu bukan urusannya. Jadi, Linda hanya menangapi dengan biasa saja.
"Kamu yang akan menggantikan posisinya Bu Win besok."
Linda terkejut dengan perkataan pak Rudi. Dia tidak menyangka jika, kasus Bu Win akan ikut menyeretnya ke arah lebih tinggi lagi. Dan ini tidak Linda sukai.
Selain tanggung jawab yang lebih besar, dia juga akan semakin kelihangan waktunya. Karena urusan dan waktunya di pabrik akan lebih mendominasi, dari pada keluarganya sendiri.
Helaan nafas panjang Linda, membuat pak Rudi memicingkan matanya.
"Kamu tidak mau?" tanya pak Rudi ingin tahu.
__ADS_1