Tante Melinda

Tante Melinda
Malam Minggu


__ADS_3

"Sayangnya Papa..."


Ferry, yang baru saja datang, menyapa anaknya, Erli. Di saat Erli ada di teras depan rumah simbahnya, berdua dengan om nya. Yaitu Danang.


Erli pun menghambur ke arah datangnya Ferry. Yang baru pulang kerja.


"Papa..." teriaknya sambil berlari, meminta untuk digendong.


"Hap!"


Ferry pun menangkap tubuh Erli, kemudian membawanya dalam gendongan. Erli tampak senang sekali, apalagi saat tahu, jika di gantungan motor papanya, ada snack atau makanan kecil kesukaannya.


"Ini buat Erli. Tapi... itu, Om Danang di bagi ya! Papa mau mandi dulu," tutur Ferry, dengan memberikan kresek berisi jajanan ringan yang dia bawa.


"Iya Pa. Makasih... cup!"


Erli menyahuti dengan renyah, sambil mengecup pipi papanya sekilas.


Senyuman terbit di bibir Ferry, yang melihat kebahagiaan di wajah anaknya. Saat mata Erli berbinar-binar senang.


"Sini, Erli duduk lagi sama om Danang ya! Papa pergi mandi dulu."


"Ya Pa," sahut Erli cepat, sambil mengangguk.


Danang pun menyapa kakak iparnya itu, sambil membenarkan posisi duduknya Erli.


"Laris Mas berasnya?" tanya Danang, sebagai bentuk sapaan. Karena sedari tadi, Ferry sibuk dengan Erli saja.


"Ya begitulah Nang. Alhamdulillah sih, ada aja yang beli. Maklum, mulai pada naik ini kebutuhan pokok."


Danang mengangguk-anggukkan kepalanya, mendengar jawaban yang diberikan oleh kakak iparnya itu. Karena keadaan akhir tahun ini, yang tidak menentu di pasaran.


Harga-harga barang dengan cepat naik. Tapi tidak dibarengi dengan solusi yang cepat bisa di terima oleh masyarakat. Sehingga pada pemasok barang kebutuhan justru panik sendiri, takut akan kekurangan pasokan barang mereka.


Sayangnya, mereka justru menimbun barang-barang tersebut, sambil menunggu kebijakan yang akan dijalankan.


Tapi semua itu justru membuat banyak barang-barang yang langka, dan kenaikan harga barang tersebut tidak bisa dielakkan lagi di pasaran.


Imbasnya justru ada pada kalangan masyarakat kelas menengah ke bawah.


"Mas, udah pulang?" sapa Linda, membuat penjelasan yang diberikan oleh Ferry pada Danang tidak dilanjutkan lagi.


"Eh iya Dek. Ini baru mau masuk," terang Ferry, dengan menyambut uluran tangan Linda yang mau menyalami tangannya.

__ADS_1


"Ya sudah, ayo mandi! Mumpung belum magrib," sahut Linda dengan wajah yang melihat ke atas. Memperkirakan jika waktu magrib akan segera datang.


Ferry pun segera masuk ke dalam rumah, bersiap untuk mandi sore. Sedang Linda meminta Erli dan Danang, supaya masuk ke dalam rumah saja.


"Sayang, Erli masuk yuk!"


"Nang, ajak Erli masuk ayo! Udah mau magrib. Nanti ada candi olo!"


Candi olo adalah candik ala atau senjakala atau candikala adalah kondisi matahari menjelang tenggelam di ufuk barat. Paduan warna kuning, jingga dan kehitaman berarak menghias langit. Sangat indah namun terkesan mistis. Suasana waktu senjakala ini udara berubah menjadi dingin dan lembab.


Hal ini terjadi karena banyak orang yang percaya, jika di waktu tersebut, sedang terbukanya pintu ruang dan waktu antara kebaikan dan keburukan. Sehingga dikaitkan dengan dunia alam ghaib.


Itulah sebabnya, semua pintu rumah juga dianjurkan untuk ditutup. Agar terhindar dari jin Ummu sabyan. Yang menurut ajaran Islam, tugasnya menganggu anak-anak kecil dan ibu hamil, serta baru melahirkan.


*****


Malam ini, di rumah ibunya Linda, semuanya sudah berkumpul. Setelah selesai melaksanakan sholat magrib, mereka makan malam bersama di depan televisi, sambil lesehan mengelar tikar.


"Ayo di makan, seadanya ya!"


"Ini tadi juga ada sayur gori dari pohon nangka di belakang rumah."


"Wahhh..." sambut Danang yang memang suka sayur nangka muda.


Beberapa saat kemudian, semuanya sudah selesai dengan makanannya masing-masing.


Di saat Linda dan ibunya baru saja membereskan peralatan makan mereka, ada tamu yang mengetuk pintu rumah mereka.


Tok tok tok!


"Assalamualaikum..."


"Waallaikumsalam..."


Mereka semua pun menjawab salam tersebut bersamaan. Kemudian Danang bangkit dari tempat duduknya. Dia berjalan menuju ke arah pintu rumah.


Clek!


Pintu terbuka.


"Kang Mus. Mari Kang masuk!"


Ternyata tamu tersebut adalah kang Mus. Saudara jauh dari ibunya Linda.

__ADS_1


"Monggo Kang duduk."


Danang mempersilahkan tamunya itu untuk duduk terlebih dahulu. Dan kang Mus juga mengangguk mengiyakan.


Kang Mus duduk, kemudian Danang juga ikut duduk. Mereka berbincang sebentar untuk berbasa-basi terlebih dahulu.


"Maaf Nang. Aku baru sempat datang menjenguk bapakmu. Aku baru pulang dari luar kota."


"Iya Kang, gak apa-apa. Bapak juga sudah sehat kok Kang. Oh ya sebentar tak panggil bapak."


Kang Mus hanya menanggapi dengan senyuman tipis, sambil menganggukkan kepalanya. Mempersilahkan Danang, untuk memanggil bapaknya terlebih dahulu.


Tak lama kemudian, bapaknya Linda keluar untuk berbincang-bincang dengan kang Mus. Yang memang datang untuk menjenguknya.


"Alhamdulillah kok Mus. Aku wes sehat. Piye kabar ibumu?"


Akhirnya mereka berbincang dengan banyak hal, menanyakan tentang banyak hal yang memang sudah lama tidak mereka perbincangkan. Karena jarang bertemu, dengan kesibukan mereka sendiri-sendiri. Dalam menjalani kehidupan masing-masing.


Ibunya Linda juga ikut berbincang-bincang ke ruang tamu. Sedangkan Linda dan Ferry, bersama dengan Erli, hanya ada di dalam kamar saja.


Linda tidak ingin bertemu dengan kang Mus, karena merasa tidak nyaman dengan keadaan mereka pada waktu itu. Meskipun dia juga sangat berterima kasih atas bantuan kang Mus, saat dia butuh informasi tentang nomor handphone milik pengilingan padi.


Sedang Ferry juga malas untuk keluar sebentar, sekedar menyapa kang Mus, karena takut jika tamu tersebut akan menyinggung masalah yang dia miliki bersama dengan mbak Nana. Yang sudah menjadi rahasia umum di pengilingan padi.


*****


Jam sembilan malam, rumah sedang sepi.


Kang Mus sudah pulang sedari tadi. Danang juga pergi malam mingguan entah ke mana bersama dengan teman-temannya. Sedangkan Erli, sudah tidur di dalam kamar, di temani oleh Linda.


Dan ibunya Linda, ada di sudah berbaring di tempat tidur. Karena merasa lelah setelah seharian berkutat dengan segala aktivitasnya.


Ferry baru saja mau masuk ke dalam kamar, setelah selesai dari dalam kamar mandi.


"Nak Ferry, duduk di sini sebentar." pinta bapaknya Linda, meminta pada menantunya itu untuk ikut duduk bersamanya di depan TV.


Ferry pun mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam kamar. Dia menurut, dan akhirnya duduk menemani mertuanya menonton acara televisi malam ini.


Hingga pada akhirnya, bapaknya Linda berbicara dengan Ferry. Menanyakan sesuatu yang mejadi pikirannya akhir-akhir ini.


"Bapak mau tanya sesuatu. Tapi Kamu jangan marah dulu ya! Ini Bapak cuma mencari titik temu dari beberapa berita yang ada di sekitar rumah saja akhir-akhir ini."


Wajah Ferry sudah tidak bisa lagi sama seperti tadi. Karena terkejut, di saat mendengar perkataan bapaknya Linda yang tidak biasa.

__ADS_1


Dia merasa ada sesuatu, yang akan ditanyakan oleh bapak mertuanya itu. Karena tidak biasanya, bapaknya Linda ini bicara seserius sekarang ini.


__ADS_2