Tante Melinda

Tante Melinda
Harus Bayar


__ADS_3

Hari ini, Linda dijadwalkan pulang ke rumah. Karena perawatan di rumah sakit di rasa sudah cukup. Dan untuk perawatan selanjutnya, bisa dilakukan di rumah dengan kontrol ke rumah sakit beberapa hari kemudian.


Semua sudah disiapkan Romi, dengan membereskan barang-barang bawaan mereka ke dalam satu tas besar dan kecil.


"Semua sudah Aku masukkan ke dalam tas Dek. Kita tinggal menunggu taksi yang sudah Aku pesan juga, sekalian minggu jadwal control pertama nanti."


"Terima kasih ya Mas. Linda malah merepotkan Mas Romi ini," ucap Linda, karena merasa sudah merepotkan suaminya untuk beberapa hari belakangan ini.


"Apa sih Dek, kok ngomongnya merepotkan. Memangnya Aku ini siapa?"


"Hehehe... tapi Linda ketapang ucapkan terima kasih ya Mas."


"Iya, tapi ada balasannya juga lho. Gak gratis ini," terang Romi, yang membuat linda mengerutkan keningnya bingung.


"Maksudnya, Linda harus bayar?" tanya Linda, yang semakin bingung atas keterangan yang diberikan oleh suaminya barusan. Terkait dengan bayaran, yang harus diberikan pada suaminya itu.


Romi mengangguk pasti, dengan apa yang tadi dia katakan.


"Berapa?" tanya Linda yang semakin bingung.


"Nantilah di total. Kalau di sini, Mas gak bisa totalan, gak bisa tahu juga berapa jumlahnya, berapa besarnya."


Linda hanya menanggapi dengan mulut terbuka, karena dia tidak bisa berkomentar apa-apa. Dengan apa yang diinginkan oleh suaminya itu. Apalagi, dia tidak tahu. Kenapa suaminya itu minta bayaran.


Tapi wajah Romi tampak datar, dan tidak menunjukkan rasa bersalah. Di saat meminta bayaran pada istrinya sendiri.


Setelah mengambil jadwal kontrol untuk Linda, Romi mengajak istrinya itu untuk keluar dari rumah sakit. Karena taksi sudah sampai, dan menunggu di luar.


"Ayo Dek kita pulang, taksinya sudah menunggu kita di luar."


"Oh ya, Mas panggil perawat dulu ya! Biar bantu kita," ujar Romi, meninggalkan linda terlebih dahulu di dalam kamar kota dia memanggil perawat jaga.


Linda hanya menurut dan duduk di kursi roda. Menunggu kedatangan suaminya.


Tak lama kemudian, Romi sudah kembali bersama dengan seorang perawat . Dia sudah memberitahu jika mereka akan pulang, sehingga perawat langsung bersiap mendorong kursi roda Linda. Sedangkan Romi sendiri membawa dua tas bawaan mereka.


Perawat akan membantu mereka, sampai di depan rumah sakit dan naik taksi.


"Jaga kesehatan dan kata berhati-hati yang Bu," pesan perawat di saat mendorong kursi roda Linda.


"Iya Sus. Terima kasih."


Akhirnya, mereka sudah sampai di depan, dan mendapati taksi yang siap mengantarkan mereka pulang.


Setelah selesai, taksi segera meluncur ke alamat rumah yang diberitahukan oleh Romi.


Di rumah, Erli dan kedua simbahnya, sudah menunggu kedatangan mereka. Karena ini sudah siang, sehingga Erli sudah pulang dari sekolah.


"Horeee... mama pulang!"


"Tante, Tante Melinda! Dinda kangen Tante!"


Tapi yang tidak pernah diduga oleh Romi maupun Linda sendiri adalah, ada temannya Erli yang datang bersama dengan papanya. Duda tampan, yang dulu pernah menunggui Erli, di saat linda dan Romi terlambat menjemput Erli.

__ADS_1


Papa dari temannya Erli itu, bernama Hendra, atau Hendrawan Dia seorang pengacara, dan istrinya sudah meninggal sejak 3 tahun yang lalu. Dan anaknya itu bernama Dinda Hendrawan, yang biasa dipanggil Dinda.


Hal ini tentu saja membuat Romi tidak suka, kaena tamu anaknya itu, sengaja menunggu istrinya pulang dari rumah sakit.


"Maaf mas Romi, Dinda katanya pengen bertemu dengan mbak Melinda. Katanya Dia kangen, karena sudah lama tidak bertemu dengan mamanya Erli."


Hendra mengemukakan alasannya, kenapa dia ada di rumah Romi.


Romi hanya menanggapi dengan datar, mendengar alasan yang dikemukakan oleh pengacara tampan itu.


Dia tidak bisa menyalahkan tamunya itu, karena mengingat bahwa, Erli juga nampak senang. Dengan adanya Dinda yang ikut menyambut mamanya.


Linda sibuk menanggapi kedua anak-anak itu, dan tidak menghiraukan Hendrawan. Sehingga Romi sedikit lega. Karena pada kenyataannya, istrinya itu tidak terlalu menanggapi tamu tampan tersebut. Yang ikut menyambut istrinya pulang dari rumah sakit.


Setelah berbasa-basi sebentar, akhirnya Hendrawan mengajak anaknya, Dinda, untuk pulang ke rumah. Karena hari sudah sore.


"Sayang, kita pulang yuk! Sudah sore ini," ajak Hendrawan, yang merasa tidak enak hati. Karena tuan rumah juga baru saja pulang dari rumah sakit, jadi pastinya juga membutuhkan istirahat yang cukup.


"Nanti Yah. Dinda sama tante Melinda dulu."


Tapi Dinda masih marah dan tidak mau diajak pulang, sehingga Linda harus ikut membujuk Dinda juga.


"Dinda pulang dulu ya Sayang. Hari sudah sore, dan Dinda juga harus beristirahat ya! besok masih harus sekolah lagi kan?" bujuk Linda yang akhirnya diterima oleh Dinda.


"Iya Tante Melinda. Tapi... besok-besok Dinda datang ke sini lagi ya! main sama Tante dan Erli," punya Dinda, memberikan persyaratan.


Linda hanya tersenyum tanpa menganggukkan kepalanya. Karena dia juga tidak tahu, apakah suaminya akan mengijinkan ayah dan anak itu untuk datang ke rumah ini lagi. Sebab dia melihat jika, suaminya itu kurang nyaman dengan adanya tamunya ini.


Hendrawan yang sedikit peka, mengangguk dan tersenyum canggung, pada Romi maupun Linda. Sebagai tuan rumah yang tentunya sangat capek, karena baru pulang dari rumah sakit. Dan kondisi Linda juga masih perlu diperhatikan.


Akhirnya, setelah drama yang diciptakan oleh dinda selesai, mereka berdua pulang juga.


"Ayo istirahat Dek!" ajak Romi, dengan menuntun Linda untuk pergi ke kamar.


"Erli sama simbah ya! nanti sekalian mandi juga," pinta Linda, memberi tahu anaknya.


"Iya Ma," jawab Erli singkat.


Sekarang Linda sudah berada di dalam kamar, bersama dengan Romi. Yang sedang mengeluarkan barang-barang dari dalam tas.


"Mas," panggil Linda pada suaminya.


Tapi Romi justru mengabaikannya, karena masih merasa kesal. Dengan adanya pengacara Hendrawan, bersama dengan anaknya di rumah ini.


"Mas Romi," panggil Linda lagi.


"Hhh... ada apa?"


Akhirnya Romi menghentikan aktivitasnya, kemudian menoleh ke arah Linda. Yang duduk di tepi tempat tidur.


"Mas Romi marah sama Linda? mau menagih totalan yang harus Linda bayar?" tanya Linda, yang justru salah paham, dengan diamnya Romi sedari tadi.


"Hah, gak!"

__ADS_1


Jawaban suaminya yang singkat, membuat Linda mengerutkan keningnya. Dia mulai berpikir lagi, kira-kira apa yang menyebabkan suaminya itu menjadi marah.


"Mas. Mas Romi marah kenapa?" tanya Linda yang ingin kejelasan, atas sikap suaminya.


"Aku tidak suka ada si pengacara tadi."


Akhirnya Romi mengatakan isi hatinya, yang memang tidak menyukai ada laki-laki lain, yang berusaha mendekati istrinya ini.


Linda tersenyum simpul, mendengar penjelasan yang diberikan oleh suaminya barusan. Sekarang dia sudah tahu, kalau suaminya dalam keadaan mode cemburu.


"Mas, tuan Hendrawan itu sedang momong anak kecil. Dia juga tidak mungkin memarahi anaknya yang ingin datang ke sini. Lagipula, Dinda itu sudah tidak punya mama. Mungkin dia ingin seperti Erli, yang punya mama dan papa lengkap. Karena mereka juga tidak tahu, jika mas Romi adalah..."


Cup!


Romi mengecup bibir Linda, sehingga tidak bisa menyelesaikan kalimatnya.


"Maaf Dek. Mas gak suka saja, ada laki-laki lain yang berusaha mendekatimu." terang Romi memberikan alasannya.


"Sekarang, Aku mau menagih semua totalan, yang harus Kamu bayar untuk semua biaya rumah sakit ya!"


Sekarang Linda kembali bingung, dengan apa yang dikatakan oleh suaminya ini.


"Berapa Mas?" tanya Linda was-was.


Dia memang tidak tahu, berapa jumlah uang yang sudah dikeluarkan oleh suaminya itu untuk biaya pengobatan, perawatan dan operasinya kemarin.


"Banyak sekali Dek!"


Linda menyipitkan matanya, bersiap-siap untuk mendengarkan jumlah yang mungkin saja cukup besar. Atas semua biaya yang akan dia siapkan untuk menggantinya.


Cup cup cup!


"Kamu harus menggantinya seumur hidup. Dengan cintamu. Hahaha..."


Romi tertawa-tawa senang, karena berhasil mengerjai istrinya. Dia tahu jika sedari tadi Linda dalam keadaan tegang.


"Mas, Linda serius!"


Linda justru memberengut kesal, karena merasa jika suaminya itu sudah keterlaluan.


"Hahaha... Kamu tidak mau membayarnya dengan cinta? atau Kamu mau memberikan apa untuk membayarnya? Tapi Aku tidak mau semua itu Dek. Aku cuma butuh cintamu!"


Cup!


Kini Linda sudah bisa tersenyum, karena suaminya itu seperti sudah melupakan tentang pengacara tadi.


Dan kini, keduanya sudah berciuman dengan tenang. Tanpa merasa takut jika akan ada yang mengganggu.


Untuk kegiatan mereka yang lain, tidak perlu diceritakan secara detail juga. Kalian pasti sudah bisa menebaknya sendiri.


*****


Ok gaesss, ini ada novel yang menarik untuk kalian baca juga. Jadi, ayok mampir ke novel othor AdindaRa πŸƒπŸƒπŸ‘

__ADS_1



__ADS_2