Tante Melinda

Tante Melinda
Tak Perlu Dipikirkan


__ADS_3

Selepas magrib, Erli akhirnya mau diajak pulang tanpa harus ada drama terlebih dahulu. Sebab permintaannya sudah dikabulkan oleh papanya.


Erli dibonceng Ferry, mengunakan sepeda motornya sendiri. Sedangkan Linda mengunakan sepeda motornya sendiri juga. Karena dari hari sabtu, sepulang dari kerja, Linda memang langsung pulang ke rumah ibunya. Dengan mengunakan sepeda motor.


Jadilah mereka mengendarai sepeda motor masing-masing. Tidak sama seperti kebanyakan pasangan suami istri lainnya, yang selalu lengket berboncengan.


Tapi itu tidak dipersoalkan oleh Linda, yang sering mendapatkan pertanyaan dan juga cemooh dari para tetangga sebelah.


"Lin. Kamu gak sedang pisah ranjang kan dengan suamimu?"


"Kok gak pernah boncengan sih jika naik motor, kayak pasangan lain yang normal?"


"Suamimu itu gak romantis ya Lin?"


"Nikah hanya karena pangkat ya begitu. Pas udah gak punya pangkat, ogah di boncengin!"


"Gak beli mobil aja lagi Lin? Kan kalian kerja dua-duanya. Pasti uangnya juga banyak kan?"


"Lin-lin, Kamu kok kayak tekanan batin gitu setelah menikah dengan Ferry!"


"Sayang ya. Cakep-cakep kok akhirnya nguli juga setelah suaminya gak jadi polisi lagi."


"Ehh, katanya mereka berdua sering ribut-ribut lho. Tapi gak tau masalahnya apa sih... secara sekarang suaminya Linda itu kan bukan polisi lagi. Cuma jadi pedagang beras!"


"Walahhh... Kasian banget nasib Linda ya! Sayang sekali cuma begini aja nasibnya sekarang."


Linda hanya bisa menghela nafas panjang, atau memejamkan matanya, saat mendengar perkataan demi perkataan yang dia dengar.


Baik dia mendengarnya sendiri, atau di saat ibunya mengadu padanya. Karena mendengar obrolan orang-orang yang sedang membicarakannya.


"Hahhh... sudahlah Bu. Tidak usah diurusin."


Begitulah Linda memberikan tanggapan, dari cerita yang disampaikan oleh ibunya. Jika dia ada di rumah ibunya.


Jika Linda sudah berkata demikian, ibunya akan terdiam dan tidak ada bicara tentang keadaan dirinya dan juga suaminya lagi. Karena ibunya menyadari, bahwa dia juga patut untuk disalahkan atas keadaan Linda.


*****


Jam tujuh malam, Linda tiba di rumah. Begitu juga dengan Ferry dan Erli.


Mereka sama-sama masuk ke dalam rumah, setelah Linda membuka pintu rumahnya.


"Selamat datang di rumah kembali!" seru Linda, sambil merentangkan kedua tangannya. Seakan-akan sedang menyambut kedatangan suami dan anaknya.


Plok plok plok!


"Yeee..."

__ADS_1


Erli bertepuk tangan dan ikut berteriak senang, mengikuti apa yang dilakukan oleh mamanya.


"Papa. Erli mau lihat cartoon ya!" pinta Erli, setelah papanya selesai memasukan sepeda motornya dan sepeda motor Linda.


"Udah malam Sayang. Tidur aja ya!" ajak Ferry, dengan membuka pintu kamar anaknya.


Dia meletakkan tas milik Erli, kemudian menyusul istrinya di dapur. Meletakkan plastik berisi pakaian kotor, ke dalam mesin cuci. Agar besok atau lusa bisa langsung di cuci Linda tanpa ketinggalan.


"Mas mau makan lagi gak?" tanya Linda, yang sedang menjerang air. Untuk membuat teh hangat.


"Gak Dek. Masih kenyang lah, baru saja makan di rumah ibu kan!"


Linda tersenyum, mendengar jawaban yang diberikan oleh suaminya. Karena mereka semua, memang sudah makan di rumah ibunya, sebelum mereka pulang ke rumah.


Cetek!


"Buat teh hangat aja kalau begitu ya," sahut Linda, sambil mematikan kompor gas.


"Iya Dek. Tapi... coba tanya Erli. Mungkin saja dia lapar," cetus Ferry, yang diangguki juga oleh Linda.


Mereka berdua akhirnya sama-sama menuju ke depan TV, di mana Erli berada. Karena sedang menonton film kartun Spongebob kesukaannya.


"Sayang. Mau makan gak?" tanya Linda pada anaknya itu.


"Gak mau Ma. Kenyang!" tolak Erli, tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar TV.


"Mau teh ini aja!" seru Erli, saat melihat papanya meletakkan teh hangat di meja.


"Erli mau teh? Itu satu buat Erli, biar satunya buat Mama." Ferry menunjuk dua gelas teh yang baru saja dia letakkan tadi.


"Buat mas Ferry aja. Linda gak usah."


"Gak Dek. Minum aja. Aku ke kamar mandi dulu ya!" pamit Ferry, yang menolak tawaran Linda untuk minum teh hangat tersebut.


Linda hanya mengangguk saja, kemudian kembali memperhatikan bagaimana Erli meminum teh di gelas yang ada di depannya.


"Sayang, hati-hati. Masih panas itu," cegah Linda, di saat Erli memegang gelas dan langsung meletakkan kembali ke atas meja.


"Tunggu sebentar, biar tidak terlalu panas saat di minum." Tambah Linda menerangkan.


Meskipun tidak panas sekali, tapi jika Erli yang meminum teh tersebut, tentu saja masih terbilang panas.


"Kirain gak panas Ma. Hehehe..."


Erli justru cengengesan, saat sadar jika teh yang hampir saja dia minum masih cukup panas untuk ukurannya.


Tak lama kemudian, Ferry sudah kembali lagi. Dengan mengenakan pakaian yang lebih santai. Sama seperti biasanya jika sedang berada di rumah.

__ADS_1


"Linda mau bersih-bersih dulu ya Mas," pamit Linda, yang memang belum sempat masuk ke dalam kamar mandi sejak pulang.


Ferry pun mengangguk mengiyakan, tapi dia segera berkata pada Linda, "kamar sudah Aku bersihkan Dek. Tinggal tidur aja kok!"


Linda kembali menoleh dan tersenyum mendengar perkataan suaminya itu. "Iya Mas," sahut Linda, kemudian kembali melanjutkan langkahnya menuju ke arah kamar mandi.


"Erli liat kartun sendiri ya! Papa mau bersihkan kamar tidur Erli dulu," pamit Ferry pada anaknya.


Erli juga menganggukkan kepalanya, mengiyakan perkataan papanya.


Tapi tak lama kemudian, saat Ferry baru saja masuk ke dalam kamarnya, Erli justru menyusulnya dari belakang.


"Pa. Papa!" panggil Erli, yang baru saja masuk.


"Iya Sayang. Erli sudah mengantuk?" tanya Ferry, yang belum sempat membersihkan tempat tidur anaknya.


"Iya. Erli mau tidur, tapi minum teh dulu ya Pa. Abis itu baru tidur." Erli merajuk pada papanya, yang sedang menepuk-nepuk bantalnya. Yang biasa digunakan Erli tidur.


"Hemmm..."


Ferry menjawab dengan deheman yang tidak jelas. Tapi sudah cukup dimengerti oleh Erli.


Akhirnya Erli kembali ke depan TV, menonton acara kartun lagi. Sambil menyeruput teh yang sudah tidak panas lagi.


Ferry baru selesai membereskan kamar Erli, saat Linda datang ke depan TV.


"Kamar Erli sudah Aku bersihkan Dek. Tinggal dia yang belum ke kamar mandi, baru kemudian pergi tidur."


"Iya Mas. Nanti Aku temani dia ke kamar mandi." Linda mengiyakan perkataan suaminya, kemudian melihat Erli yang baru saja selesai meminum teh nya.


*****


Sekarang, Erli sudah tertidur ditemani mamanya.


"Sudah tidur Erli nya Dek?" tanya Ferry, yang melihatnya dari depan pintu kamar.


"Ya Mas. Baru saja tidurnya."


Linda melepaskan tangan anaknya, yang tadi merangkul lengannya. Kemudian digantikan dengan guling berukuran kecil.


Sekarang dia menutup pintu kamar Erli, sebab suaminya sudah kembali ke depan TV.


"Mas, gak tidur?" tanya Linda, saat melewati Ferry yang serius memperhatikan acara televisi, yang tentu saja tidak lagi kartun.


"Iya Dek."


Ferry memencet remote TV, kemudian beranjak dari tempat duduknya. Menyusul Linda yang sudah masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


__ADS_2