
Semua orang ingin mempunyai kehidupan yang sempurna, namun kesempurnaan hanyalah pandangan mata manusia umumnya. Tidak dengan apa yang terjadi dalam kehidupan sesungguhnya, karena tidak ada yang sempurna selain Sang Pencipta alam semesta ini.
Kebahagiaan terus dicari, kadang kala membuat manusia lupa. Jika kebahagiaan bisa mereka ciptakan sendiri, dengan tetap bersyukur pada penciptaNya. Bukan dengan sebuah keluhan, yang tidak bisa merubah apa-apa.
Hal inilah yang saat ini dijalani oleh Linda. Sebab, setelah dia memutuskan menerima Romi untuk menjadi suaminya, kemudian dia ikut ke kota besar, dan meninggalkan pekerjaannya, tentu saja banyak sekali perubahan yang harus dia alami.
Meskipun demikian, dia tetap merasa bahagia, dengan menjadi istri dari seorang Romi. Yang hanya bekerja sebagai pemilik bengkel las saja.
Dia menjalani hari-harinya, dengan merawat anaknya, Erli dan juga Romi. Dengan penuh semangat dan rasa syukur.
Linda juga masih melatih otot-otot kakinya, supaya bisa cepat sembuh, kemudian pen yang ada di dalamnya itu bisa dilepas. Karena jika masih menggunakan pen di kakinya, kemungkinan besar dia juga dilarang untuk bisa hamil.
Apalagi, pen yang dipasang pada kakinya tidak hanya pada satu tempat, tapi ada dua tempat, untuk satu kaki.
Meskipun sebenarnya tidak apa-apa menurut dokter, tapi Linda tetap merasa khawatir. Jika kehamilannya nanti bisa terpengaruh, karena dia tidak bisa bergerak dengan bebas. Dengan adanya pen yang masih terpasang pada kakinya.
Hal ini sudah dibicarakan oleh Linda pada Romi. Untungnya, Romi tidak mempermasalahkan hal tersebut. Sebab, kegiatan Linda memang jauh lebih penting.
Jika Linda sudah sehat, kapanpun bisa hamil. Jadi tidak perlu repot-repot memikirkan banyak hal, yang masih bisa dilakukan untuk waktu yang berikutnya.
Linda merasa bersyukur, karena suaminya itu tidak menuntutnya untuk harus segera hamil.
Romi justru memintanya untuk tidak banyak berpikir tentang hal tersebut. Karena itu bisa membuat Linda stress sendiri.
"Tidak usah memikirkan banyak hal Dek, apalagi soal anak. Mas gak minta Kamu untuk hamil sekarang juga. Semua sudah ditentukan oleh Allah. Jadi, kita hanya jalaninya saja. Jika memang hamil itu akan membahayakan, lebih baik kita tunda. Nantinya juga ada waktu yang pas, dan itu jauh lebih baik. Daripada harus dipaksakan dan malah mengakibatkan hal yang tidak baik. Jadi, Kamu tidak usah khawatir lagi ya!"
Linda mengetatkan pelukannya pada Romi, di saat suaminya itu menenangkan dirinya yang sedang merasa khawatir.
Dalam hati Linda, dia memang merasakan rasa was-was, karena takutnya, Romi akan berpikir bahwa, dia tidak mau hamil karena akan kerepotan lagi. Apalagi dia sudah memiliki Erli sebagai anak.
Linda memang sedang dalam keadaan sensitif, sehingga banyak memikirkan segala sesuatu yang sebenarnya tidak perlu dipikirkan.
Mungkin saja, Linda hanya tidak mau dianggap Aji mumpung. Dengan menumpang hidup bersama Romi.
Banyak sekali orang-orang yang akan membicarakan hal yang sama seperti yang Linda alami, karena biasanya juga terjadi pada berita-berita di sosial media.
Untungnya, Romi berhasil meyakinkan Linda. Supaya tidak memikirkan hal tersebut lagi.
__ADS_1
Kini Romi memeluk Linda, memberikan rasa nyaman pada istrinya itu. Dia tidak mau jika Linda makan mengalami stress, sehingga rasa trauma dan rasa takut akan dialami oleh linda lagi. Dan itu akan membahayakan kejiwaan Linda sendiri.
*****
Seminggu kemudian, Romi membelikan sepeda motor untuk Linda agar bisa antar jemput early sendiri ke sekolah.
Sebenarnya, Linda merasa tidak enak hati, karena ini membuat suaminya harus repot mengeluarkan banyak uang. Karena membeli sepeda motor baru untuk dirinya.
"Gak apa-apa Dek. Ini bina motornya model matic, jadi lebih mudah digunakan. Karena kondisi kakimu yang belum baik-baik saja."
"Terima kasih Mas, udah begitu perhatian pada Linda dan Erli."
Erli, yang memang sudah pulang sekolah juga berlari menyambut ayahnya, dengan mengucapkan terima kasih. Karena dia merasa sangat senang mendapati motor baru untuk mamanya.
"Yah, Ayah! Ini motor barunya buat Mama? buat Erli juga?" tanya Erli dengan antusias.
"Iya dong... biar Mama bisa antar jemput Erli ke sekolah. Jadi, gak usah capek-capek jalan kaki atau cari tukang ojek dulu, ya kan?"
Erli mengangguk cepat, mengiyakan perkataan dan pertanyaan yang diajukan oleh ayah sambungnya itu.
Romi mengacak-ngacak rambut anaknya itu dengan gemas.
Sayangnya, kebahagiaan mereka bertiga tidak berlangsung lama, disaat romi mendapat telepon dari Pak haji, yang memberikan kabar bahwa, keponakannya atau mantan istrinya Romi, sudah pulang ke tanah air. Dan akan di rawat di rumah orang tuanya sendiri.
Hal ini sebenarnya bukan urusan Romi lagi, tapi Pak haji mengingatkan padanya, untuk berhati-hati sebab keponakannya itu sedang mengalami amnesia. Takutnya, mantan istrinya itu hanya ingat pada saat dia masih menjadi istrinya Romi, sehingga membuat kehidupan keluarga baru romi akan terganggu.
Itulah sebabnya, Pak haji memberikan kabar padanya. Untuk meminta pada Romi supaya berhati-hati saja.
..."Maaf ya nak Romi. Bapak bukan bermaksud apa-apa. Tapi hanya memberikan peringatan sama Kamu, supaya berhati-hati. Siapa tahu, disaat dia sudah membaik tiba-tiba datang ke rumah dan mencari nak Romi. Dengan mengaku-ngaku sebagai istrinya yang dulu. Ya... pokoknya nak Romi hati-hati. Dan jangan lupa, kasih tahu istrimu juga ya Nak Romi!" ...
..."Oh ya Pak haji. Terima kasih atas kabar ini. Saya akan bicara sama istri saya, agar tidak mempercayai omongan wanita manapun, yang tiba-tiba datang ke rumah mencari Saya. Apalagi jika wanita tersebut mengaku-ngaku sebagai istri saya juga."...
..."Ya sudah kalau begitu nak Romi. Maaf ya sekali lagi." ...
..."Iya Pak haji. Terima kasih sudah memberikan kabar ini. ...
..."Iya sama-sama. Assalamualaikum..."...
__ADS_1
..."Waallaikumsalam..."...
Klik!
Romi menghela nafas panjang, melihat ke arah Linda setelah menutup panggilan telpon dari Pak haji.
"Dek, Kamu percaya sama Mas kan?"
Linda bingung, mendapatkan pertanyaan seperti itu dari suaminya.
"Ada apa Mas? Kenapa tiba-tiba mas Romi bertanya seperti itu?" tanya Linda balik.
Akhirnya, Romi menceritakan tentang kabar yang disampaikan oleh Pak haji barusan. Dia tidak mau jika, istrinya itu akan berpikir yang macam-macam, seandainya apa yang ditakutkan oleh Pak haji kejadian.
Linda memejamkan matanya sebentar, setelah selesai mendengarkan berita dari suaminya.
Erli, yang tidak tahu apa-apa dan tidak mengerti tentang pembicaraan mereka berdua, hanya melihat keduanya secara berganti.
"Mas. Jika dia dalam keadaan amnesia, pasti pihak keluarganya juga akan menjaganya. Dan tidak membiarkan dia pergi sendirian ke mana-mana."
Romi menganggukkan kepalanya, paham dengan maksud perkataan isterinya tersebut.
Tapi dia juga tidak merasa yakin, jika pihak keluarga mantan istrinya, akan membiarkan anaknya itu berteriak-teriak jika keinginannya tidak dikabulkan.
Mungkin karena itu juga, Pak haji merasa takut, seandainya keponakannya itu di bawa pihak keluarganya ke rumah Romi, agar lebih tenang.
Pak haji tidak mau jika, istrinya Romi yang sekarang, yaitu Linda, akan salah paham dengan keadaan mereka nantinya.
"Pak haji tanya memperingatkan saja, supaya kita itu tidak berantem atau salah paham. Seandainya mantan istrinya mas Romi itu datang ke sini, ya kan?"
Romi mengangguk cepat, mengiyakan perkataan yang diucapkan oleh istrinya. Sebab, memang seperti itulah pemikiran yang ditakutkan oleh Pak haji, dengan situasi yang seperti ini.
Tapi ternyata, Linda cukup mengerti. Apa kesulitan yang akan dihadapi oleh suaminya dan juga dirinya.
Karena menghadapi seseorang yang sedang mengalami amnesia, tentunya tidak sama dengan menghadapi orang yang dalam keadaan normal.
Karena jika pendapatan tekanan sedikit saja, orang yang mengalami amnesia itu akan menjerit-jerit, stres dengan apa yang tidak diketahui. Karena alam bawah sadarnya, tidak sama seperti yang dia jalani pada kenyataannya juga.
__ADS_1