Tante Melinda

Tante Melinda
Tidak Pada Saat Yang Tepat


__ADS_3

..."Lin, halo Linda!"...


Kang Mus memanggil-manggil nama Linda, karena Linda tidak juga menjawab pertanyaan darinya.


..."Halo Linda! Kamu gak apa-apa kan? Kamu ada di mana sekarang?"...


..."Eh, emhhh... iya kang Mus, maaf."...


..."Piye? ada apa?"...


..."Boleh Linda minta tolong Kang? Itu lho, Linda mau minta nomor telpon pemilik pengilingan padi. Dia temannya kang Mus kan ya?"...


..."Oh, kenapa tidak minta sama suamimu? Dia kan ada di pengilingan padi. Temannya pemilik pengilingan padi itu juga kan?"...


..."Iya Kang. Linda lupa tanya tadi. Tapi handphone milik mas Ferry sedang tidak aktif ini."...


..."Ok lah, nanti Aku kirim pesan aja ya? eh, tapi Kamu gak kenapa-kenapa kan ini?"...


..."Iya Kang, Linda gak apa-apa kok."...


..."Ya sudah kalau begitu. Nanti Aku kirim segera ke pesan."...


..."Iya Kang. Terima kasih."...


Klik!


Setelah panggilan telpon di tutup, tak lama kemudian notifikasi pesan terdengar.


Ada pesan baru yang masuk, dari nomor handphone milik kang Mus. Dia mengirim dua nomor sekaligus. Karena pemilik pengilingan padi, memang punya dia hape. Dengan nomor yang berbeda juga.


Linda pun mengucapkan terima kasih pada kang Mus lagi, dengan membalas pesan tersebut.


Tak lama kemudian, Linda melakukan panggilan telpon. Tapi kali ini dia menelpon pemilik pengilingan padi. Dia ingin tahu, apa benar Ferry ada kerjaan ke luar kota, bersama dengannya atau tidak.


Tut tut tut!


Tut tut tut!


Panggilan telpon tidak juga mendapatkan respon. Bahkan Linda mengulang kembali panggilannya. Tapi tetap saja tidak dijawab.


Akhirnya Linda mencoba untuk menekan nomor handphone yang satunya lagi. Dia berharap agar kali ini panggilan telponnya diangkat oleh pemilik pengilingan padi.


Tut tut tut!


Dan benar saja, tak lama kemudian, panggilan telpon Linda tersambung. Dan pemilik pengilingan padi sendiri yang mengangkatnya.


..."Halo! Siapa ini?"...

__ADS_1


..."Maaf. Apa benar ini dengan pemilik pengilingan padi?"...


..."Ya benar. Ini dengan siapa ya?"...


..."Emhhh... maaf. Ini dengan Linda. Istrinya mas Ferry. Tapi tolong jangan sebut lagi, jika saat ini mas Ferry ada bersama dengan Anda ya."...


..."Ohhhh... istrinya Ferry. Tidak. Ferry sedang tidak bersamaku. Ada apa ya?"...


..."Saya mau tanya, apa mas Ferry ada tugas dari Anda ke luar kota?"...


..."Ke luar kota? Tidak ada. Aku sudah beberapa kali pergi ke luar kota, tapi tidak bersama dengannya. Ada apa?"...


..."Oh gitu ya. Ya sudah tidak apa-apa, maaf jika sudah menganggu waktu Anda. Terima kasih untuk semua jawabannya."...


..."Ya-ya, tidak apa-apa. Jika ada sesuatu yang terjadi, jangan sungkan-sungkan untuk bicara. Mungkin saja, Saya bisa menolong."...


..."Terima kasih."...


Klik!


Linda menutup panggilan teleponnya, setelah selesai mengucapkan terima kasih.


Dia tidak mau jika ada orang lain yang tahu, tentang kebenaran yang ada pada keluarganya.


Linda ingin menyelesaikannya sendiri. Tanpa harus meminta bantuan secara langsung pada orang lain. Dia ingin mengurus semuanya sendiri.


*****


Dari pembicaraan mereka berdua, akhirnya disepakati bahwa, mereka akan bertemu dalam waktu satu jam lagi. Setelah beberapa pekerjaan yang sedang mereka lakukan selesai.


Satu jam kemudian.


Kang Mus dan pemilik pengilingan padi bertemu juga di warung, yang ada di dekat pengilingan padi.


"Bagaimana Bos, apa yang ditanyakan Linda? Maksudku istrinya Ferry." Kang Mus memulai pembicaraan mereka, dengan bertanya pada pemilik pengilingan padi.


"Hanya bertanya tentang Ferry saja." Pemilik pengilingan padi, menjawab apa adanya. Sesuai dengan apa yang tadi ditanyakan oleh Linda juga.


"Maksudnya?" tanya kang Mus lagi, dengan cepat.


"Aku tidak tahu Mus. Dia tidak bilang apa-apa setelah menanyakan tentang suaminya."


Pemilik pengilingan padi, memberikan penjelasan kepada kang Mus. Tentang apa yang tadi ditanyakan Linda padanya.


"Apa ini tentang hubungan Ferry dengan salah satu pelanggan berasnya?"


Akhirnya, kang Mus bisa menyimpulkan sendiri, tentang permasalahan yang dihadapi oleh Linda saat ini.

__ADS_1


"Apa tadi ada Ferry di pengilingan padi?" tanya kang Mus lagi, sebelum pemilik pengilingan padi bicara. Menanggapi perkataannya tadi.


"Tidak ada Mus. Tempatnya biasa dia jualan kosong. Hanya ada beberapa tumpukan karung beras yang kemarin dia tinggal, bersama dengan karung bekatul pesanan peternak sapi."


"Biasanya, peternak sapi yang mengambilnya sendiri. Udah biasa, meskipun tidak ada Ferry ditempat jualannya."


Pemilik pengilingan padi, kembali memberikan penjelasan kepada kang Mus. Jika Ferry tidak ada di tempat kerjanya.


"Mungkin Linda sudah curiga. Atau ada seseorang yang memberitahu dirinya?" tanya kang Mus lirih. Seakan-akan bertanya untuk dirinya sendiri.


Tapi tentu saja, pemilik pengilingan padi mendengar pertanyaan tersebut.


"Aku tidak memberitahu padanya, atau pada siapa saja. Tapi di pengilingan padi ada banyak orang Mus. Mungkin saja, ada dari mereka yang kasih tau istrinya Ferry itu."


Sekarang, kang Mus mengangguk-anggukkan kepalanya. Mendengar jawaban yang diberikan oleh pemilik pengilingan padi.


'Aku Danang ya? Aku kan bicara dengan Danang kemarin, waktu ketemu di rumah sakit.'


Kang Mus tampak menepuk keningnya sendiri, saat teringat dengan Danang.


"Kenapa Kamu Mus?" tanya pemilik pengilingan padi, yang melihat tingkah temannya itu.


"Aku lupa."


"Lupa apa?" tanya pemilik pengilingan padi lagi, dengan cepat.


Dia merasa jika, temannya itu sedang bersikap aneh dan tidak biasanya. Dia mengenal kang Mus sebagai laki-laki matang, yang tidak pernah mencampuri urusan orang lain. Lebih banyak diam dan tidak neko-neko.


Waktunya hanya digunakan untuk bekerja dan bekerja. Sehingga tabungannya banyak, dan bisa menanamkan modalnya pada beberapa tempat. Termasuk pengilingan padi miliknya.


"Aku bicara tentang Ferry pada Danang. Apa mungkin Danang bicara dengan Linda ya setelah itu?"


"Danang siapa lagi? Terus Kamu ngapain juga bicara dengan orang lain? gak biasanya Kamu itu ember macam mulut emak-emak Mus."


Kang Mus tersenyum miris, mendengar semua pertanyaan dan sindiran dari pemilik pengilingan padi.


"Aku hanya kasihan dengan Linda. Dan Danang itu adiknya Linda."


Sekarang, pemilik pengilingan padi mengangguk-anggukkan kepalanya, mendengar penjelasan yang diberikan oleh kang Mus.


"Mus. Kamu kan saudaranya Linda. Kenapa dulu Kamu gak ambil saja itu istrinya Ferry sebagai istri Kamu? Dari pada sama Ferry, gak jelas gitu orangnya."


"Jadi polisi di pecat. Dagang beras, berulah juga. Hadeh..."


Kang Mus kembali tersenyum. Tapi kali ini senyuman itu tampak masam.


Dia juga mengeleng beberapa kali, saat mengingat semua kejadian waktu itu. Di mana dia mengajak Linda menikah, tapi dia sendiri yang tidak tahu waktu.

__ADS_1


Linda menolaknya. Karena pada saat itu, Linda memang baru saja lulus sekolah. Bekum bekerja dan punya pengalaman apa-apa.


Tapi kang Mus hanya diam saja, dan tidak menceritakan tentang masa lalunya ini pada pemilik pengilingan padi. Dia tidak mau, jika temannya itu justru mengejeknya nanti.


__ADS_2