
Seminggu kemudian, Danang sudah masuk kerja. Dia sedang Mada training, di perusahaan yang sama seperti tempat Linda bekerja.
Tapi, dia ada di gedung lain. Dan bekerja di bagian office sebagai PPIC.
PPIC adalah singkatan dari Production Planning and Inventory Control. Istilah PPIC sudah sangat familiar dalam bidang usaha industri. Seperti manufaktur dan jenis industri lainnya. PPIC berkaitan juga dengan posisi atau jabatan di suatu perusahaan yang berhubungan dengan proses produksi.
Tugas PPIC biasanya membuat dan menangani pesanan untuk proses produksi. Memperkirakan kebutuhan inventaris. Meninjau perkiraan penjualan dan permintaan produk. Penjadwalan proses produksi berdasarkan tingkat bahan baku yang tersedia. Yang lebih sering disebut dengan SPK.
SPK adalah surat perintah kerja tertulis, yang diterima oleh karyawan, sebagai patokan untuk melakukan pekerjaan sesuai target yang ditetapkan untuk produksi.
Dan SPK ini berkaitan antara devisi satu dengan yang lainnya. Karena akan berpengaruh terhadap hasil produksi yang dihasilkan. Untuk kebutuhan ekspor perusahaan.
"Kamu yang rajin belajarnya. Soalnya ini kerjanya gak main-main Nang," pesan Linda, kepada adiknya.
Pagi ini, sebelum bel masuk berbunyi, Linda dan Danang bertemu di pos security.
Mereka berdua, berbincang-bincang sebentar, sebelum berpisah menuju ke gedung masing-masing.
"Ya Mbak," jawab Danang singkat.
"Weh, Mbak Linda ada brodong nih? hehehe..." tanya salah satu security yang sedang berjaga.
"Adik Saya kok Pak," sahut Linda memberitahu.
"Masa sih Mbak?" tanya security tersebut tidak percaya.
Tentu saja security tersebut tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Linda barusan. Secara, fisik maupun wajahnya, memang tidak sama seperti Danang.
Linda yang lebih cenderung ke bule-bule-an, sedangkan Danang asli jawa. Meskipun wajahnya tampan, tapi warna kulitnya tetap coklat atau sawo matang.
Jadi, yang baru saja mengenal mereka berdua, tentu saja tidak akan percaya begitu saja. Jika mereka mengaku sebagai kakak beradik satu ayah dan ibu.
Begitu juga dengan banyaknya karyawan yang sedang lewat.
Mereka pasti akan menoleh ke arah keduanya, Linda dan Danang, yang duduk di depan pos security.
Mungkin di dalam hati mereka, mengira jika Linda ada cem-ceman baru. Sama seperti yang tadi dikatakan oleh security. Yang mengira jika, Danang adalah pacar berondong Linda.
"Iya Pak. Dia adiknya Linda. Masa iya, Linda udah jadi tante-tante yang doyan berondong sih? hehehe..."
"Aduh maaf mbak Linda. Saya kan gak tahu. Saya pikir, keluarga mbak Linda ya sama seperti mbak Linda juga. Bule gitu deh," tutur security menjelaskan kesalahpahaman yang dia lakukan.
"Hehehe... iya Pak. Udah biasa itu. Banyak yang salah paham memang."
__ADS_1
Security tersebut mengangguk dan tersenyum canggung, karena merasa bersalah atas perkataannya tadi.
"Mbak Linda. Ini adiknya kan?"
Dari arah gerbang, muncul pak Yus, yang datang bersama dengan pak Rudi.
"Selamat pagi Pak. Iya, ini adiknya Linda. Danang," jawab Linda, setelahnya mengucapkan selamat pagi pada pak Yus.
"Oh, ya sudah. Ikut dengan Saya. Nanti biar Saya yang atur!"
Linda mengangguk mengiyakan. Kemudian meminta pada Danang, supaya ikut bersama dengan Pak Yus.
Danang mengangguk mengiyakan juga. Kemudian berjalan mengekor pak Yus.
Sedangkan Linda sendiri, akhirnya berjalan menuju ke gedungnya, bersama dengan pak Rudi. Karena Pak Rudi sengaja berhenti, menunggu dirinya.
"Danang udah Kamu kasih tau kan, jika harus bersungguh-sungguh? Karena banyak banget saingannya kemarin itu. Yang melamar pekerjaan dengan mengunakan ijasah sarjana."
Linda hanya mengangguk saja, tanpa menyahuti perkataan yang diucapkan oleh pak Rudi.
Dia tahu jika, diterimanya Danang bekerja di perusahaan ini, juga atas campur tangan dari pak Rudi. Yang tentunya meminta pada pihak HRD, untuk mengutamakan Danang. Baru kemudian pelamar kerja yang lain.
"Besok akhir pekan kita jalan-jalan ya Lin! Udah lama kita gak ada kesempatan buat pergi-pergi."
"Lin," panggil pak Rudi, karena Linda tidak menyahuti perkataannya. Tapi justru melihat-lihat ke segala arah.
"Eh, iya Pak."
"Awas ya, jangan boong!"
Linda melongo sendiri, ketika sadar dengan apa yang dia katakan tadi. Padahal, tadi dia bermaksud untuk mengiyakan panggilan pak Rudi. Bukan mengiyakan permintaan dari pak Rudi yang tadi.
Tapi dia tidak mungkin bisa menjelaskan. Karena pak Rudi sudah membuat kesimpulannya sendiri. Dan dari perkataannya yang terakhir, tersirat jika, pak Rudi tidak mau ada penolakan dari Linda.
*****
Di pengilingan Padi.
Pemilik pengilingan padi datang pagi sekali. Padahal dia jarang sekali datang, apalagi pagi hari seperti ini.
Tapi ternyata dia tidak sendirian. Karena tak lama kemudian, datang temannya yang lain.
Dari perawakan dan wajahnya, Ferry sepertinya tidak asing lagi dengan teman dari pemilik pengilingan padi ini.
__ADS_1
Tapi, saat ini Ferry tidak bisa mengingat-ingat, di mana dia pernah bertemu, atau setidaknya kenal dengan tamu temannya itu.
"Mus. Ini ada sekian truk sekam nya, jika di angkut."
"Ya karungin dulu. Baru cari truk. Gampang itu kok!":
Dari pembicaraan keduanya, sepertinya Ferry dapat menyimpulkan bahwa, tamunya itu akan membeli sekam padi. Yang memang ada banyak di bagian belakang pengilingan padi ini.
Sekam padi mengunung, ada di bagian belakang. Karena cerobong pembuangan sekam, memang tepat berada di bagian belakang.
Beberapa saat kemudian.
"Kenapa Fer?" tanya pemilik pengilingan padi, yang melihat Ferry bengong saja sendirian. Memerhatikan dia dan tamunya, yang baru saja pamit pulang.
"Gak. Gak apa-apa. Tadi, tamunya kok Aku kayaknya gak asing aja."
Jawaban yang diberikan oleh Ferry, membuat pemilik pengilingan padi tersenyum. Dia tahu jika, Ferry pasti mengenal tamunya tadi. Karena tamunya tadi, masih ada tali persaudaraan dengan istrinya, Linda.
"Ya pasti Kamu kenal Fer, coba ingat-ingat!"
Ferry menautkan kedua alisnya, mendengar perkataan yang diucapkan oleh pemilik pengilingan padi.
Tapi di saat dia mencoba untuk mengingat kembali wajah tamu tadi, dia hanya bisa tersenyum dan menggelengkan kepalanya beberapa kali. "Nyerah. Aku gak ingat. Hahaha... ternyata Aku sudah tua ya. Jadi pikun!" ujar Ferry dengan tertawa lepas.
"Lah, kok baru nyadar jika Kamu sudah tua Fer?" ledek pemilik pengilingan padi pada Ferry, temannya sendiri.
"Iya-iya. Kok gak terasa emang udah tua Aku," sahut Ferry tersenyum kecut.
Dia baru sadar jika, saat ini umurnya sudah menginjak tiga puluh lima tahun. Karena dia dengan Linda memang terpaut lumayan jauh. Ada sekitar delapan tahunan.
Tapi dulu itu tidak begitu terlihat jelas. Karena seragam polisi yang dia kenakan, membuatnya tetap terlihat gagah dan tampan.
Sayangnya, semua itu sudah tidak lagi sama. Semua berlalu seiring dengan berjalannya waktu.
Sekarang dia hanya bisa berusaha seperti ini. Tidak ada lagi seragam polisi yang mentereng, yang membuat orang segan saat bertemu dengannya.
Kini dia hanya pedagang beras kecil. Yang modalnya saja diberi oleh keluarganya.
Kadang, di saat kesadaran datang seperti saat ini. Ferry benar-benar merasa menyesal. Dengan semua yang sudah dia lakukan dulu.
Tapi kehidupan itu tidak ada yang bisa memprediksi. Semua sudah terjadi. Dan Ferry, hanya bisa berusaha untuk tidak lagi menggunakan cara kekerasan terhadap Linda.
Karena Linda adalah istri yang patuh dan tidak banyak menuntut.
__ADS_1
Begitulah kira-kira pemikiran yang ada di hatinya Ferry. Dia tidak tahu, jika di luar sana, Linda bukanlah seorang istri dari Ferry sang mantan polisi.