Tante Melinda

Tante Melinda
Menginap


__ADS_3

Pada akhirnya, Ferry mengalah untuk mengikuti kemauan anaknya, Erli.


Jadi, malam ini mereka bertiga menginap di rumah ibunya Linda. Karena Erli ingin bisa bermain dengan boneka. Bersama-sama dengan teman-temannya yang, kecil di sekitar rumah simbahnya ini.


Erli mulai bercerita tentang kejadian tadi siang, saat dia terjatuh dari tempat tidur. Karena tidak bisa anteng pada saat tertidur.


"Tadi, Erli main boneka di rumah depan. Terus diajak pulang sama Om Danang. Suruh tidur karena sudah siang. Pas om Danang udah pergi, Erli jatuh dari tempat tidur."


"Hah! Benarkah Erli jatuh? Kok bisa?"


"Kok bisa sayang?"


Ferry dan Linda, bertanya bersamaan, dengan pura-pura terkejut. Karena mereka berdua juga tahu, jika Erli tidak bisa diam pada saat tertidur sekalipun.


Dengan tingkahnya yang menggemaskan, Erli bercerita. Sesekali, dia juga memperagakan bagaimana keadaan dirinya, pada saat dia tertidur.


Meskipun sebenarnya, Linda dan Ferry juga tahu, bagaimana keadaan Erli jika sedang tidur. Tapi mereka berdua, tetap pura-pura kaget dan menanggapi cerita anaknya itu.


"Aduh, harusnya Erli diikat aja pas tidur. Biar gak gerak ke sana ke sini. Kan gak bakalan jatuh juga," ujar Linda, dengan pura-pura gema. Karena anaknya itu bisa jatuh dari tempat tidur.


"Ya gak mau Ma!" sahut Erli cepat.


Dia tentu merasa takut juga, jika dia akan benar-benar di ikat pada saat tertidur.


"Hehehe... ya gak lah Sayang."


Linda memeluk anaknya, dengan terkekeh geli. Menyadari bahwa, anaknya itu menanggapi perkataannya dengan serius.


"Besok, pada saat Mama kerja dan ada tugas selama seminggu. Erli sama Papa ya! Gak boleh nakal. Sekali-kali, Erli akan di ajak ke rumah simbah dan tidur di sini juga."


"Tapi, jangan sampai jatuh lagi ya?"


"Beneran Ma?" tanya Erli dengan cepat.


Erli merasa sangat senang, karena bisa tidur dan bermain di rumah simbahnya ini. Jika dia ditinggal pergi oleh mamanya.


Ferry hanya mengangguk dan tersenyum saja. Pada saat anak dan istrinya itu berbincang-bincang. Sesekali, dia ikut menimpali, jika anaknya itu bertingkah mengemaskan.


Setelah lelah bercerita pada mama dan papanya, Erli akhirnya tertidur juga. Dia apit oleh kedua orang tuanya.


"Mas. Gak apa-apa kan Linda tinggal seminggu besok?" tanya Linda, memastikan bahwa suaminya itu tidak merasa keberatan.

__ADS_1


"Iya gak apa-apa. Kamu butuh pelatihan tersebut."


Linda mengangguk dan tersenyum, mendengar jawaban yang diberikan oleh suaminya.


"Mas capek kan? Linda pijit sebentar ya, biar bisa tidur nyenyak nanti."


Ferry hanya mengangguk saja. Kemudian memposisikan dirinya, agar istrinya itu bisa memijit tubuhnya dengan nyaman.


Setelah beberapa saat kemudian, Ferry meminta pada Linda untuk menyudahi pekerjaannya. "Sudah Dek. Kamu juga capek. Tapi, besok saja ya kita bermain-main. Tidak nyaman ada Erli di tempat tidur ini."


Linda mengangguk mengiyakan perkataan suaminya, sambil tersenyum geli.


Dia juga masih merasa capek, dengan aktivitasnya tadi seharian ini. Jadi, dia tidak mungkin bisa melakukan apa-apa, jika harus melayani suaminya itu.


Sekarang, mereka berdua bersiap untuk tidur. Dengan pemikiran mereka masing-masing.


*****


Keesokan harinya, Ferry mengajak Erli bercengkrama di teras depan rumah.


Ada Danang yang sedang mengelap sepeda motornya. Dan ada juga bapaknya Linda, yang sedang memandikan beberapa burung peliharaan miliknya.


"Lin. Kamu ada banyak teman kan ke Jakarta nya?" tanya ibunya Linda, karena takut jika anaknya itu pergi sendiri ke Jakarta.


"Gak Bu. Ada banyak teman yang ikut pelatihan ini..Dan bukan leader aja. Ada beberapa manager yang ikut menemani anak buahnya. Yaitu leader-leader itu."


Linda mencoba memberikan penjelasan kepada ibunya, agar tidak merasa khawatir dengan kepergiannya besok senin.


"Ada bus dari perusahaan. Ada tempat menginap juga di sana Bu," imbuh Linda menerangkan tentang tugasnya sebagai perwakilan leader di gedungnya.


Meskipun setiap gedung, ada lima orang leader yang di beri tugas. Hanya Linda yang anak baru. Karena Linda belum genap dua bulan bekerja di perusahaan tersebut.


Masa training belum usai. SK juga belum turun. Tapi dia ditunjuk oleh pihak perusahaan untuk bisa training di Jakarta.


"Jadi, Linda harus bisa memanfaatkan kesempatan ini Bu."


Begitulah penjelasan yang diberikan oleh Linda pada ibunya. Dan tentu saja, ibunya juga merasa senang dengan apa yang dikatakan oleh Linda.


Ibunya Linda merasa bangga. Karena sekarang ini, Linda tidak lagi menganggur dan tidak lagi dipukuli oleh suaminya.


"Kamu yang rajin. Apa yang dikatakan atasan, patuh dan di turuti. Pasti akan cepat naik jabatan nanti." Ibunya memberikan dorongan semangat, agar Linda tetap berusaha untuk bisa bekerja dengan baik di perusahaan tersebut.

__ADS_1


*****


Sekitar pukul sebelas delapan pagi, semua sudah selesai. Erli juga sudah mandi. Begitu juga dengan yang lainnya.


Dan sekarang, mereka semua berkumpul di ruang tamu, yang ada di depan televisi. Mereka semua, akan sarapan pagi bersama.


"Mumpung libur dan kumpul semua, bapak dan ibu mau ngomong sebentar."


Bapaknya Linda, berkata pada semuanya, sebelum memulai acara sarapan pagi mereka.


"Ada apa Pak?" tanya Linda, yang tidak tahu apa-apa.


Dengan perlahan-lahan, bapaknya Linda menjelaskan tentang sawahnya. Dia menjaminkan sawahnya itu pada Linda, sebagai jaminan atas uang yang dia berikan pada Danang kemarin.


"Jadi, status sawah itu sekarang milik Kamu Linda. Tapi itu terjadi jika, Bapak atau ibu dan Danang, tidak bisa melunasi uang tersebut."


"Jika bisa bayar, ya sawah itu tetap jadi milik Bapak. Dan baru bisa kalian berdua miliki, pada saat Bapak sudah tiada, sebagai warisan."


"Bapak ngomong apa sih! Linda tidak memikirkan sejauh itu juga," ujar Linda, yang tidak mau jika, bapak ataupun ibunya kepikiran tentang uang tersebut.


Danang hanya menunduk dan diam saja sedari tadi.


Mungkin, dia berpikir jika, semua ini karena salahnya. Padahal Linda tidak pernah berpikir lain, selain ingin membantu keluarganya saja.


Ferry juga diam. Dua hanya melayani Erli, yang sedari tadi memakan kerupuk buatan simbah putrinya.


Akhirnya, pembicaraan mereka tidak lagi dilanjutkan.


Mereka memulai acara sarapan pagi. Karena Erli mulai rewel dan ingin cepat-cepat bisa pergi bermain dengan teman-temannya, yang mungkin saja sudah menunggu dirinya di luar rumah.


*****


"Pak. Kenapa bapak jadi punya pikiran seperti itu tadi?" tanya Linda pada bapaknya. Saat dia ada kesempatan untuk bisa berbicara hanya berdua saja dengan bapaknya.


"Tidak apa-apa Nduk. Bapak juga sudah bicara tentang ini pada Danang dan ibu juga. Dan mereka berdua tidak mempermasalahkan soal itu."


Tapi Linda tetap saja tidak mau jika, keluarganya berpikir bahwa dia ingin menguasai sawah bapaknya itu.


"Tidak apa-apa Nduk. Dari pada di gadaikan pada orang lain. Kan Bapak jadi tidak dapat bagian jika ada panen."


"Dengan Kamu, bapak masih punya bagian. Karena ini hanya semacam jaminan saja. Yang penting, semua sudah tahu sama tahu."

__ADS_1


__ADS_2