Tante Melinda

Tante Melinda
Sebuah Tawaran


__ADS_3

Jalinan kasih antara Linda dengan Romi, semakin dekat. Apalagi, kemudahan dalam berkomunikasi lewat telpon dan pesan yang bisa mereka lakukan untuk waktu dan tempat, yang bisa dikatakan kapan saja.


Romi, juga selalu mengisi pulsa handphone milik Linda, kekasihnya. Dia tidak merasa rugi, meskipun hanya sekedar pacar dalam jarak jauh.


Tapi, permalasahan muncul, di saat ibunya Linda mulai merasa bahwa, Romi hanya sekedar main-main dengan anaknya, Linda, dan tidak ada keseriusan dalam hubungan mereka berdua.


"Linda, Kamu cari pacar yang ada di sini saja. Jangan yang kerja di luar kota. Apalagi, di kota besar. Romi cuma iseng-iseng saja sama Kamu."


Begitulah kira-kira, pemikiran yang ada di benak ibunya Linda.


Ibunya itu, menginginkan agar anaknya segera menikah, dan suaminya itu ada pekerjaan di dekat-dekat rumah, agar tidak ada hubungan jarak jauh.


Ibunya Linda merasa khawatir jika, anaknya akan ditelantarkan oleh Romi, jika suatu hari nanti, mereka jadi menikah.


Ini karena karena pekerjaan Romi yang ada di kota besar. Apalagi, ibunya seringkali mendengar beberapa cerita, jika ada di sawah, bahwa orang-orang yang pergi merantau dan bekerja di kota besar itu tidak setia.


Mereka akan punya pacar atau istri yang lain, yang ada di kota besar juga.


Jadi, yang ada di kampung, di rumah, hanya sebagai pajangan untuk status mereka saja.


"Kak Romi pasti tidak sama seperti itu Bu," kata Linda, membela pacarnya sendiri.


"Kamu ini, dibilangin kok bantah. Kamu belum tahu rasanya, jika di madu itu bagaimana rasanya?"


"Bu. Kak Romi bukan orang yang tidak setia," ucap Linda, yang terus saja membela Romi.


Linda tidak mau jika, ibunya terus menerus merendahkan dan menjelekkan pacarnya, Romi.


Dalam hati Linda, dia merasa sangat yakin bahwa, Romi adalah tipe cowok yang setia pada pasangannya.


Tapi karena ibunya terus-menerus memberikan beberapa contoh, Linda jadi sedikit terpengaruh dengan semua cerita tersebut.


Padahal, selama Linda berpacaran dengan Romi, sudah berusaha juga untuk melawan kebiasaan buruknya, yang sering dia lakukan jika menjelang tidur.


Ini karena dia sedang berbincang-bincang dengan Romi, melalui panggilan telpon, atau berkirim pesan, sehingga Linda melupakan kebiasaan anehnya itu.


"Kamu sudah dua puluh tahun Linda. Sudah waktunya untuk segera menikah," ujar ibunya, memberikan alasan, mengapa dia meminta pada anaknya itu, supaya segera mencari pacar yang tidak jauh-jauh dari tempat tinggalnya.


Linda hampir saja menangis, di saat handphone miliknya berdering.


"Bisanya cuma telpon-telponan saja, gak serius!"


Linda berusaha untuk tetap diam, dan tidak membalas perkataan Ibunya tadi. Dia juga menghela nafas panjang, agar suaranya bisa terdengar seperti biasanya, sehingga pacarnya, Romi, tidak akan menaruh curiga jika dia baru saja ingin menangis.


..."Assalamualaikum Kak."...


..."Waallaikumsalam Dek. Sedang ada di mana sekarang?"...


..."Ada di rumah kok Kak. Memangnya ada apa ya Kak?"...


..."Oh, gak apa-apa. Nanti, kakak akan minta adeknya Kakak, untuk datang ke rumah. Mau kasih titipan."...

__ADS_1


..."Tapi... ini sudah malam Kak. Bagaimana jika besok saja?"...


..."Begitu ya? Tapi, besok adekku sekolah lho Dek."...


..."Biar Linda saja yang datang menemui adeknya Kak Romi. Atau, titip saja pada adekku Kak. Kan adek Linda, sekolah juga di tempat yang sama seperti adeknya kak Romi. Sekolah kita yang dulu."...


..."Oh iya ya. Kok Kakak malah lupa sih."...


..."Hayo, mikir apa? sampai lupa layak gitu."...


..."Hehehe... ini gara-gara mikirin dek Linda ini. Kakak kan jadi rindu Dek."...


..."Ah, Kakak bisa saja deh, bikin Linda senang dan ingin terbang."...


..."Lho jangan terbang to Dek."...


..."Kenapa?"...


..."Kakak gak punya sayap, untuk bisa ikut terbang bersama dengan Adek."...


..."Hihihi... Kak Romi bisa aja deh!"...


..."Ya sudah. Kamu jangan tidur malam-malam ya! Besok masih harus kerja. Biar titipannya, Kakak titipkan pada Adeknya Kakak. Biar dikasih ke adeknya Dek Linda juga."...


..."Iya Kak."...


Klik!


Dan Linda, jadi tersenyum-senyum sendiri, membayangkan bagaimana keadaan Romi, yang ternyata tidak sedingin yang dua bayangkan dulu, saat masih berada di bangku sekolah.


"Jangan gila Linda. Ini hanya manis di luar, saat dia belum jadi suami Kamu."


Linda terdiam, dan tidak lagi tersenyum sendiri, di saat mendengar perkataan ibunya, tentang Romi, di luar kamarnya.


"Dan ingat Linda. Jika dia serius, segera minta dia untuk datang menikahi Kamu."


Mendengar perkataan ibunya lagi, akhirnya Linda berusaha untuk terpejam dan melupakan semua kata-kata ibunya itu.


'Mas Romi tidak seperti itu.'


'Mas Romi tidak seperti itu.'


Linda terus berkata dalam hatinya, menyakinkan dirinya sendiri, jika kekasih hatinya itu, bukanlah laki-laki yang sama, seperti yang banyak dibicarakan oleh orang lain. Termasuk ibunya tadi.


Tapi karena terus memikirkan apa yang dikatakan oleh ibunya, Linda tidak bisa cepat memejamkan mata untuk tidur.


Sekarang, Linda kembali duduk dan gelisah sendiri.


Dan perasaan aneh itu, datang lagi, tanpa bisa Linda kendalikan.


*****

__ADS_1


Di kota besar, Romi sedang beristirahat sejenak, bersama dengan temannya, sebelum kembali melanjutkan pekerjaannya.


"Romi. Di panggil Bos tuh!"


Romi menoleh ke arah suara, yang memanggil namanya.


"Di panggil Bos?"


"Iya. Buruan!"


Temannya Romi yang baru saja datang, memberitahu dirinya, jika sedang di cari-cari oleh Bos.


"Punya salah apa Kamu? Kok Bos nyariin tuh," tanya salah satu temannya, yang ikut beristirahat bersama dengan Romi.


"Gak tahu. Aku gak merasa ada kesalahan,". jawab Romi, yang akhirnya bangkit dari tempat duduknya.


Sekarang Romi berjalan, menuju ke tempat ruangan Bos_nya.


Tok tok tok!


Romi mengetuk pintu ruangan, sebelum dipersilahkan masuk ke dalam ruangan Bos_nya itu.


"Masuk."


Klek!


Romi membuka pintu ruangan, di saat ada suara dari dalam, yang memintanya untuk masuk.


"Selamat siang Pak. Apa Bapak mencari Saya?" tanya Romi, di saat sudah berada di dalam ruangan kerja Bos_nya.


"Iya Rom. Aku ada pekerjaan yang bagus untukmu, yang bisa membuat dirimu langsung enak, tanpa harus bekerja keras seperti sekarang ini."


Romi mendengarkan perkataan Bos_nya, dengan seksama. Dia merasa, jika ada sesuatu yang penting, yang akan disampaikan oleh Bos_nya itu.


"Pekerjaan apa Pak?" tanya Romi dengan rasa penasaran, karena pak Bos tidak juga melanjutkan kalimatnya.


"Kamu mau tidak, Aku nikahkan dengan adikku?"


Deg!


Jantung Romi seakan-akan berhenti berdetak, di saat mendengar jawaban yang diberikan oleh bos-nya.


Dia terkejut, dengan sebuah tawaran, yang dia sendiri tidak pernah menyangka, jika ada tawaran pekerjaan yang seperti itu.


"Kamu menikah dengan adikku, yang sekarang ini sudah hamil tiga bulan."


Deg!


Romi kembali terkejut, dengan apa yang baru saja dia dengar.


'Bagaimana bisa Aku menerima tawaran ini?'

__ADS_1


'Bagaimana dengan Linda? dia sangat aku cintai.'


__ADS_2