Tante Melinda

Tante Melinda
Tempat Baru


__ADS_3

Bus yang membawa Linda dan Romi, serta Erli, tiba di terminal sebelum Subuh.


Romi mengajak Linda dan juga Erli, untuk naik ke taksi yang banyak berjajar di sekitar terminal. "Ayok, kita naik taksi saja. Gak lama lagi kita sudah sampai di rumah kok."


Dan memang benar karena sekitar lima belas menit dengan naik taksi dari terminal, mereka sudah sampai di depan rumah.


Mungkin karena jalanan di pagi hari yang belum padat, sehingga jalanan tidak macet.


"Selamat datang di rumah Ayah Sayang..."


Romi mengucapkan selamat datang untuk Erli, yang sudah terbangun sejak turun dari bus, sewaktu tiba di terminal.


"Selamat datang juga Dek. Oh ya, maaf ya Dek. Rumahnya kecil dan berantakan." Romi juga mengucapkan selamat datang pada Linda, sekaligus meminta maaf. Karena rumahnya ini termasuk kecil, untuk ukuran orang-orang kampung. Dan juga berantakan, terlihat kotor. Karena sudah dua bulanan tidak di tempati olehnya.


Linda hanya tersenyum dan mengelengkan kepalanya, pernah meskipun kecil tapi rumah ini terlihat nyaman.


Sekarang, Erli di ajak untuk duduk terlebih dahulu di ruang tamu, sedangkan Romi masuk ke dalam kamar yang biasanya kosong. Untuk dia bersihkan, supaya Erli bisa beristirahat dan tidur dengan nyaman.


"Duduk dulu Dek, Erli. Ayah mau bersihkan kamar dulu ya!"


Romi bergegas masuk ke dalam kamar, dan membiarkan Erli bersama dengan Linda duduk di kursi tamu.


Tapi tak lama kemudian, "Dek, ambil minum sendiri di dapur ya! Anggap saja rumah sendiri. Jadi, apa-apa bisa sendiri juga, tidak perlu menunggu Mas ya!"


Linda menganggukan kepalanya, mendengar perkataan suaminya itu.


Setelah Romi kembali ke dalam kamar lagi, Linda berkata kepada Erli, "Sayang, Mama buatkan minum dulu ya! Setelah ayah selesai membersihkan kamar, Kamu bisa tidur. Mama juga mau bantu Ayah bersih-bersih rumah, supaya lebih cepat selesai."


"Ma. Mau pipis," kata Erli, yang meminta untuk diajak ke kamar mandi.


Akhirnya, Linda mengajak Erli untuk pergi ke dapur, sebab berpikir bahwa, pastinya kamar mandi juga ada di dapur.


Tak lama kemudian, karena Erli yang masih merasa lelah dan letih, juga rasa kantuk yang belum hilang, hanya bisa mengangguk saja. Sebab, dia memang belum pernah pergi jauh-jauh, dengan perjalanan yang mengunakan bus antar kota, sampai semalaman perjalannya.


Tak lama kemudian, Linda membawa Erli kembali ke ruang tamu, dan meminta pada anaknya itu untuk duduk di sana lagi. Sedangkan dia kembali ke dapur untuk membuat minuman terlebih dahulu.


Romi sudah selesai membersihkan kamar untuk Erli, kemudian keluar, bersamaan dengan Linda yang baru keluar dari dapur, dengan membawa nampan berisi tiga gelas teh hangat untuk mereka bertiga.


"Waahhh... makasih Dek!"


Romi mengucapkan terima kasih, karena sudah disediakan teh hangat. Untuk menghangatkan perutnya, yang semalaman terkena udara dingin AC bus.


Linda hanya menanggapi dengan tersenyum-senyum senang, mendengar ucapan terima kasih dari suaminya itu.

__ADS_1


"Cuci tangan dulu Mas! tadi, Mas Romi juga belum ke kamar mandi," pinta Linda, supaya suaminya itu membersihkan tangannya terlebih dahulu, karena habis bersih-bersih. Dan juga baru saja tiba dari perjalanan jauh juga ya.


"Oh ya, sebentar ya!"


Akhirnya, tak lama kemudian, mereka bertiga tampak menikmati teh hangat, sambil berbincang-bincang ringan tentang kondisi rumahnya ini.


"Untungnya kamar rumah ini ada dua, jadi gak perlu repot-repot membuat kamar untuk Erli. Nanti, kita bisa cat ulang untuk kamar Erli, yang biasa disukai anak-anak."


Mendengar perkataan ayahnya itu, Erli merasa senang. Karena dia menginginkan kamar dengan cat yang berwarna cerah. Sama seperti kamarnya sendiri, yang ada di rumah papanya dulu.


"Ma, Erli mau kamar, yang cat nya sama seperti yang ada di rumah yang biasanya ya Ma! yang sama papa."


Mendengar perkataan Erli, demi mengangguk dan tersenyum tipis.


Sedangkan Linda, hanya tersenyum canggung. Karena dia tidak ingin Erli terlalu bermanja-manja dengan Romi.


"Iya Sayang, nanti kalau Ayah sudah ada waktu kita jalan-jalan ke toko cat ya! nanti Erli bisa pilih warna apa saja, yang disukai Erli."


"Horeee! terima kasih Yah..."


Erli turun dari tempat duduknya, dengan berteriak mengucapkan terima kasih kepada Romi. Kemudian memeluk ayahnya itu, yang sedang duduk di samping mamanya.


Romi senang dengan sikap Erli yang manis, dan menggemaskan khas anak-anak.


Tapi Romi justru menggelengkan kepalanya, melihat ke arah Linda. Seakan-akan dia tidak setuju dengan apa yang dikatakan oleh istrinya itu. Karena dia menganggap hal semacam ini masih wajar, untuk anak-anak seperti Erli.


Linda hanya menanggapi dengan helaan nafas panjang, kemudian menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.


Tak lama kemudian, Romi mengajak Erli untuk pergi tidur dan beristirahat.


"Erli, mau tidur dulu gak?"


Erli cepat mengganggukan kepalanya, karena dia memang masih merasa lelah.


"Ya sudah, ayok sama Mama!"


Linda yang akhirnya berdiri dari tempat duduknya, kemudian berjalan untuk menggendong anaknya yang sepertinya sudah mulai mengantuk.


"Aku nidurin Erli dulu ya Mas," pamit Linda, yang diangguki juga oleh Romi.


Beberapa saat kemudian, Linda sudah keluar dari kamarnya Erli, karena anaknya itu sudah tertidur.


Sekarang, Linda bersiap-siap untuk membersihkan rumah. Karena dia melihat lantai dan beberapa perabotan rumah yang memang sudah berdebu.

__ADS_1


Romi membantu Linda yang sedang membersihkan rumahnya. Dengan kamarnya terlebih dahulu. Agar dia bisa beristirahat juga bersama dengan Linda nantinya.


Dia juga segera melepas bingkai-bingkai foto, yang tadinya ada mantan istrinya. Romi tidak mau, jika istrinya yang sekarang merasa risih. Sebab ada foto wanita lain di rumahnya ini. Meskipun Romi juga tahu, jika linda sudah mengetahui tentang dirinya. Yang dulunya sesudah mempunyai istri.


Sudah bisa dipastikan bahwa, seorang wanita tidak mau jika suaminya menyimpan foto wanita lain. Meskipun itu adalah mantan istrinya sendiri.


Dan untungnya, Romi peka akan hal itu.


Siang hari, sekitar pukul sebelas, Romi mengajak Linda dan Erli, untuk berkunjung ke rumahnya Pak RT.


Dia mau melaporkan keberadaan Linda dan juga Erli. Yang sekarang ini akan tinggal di rumahnya. Karena sudah menjadi bagian dari keluarganya sendiri.


Berkas-berkas laporan, berupa fotocopy KTP, KK dan surat nikah, sudah dipersiapkan Romi. Untuk dibawa ke rumah pak RT, guna dijadikan sebagai bukti atas laporannya nanti.


*****


Di rumah ibunya Linda, bapaknya Linda tampak melamun.


Dia sedang memikirkan cucunya, yang saat ini sudah tidak ada di rumahnya. Sebab, Erli ikut bersama dengan mamanya, yang pergi ke kota untuk mengikuti suaminya yang sekarang ini.


"Pak. Di minum dulu obatnya. Jangan melamun sendiri!"


Istrinya datang, menegur suaminya yang bengong saja sedari tadi.


"Bapak ingat Erli Bu. Jadi sepi ya rumah, gak ada dia," sahut suaminya, tanpa mengalihkan pandangannya, yang masih menatap pintu rumahnya.


"Hhh... iya Pak. Ibu juga merasa sepi tidak ada Erli Pak." Ternyata, istrinya itu juga merasakan hal yang sama, dengan tidak adanya Erli di rumah ini.


"Kapan-kapan, jika kita ada rejeki, kita ke sana Bu, jenguk Erli!"


Mata suaminya yang sedang berbinar-binar senang, karena membayangkan bisa bertemu dengan cucunya, membuat istrinya itu mengangguk sambil tersenyum.


"Iya Pak. Makanya, Bapak juga harus sehat terus. Supaya nanti bisa ke sana, menjenguk Erli, ya Pak ya!"


"Iya Bu, iya!"


"Nah sekarang, Bapak makan dulu, terus minum obatnya. Setelah itu istirahat. Tidak usah banyak bengong."


Bapaknya Linda, kembali menganggukkan kepala, menuruti perkataan istrinya yang memang benar juga menurutnya.


Akhirnya, bapaknya Linda mau juga memakan makanan yang sudah disediakan oleh istrinya. Setelahnya meminum obatnya juga. Baru kemudian pergi masuk ke dalam kamar untuk beristirahat.


Bapaknya Linda memang keadaannya belum stabil, sehingga dia masih perlu pengobatan untuk menjaga kesehatannya.

__ADS_1


__ADS_2