
Danang pulang ke rumah, sekitar jam setengah sebelas malam.
Dia harus mengantarkan Della terlebih dahulu, meskipun sebenarnya mereka berdua membawa motor sendiri-sendiri.
Danang hanya mengekor motor Della dari belakang, karena dia tidak mau jika terjadi sesuatu pada Della di jalan. Di saat pulang, setelah tadi bertemu dengannya.
Tok tok tok!
"Buk! Ibuk!"
Danang mengetuk-ngetuk pintu, dengan memanggil ibunya juga.
Clek clek clek!
Kunci pintu di buka dari dalam, kemudian terbuka. Tampak wajah ibunya yang baru saja bangun tidur, karena masih dalam keadaan mengantuk.
"Maaf Bu," ucap Danang cengengesan, melihat ibunya yang sedang dalam keadaan payah menahan kantuknya.
Ibunya hanya mengangguk saja, kemudian kembali masuk ke dalam kamar. Membiarkan Danang yang masih mengurus motornya, untuk dimasukkan ke dalam rumah.
Baru kemudian mengunci pintu rumah lagi.
"Dari mana Nang?"
Danang mendongakkan kepalanya, melihat ke arah suara yang sedang bertanya padanya. Setelah selesai memposisikan motornya diantara motor Linda dan motornya Ferry.
Ternyata itu adalah Linda, yang sedang mengendong Erli. Mereka berdua baru saja datang dari dalam kamar mandi.
"Erli kenapa Mbak?" tanya Danang, yang tidak menjawab pertanyaan dari Linda tadi.
"Gak kenapa-kenapa. Cuma pengen pipis saja tadi." Linda memberikan jawaban dengan penjelasan yang lebih jelas lagi.
Dia menunggu Danang, yang belum memberikan jawaban atas pertanyaan yang tadi dia ajukan.
Tapi ternyata Danang memang sengaja tidak menjawabnya. Karena tidak mau jika ada kesalahpahaman yang terjadi antara mereka berdua. Dengan penjelasan yang nantinya di dengar oleh Linda.
"Kamu dari mana Nang?" tanya Linda lagi, mengingatkan Danang. Jika belum memberikan jawaban padanya.
"Hum... dari malam mingguan lah Mbak. Dari mana lagi, anak muda yang masih jomblo kayak Aku ini," jawab Danang ogah-ogahan.
Linda pun akhirnya hanya menggeleng samar, sebab dia melihat Erli yang sudah kembali mengantuk.
"Ya sudah. Mbak balik ke kamar lagi. Kamu buruan istirahat dan tidur!"
Anggukan kepala Danang, mewakili jawaban yang dia berikan pada kakaknya itu.
Setelah Linda dan Erli kembali ke dalam kamar, Danang tidak langsung masuk ke dalam kamarnya. Tapi duduk terlebih dahulu di depan TV. Meskipun tidak sedang menonton acara televisi.
Dia mengingat kembali percakapannya dengan Della tadi.
__ADS_1
*****
Flashback di taman dekat kecamatan.
Della yang sedang menundukkan kepalanya, karena malu mendapatkan pujian secara tidak langsung dari Danang, membuat Danang juga salah tingkah sendiri.
"Emhhh... Del. A_apa Kamu belum punya pacar?" tanya Danang gugup.
Meskipun ini bukanlah pertama kalinya Danang berhadapan dengan Della, tapi ini adalah untuk pertama kalinya dia bertanya tentang status seorang gadis.
Della tidak segera menjawab pertanyaan tersebut. Mungkin Della merasa malu, dan juga gugup. Karena tiba-tiba mendapatkan pertanyaan seperti itu dari Danang.
"Jika belum, ki_kita bisa kan jadi... jadi sepasang kekasih?"
"Ehh, tapi jika ternyata sudah, tidak apa-apa. Anggap saja tadi... pertanyaan yang Aku ajukan tidak pernah Aku ucapkan."
Danang menunggu jawaban Della dengan gugup. Dadanya terasa sesak, dengan debaran jantung yang tidak normal.
Rasanya mau meledak saja dadanya Danang saat ini. Sama seperti sebuah bom, yang menunggu detik-detik waktu untuk meledak. Tepat pada waktu yang sudah ditentukan.
Tapi sepertinya Della justru memperlambat waktu untuk cepat berlalu.
Dia terdiam tanpa bisa bersuara, untuk menjawab pertanyaan dari Danang. Yang memang tidak pernah dia sangka sebelumnya.
'Apa yang harus Aku katakan?' batin Della bingung dengan situasi ini.
Kini, kedua sama-sama ada pada posisi dan situasi yang tidak pernah mereka bayangkan sebelum ini.
"Maaf Del," ucap Danang tiba-tiba.
"Maaf untuk apa?" tanya Della bingung dengan sikap Danang.
"Tidak usah dipikirkan dan di jawab, jika Kamu tidak mau menjawabnya. Anggap saja semua ini tidak pernah Aku tanyakan."
Ternyata Danang salah paham dengan diamnya Della.
Dia berpikir bahwa, Della tidak mau menerima tawaran untuk menjadi kekasihnya saat ini. Padahal Della juga kebingungan sendiri, untuk bisa menjawab pertanyaan tersebut.
"Bu_bukan begitu Kak. Del_Della mau kok."
Akhirnya keluar juga jawaban yang ditunggu-tunggu Danang sedari tadi.
"Maksudmu... Kamu mau jadi pacarku Del?" tanya Danang tidak percaya dengan pendengarannya sendiri.
Della mengangguk mengiyakan, sambil tersenyum malu-malu. Kemudian segera menundukkan kepalanya, tak kuasa melihat tatapan mata Danang yang sedang berbinar-binar senang. Karena bahagia dengan persetujuannya menerima Danang sebagai kekasih hatinya.
Grep!
Danang memeluk Della dari samping.
__ADS_1
Della jadi terkejut dengan perlakuan Danang yang tidak pernah dia sangka-sangka sebelumnya.
"Terima kasih Del. A_Aku sayang sama Kamu," ucap Danang yang masih memeluk Della dalam posisi duduk.
"Kak. Emhhh... itu, ini..."
"Apa? Apa Della?" tanya Danang antusias.
Dia melepaskan pelukannya pada Della, dan melihat Della yang menghirup udara sebanyak-banyaknya.
Della merasa lega, setelah pelukan Danang terlepas. Dia merasa sesak dan sulit untuk bernafas dengan bebas. Karena pelukan Danang yang tiba-tiba.
Dia menunduk malu, karena melihat Danang yang bingung dengan sikapnya.
"Apa Aku tidak boleh memelukmu?" tanya Danang khawatir, jika Della tidak suka dengan perlakuannya tadi.
"Bukan. Bukan begitu Kak. Della, Della hanya merasa sesak nafas saja. Dan tentu saja ini tidak baik untuk jantung Della selanjutnya.
Danang menyipitkan matanya, mendengar jawaban yang diberikan oleh Della.
Tapi sepersekian detik kemudian, Danang tersenyum senang. Karena menyadari, jika apa yang dikatakan oleh Della memang ada benarnya juga.
Mereka berdua baru saja resmi menjadi sepasang kekasih. Dan bunga-bunga cinta di dalam hati keduanya tentu saja baru bermekaran juga.
Perasaan yang membuncah secara berlebih-lebihan, akan membuat keduanya gelap mata dan bisa kebablasan dalam melakukan sesuatu.
"Maaf. Maaf Del. Aku, aku terlalu senang."
Della pun mengangguk saja, dengan sesunging senyuman yang sangat manis di mata Danang.
Setelah jam menunjuk pada angka sembilan malam, akhirnya Danang mengantarkan Della untuk pulang ke rumahnya. Meskipun dengan mengunakan sepeda motor masing-masing.
Flashback end.
*****
"Heh! bocah gemblung. Ngapain cengar-cengir sendiri? TV juga mati. Ayo, bayangin apa tadi?"
Danang menoleh cepat, karena suara kakaknya yang membuatnya terkejut saat melamunkan Della yang tadi bersama dengannya.
"Ah mbak Linda! ngagetin aja ihsss..." dengus Danang kesal.
"Kamu sih... Tadi Mbak bilang apa? buruan tidur! ngapain malah melamun di depan TV?"
"Ya gimana bisa tidur, jika Danang gak ngantuk!" Danang membuat alasan, mengapa dia tidak segera pergi tidur.
"Hemmm... ada apa? cerita aja ma Mbak Nang? mungkin Mbak bisa jadi tempat bercerita, meskipun gak punya solusinya."
Tapi Danang mengeleng beberapa kali, mendengar perkataan Linda barusan. Kemudian berkata, "gak ada yang serius kok Mbak."
__ADS_1