
Ternyata, sakit kepala yang dialami oleh Linda berlanjut sampai di rumah. Dia juga merasakan tubuhnya terasa lemas, sehingga membuat Ferry merasa khawatir.
"Kita periksa ke dokter ya Sayang! ini takutnya keterusan sampai besok. Apakah Kamu hanya merasakan pusing, atau bagaimana?"
Ferry yang merasa khawatir, bertanya pada istrinya. Untuk diajak ke dokter. Tapi Linda justru menolaknya m
"Tidak apa-apa Mas. Linda hanya butuh tidur. Jadi biarkan Aku tidur ya! tolong jaga Erli, karena dia belum mau tidur."
Ferry hanya mengangguk mendengar permintaan istrinya. Jadi dia membiarkan Linda masuk ke dalam kamar, untuk beristirahat. Sedangkan dia menemui Erli, yang masih ada di depan bersama dengan kedua simbahnya.
Danang baru saja pulang dari mengembalikan mobil, yang tadi di pinjam untuk acara lamarannya.
"Bagaimana keadaan mbak Linda Mas?" tanya Danang, yang melihat Ferry keluar.
"Ada di dalam kamar, baru saja istirahat. Aku ajak periksa ke dokter tidak mau. Katanya dia ingin beristirahat saja," jelas Ferry memberikan keterangan.
"Hanya pusing atau bagaimana?" tanya ibunya, yang ikut mendengar pembicaraan mereka berdua.
"Katanya cuma pusing Bu. Cuma di ajak periksa gak mau," jawab Ferry menjelaskan kembali pada ibu mertuanya itu.
"Ya sudah. Ibu buatkan teh hangat dulu untuk Linda. Siapa tahu dia nanti kebangun, dia bisa minum teh nya, biar lebih enakan."
Akhirnya ibunya Linda pamit ke dalam, membuatkan teh sangat untuk anaknya.
"Mama kenapa Mbah Kung?" tanya Erli bingung, karena semua pada membicarakan tentang mamanya.
"Erli mau tidur sama Mbah Kung, dan Mbah Putri gak?" tanya simbah kakungnya, yang membuat Erli semakin bingung.
"Kenapa Mbah Kung?" tanya Erli yang masih tidak tahu keadaan mamanya saat ini.
"Tidak apa-apa, tapi Erli mau gak tidur sama simbah?" tanya Mbah Kung nya lagi.
"Mau-mau! Erli mau tidur sama Mbah Kung."
"Mama sedang sakit, jadi Erli tidak boleh menganggu mama. Itulah sebabnya, Erli lebih baik tidur sama Simbah saja ya!"
Erli mengangguk paham, sehingga membuat simbahnya tersenyum. Karena cucunya itu bisa mengerti.
Ini dilakukan oleh bapaknya Linda, agar Erli tidak mengganggu Linda yang sedang beristirahat. Sehingga bisa tidur dengan nyaman tanpa di ganggu anaknya.
__ADS_1
Ferry juga mengangguk, dan tersenyum. Mengisyaratkan bahwa, dia berterima kasih kepada bapak mertuanya, yang tahu keadaan dan kondisi istrinya.
Ibunya Linda datang dengan membawa segelas teh hangat, kemudian diberikan kepada Ferry.
"Ini nak Ferry. Buat Linda."
"Iya Bu, terima kasih."
Akhirnya Ferry masuk ke dalam kamar, dengan membawa gelas berisi teh hangat pemberian ibu mertuanya. Dia juga ingin beristirahat karena lelah, sebab beberapa hari ini sibuk dengan pekerjaan.
Danang juga pamit untuk masuk ke dalam kamar, karena ingin beristirahat.
*****
Di dalam kamar, di saat Ferry masih berada di luar bersama dengan yang lainnya, ternyata Linda tidak bisa memejamkan matanya dengan cepat.
"Aku tidak salah dengar kan tadi, itu benar-benar suara yang orang yang dulu."
"Aku tidak pernah menyangka, jika laki-laki itu adalah pamannya kak Romi."
"Tapi... apa benar?"
"Jika iya, berarti Aku akan berlebih sering bertemu dengannya kedepannya nanti. Lalu harus bagaimana Aku menghindarinya? itu tidak sopan. Tapi jika tidak menghindar, Aku yang akan terus merasa pusing."
Mungkin karena merasa pusing, dengan apa yang dipikirkan, Linda justru merasakan kepalanya seperti berputar-putar. Sehingga dia mengambil obat yang tadi sempat dibelikan oleh suaminya di apotik, untuk dia minum. Supaya bisa cepat tidur.
Tak lama kemudian, Linda akhirnya terlelap juga. Tepat di saat pintu terbuka, kemudian Ferry masuk, Linda sudah tidak menyadarinya lagi. Karena memang sudah terlelap.
Ferry menyentuh kening istrinya, untuk merasakan suhu tubuh Linda.
"Tidak terlalu panas. Semoga dia bisa segera sembuh. Kasian Aku melihatnya kesakitan seperti tadi." gumam Ferry sambil menyelimuti tubuh istrinya. Kemudian dia ikut berbaring di samping istrinya itu.
*****
Jam empat pagi, Linda terbangun dengan kepala yang sudah tidak pusing. Meskipun dia masih memikirkan segala hal tentang pamannya Romi.
Tapi dia tidak menceritakan kepada siapapun dan hanya menyimpannya dalam hati. Sama seperti yang biasanya dia lakukan. Termasuk kepada suaminya.
"Mas, Erli di mana?" tanya Linda, yang tidak menemukan Erli di sampingnya.
__ADS_1
"Emhhh... eh, itu Dek. Erli tidur sama simbah."
Linda yang berusaha untuk bangun, dicegah oleh Ferry.
"Tidak usah turun Dek, tidurlah. Aku akan memanggil Erli, jika kamu ingin dia ke sini."
"Gak apa-apa Mas. Aku hanya ingin pergi ke kamar mandi. Aku juga sudah tidak terlalu pusing seperti tadi malam." Linda menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya.
Akhirnya Ferry membiarkan istrinya itu untuk turun dari tempat tidur, dan pergi ke kamar mandi. Tapi dia mengikutinya dari belakang, karena takut jika terjadi sesuatu pada istrinya.
Dia bahkan menunggu Linda di depan pintu kamar mandi. Karena dia tidak mau jika Linda pingsan atau merasa sakit kepala lagi, tanpa diketahui olehnya.
"Lho nak Ferry, Linda sudah bangun?" tanya ibunya Linda, yang baru keluar dari kamar.
"Iya Bu. Ini dia di dalam kamar mandi. Aku hanya menunggunya, takut terjadinya suatu," terang Ferry memberikan penjelasan.
"Nanti periksa ke dokter. Ehhh... tapi ini hari minggu ya? biasanya dokter libur. Coba ke bidan yang ada di ujung jalan sana, minta obat, cek tekanan darah. Mungkin darahnya turun atau naik. Itu gejalanya sama, pusing juga kan?"
"Iya Bu. Nanti Aku coba bujuk Linda biar dia mau periksa." Ferry mengiyakan perkataan ibu mertuanya.
"Atau jangan-jangan dia..."
Ibu mertuanya itu tidak meneruskan kalimatnya, karena Linda sudah keburu membuka pintu kamar mandi.
"Bagaimana Linda, apa masih terasa sakit kepalanya?" tanya ibunya, pada Linda sendiri.
"Gak Bu. Sudah gak begitu sakit kok. Ini sudah mendingan," jawab Linda dengan wajah tersenyum. Meskipun tetap saja tidak bisa menyembunyikan wajahnya yang pucat.
"Ibu buatkan teh lagi ya, yang semalam gak Kamu minum kan?"
Linda hanya mengangguk saja, kemudian berjalan kembali kedalam kamar. Dengan diikuti oleh Ferry di belakang.
Tak lama kemudian ibunya mengetuk pintu kamar, dengan membawa segelas teh hangat untuk Linda.
Ferry membuka pintu untuk ibu mertuanya, kemudian mempersilahkan ibunya itu untuk masuk, dan melihat keadaan Linda yang sudah kembali berbaring ke tempat tidur.
"Ibu letakkan di meja ya Lin. Cepatlah minum, sebelum dingin."
"Iya Bu, terima kasih."
__ADS_1
Ibunya hanya mengangguk, kemudian kembali keluar dari dalam kamar.
"Dek, jika masih sakit, nanti periksa ke bidan ya! Soalnya ini hari minggu, dokter kebanyakan pada libur."