
Ternyata Ferry merasa bersalah, dan juga takut. Atas apa yang dia lakukan tadi siang. Karena pada saat dia ingin beristirahat untuk mencari makan, justru mbak Nana datang dan mengajaknya pergi.
Tapi karena tidak mungkin pergi ke hotel atau ke rumah mbak Nana. Akhirnya Ferry mengajak Mbak Nana pulang kerumahnya. Karena Ferry berasalan jika mau mencuci.
Tapi Mbak Nana justru memberikan usulan, supaya Ferry menitipkan cucian baju kotornya di bawa ke laundry saja. Supaya kegiatan mereka yang singkat nanti, tidak terganggu dengan pekerjaan mencuci pakaian kotor.
Dan begitulah akhirnya. Ferry melakukan semuanya dengan mbak Nana di kamar pribadinya dengan Linda.
Dan untuk menghindari kecurigaan Linda, dia juga mengganti seprai di kamar, dengan yang baru saja di cuci Linda. Yang ada di lemari. Kemudian seprai yang tadi mereka berdua gunakan untuk berolah raga, ikut disusulkan ke laundry.
Untungnya, malam ini dua tidur lagi di rumah mertuanya. Jadi apa yang dia lakukan masih bisa dirahasiakan.
'Huhff, untung saja Linda tidak minta pulang. Jadi aman kan.' batin Ferry, merasa lega.
"Pa. Papa! Ayok tidur. Erli ngantuk banget nih," ajak Erli, membuat Ferry sadar dari lamunannya.
"Yok!"
"Dek, Aku mau nemenin Erli tidur dulu ya!"
Linda mengangguk mengiyakan. Dia masih duduk di depan TV, melihat acara yang sebenarnya tidak masuk ke dalam penglihatannya.
Mungkin saja mata Linda tampak melihat ke layar TV tersebut. Tapi tidak dengan hati dan pikirannya. Karena ada sesuatu yang sedang dia pikirkan saat ini.
^^^'*Apa ini adalah keputusan yang tepat? Jika Aku keluar dari pekerjaan ini, bagaimana caranya Aku membantu ibu dan bapak juga nanti?'^^^
'Aku bisa kerja apa di rumah*?'
Banyak sekali pertanyaan demi pertanyaan yang muncul di hatinya Linda. Saat dia berpikir jika, dia jadi mengundurkan diri dari pekerjaannya nanti.
Dalam keadaan seperti ini, Linda teringat akan kejadian demi kejadian di masa lalunya yang dulu. Di mana awal-awal pernikahannya yang datar dan tidak ada moment yang indah.
Di tambah lagi setelah melahirkan Erli. Banyak kekerasan fisik yang dia terima dari suaminya sendiri.
Dan semuanya itu terjadi, tanpa dia bisa melakukan apa-apa. Karena dia tidak ada uang sendiri. Yang bisa digunakan untuk membuat dirinya punya keberanian, dalam melawan kesewenang-wenangan Ferry.
Tapi semuanya dilewati Linda dengan kesabaran, meskipun penuh dengan air mata dan kesedihan.
Semuanya kembali membaik, tak lama setelah dia bekerja di pabrik yang sekarang ini. Dengan posisi jabatan yang dia miliki, tentunya juga sangat berpengaruh terhadap penghasilannya setiap bulan.
__ADS_1
"Hahhhh..."
Linda menghela nafas panjang, kemudian membuangnya perlahan-lahan. Kini dia memejamkan matanya, sambil mengingat kembali semua yang sudah dia lakukan selama ini.
Karena jabatan yang dia miliki saat ini, juga dengan sebuah pengorbanan. Yang dia lakukan bersama orang-orang, yang memiliki pengaruh besar di perusahaan tersebut.
Linda sadar jika, apa yang dia lakukan salah. Dia hanya terpaksa harus melakukannya lagi dan lagi. Karena selain untuk mendapat kemudahan, dia juga ikut menikmati semuanya.
Hal yang tidak pernah dia rasakan pada suaminya sendiri. Dan anehnya, dia merasakan kepuasaan tersebut. Sama seperti yang biasanya dia lakukan sendirian.
Keanehan inilah, yang selama ini menjadi sebuah misteri yang belum bisa dijawab oleh Linda sendiri.
Dan untuk beberapa waktu terakhir ini, dia pun harus melakukan sesuatu yang tidak bisa dia lakukan bersama suaminya. Untuk meraih kepuasan tersebut.
Karena dia sudah tidak lagi mau dekat-dekat dengan pak Rudi, ataupun pak Komarudin.
Meskipun ujung-ujungnya, dia harus sering kali pergi ke kamar mandi untuk bisa mendapatkan kepuasan tersebut.
'Kapan Aku bisa menghilangkan kebiasaan ini? Apa yang terjadi pada diriku ini sebenarnya?'
Pertanyaan demi pertanyaan itu, kembali datang dalam lamunan Linda. Hal yang menjadi pertanyaannya selama ini.
"Dek."
Ferry memanggil Linda, supaya pergi tidur juga. Karena besok pagi, istrinya itu sudah harus berangkat kerja juga.
Tapi panggilannya tidak dihiraukan oleh Linda. Karena Linda masih tampak diam dan tidak menyahuti panggilannya tadi.
"Dek. Kamu gak tidur?"
Akhirnya Ferry mendekati Linda, dengan memegangi pundak istrinya.
"Ehhh, Mas."
Linda tampak terkejut, saat pundaknya disentuh oleh suaminya. Dan juga mendengar suara ajakan untuk tidur.
"Sedang mikirin apa?" tanya Ferry ingin tahu.
Sebelum menjawab pertanyaan dari suaminya, Linda menghela nafas panjang terlebih dahulu.
__ADS_1
"Gak apa-apa kok Mas. Cuma mikirin bapak saja."
Linda membuat alasan yang cukup logis juga. Karena saat ini, sangat wajar jika dia sedang memikirkan bapaknya. Yang sedang dalam keadaan sakit di rumah sakit.
"Sabar Dek. Bapak pasti sembuh. Atau Kamu mau memindahkan bapak ke rumah sakit yang lebih besar?"
Linda tampak ragu untuk menjawab pertanyaan tersebut. Meskipun sebenarnya, apa yang ditanyakan oleh Ferry, juga sudah dia pikirkan sebelumnya. Hanya saja, dia terkendala dengan biayanya.
"Bagaimana?" tanya Ferry, mendesak Linda supaya menjawab pertanyaan dan usulannya tadi.
"Pengennya Mas. Tapi... Linda tidak punya uang banyak. Untuk biaya ke rumah sakit besar." Akhirnya Linda mengatakan alasannya, kenapa dia sedang banyak pikiran saat ini.
"Uang di tabungan ada kan? ambil saja Dek!"
Linda menyipitkan matanya, untuk memastikan bahwa apa yang dia dengar tadi tidak salah.
"Tapi Mas, itu uang..."
"Gak apa-apa. Pakai aja dulu."
"Jika kurang, besok Mas coba bicara dengan beberapa teman. Siapa tahu ada yang bisa kasih pinjaman."
Ferry berkata demikian, seakan-akan semuanya bisa dia atasi dengan mudah.
"Kamu tenang aja Dek. Mas gak apa-apa. Pakai aja dulu. Kan keluargaku juga belum minta uang itu."
Tapi Linda tetap saja ragu, untuk memutuskan apa yang akan dia lakukan untuk bapaknya nanti.
"Nunggu besok aja Mas. Danang sudah Aku kasih pesan tadi. Untuk bertanya lebih dulu pada dokter yang menangani bapak." Tutur Linda menerangkan.
Ferry pun mengangguk mengiyakan saja. Dia tidak mau mendesak istrinya itu, untuk usulannya yang tadi.
Sebenarnya, dia bisa aja minta uang pada mbak Nana. Karena beberapa hari yang lalu, mbak Nana juga menawarkan tabungannya, untuk digunakan sebagai tambahan modal atau membuka tempat usaha sendiri.
Ini karena mbak Nana sudah tidak nyaman, jika bertemu dengan Ferry di pengilingan padi tersebut. Ada beberapa mata, yang seakan-akan memantau dan memata-matai dirinya. Jika sedang bersama dengan Ferry.
Mbak Nana merasa khawatir jika, apa yang dia pikirkan benar adanya. Ada seseorang yang sedang melakukan penyelidikan, kemudian dilaporkan kepada suaminya.
Bisa-bisa dia akan di usir dari rumahnya yang sekarang ini. Dan yang lebih parahnya lagi, dia akan diceraikan oleh suaminya yang selalu memberinya kemewahan dunia.
__ADS_1