Tante Melinda

Tante Melinda
Mau Sate?


__ADS_3

Dengan naik taksi, Linda di ajak Pak Rudi untuk pergi makan malam.


Mereka berdua, tidak ikut bersama dalam acara atau kegiatan yang dilaksanakan bersama para peserta training yang lainnya. Di gedung, tempat mereka melaksanakan training dan juga menginap.


Linda memperhatikan bagaimana jalanan Jakarta yang tetap ramai meskipun malam hari.


Hilir mudik kendaraan beroda empat ataupun dua, ibarat arus sungai yang mengalir deras. Karena kendaraan-kendaraan tersebut, melaju seperti sedang mengejar waktu. Melesat dengan cepat.


"Kamu pernah ke Jakarta Lin?" tanya pak Rudi. Dia melihat Linda, yang sedari tadi memperhatikan kondisi jalan dari jendela taksi.


Linda menoleh, kemudian mengangguk mengiyakan pertanyaan yang diajukan oleh pak Rudi.


"Oh..."


Mulut Pak Rudi hanya membola. Menanggapi jawaban yang diberikan oleh Linda, yang hanya menganggukkan kepalanya saja.


Setelah saling diam, pak Rudi tidak bisa menahan diri untuk bicara lagi sama Linda. Jadi, dia mencari bahan pembicaraan terlebih dahulu. Agar tidak seperti orang yang sedang marahan. Karena hanya saling diam saja satu sama lain.


"Kamu kemarin sabtu ke mana Lin?" tanya pak Rudi, yang pura-pura tidak tahu.


Linda menoleh ke arah pak Rudi. Tapi dengan cepat, dia menundukkan kepalanya. Dia tahu jika, pak Rudi ingin membahas tentang penolakannya kemarin.


"Kamu ke resort kan?"


Resort adalah jenis penginapan yang dibangun di daerah yang memiliki pemandangan alam yang indah. Seperti daerah pantai atau pegunungan, dengan fasilitas yang mengedepankan unsur rekreasi. Berupa sarana olahraga, hiburan, taman bermain anak ataupun tempat belanja. Dan tentunya dengan wisata kulinernya, yang enak-enak dan banyak pilihan juga.


"Emhhh... itu, emhhh... ya."


Dengan susah payah, Linda menjawab pertanyaan dari Pak Rudi. Dia juga langsung menundukkan kepalanya, dengan takut-takut.


Linda tidak tahu, apa yang akan ditanyakan lagi oleh managernya itu.


"Apa pak Komarudin bisa memuaskan Kamu?" tanya pak Rudi lagi, tanpa melihat ke arah Linda.


Linda melihat sekilas ke arah pak Rudi. Tapi dia tidak tahu, apa yang harus dia katakan sebagai jawaban atas pertanyaan tadi.


"Aku juga bisa Lin. Mungkin, Aku bisa lebih memuaskan Kamu, dibandingkan dengan pak Komarudin. Apa Kamu tidak percaya dengan apa yang Aku katakan?"


"Bagaimana kalau nanti kita buktikan? Setelah kita selesai makan."

__ADS_1


Linda tidak menjawab pertanyaan tersebut. Dia tetap diam saja, dan juga tidak menoleh ke arah pak Rudi.


Taksi berhenti di sebuah rumah makan, yang terlihat elegan. Ada lampu warna-warni yang menghiasi pohon-pohon, yang ada di sekitar restoran dengan konsep terbuka itu.


Begitu keluar dari dalam taksi, pemandangan rumah makan pada malam hari, tampak berbeda. Apalagi, tata letak dan penempatan meja kursi yang juga tidak sama seperti rumah makan pada umumnya.


Rumah makan itu bukan hanya ada di luar ruangan. Tapi juga ada di dalam ruangan. Bahkan, ada juga di lantai atas, yang terbuka tanpa atap.


Jadi, kursi dan meja yang ada di lantai atas, bisa melihat langsung bagaimana keadaan langit Jakarta pada malam hari. Hal yang tidak biasa, dan jarang diperhatikan oleh orang-orang Jakarta.


Di lantai atas, di lengkapi juga dengan lampu yang berwarna-warni, Supaya terlihat meriah dan tampak lebih romantis.


"Kita ke atas saja Lin. Jadi, kita bisa melihat langit Jakarta pada malam hari. Bisa juga melihat ke arah jalan, atau perkampungan yang ada di kejauhan sana! Pasti sangat indah."


Pak Rudi, mengandeng tangan Linda, dan mengajaknya masuk ke dalam rumah makan tersebut.


Setelah berbincang dengan salah satu pelayan, pak Rudi membawa Linda ke lantai atas. Di mana mereka berdua bisa melihat pemandangan yang lebih indah lagi.


Meskipun sebenarnya, tetap saja tidak sama jika di banding dengan suasana langit malam di pedesaan.


Tangan pak Rudi, terus membawa Linda untuk mencari tempat duduk yang ada di sebelah pinggir. Dia tidak ingin ada yang menggangu karena hilir mudik para pelayan atau sesama pengunjung yang lain.


Dengan perlahan, pak Rudi menarik satu kursi untuk diduduki Linda. Baru setelah Linda duduk, pak Rudi menarik satu kursi lagi untuk dirinya sendiri.


Ctik!


Pak Rudi menjentikkan jarinya, untuk memanggil salah satu pelayan yang ada.


Dia memintaku buku menu, dan menyuruh Linda untuk memilih makanan yang dia inginkan.


"Pilih saja Lin. Di sini, semua makanan enak-enak. Di jamin pokoknya. Karena Aku sudah beberapa kali ke sini. Dulu, sewaktu perusahaan masih ada di Jakarta ini."


Linda menurut. Dia milih-milih menu makanan yang ternyata ada banyak. Dia jadi bingung, harus memilih yang mana.


Karena menurut Linda, dia pun tidak tahu, apa yang harus dia pilih. Apalagi, dia juga tidak tahu, pak Rudi menyukai makanan yang mana dari beberapa menu tersebut.


"Bapak saja yang milih. Linda ikut aja," kata Linda, memasrahkan pesanan makanan yang akan mereka makan pada pak Rudi.


"Yakin, Aku yang pilih? Kamu doyan semua makanan kan? Gak ada alergi terhadap suatu jenis makanan?"

__ADS_1


Linda mengangguk mengiyakan. Dia tidak ingin membuat pak Rudi kembali bertanya lagi.


"Pak, Saya mau ke kamar kecil dulu."


"Oh, apa perlu Aku antar?" tanya pak Rudi memberikan tawaran.


"Terima kasih. Tidak perlu Pak. Bapak lanjut aja untuk memesan makanan."


"Baiklah, hati-hati. Tanya pada pelayanan, di mana letak kamar kecilnya!" pak Rudi memberikan pesan pada Linda, sebelum Linda melangkahkan kakinya pergi dari tempatnya sekarang ini.


*****


Di dalam kamar kecil, Linda mengirim pesan pesan terlebih dahulu pada suaminya. Dia bertanya tentang keadaan Erli, dan juga suaminya sendiri, yaitu Ferry.


Setelah selesai mengirim pesan pada suaminya, dia juga mengirim pesan pada pak Komarudin.


Karena beberapa pesan dari pak Komarudin tadi, belum sempat dia balas. Apalagi, handphone miliknya dalam mode silent.


Jadi, tidak akan terdengar suara, jika ada pesan ataupun panggilan telpon yang masuk.


Setelah selesai, Linda buru-buru melaksanakan kegiatannya yang tadi ingin dia lakukan di kamar kecil.


Dan beberapa saat kemudian, baru dia keluar, kemudian segera kembali ke tempatnya duduk. Di mana pak Rudi sedang menunggu dirinya.


"Maaf pak, kamar kecil antri," ucap Linda, yang sedikit tidak enak hati. Karena dia ke kamar kecil dalam waktu yang cukup lama.


Hampir setengah jam lebih, dia pergi ke kamar kecil tadi.


Pak Rudi hanya mengangguk sambil tersenyum saja. Kemudian mempersilakan Linda, untuk segera makan makanan yang sudah tersedia di meja.


Linda kaget saat melihat menu yang tersedia di atas meja.


Ada seporsi sate kambing, bebek Peking dan ada juga ikan gurame goreng.


^^^'Ini bagaimana cara menghabiskan makanan sebanyak ini?' batin Linda, yang merasa tidak yakin jika, akan mampu menghabiskan makanan sebanyak ini.^^^


"Kenapa Lin?" tanya pak Rudi, yang melihat Linda berdiam setelah melihat menu makanan yang ada di atas meja.


"Kamu mau sate kan? Biar nanti kuat!" kata pak Rudi lagi, menyambung pertanyaannya yang tadi belum di jawab oleh Linda.

__ADS_1


__ADS_2