Tante Melinda

Tante Melinda
Belum Tahu Bagaimana


__ADS_3

Erli terbangun dari tidurnya, di saat mendengar suara papanya, yang baru saja datang.


"Pa... Papa!" teriak Erli dari dalam kamarnya sendiri.


"Tuh Mas, dia langsung bangun kan! Tadi, juga gak mau tidur-tidur dia," kata Linda, begitu mendengar suara anaknya yang terbangun dari tidurnya.


Ferry hanya mengangguk saja, kemudian berjalan menuju ke arah kamar anaknya.


"Pa..."


Terdengar suara Erli sekali lagi. Yang memastikan bahwa, papanya memang benar-benar sudah pulang ke rumah.


Clek!


"Sayangnya Papa!"


Ferry langsung menyapa Erli, begitu dia membuka pintu kamar anaknya itu.


Erli bangun dari tempat tidur, dengan tersenyum senang. Karena melihat papanya yang datang menghampiri dirinya.


"Papa..."


"Hemmm kenapa rewel cantiknya Papa ini?" Ferry bertanya pada anaknya, dengan menciumi kedua pipinya juga.


"Ih, kok udah bau acem sih, Erli ngiler ya? hehehe..."


"Eh gak kok!"


Keduanya sama-sama bercanda dengan riang. Membuat Linda tersenyum di depan pintu kamar Erli.


"Mas. Mau Aku siapkan makan?" tanya Linda, dengan berjalan mendekat ke tempat suami dan anaknya duduk. Yaitu di pinggir tempat tidur, yang Ara di lantai.


Kasur Erli, memang ada di lantai. Sengaja tidak mengunakan dipan, agar Erli tidak terjatuh saat tidur. Karena polah tingkah Erli jika tidur yang sesukanya.


"Gak udah Dek. Sudah makan tadi," jawab Ferry, sambil menatap wajah Linda yang sedang menahan kantuk.


"Sayang. Erli tidur lagi ya! Papa mau ke kamar mandi. Besok, Erli ikut Papa. Mama buat tidur juga. Soalnya besok harus kerja juga."


Erli mengangguk patuh. Dia pun berbaring lagi, dengan ditepuk-tepuk pelan pada bagian punggungnya. Ferry melakukan beberapa kali, kemudian merapikan kembali selimut Erli.


Setelah beberapa saat kemudian, Erli benar-benar kembali tertidur pulas.


"Ayok tidur Kamu Dek! Ngantuk begitu juga," ajak Ferry dengan mengandeng tangan Linda.


Linda pun ikut bangkit, bersama dengan suaminya itu. Dan dia langsung masuk ke dalam kamar, sedangkan Ferry, masuk ke dalam kamar mandi terlebih dahulu.


Malam semakin larut. Linda yang memang sudah capek dan mengantuk, jadi dengan cepat terlelap.


Dan pada saat Ferry sudah selesai, kemudian masuk ke dalam kamar, dia hanya melihat istrinya itu sudah memasuki alam mimpi.

__ADS_1


Dengan pelan, Ferry membaringkan tubuhnya di samping istrinya. Dan sebelum dia ikut ke alam mimpi menyusul Linda, Ferry mencium kening istrinya itu terlebih dahulu.


"Maafkan Mas Dek," gumam Ferry pelan, kemudian membuang nafas panjang.


Setelahnya, dia pun berbaring dengan memeluk tubuh Linda yang memang sudah tertidur pulas. Sejak dia masih berada di kamar mandi.


*****


Jam istirahat kerja.


Linda ada janji dengan beberapa temannya, untuk bisa makan di luar lingkungan pabrik. Karena ada salah satu dari temannya itu, yang sedang merayakan ulang tahunnya.


"Mbak Linda nanti ikut lho ya! Jangan sampai gak."


Linda mengangguk mengiyakan permintaan dari temannya itu. Kemudian membereskan beberapa kertas laporan dari leader-leader yang ada di beberapa device yang dia pegang.


Tapi, di saat Linda hampir saja bangkit dari tempat duduknya, pak Rudi datang menghampiri dirinya.


"Ayok istirahat Lin!" ajak pak Rudi, yang sengaja datang untuk mengajak Linda makan siang.


"Emhhh... iya Pak. Tapi, Linda sudah ada janji dengan teman-teman. Ada yang mau traktir. Ulang tahun dianya," jawab Linda memberikan alasan.


"Oh..."


Mulut pak Rudi hanya membola saja. Tapi, dia tidak langsung pergi dari tempatnya berdiri. Dia malah menunggu Linda yang baru akan melangkah.


"Pak Rudi mau ikut kita?" tanya Linda, yang sebenarnya merasa canggung juga. Karena sebenarnya ini bukan acaranya.


Linda hanya tersenyum simpul, mendengar perkataan yang diucapkan oleh pak Rudi sambil tertawa.


Doa tahu jika, pak Rudi hanya bercanda saja. Karena tidak mungkin juga, pak Rudi mau bergabung dengan teman-temannya yang ini. Karena teman-teman Linda ini, hanya operator produksi biasa. Yang tidak mempunyai jabatan apa-apa.


Tapi, teman-temannya Linda ini adalah seangkatan waktu melamar pekerjaan dulu. Jadi mereka tetap akrab satu sama lain.


Saat menuju ke tempat parkir, Linda di ledek oleh teman-temannya.


"Wah, mbak Linda kok bawa bodyguard ini bagaimana?"


"Kalau begini caranya, bukan Kamu yang traktir. Tapi bodyguard mbak Linda yang nantinya bakalan traktir."


"Asyik dong kita!"


"Yeee, top!"


Linda hanya menanggapi dengan senyuman saja. Dia juga tidak menyahuti perkataan dari mereka semua. Karena pak Rudi juga tidak mengatakan apa-apa padanya tadi.


Tapi karena mereka semua semakin banyak bicara, akhirnya Linda ikut menimpali perkataan tersebut.


"Pak Rudi cuma bareng ke tempat parkir kok. Paling juga Pak Rudi sudah ada janji dengan sesama manager. Atau paling tidak, dengan orang-orang office lah." Linda mengatakan apa yang memang biasanya terjadi.

__ADS_1


"Gak. Aku mau ikut kalian kok. Tapi kali ini Aku minta ditraktir. Besok-besok, pas Aku ada bonus, ganti Kalian semua Aku traktir. Ok!"


"Ok Pak, sepakat!"


"Deal!"


"Sip!"


"Wokeh lah!"


Linda hanya menanggapi dengan senyuman tipis saja. Mendengar apa yang dikatakan oleh pak Rudi barusan.


Dia tidak tahu, apa yang saat ini ada dibenak managernya itu.


"Pakai motor kan ya?" tanya pak Rudi, begitu mereka sudah sampai di gerbang pabrik.


"Iyalah Pak. Jika pakai mobil pak Rudi, malah lama di jalan. Lagian, gak bakal muat juga untuk kita semua. Hehehe..."


Teman Linda yang sedang berulang tahun, menjawab pertanyaan dari pak Rudi.


"Ok. Aku bonceng Kamu ia Lin," pinta pak Rudi, yang sebenarnya menang kurang menguasai kendaraan sepeda motor.


Dia lebih lihai dalam pengemudi mobil. Tapi ternyata tidak dengan sepeda motor, yang notabene justru lebih kecil. Bila dibandingkan dengan porsi mobil yang beroda empat.


"Gak salah Pak?" tanya Linda dengan wajah bingung.


Linda tidak tahu tentang kebenaran yang ada pada pak Rudi ini.


Tapi saat pak Rudi mengangguk pasti, akhirnya Linda hanya mengangguk saja. Tanpa banyak bertanya lagi.


"Lin. Kok Kamu yang di depan?" tanya salah satu temannya, yang melihat Linda membonceng pak Rudi.


"Ternyata bodyguard ganti gender ya sekarang. Hehehe..."


Teman-temannya Linda, masih saja berceloteh tentang apa yang mereka lihat.


Tapi Linda tidak menanggapi dengan serius. Karena untuk saat ini, dia sudah memulai terbiasa dengan keadaan dirinya. Yang memang sering kali dibicarakan oleh orang-orang sekitar.


Baik secara langsung ataupun hanya dibelakangnya saja.


"Kita mau makan di mana?" tanya pak Rudi, saat sudah ada di jalan.


"Katanya ke Lamongan Pak. Yang ada di dekat pertigaan sana."


"Emang warung Lamongan itu buka siang hari begini? Biasanya warung begitu malam hari bukanya," tanya pak Rudi lagi, dengan mendekatkan wajahnya, agar lebih dekat dengan telinga Linda. Karena saat ini mereka berdua sedang naik motor di jalan.


Tentu suaranya akan bersaing dengan deru mesin motor yang berlalu lalang pada siang hari.


Pak Rudi tidak tahu jika, warung Lamongan juga banyak yang buka kada siang hari. Tidak melulu buka pada malam hari saja.

__ADS_1


"Kita lihat saja Pak. Jika gak buka ya... ke bebek Peking aja yang ada disebelahnya."


pak Rudi hanya mengangguk-anggukan kepalanya saja, mendengar jawaban yang diberikan oleh Linda.


__ADS_2