Tante Melinda

Tante Melinda
Sadar Diri


__ADS_3

Malam ini, Della mengutarakan niat dan rencananya pada Danang. Di saat mereka bersiap untuk tidur.


"Mas. Della, Della mau buka usaha pesanan kue boleh gak?" Della sangat berhati-hati, pada saat meminta ijin pada suaminya.


Danang masih diam, mendengarkan apa yang ingin dikatakan oleh istrinya lagi.


Tapi ternyata, setelah beberapa lama menunggu, Della tidak melanjutkan kata-katanya lagi. Sehingga Danang mengajukan pertanyaan pada istrinya itu.


"Memangnya Kamu sudah yakin Yang, dengan pemasaran dan segala sesuatunya, dari resiko dan sebagainya itu lho."


Danang membuka jalan pikiran Della, dengan memberikan pengertian dan pandangan kedepannya bahwa, usaha seperti itu tidak hanya berpatokan pada saat ada pesanan saja. Karena ada nasib karyawan yang ikut bersamanya, dalam usaha mereka nanti.


Jika hanya mengandalkan pesanan, Della tidak bisa mengambil karyawan tetap. Dan itu juga akan menyulitkan dirinya sendiri.


"Kamu paham kan maksud dari perkataan Mas ini Yang?"


"Mas tidak melarang, apapun yang ingin Kamu lakukan. Yang penting, itu dipikirkan masak-masak, dan dari berbagai sisi juga. Lagipula, apa sih yang sebenarnya Kamu pikirkan? Apa hanya karena kamu merasa kesepian di rumah, atau Kamu takut kekurangan uang karena sudah tidak bekerja lagi?"


Pertanyaan yang diajukan oleh suaminya ini, membuat Della tersadar. Dia memang menakutkan dua hal tersebut.


"Maaf Mas," ucap Della dengan menundukkan wajahnya. Karena ternyata, Danang bisa menebak isi pikirannya saat ini.


"Yang, jika Kamu merasa kesepian, Aku tidak pernah melarang mu melakukan apapun, yang ingin Kamu lakukan. Yang penting itu bermanfaat, dan tidak membuat mu capek."


"Tapi jika Kamu takut jika kekurangan uang, bukankah Kamu tahu, berapa sekarang ngajiku? Itu sudah lebih dari cukup, untuk menghidupi kita berdua."


Della semakin menunduk, karena merasa bersalah atas apa yang menjadi ketakutan dan pikirannya.


"Jangan pernah merasa, jika kehadiranmu itu merepotkan ku. Dan jangan pernah merasa, jika Aku menuntut mu supaya bisa menghasilkan uang."


"Tidak Yang."


Danang berusaha memberikan pengertian kepada istrinya yang sepertinya sedang merasa lelah dan sensitif, terhadap keadaan dirinya sendiri.


Sekarang Danang memeluk istrinya, dengan mengecup keningnya beberapa kali. Agar istrinya itu tidak merasa diabaikan oleh nya, yang sudah semakin sibuk di tempat kerja.


"Hiks hiks hiks... maaf Mas. Della, Della hanya tidak mau menjadi beban saja. Jika ada yang bisa Della kerjakan, kenapa tidak."


Dengan terisak-isak, Della menyatakan perasaannya dan apa yang dipikirkan saat ini.


Danang semakin mempererat pelukannya, supaya istrinya itu merasa lebih tenang dan dibutuhkan olehnya. Bukan hanya karena apa yang dia miliki selama ini.


"Kamu adalah istriku. Aku yang akan menanggung semua yang Kamu butuhkan. Yang penting, Kamu tetap mendoakan Aku supaya tetap sehat, dan dalam lindungan Allah SWT. Jika soal rejeki, jika kita bersyukur itu pasti akan cukup. Lagipula, Kamu beristirahat dan tidak kerja lagi, supaya program hamil kita juga bisa berhasil kan?"

__ADS_1


Danang mengingatkan pada istrinya itu, dengan rencana awal mereka. Pasca operasi sedot kelenjar tiroid beberapa waktu yang lalu.


Kini, Della membalas pelukan suaminya dengan erat, karena menyadari kesalahan yang dilakukannya. Dengan semua pemikiran yang ada pada dirinya tadi pagi.


Tapi kondisi Della ini, di maklumi oleh Danang. Yang tahu bagaimana karakter seorang Della, sudah terbiasa mandiri dengan apa yang menjadi kebiasaannya sehari-hari.


Mungkin karena dari kecil dia ikut dengan pamannya, hingga harus mengerjakan apa-apa sendiri. Dan pada saat kakaknya harus bekerja di kota besar, dia juga harus hidup sendiri.


"Kamu tidak usah banyak pikiran Yang. Apa-apa yang ingin Kamu utarakan, utarakan saja sama Aku. Kamu bebas mengemukakan pendapat, dan Aku tidak mau jika Kamu justru merahasiakannya dariku. Karena itu akan membuatku merasa sangat bersalah, seandainya terjadi sesuatu denganmu."


Cup!


Della semakin menangis tersedu-sedu, mendengar ucapan suaminya. Karena merasa bahagia, dengan cara suaminya itu memperlakukan dirinya saat ini.


Apalagi, Danang juga memberinya rasa nyaman, dengan kecupan-kecupan singkat di keningnya.


Itu menandakan bahwa, suaminya itu serius dengan apa yang dia katakan tadi. Bukan hanya sekedar pingin memberinya ketenangan sementara saja.


Akhirnya, setelah Della sedikit tenang, Danang mengajaknya untuk tidur.


"Ya sudah Yang, ayok kita tidur. Besok-besok, jika Aku sudah bisa ambil cuti, kita pergi jalan-jalan ya ke kota besar. Untuk menjenguk Mbak Linda dan mas Romi."


"Kamu kangen Erli juga kan?"


Della langsung mengangkut cepat, dengan tawaran yang diberikan oleh suaminya.


*****


Di rumah pamannya Romi.


Sekarang ini, kondisi pamannya itu semakin parah saja. Dia tidak bisa berpikir apapun yang dia makan atau minum.


Jika disediakan makanan dalam jumlah banyak, dia akan menghabiskannya waktu itu juga, tanpa ada sisa sedikit pun.


Tapi jika tidak ada makanan, dia akan berteriak-teriak memintanya, dengan ucapan ucapan yang kotor. Karena merasa bahwa dia diabaikan dan tidak diperhatikan.


Begitu juga saat disediakan obat. Dia akan meminumnya, bahkan sampai habis. Dan tidak sesuai dengan dosis.


Hal ini tentu saja membuat istrinya merasa khawatir, seandainya suaminya itu overdosis.


Karena beberapa hari yang lalu, suaminya itu sudah hampir overdosis. Karena semua obat yang ada di dekatnya diminum sampai habis.


Untungnya pada saat itu masih bisa ditolong, tapi harus melakukan perawatan di rumah sakit selama tiga hari.

__ADS_1


Hal ini juga semakin menyulitkan keadaan istrinya, yang harus mencari nafkah sendiri untuk kehidupannya dan anak-anak. Sedangkan tabungan mereka sudah tidak ada lagi yang tersisa.


Bahkan, istri keduanya sekarang juga sudah tidak pernah datang menjenguk. Sejak resmi bercerai. Karena proses perceraian memang lebih cepat, seandainya salah satu dari pihak yang digugat mengalami gangguan jiwa. Sama seperti yang terjadi pada pamannya romi ini.


"Pak, eling Pak! Jangan seperti ini terus!"


Istri pertamanya itu mengeluh tentang keadaan dirinya, yang semakin tidak terkendali.


Bahkan karang ini, membuang hajat saja sudah di sembarang tempat. Tidak mau pergi ke kamar mandi, karena sepertinya memang sudah bilang ingatan dan tidak mengingat apapun juga.


"Pak, salahmu apa sih Pak? Kok bisa diganjar seperti ini..."


Keluhan demi keluhan, dipertanyakan oleh istrinya. Karena rasa lelah, capek dan kesal pada saat mengurusnya.


"Apa sih! Aku mau minta makan, kenapa tidak Kamu sediakan?"


Suaminya itu, justru membentaknya. Karena dia lupa, jika tadi baru saja makan.


Hal ini sudah sering terjadi, sehingga tetangga-tetangga di sekitarnya, sudah tidak pernah mau datang ke rumahnya. Karena sering dibentak oleh suaminya itu.


Hal ini tentu saja membuat warungnya, atau tokonya sepi. Sehingga lama-kelamaan, tidak ada barang yang bisa dijual dan habis untuk keperluannya sehari-hari.


Akhirnya, istrinya tidak memiliki pemasukan. Dan terus mencari pekerjaan di luar supaya bisa tetap menghasilkan uang.


Sayangnya dia juga pusing, bagaimana caranya dia bisa tetap bekerja, tanpa rasa khawatir. Karena harus meninggalkan suaminya sendiri di rumah yang dalam keadaan seperti itu.


Akhirnya dia meminta saran pada Romi, untuk solusinya kali ini.


Untungnya, romi memberikan saran dan juga mengirimkan apa yang dibutuhkan. Meskipun sebenarnya dia dan juga Romi tidak tega melakukannya pada sang paman.


Akhirnya, kamar yang digunakan oleh pamannya, diberikan pintu besi. Yang menyerupai pintu sel dipenjara, supaya bisa dikunci dengan aman. Dan pamannya itu tidak bisa keluar dari kamar, selama istrinya bekerja di luar.


Hal ini terinspirasi dari rumah sakit jiwa, pada saat romi berkunjung dulu.


Dan istri pamannya itu hanya cukup menyediakan makanan yang disediakan di atas meja, yang ditaruh di luar kamar. Agar bisa diambil sendiri oleh pamannya melalui pintu sel yang dikunci.


Jika anaknya pulang sekolah, juga bisa menyediakan makanan dan minuman tanpa rasa takut jika bapaknya akan mengamuk.


"Sepertinya, Kamu ini kena tulah akan buatan Kamu sendiri ya pak," ujar istrinya, pada saat melihat suaminya itu sudah tertidur.


Dia sudah tidak bisa menangis lagi, untuk meratapi nasibnya sekarang. Karena dia sadar, jika dia tidak mungkin membiarkan suaminya itu terlantar di jalanan. Sama seperti orang-orang yang hilang ingatan, dan tidak dirawat keluarganya.


Dia masih punya sisi baik, mau merawat suaminya yang sudah tidak memiliki apa-apa. Dan hanya bisa merepotkan dirinya saja.

__ADS_1


Untungnya, masih ada keponakannya yang baik hati, yaitu Romi. Yang setiap bulannya masih mau mengirimi uang belanja untuk keluarganya. Setidaknya uang itu bisa memenuhi kebutuhannya sehari-hari, meskipun tidak semua tercukupi.


Tapi dia tetap berterima kasih, pada keponakannya itu. Yang pernah dirawatnya sewaktu masih sekolah dulu.


__ADS_2