Tante Melinda

Tante Melinda
Tak Bisa Ditahan


__ADS_3

Isyarat yang diberikan oleh Linda barusan, membuat Danang diam. Dia tahu, kakaknya itu tidak mau membicarakan tentang apapun, yang menyangkut Romi. Kekasih hati kakaknya yang pertama kali.


Apalagi, keputusan kakaknya pada saat itu, untuk menikah dengan Ferry, mengalami beberapa kali kejadian yang tidak mengenakkan. Dan semua kejadian itu, membuat kakaknya tidak bahagia. Justru penderita demi penderita yang harus diterima kakaknya beberapa tahun yang lalu.


Danang miris, mengingat kembali semua kejadian yang dialami oleh kakaknya, Linda.


Kini, Danang menghela nafas panjang. Memikirkan apa yang terjadi dari gosip yang dia dengar kemarin, saat jam istirahat kerja.


'Apa mungkin Mbak Linda akhirnya mencari kebahagiaannya sendiri di luar rumah? Jika itu iya, bagaimana jadinya jika mas Ferry tahu?' batin Danang, yang tidak bisa membayangkan bagaimana keadaan kedepannya, jika sampai kakak iparnya tahu apa yang terjadi pada istrinya.


"Hufhhh..."


Danang akhirnya membuang nafas kasar. Dia memejamkan mata, sebelum akhirnya beranjak dari atas jok motor. Kemudian berjalan menuju ke arah pabrik.


Dia harus segera masuk, karena jam kerjanya akan segara dimulai.


Pluk!


"Nang. Itu Tante Melinda buat gue ya?"


Tiba-tiba, dari arah belakang ada seseorang yang menepuk. Dengan bertanya tentang Linda juga.


Danang menoleh cepat ke arah belakang. Ternyata, itu adalah salah satu karyawan PPIC, sama seperti dirinya. Tapi beda ruangan. Jadi, mereka berdua tidak begitu mengenal satu sama lain.


"Maksudnya?" tanya Danang tidak paham dengan pertanyaan tersebut.


"Itu tadi, Aku perhatian Kamu sedang berbincang-bincang dengan Tante Melinda. Dia kan idola semua laki-laki di perusahaan ini Nang!"


Danang mengangguk-anggukkan kepalanya, mendengar penjelasan yang diberikan oleh orang tersebut.


Dia mengakui jika kakaknya, Linda, memang sangat cantik. Bahkan, bisa disamakan dengan artis ibukota yang terkenal sebagai artis panas waktu mudanya dulu. Yaitu Inneke Koesherawati. Meskipun sekarang artis itu sudah tidak lagi wara wiri dilayar kaca.


Tapi kecantikan artis tersebut, tetap terlihat diwajahnya yang sudah tidak lagi muda.


Kira-kira, mungkin kakaknya juga tetap sama cantiknya, di saat usianya tidak lagi muda. Sama seperti artis tersebut.


"Nang! malah bengong," ucap orang itu, mengagetkan Danang.


"Ah, Kamu sih!"

__ADS_1


Kini, mereka berdua melanjutkan perjalanan menuju ke arah kantor PPIC.


Dari cerita orang tersebut, Danang akhirnya tahu jika, banyak sekali orang-orang, terutama laki-laki, yang mendambakan untuk bisa dekat dengan kakaknya itu.


Apalagi jika Linda sedang berbincang dengan laki-laki muda seperti Danang tadi. Orang lain akan berpikir bahwa, Linda memang suka daun muda, alias brondong. Dan tanpa di sadari Linda ataupun Danang sendiri, di luar sepengetahuan dari mereka berdua. Orang-orang sudah menilai jika Danang adalah pacar berondong dari supervisor Linda.


Mungkin ini karena beberapa kali Linda dan Danang sempat terlihat bersama, saat berangkat kerja. Atau mengobrol dengan akrab. Karena tidak semua orang tahu jika, kedua adalah saudara kandung. Kakak beradik. Sama halnya dengan security perusahaan pada waktu itu.


"Bagaimana Nang? Jika Kamu bosan, kenalin ke Aku ya!"


Danang hanya tersenyum tipis, karena dia juga malas untuk memberikan penjelasan. Karena banyak orang-orang yang tidak akan percaya begitu saja, dengan apa yang dia katakan. Jika dia mengaku sebagai adik dari supervisor Linda.


"Udah ah, ayok buruan!" ajak Danang, yang semakin mempercepat langkahnya agar tidak terlambat datang.


*****


Di pengilingan padi.


Mbak Nana datang pagi-pagi sekali, saat pengilingan padi baru saja dibuka. Belum banyak pegawai yang datang.


Bahkan, Ferry juga belum datang. Mungkin Ferry sekarang ini masih ada di perjalanan menuju ke sekolah Erli. Mengantar anaknya itu untuk berangkat sekolah.


"Mbak Nana tumben pagi sekali? Kangen ya dengan mas Ferry. Hehehe..."


Salah satu pegawai pengilingan, ada yang menegur dan menggoda mbak Nana. Karena Mbak Nana memang tidak tampak datang, selama dua hari kemarin. Di saat Linda ikut bersama Ferry ke pengilingan padi ini.


Tapi Mbak Nana tidak menjawab. Dia hanya tersenyum tipis, mendengar perkataan orang tersebut. Dia sedang tidak ingin diajak untuk bercanda dengan siapa pun.


Akhirnya orang tadi berlalu begitu saja, dan masuk tanpa menghiraukan mbak Nana lagi. Yang masih duduk di kursi, tak jauh dari tempat motornya diparkirkan.


Tak lama kemudian.


Tin tin!


Mbak Nana langsung melihat ke arah datangnya motor. Itu adalah Ferry. Laki-laki yang sudah dia rindukan sedari kemarin-kemarin. Dia langsung berdiri, menyambut kedatangan Ferry, dengan senyumannya yang sedari tadi tak tampak cerah.


Sudah dua hari, mereka berdua tidak bisa bertemu. Karena dua hari kemarin, ada Linda, istrinya Ferry, yang ikut serta ke pengilingan padi ini.


"Mas," sapa mbak Nana dengan mata berbinar-binar karena senang.

__ADS_1


"Mbak Nana?"


Ferry juga menyapa mbak Nana, dengan perasaan yang tidak bisa dia gambarkan sendiri.


Ada rasa was-was, senang dan bangga. Karena ternyata, masih ada wanita yang menunggu dan merindukannya jika tidak bertemu.


"Sudah lama Mbak?" tanya Ferry, mendekat ke tempat mbak Nana berdiri.


"Lumayan Mas," jawab mbak Nana dengan berbunga-bunga.


Rindu yang terlarang milik mereka, seakan-akan tidak membuat halangan untuk mereka berdua bisa terlihat mesra.


Nyatanya, mbak Nana dengan manja memeluk Ferry. Kemudian berbisik-bisik di dekat telinganya Ferry.


"Yuk Mas, kita pergi sebentar! Aku kangen banget ini sama Kamu."


"Tapi Mbak..."


"Tenang saja mas Ferry. Aku sudah sediakan uang untuk menganti waktunya Mas untuk berdagang. Lebih dari cukup untuk sehari ini."


Ferry meragu. Dia bimbang untuk bisa memutuskan antara mengiyakan atau menolak ajakan mbak Nana. Karena selain menguntungkan bagi dirinya, juga memberikan hiburan tersendiri bagi dirinya sendiri. Meskipun semalam, dia juga sudah merasa puas dengan melaksanakannya beberapa kali, bersama dengan Linda, istrinya sendiri.


"Mas," panggil mbak Nana, menyadarkan lamunan Ferry tetang kegiatannya semalam.


Tapi ternyata, Ferry juga tertarik dengan ajakan mbak Nana. Toh dia merasa tidak rugi. Karena meskipun dia tidak jualan beras hari ini, dia tetap mendapatkan uang dari mbak Nana.


Akhirnya, Ferry menyetujui ajakan mbak Nana. Mereka berdua naik motor masing-masing, menuju ke tempat yang biasa mereka lakukan kunjungi.


Dari dalam gudang pengilingan padi. Ternyata ada beberapa orang yang sedang memperhatikan mereka berdua sedari tadi.


"Lihat mereka berdua. Gak tahu apa, jika mereka itu salah!"


"Orang yang sedang kasmaran ya begitu."


"Kemarin-kemarin aja gak berani datang. Berarti udah di kasih tau mas Ferry. Biar Mbak Nana gak datang itu!"


"Iya pastilah!"


"Padahal menurutku, istrinya mas Ferry jauh lebih cantik dan menarik. Di banding dengan mbak Nana."

__ADS_1


Mereka, yang sedang memperhatikan Ferry dengan mbak Nana, saling sahut-sahutan, dalam membicarakan soal perselingkuhan Ferry dengan mbak Nana.


__ADS_2