
Linda selesai menge_cas ponselnya, meskipun hanya untuk beberapa persen saja. Karena dia hanya ingin mengisi, untuk bisa melakukan panggilan telpon untuk adiknya.
Baru saja ponselnya dia aktifkan, notifikasi pesan dan panggilan berdenting bergantian.
Ada pesan dan panggilan dari kang Mus. Tapi ada juga dari Danang, yang tentunya sangat cemas karena sedari tadi Linda tidak bisa dihubungi.
Pada saat Linda akan menekan tombol hijau untuk melakukan panggilan telpon untuk Danang, dering handphone miliknya kembali terdengar. Ada panggilan masuk dari Danang.
..."Ya halo Nang."...
..."Mbak Linda ada di mana? sedari tadi dihubungi kenapa tidak bisa? Kang Mus udah telpon juga dari tadi, tapi gak bisa. Ini Danang tadi ditelpon kang Mus. Dia khawatir Mbak. Soalnya hape Mbak Linda tiba-tiba mati, gak bisa dihubungi lagi."...
Danang langsung bertanya dengan banyak pertanyaan, yang Linda sendiri memang tidak tahu jika ini terjadi padanya.
..."Nang, tenang dulu Nang. Mbak ponselnya mati tadi. Baterai habis. Mbak juga hati ngisi, belum penuh."...
Linda menjawab pertanyaan dari Danang, dengan memberikan penjelasan. Supaya Danang tidak lagi cemas.
..."Terus sekarang mbak Linda ada di mana? Danang sudah siap-siap pergi ini sedari tadi. Nunggu kabar dari Mbak."...
..."Bapak jangan sampai tau ya Nang! Mbak gak mau jika, bapak jadi tambah pikiran."...
..."Iya-iya Mbak."...
..."Erli sama ibu juga."...
..."Ihsss... Mbak Linda ada di mana?"...
Danang tampak gusar, karena Linda tidak langsung menjawab pertanyaan darinya.
Tapi justru muter-muter, dengan memberikan pesan yang sama seperti tadi pagi.
..."Mbak ada di jalan lingkar S. Di pinggir jalan sebelah hotel M. Kamu bisa datang ke sini gak?"...
..."Mas Ferry ada di sana?"...
..."Belum tau juga ini. Makanya Mbak mau minta tolong sama Kamu. Temani Mbak untuk mencari tau ke dalam hotel sana, ya Nang!"...
..."Ya wes. Danang berangkat sekarang."...
..."Ya Mbak tunggu ya Nang."...
Klik!
Linda menghela nafas panjang, kemudian membuangnya perlahan-lahan. Dia ingin membuat rongga dadanya lebih lega dari pada tadi.
Karena sedari tadi, dadanya sangat sesak. Sama seperti jika sedang ditindih oleh sesuatu di atas dadanya.
"Bagaimana Mbak bule? Ada yang mau datang untuk membantu?"
__ADS_1
Pertanyaan yang diajukan oleh laki-laki dewasa tadi, membuat Linda tersadar dari lamunannya.
"Eh, iya... Iya Pak. Adik Saya akan segera datang ke sini."
Laki-laki itu juga akhirnya mengangguk-anggukkan kepalanya, mendengar jawaban yang diberikan oleh Linda padanya.
"Dibantu lho Kang. Kasian ini Mbak bule nya," tutur ibu warung, dengan wajah tersenyum miris. Seakan-akan dia juga ikut merasa prihatin, dengan keadaan Linda saat ini.
"Duduk sini dulu aja Mbak bule. Sambil nunggu adiknya. Gak apa-apa kok," ujar ibu warung, menawari Linda untuk tempat duduk.
"Iya Bu. Terima kasih."
Linda pun mengangguk mengiyakan, dengan mengucapkan terima kasihnya pada ibu warung.
Sekarang, Linda duduk di tempatnya yang tadi. Karena hanya itu bangku yang kosong di warung tersebut.
*****
Beberapa saat kemudian, setelah menunggu hampir satu jam lamanya. Danang akhirnya datang juga.
Awalnya Danang tidak tahu jika Linda ada di warung, untuk menunggu kedatangannya.
Dia harus menelpon Linda terlebih dahulu, untuk menanyakan keberadaan dirinya.
..."Aku ada di warung makan kecil, yang ada di seberang jalan hotel itu Nang. Agak ke arah baratnya dikit."...
Akhirnya Danang menyusul Linda, setelah mengetahui tempat kakaknya berada.
Linda juga keluar dari dalam warung. Untuk memudahkan adiknya itu menemukan keberadaan dirinya.
Setelah memarkirkan sepeda motornya, Danang menghampiri Linda. Kemudian bertanya pada kakak perempuannya itu. "Mbak yakin, jika mas Ferry ada di dalam hotel itu?"
"Mbak... Mbak juga tidak tau Nang. Tapi pelacak yang mbak gunakan, cuma sampai di sini."
Linda memberikan penjelasan kepada Danang, dengan menunjukkan layar handphone miliknya juga.
Danang mengamati layar handphone Linda. Dan dia akhirnya hanya bisa mengangguk saja. Karena memang di jalan ini, alat pelacak itu berhenti.
*****
Sekarang, Danang menemani Linda masuk ke dalam hotel. Dengan dipandu oleh laki-laki dewasa, yang tadi ada di dalam warung.
Dia langsung mengajak Linda, untuk mencari data tamu hotel. Ke buku tamu di lobby hotel.
Kedua mas-mas yang tadi menghadang Linda, hanya diam saja dengan saling lirik satu ke yang lain.
"Pinjol, tadi pagi ada tamu Mas-mas perawakan polisi gak?" tanya laki-laki tersebut pada salah satu mas-mas, yang menjaga lobby hotel.
"Gak ada Pak," jawab Pinjol, sambil menggeleng.
__ADS_1
"Ada gak Mbak bule nama suamimu di buku tamu?"
Linda mengelengkan kepalanya, melihat ke arah buku tamu yang tadi dia lihat. Dia tidak melihat ada daftar nama tamu dengan mana Ferry.
"Bisa jadi, dia menggunakan nama lain Mbak," bisik Danang, yang juga ikut melihat daftar tamu pagi ini.
"Emhhh... Mas, maaf."
Linda memperlihatkan layar handphone miliknya, pada mas Pinjol. Yang memang bertugas sedari pagi di lobby hotel.
Dari layar handphone milik Linda, ada foto Ferry. Dengan memperlihatkan foto tersebut, Linda berharap agar mas Pinjol bisa mengenali siapa tamu yang datang. Karena siapa tahu, ada tamu yang sama wajahnya. Dengan yang ada di layar handphone tersebut.
"Oh... mas ini."
Pinjol akhirnya mengenali, siapa yang di maksud dan dicari Linda sedari tadi.
"Mas tau?" tanya Danang dengan cepat.
"Ini mah tau Aku. Mas nya ini, biasa jadi pelanggan di sini Mbak, Mas."
Deg!
Linda terkejut mendengar perkataan mas Pinjol.
'Langganan? maksudnya, mas Ferry biasa datang ke sini?' batin Linda bertanya, mencerna perkataan mas Pinjol.
'Set_an! Ternyata begitu."
Danang mengumpat dalam hati. Tapi wajahnya tentu saja menggambarkan bagaimana keadaan hatinya saat ini.
Amarah, kesal dan jengkel karena ulah kakak iparnya itu, membuat Danang mengeratkan giginya hingga terdengar gemelutuk.
"Arghhhh... dasar manusia tidak punya otak! Bagaimana bisa dia melakukan semua ini pada mbak Linda? Apa dia tidak kapok, dengan dia dipecat dari pekerjaannya sebagai polisi waktu itu!"
Linda mengerutkan keningnya, mendengar perkataan yang diucapkan oleh adiknya. Yang sedang dalam keadaan marah seperti sekarang ini.
"Nang," panggil Linda, menyadarkan Danang pada ucapannya tadi.
"Eh, i_iya Mbak. Ada apa?"
"Kamu ngomong apa sih Nang. Sudahlah Nang. Kita fokus pada masalah ini saja. Yang lalu tidak usah diingat lagi."
Danang mengangguk mengiyakan perkataan kakaknya. Sedangkan yang lainnya, mendengar dan melihat keduanya dalam keadaan yang tidak bisa mereka ungkapkan.
'Oh... pantes mas itu bodynya manteb. Ternyata mantan polisi.' Pinjol hanya bisa membatin.
'Pantes bisa bermain petak umpet. Punya strategi dari keahliannya sebagai mantan seorang polisi ternyata.' batin temannya Pinjol, si Marno.
Sedangkan untuk laki-laki dewasa, yang bekerja sebagai pihak keamanan hotel. Hanya mengangguk-anggukan kepalanya. Memaklumi kondisi dan keadaan keluarga tamu hotelnya ini.
__ADS_1