Tante Melinda

Tante Melinda
Sebuah Rayuan


__ADS_3

Sore harinya, Ferry pulang ke rumah mertuanya. Karena istri dan anaknya masih ada di sana.


"Mbak, jeruk sama kelengkeng satu kilo semua ya!" pinta Ferry, yang mampir ke kios buah terlebih dahulu.


Dia ingin membawakan oleh-oleh buah untuk anak dan yang lainnya juga.


"Baik Mas. Di pisah setengah kiloan apa jadi satu Mas?" tanya penjual buahnya.


"Jadi satu aja Mbak, gak apa-apa. Tapi pisah, jeruk sama kelengkeng nya ya Mbak!"


Penjual buah pun mengangguk mengiyakan permintaan Ferry, kemudian mulai menimbang jeruk. Setelah Ferry juga memilih-milih buah jeruk yang dirasa cukup segar dan manis.


Begitu juga saat memilih kelengkeng. Bahkan penjual buahnya sampai meminta pada Ferry, supaya mencoba buahnya terlebih dahulu.


"Kelengkeng ini baru Mas. Masih seger dan manis lho Mas. Ini Kelengkeng nya, asli dari daerah Bandungan, Semarang. Makanya besar-besar, dengan bijinya yang kecil. Jadi bisa dipastikan jika dagingnya lebih tebal."


Penjual buah mempromosikan kelengkeng yang dia jual, dengan membukakan satu biji untuk Ferry. Memperlihatkan keadaan buah tersebut, jika apa yang dia katakan tadi benar. Bukan sekedar promosi belaka.


Ferry pun mencoba buah yang diberikan penjual padanya, kemudian memakan buah tersebut. "Hum... manis," kata Ferry memberikan penilaian terhadap buah kelengkeng tersebut.


"Bagaimana, mau satu kilo apa dua kilo?" tanya penjual buahnya tersenyum.


Dia berpikir bahwa, strategi penjualnya berhasil, sehingga membuat pembeli akan menambah jumlah yang akan dibeli nantinya.


"Satu kilo aja Mbak, jangan banyak-banyak. Gak bagus juga buat tenggorokan anak kecil, juga ketahanan tubuhnya. Kan bisa demam jika kebanyakan."


Mendengar jawaban yang diberikan oleh Ferry, membuat penjual buah tersenyum tipis. Karena itu memang ada benarnya juga.


Jadi, menurut penuturan banyak orang, mengkonsumsi buah kelengkeng yang berlebihan, ada sebagian orang yang sensitif. Karena bisa memicu iritasi pencernaan, yang bisa ditandai dengan mual, muntah, dan diare.


Bahkan untuk orang yang sedang batuk atau demam, diusahakan untuk tidak mengkonsumsi buah kelengkeng.


"Tapi... bolehlah itu anggurnya, tapi setengah kilo aja Mbak. Buat bapak mertua."


Mbak-mbak penjual buah pun merasa senang, karena Ferry menambah belanjaannya dengan membeli anggur.


Setelah selesai menimbang, dan Ferry membayar sejumlah uang yang harus dia bayar. Penjual buah tersebut berterima kasih.


"Terima kasih Mas, sudah membeli buah-buahan di kios ini. Semoga bermanfaat dan besok-besok beli lagi ya Mas!"


"Sama-sama," sahut Ferry, membalas salam dan ucapan dari pembeli buah.


Setelahnya, Ferry kembali melanjutkan perjalanan menuju ke rumah mertuanya. Dengan membawa buah-buahan yang baru saja dia beli tadi.


'Semoga Erli suka. Dan mau pulang ke rumah tanpa banyak rewel.'


Ferry membatin dan berharap, supaya anaknya bisa diajak pulang, tanpa banyak alasan dan drama. Yang biasanya terjadi, jika harus pulang ke rumah, saat dia masih ingin berada di rumah simbahnya.

__ADS_1


*****


Di rumah ibunya Linda.


Erli baru saja selesai mandi, di bantu oleh mamanya. Dan sekarang, dia sedang berganti pakaian di kamar.


"Ma. Nanti Papa pulangnya ke sini dulu kan?"


"Kenapa Sayang? Erli sudah mau pulang?" tanya Linda, yang tidak langsung menjawab pertanyaan dari anaknya itu.


"Yahhh... Mama."


"Hum... ya-ya. Papa pasti ke sini dulu kok. Kenapa sih Sayang?" tanya Linda lagi, yang mengingat kembali, jika tidak biasanya Erli bersikap seperti ini.


Biasanya, Erli justru enggan untuk diajak pulang ke rumah. Dengan berbagai macam alasan. Karena dia masih ingin berada di rumah simbahnya dulu.


Tapi ternyata kali ini berbeda. Erli justru tidak sabar, menunggu kedatangan papanya.


"Kata papa, nanti Erli dibawakan kelengkeng Ma. Kan enak!"


Sekarang Linda tahu, jika ternyata anaknya itu sudah diberikan janji terlebih dahulu sama papanya, dengan rayuan buah kelengkeng.


"Kapan papa bilang sama Erli?"


"Tadi. Bukan tadi, tapi pas pagi, saat papa baru mengeluarkan motornya."


"Paling bentar lagi pulang Sayang."


"Nah, sekarang sudah rapi dan wangi. Erli sama simbah Kakung dulu di teras apa depan TV ya! mama mau ganti pergi mandi dulu."


Erli pun menganggukkan kepalanya dengan cepat, kemudian turun dari tempat tidur. Berlari-lari kecil menuju ke arah luar kamar.


"Mbah Kung... Mbah Kung!"


Erli memanggil-manggil Mbah Kung, yang ternyata sedang duduk-duduk di teras depan.


"Eh... sini-sini! Hemmm... udah wangi ya," sambut simbah Kakungnya, dengan menepuk-nepuk kursi yang ada di sebelahnya. Meminta pada Erli, supaya ikut duduk bersama dengannya.


"Sudah dong Kung. Erli mau tungguin Papa pulang kerja!"


"Hemmm... tumben?" tanya simbah kakungnya dengan mengeryit heran. Karena mendengar jawaban yang diberikan oleh cucunya itu.


Menurut Simbah kakungnya, Erli itu susah diajak pulang ke rumah, jika sudah berada di rumah ini. Rumah simbahnya.


"Besok Erli sekolah Kung."


"Mbah Kung juga sudah sehat kan? Jangan sakit lagi ya Kung!"

__ADS_1


"Hehehe... cucu siapa sih ini, pinter banget!"


"Hihihi... masak Mbah Kung lupa, Erli cucunya siapa? Ya cucunya Mbah Kung sama Mbah Putri kan?"


"Hahaha..."


Tawa keduanya, Erli dan simbah kakungnya, membuat simbah putrinya yang ada di dalam rumah keluar. Karena ingin melihat, apa yang terjadi. Yang membuat suami dan cucunya itu tertawa-tawa senang, hingga terdengar sampai ke dalam rumah.


"Hayooo... ada apa ini? Kok ketawa-ketawa senang gitu. Sampai kedengaran lho ke dalam rumah sana!" tunjuk simbah putrinya, dengan menunjuk ke arah rumah.


"Ahhhh, Mbah Putri pengen tau juga nih!"


"Mbah Putri kepo ya Sayang? Kasih tahu gak nih Simbah putrinya?"


Erli dan simbah kakungnya, justru menggoda Simbah putrinya. Yang penasaran ingin tahu, apa yang membuat keduanya sama-sama tertawa senang.


"Ohhh, kompak ya mau ngerjain Simbah Putri?" ancam ibunya Linda, yang membuat Erli dan juga Simbah kakungnya tertawa-tawa kecil, dengan menutup mulutnya sendiri-sendiri.


"Ya wes lah. Simbah mau nerusin masak. Awas kalau minta masakan Simbah!"


Akhirnya ibunya Linda mengalah, tapi dengan memberikan keduanya ancaman juga. Yang membuat Erli bersama Simbah kakungnya justru semakin terkikik geli setelah mendengarnya.


"Ihsss... kalian ini! Mbah..."


Tin tin!


Tapi sebelum Simbah putrinya kembali mengatakan apa yang ingin dikatakan, motor Ferry berhenti di halaman depan rumah.


"Papa pulang... asyekkk..."


Plok plok plok!


Erli menyambut kedatangan papanya sambil bertepuk tangan, dan bersorak senang.


Ibunya Linda langsung pamit pada suaminya, jika dia harus melanjutkan masaknya. Yang tadi sempat dia tinggalkan.


"Pak. Erli ya pak dijagain. Ibu mau lanjut masak lagi."


Bapaknya Linda hanya mengangguk saja, mendengar perkataan yang diucapkan oleh istrinya itu.


Tak lama kemudian.


"Assalamualaikum Pak."


"Waallaikumsalam... awas Erli, papa masih capek dan baru saja datang. Jangan minta gendong ya!"


Bapaknya Linda pun menjawab salam yang diucapkan oleh Ferry, dengan memberikan nasehat pada cucunya, yang sedang minta digendong papanya.

__ADS_1


__ADS_2