
"Kuat?"
Linda bertanya kepada pak Rudi, dengan apa yang tadi dia ucapkan. Karena Linda tidak tahu, apa maksud dari perkataan kuat yang tadi diucapkan.
"Iya. Biar kuat. Sate kan identik dengan strong," ujar pak Rudi, memberikan jawaban atas pertanyaan yang diajukan oleh Linda padanya.
Meskipun masih ragu dan belum yakin, dengan apa yang saat ini terlintas di benak Linda. Tapi dia tidak lagi bertanya.
Setidaknya, sekarang Linda bisa juga mengetahui. Apa alasan pak Rudi mengajaknya untuk makan malam di luar. Dan bukannya ikut makan malam bersama dengan para peserta training yang lainnya.
Di antara para manager yang ikut dalam kegiatan ini, pak Rudi adalah manager yang paling penting. Dia memiliki pengaruh yang sangat besar, terhadap orderan di beberapa gedung sebelah.
Karena pada akhir-akhir ini, gedung yang dia pimpin mendapat orderan yang sangat banyak sekali jumlahnya.
Dan karena gedung tersebut tidak mungkin bisa memenuhi target produksi dan ekspor, akhirnya beberapa style produksi diberikan ke gedung yang lain. Yang tidak banyak mendapatkan orderan produksi.
Jadi, di perusahaan tempat Linda bekerja, orderan produksi tidak ditentukan oleh TKA atau pimpinan pusat. Tapi dari kepiawaian manager dalam mencari orderan produksi.
Apalagi, jika ada tamu atau visitor dari luar. Yang bisa jadi, di saat melakukan peninjauan di setiap tempat, memberikan penilaian yang berbeda-beda dari semua gedung.
Dari penilaian kinerja, tata letak dan kebersihan menentukan nilai tersebut. Dan yang dianggap paling memenuhi syarat, akan mendapat nilai tinggi. Dan dari penilaian itu juga, jumlah orderan yang akan diterima ditentukan.
Itulah sebabnya, banyak manager-manager yang bersaing. Meskipun tidak tampak dari luar.
Persaingan ini tentu bukan hal yang biasa. Kadang, ada hal-hal yang tidak masuk akal ikut terlibat dalam segala aspek yang dibutuhkan dalam persaingan tersebut.
Tapi jika untuk masalah wanita, para manager tersebut banyak yang tahu sama tahu.
Tidak ada yang saling melempar bola, untuk menjatuhkan salah satunya di depan orang lain. Ataupun di mata atasan di perusahaan.
Karena sebenarnya, mereka semua sama saja seperti itu.
*****
Linda dan pak Rudi, tiba di penginapan pada pukul sepuluh malam. Makan malam dan kegiatan mereka untuk pertama kalinya baru saja selesai.
"Pak, kita ketinggalan."
__ADS_1
Linda merasa tidak enak hati. Karena dia tidak bisa mengikuti makan malam dan juga kegiatan yang tadi diadakan.
"Tak apa Linda. Kamu tetap aman. Aku sudah meminta seseorang untuk mengisi absensi Kamu di kegiatan malam ini," kata pak Rudi, yang meminta pada Linda supaya tidak lagi merasa tidak nyaman.
"Tapi Pak..."
"Jangan khawatir. Yang pergi ke luar bukan hanya kita kok. Kamu pasti akan tahu nanti."
Pak Rudi memotong kalimat Linda, yang belum selesai.
Meskipun Linda masih bingung dengan perkataan pak Rudi, tapi dia sedikit merasa lebih tenang. Ada kelegaan yang dia rasakan. Karena pak Rudi bisa mengatur segala sesuatu, yang berurusan dengan kegiatan ini.
"Ayok!"
Pak Rudi mengajak Linda untuk naik ke lantai tiga, di mana kamar-kamar penginapan berada.
Mereka naik melalui tangga dan tidak menggunakan lift.
Begitu tiba di lantai tiga, tentu saja keduanya juga tidak merasa capek. Karena sepanjang perjalanan naik tangga, mereka berdua saling bercanda dan bercerita tentang banyak hal.
Linda tentu saja merasa kaget, saat mendengar perkataan pak Rudi yang bisa menebak kepribadian dirinya.
"Hahaha... tidak usah dipikirkan Lin. Aku tentu bisa tahu, dari ciri-ciri fisik wanita. Apa Kamu juga tidak yakin, jika Aku bisa lebih dari pak Komarudin itu?"
Mendapatkan pertanyaan seperti itu, tentu Linda tidak bisa menjawabnya. Dia pasti bingung juga, harus mengatakan apa.
"Jika Kamu tidak percaya, bagaimana jika kita buktikan sekarang? malam ini."
Pak Rudi menyakinkan pada Linda, dengan kemampuan yang dia miliki. Sepertinya dia dengan sengaja memprovokasi Linda, supaya merasa penasaran dan tertantang juga untuk bisa membuktikannya.
Karena menurut pak Rudi, wanita seperti Linda ini, adalah tipe orang-orang yang tidak pernah merasa puas.
Selalu merasa penasaran, dan ingin mencoba sesuatu yang baru.
Tapi Linda ingat jika, dia ada di sini untuk tujuan tugas kerja. Bukan untuk sekedar mencari pengalaman baru dalam petualangan yang belum pernah dia lakukan.
"Kamu tenang saja Lin. Jika Kamu tidak percaya, Kamu bisa lihat sendiri di dalam kamar Kamu. Masih utuh tidak itu teman-teman Kamu di kamar?" Pak Rudi, memberikan Linda tantangan dengan sebuah teka-teki.
__ADS_1
Dan tentu saja, Linda merasa sangat tidak yakin. Dengan apa yang dikatakan oleh pak Rudi barusan.
Tidak mungkin teman-teman yang ada di kamar, juga sedang tidak berada di dalam kamar. Ini pasti hanya akal-akalan pak Rudi saja, agar dia patuh dan menerima tawarannya yang tadi.
Dengan keyakinan yang kuat, Linda menganggukkan kepalanya, untuk memeriksa keadaan yang ada di dalam kamarnya.
Apalagi, lorong kamar juga sudah sepi. Dari dalam kamar-kamar, juga tidak ada suara-suara yang terdengar aneh. Sepertinya tidak ada aktivitas apapun di dalam kamar-kamar yang berserat dan berhadap-hadapan ini.
Linda tidak pernah tahu jika, di kamar-kamar tersebut dilengkapi dengan peredam suara.
Jadi, apapun aktivitas di dalam kamar, tentu saja tidak akan terdengar oleh orang lain dari luar kamar.
Itulah sebabnya, Linda berpikir jika teman-teman yang lain, dan semua peserta training ini sudah berada di alam mimpi.
Clek!
Meskipun dengan sangat hati-hati, pintu kamar yang dibuka Linda tetap saja menimbulkan suara.
Dan itu membuat Linda terkejut sendiri. Karena dia takut jika, suara pintu yang terbuka, membuat orang-orang yang tidur di dalam kamar terbangun.
Tapi ternyata, semua perkiraan Linda salah besar. Ketiga temannya yang ada di kamar ini, hanya tinggal satu orang saja. Dan itupun orangnya belum tidur. Dua orang lagi, entah ke mana mereka.
"Mbak Linda? Aku pikir gak balik Mbak. Dan Aku akan tidur sendirian. Hehehe..."
Mbak Mila terkekeh sendiri, melihat kedatangan Linda yang mengendap-endap masuk.
Linda tersenyum canggung. Dia ingin bertanya kepada Mbak Mila, ke mana kedua temannya yang lain. Tapi, dengan segera Linda teringat dengan pesan pak Rudi. Jika dia tidak perlu bertanya apa-apa, apapun yang terjadi di dalam kamarnya nanti.
"Gak kok Mbak. Linda cuma mau naruh ini," sahut Linda, dengan menunjukkan tas selempang yang dia bawa.
"Oh..."
Mulut Mbak Mila hanya membola, saat mendengar jawaban yang diberikan oleh Linda.
Tok tok tok!
Pintu kamar diketuk dari luar. Linda dan Mbak Mila saling pandang. Mereka berdua tidak tahu, siapa yang datang ke kamarnya malam-malam begini.
__ADS_1