Tante Melinda

Tante Melinda
Terlambat


__ADS_3

Rencana lamaran yang diajukan oleh Romi untuk Linda, akan dilaksanakan dua hari lagi.


Tapi untuk pernikahannya, Linda meminta pada Romi untuk sabar. Menunggu hingga genap satu tahun meninggalnya Ferry.


Linda juga tidak mau, jika menikah dalam keadaan sakit. Sehingga tidak bisa melakukan apa-apa. Karena pernikahan mereka berdua ini, bukan hanya sekedar pernikahan antara anak muda atau remaja. Tapi sudah sama-sama dewasa, dengan tanggung jawab yang besar.


Linda juga ada Erli, yang harus dijaga mentalnya. Supaya terbiasa terlebih dahulu bersama Romi, sehingga membuat anaknya itu merasa nyaman. Dengan kehadiran laki-laki dewasa yang lain, setelah kepergian papanya beberapa bulan yang lalu.


Dia tidak mau asal senang saja. Tanpa memperhatikan bagaimana perasaan Erli, masih terlalu kecil untuk tahu dan paham. Bagaimana keadaan orang-orang dewasa di sekitarnya.


Romi juga tidak protes dengan keputusan yang diambil oleh Linda.


Tapi, dia juga mengingatkan kepada linda untuk berhati-hati dan waspada, terhadap pamannya. Yang bisa saja nekat, untuk bisa mendapatkan perhatian khusus darinya.


"Kakak gak masalah Dek. Mau nikah kapan juga. Yang penting, Dek Linda itu nyaman, dan Erli juga sudah bisa menerima Aku sebagai ayahnya."


Begitulah kira-kira pemikiran yang ada pada Romi, sehingga dia tidak memaksakan kehendaknya terhadap Linda.


Tapi dia harus kembali ke kota besar terlebih dahulu setelah acara lamaran mereka berdua.


"Setelah acara lamaran, Kakak harus kembali ke kota terlebih dahulu. Soalnya, ada beberapa pekerjaan yang harus Kakak selesaikan."


Linda hanya mengangguk saja, karena dia juga tahu, bagaimana keadaan Romi. Yang pastinya juga banyak pekerjaan di kota sana.


"Jadi, lamaran kita ini beneran dua hari lagi?" tanya Linda memastikan keputusan yang dibuat oleh Romi barusan.


Dia tidak mau jika, Romi merasa terpaksa. Sehingga terburu-buru untuk melamarnya. Karena Romi tidak mau jika, Pamannya itu terus mengganggu Linda. Dengan niatan pamannya, yang ingin menjadikan Linda sebagai istri ketiganya.


"Iya Dek. Kakak mau, sebelum kakak kembali ke kota besar, kita sudah melakukan acara lamaran tersebut."


Akhirnya, Linda merasa lega. Dengan keputusan yang diambil oleh calon suaminya itu. Yang selalu memikirkan perasaan dirinya.


"Terima kasih ya Kak. Kakak, masih peduli dengan Linda, dan di tambah juga dengan Erli."


Di atas kursi rodanya, Linda tersenyum bahagia setelah mengucapkan terima kasih, atas semua perhatian dan tindakan yang dilakukan oleh Romi untuknya.


Karena Romi sudah menggagalkan rencana pamannya, dengan melamar dirinya.


Linda tidak tahu, apa yang akan dia lakukan. Seandainya Pamannya Romi itu, sempat menyatakan keinginannya, pada bapaknya Linda. Untuk menjadikan Linda sebagai istri ketiganya.


Hal yang tidak mungkin pernah diinginkan oleh wanita manapun. Yaitu di madu.

__ADS_1


Sekarang, Romi pamit untuk pulang terlebih dahulu. Karena dia harus mempersiapkan setelah sesuatunya, yang akan dibawa untuk acara lamarannya besok.


Dia tidak mau asal, meskipun hal ini bukanlah yang pertama tadi mereka berdua.


Tapi romi ingin membuat acara yang sederhana namun tetap berkesan bagi siapapun. Khususnya untuk mereka berdua yang menjalaninya.


Meskipun sebenarnya tanpa acara apa-apa, mereka berdua juga tetap merasa bahagia. Tapi Romi tetap menginginkan sebuah acara khusus, untuk memulai hubungan mereka lagi. Yang sempat terpisah selama bertahun-tahun. Dengan memiliki pasangan masing-masing.


Dan ternyata, pada akhirnya kini mereka berdua sama-sama sendiri. Sehingga tidak ada salahnya, seandainya memulai dengan sebuah hubungan yang lebih serius.


Bukan hanya sekedar pacar atau kekasih, sama seperti waktu muda dulu.


"Kakak pulang dulu ya Dek," pamit Romi. Sambil menepuk-nepuk punggung tangannya Linda.


"Iya Kak. Hati-hati!"


Linda menjawab, dengan memberikan pesan. Supaya Romi berhati-hati di jalan pulangnya.


Tak lama kemudian, setelah Romi pergi dari rumah Linda. Datang kang Mus.


"Assalamualaikum..."


"Waallaikumsalam..."


"Duduk Kang," ajak Linda, pada tamunya itu.


Linda sendiri masih duduk di atas kursi rodanya. Sebab, dia memang masih menggunakan kursi roda, untuk berpindah tempat atau jalan-jalan disekitar rumah.


"Terima kasih Lin."


Kang Mus akhirnya duduk di kursi tamu. Tapi dia segera melihat keberadaan secangkir teh. Yang sudah mau habis di atas meja.


Dia langsung berpikir bahwa, tak lama tadi, pasti ada tamu yang datang menemui Linda.


"Ada tamu ya Lin? Bapak sama Ibu Kamu ke mana?" tanya kang Mus basa-basi. Padahal sebenarnya, dia ingin bertanya tentang siapa tamu yang baru saja pulang dari rumah ini.


"Iya Kang. Barusan pulang tamunya."


"Bapak sama ibu, sedang ada urusan di luar Kang. Apa ada yang diperlukan kang Mus sama ibu atau bapak?"


Mendengar jawaban yang diberikan oleh Linda, membuat kang Mus melihat ke arah Linda lebih intens lagi.

__ADS_1


Sebab, jawaban tersebut juga menghitung sebuah pertanyaan. Karena Linda juga katanya kepadanya.


"Kira-kira, seandainya Aku... Aku mengajakmu menikah, Kamu mau gak Lin?"


Linda membulatkan matanya, mendengar pertanyaan yang diajukan oleh kang Mus.


Pertanyaan yang diajukan oleh kang Mus ini, sebenarnya sudah pernah Linda dengar, bertahun-tahun yang lalu. Sewaktu dia baru saja lulus sekolah.


"Maaf Kang. Linda... Linda sebenarnya..."


"Tidak perlu menjawabnya sekarang Lin. Aku masih bisa kok menunggunya."


Linda langsung menggelengkan kepalanya beberapa kali. Mendengar perkataan yang diucapkan oleh Kang Mus.


"Bukan. Bukan begitu masuk Linda. Sebenarnya, Linda sudah... Linda sudah punya calon suami Kang," terang Linda, supaya kang Mus tidak salah paham, atas jawabannya yang tadi.


Padahal Linda, ingin menjelaskannya di awal. Tapi tadi, kang Mus sendiri, yang memotong kalimatnya Linda. Sehingga kang Mus justru salah paham, karena tidak membiarkan linda menyelesaikan kalimatnya.


Mendengar penjelasan yang diberikan oleh Linda, membuat kang Mus tampak sangat kecewa. Karena usahanya kini gagal lagi.


*****


Di pabrik.


Aria dan Febriyanto, mendengar desas desus jika, leader Linda akan segera dikeluarkan oleh perusahaan. Karena sudah terlalu lama tidak masuk kerja.


"Masa sih Ar?" tanya febriyanto, yang mendengar berita ini dari Aria.


Aria tidak langsung menjawab. Dia justru mengangkat kedua tangannya, menandakan bahwa dia juga tidak tahu.


"Ah Kamu! Bawa berita tapi gak tahu asalnya dari mana asalnya. Ngaco Kamu Ar!"


Febriyanto justru merasa kesal, karena mendapatkan informasi dari Aria hanya setengah-setengah saja


Itu membuatnya semakin penasaran, sebab, dia juga sebenernya sudah mendengar berita tersebut dari sebulan yang lalu.


Tapi Febriyanto hanya diam saja. Tidak mau mencari tahu, tentang kebenaran dari berita tersebut.


Febriyanto justru berpikir bahwa, berita-berita itu hanya dibuat, supaya membuat linda panik. Sehingga Linda akan segera memutuskan, untuk segera masuk kerja atau keluar dari pekerjaannya saja.


"Sebaiknya, kapan-kapan kita main yuk, ke rumah Mbak Linda."

__ADS_1


Usulan yang diajukan oleh Febriyanto, justru membuat aria mengganggukan kepalanya. Setuju untuk menyambangi rumah Linda, jika mereka pulang lebih awal, atau sedang libur.


__ADS_2