Tante Melinda

Tante Melinda
Di Sebuah Ruangan


__ADS_3

Meskipun dalam keadaan bingung dengan keadaan tempat yang asing, Linda tetap berusaha untuk bersikap normal dan sewajarnya.


Dia tidak mau terkesan norak, karena baru pertama kali, datang ke tempat seperti ini.


"Kamu sudah pernah datang ke tempat yang seperti ini Linda?" tanya pak Komarudin, saat melihat Linda yang tidak ada rasa gugup.


Linda dengan cepat mengelengkan kepalanya, kemudian menjawab pertanyaan tersebut. "Belum pernah Pak."


Karena saat ini, memang untuk pertama kalinya Linda memasuki tempat wisata, yang hanya di kunjungi oleh orang-orang dewasa saja.


"Oh..."


Hanya itu saja, tanggapan yang diberikan oleh pak Komarudin, atas jawaban Linda tadi.


Sedari tadi, Linda tidak melihat adanya anak-anak, atau keluarga yang lengkap. Untuk datang dan menikmati makanan atau pemandangan yang disuguhkan.


Di tempat ini, ada danau buatan dilengkapi dengan perahu-perahu kecil. Yang bisa digunakan untuk menikmati keindahan danau tersebut.


Dan perahu-perahu itu memang dirancang khusus untuk dua orang saja. Dengan bentuk yang berbeda-beda.


Ada yang berbentuk bebek, love, bunga dan lain-lainnya.


Selain itu, ada restoran atau kafe-kafe yang didesain seperti sebuah taman, yang dibentuk juga menjadi bangunan gazebo-gazebo. Yang bisa digunakan untuk pengunjung yang datang, dan menginginkan sebuah privasi bersama dengan teman atau kekasihnya.


Selain itu, di beberapa tempat di sebelah danau, ada bangunan-bangunan rumah yang kecil. Dengan urutan nomer, sesuai dengan kunci yang bisa di ambil di resepsionis.


Bangunan-bangunan rumah tersebut, juga mempunyai jarak yang cukup. Dan tidak berjejer rapi, sama seperti sebuah kompleks perumahan atau kontrakan.


"Kita ke rumah nomor lima Lin," ajak pak Komarudin, yang membuat Linda tersadar dari lamunan. Karena memperhatikan kondisi dan keadaan sekelilingnya.


Linda hanya mengangguk saja, kemudian mengikuti ke mana langkah pak Komarudin membawanya.


Meskipun ada rasa was-was dan rasa yang aneh di dalam hatinya, tapi Linda mencoba untuk mengabaikan perasaannya sendiri.


Dia juga merasa penasaran, dengan apa yang akan terjadi nanti.


Apakah akan sama seperti yang dia bayangkan sebelumnya. Atau dia hanya akan menemukan pengalaman yang sama, seperti yang biasa dia lakukan bersama pak Komarudin. Jika sedang berada di pabrik.


Klek!


Pintu terbuka, begitu kunci diputar oleh pak Komarudin.


"Ayok Lin!"


Pak Komarudin masuk terlebih dahulu, baru kemudian disusul oleh Linda di belakangnya.

__ADS_1


Sekarang, keduanya sudah ada di dalam. Dan pak Komarudin, kembali menutup pintu ruangan tersebut.


Bangunan rumah kecil yang tadi di lihat Linda, ternyata sebuah ruangan yang terdiri dari ruangan besar, yang ada TV dengan sofa panjang bersama dengan mejanya.


Di sebelahnya, ada tempat tidur yang berukuran besar. Lengkap dengan bantal guling dan juga selimutnya juga.


Di sisi lain, di samping tempat tidur, ada ruangan lagi. Dan Linda sangat yakin jika, itu adalah kamar mandi.


Apa yang Linda lihat ini, mirip dengan sebuah kamar hotel. Yang biasanya ada di dalam acara televisi-televisi.


"Duduk Lin. Pesanan kita akan segera di antar. Jadi, Kamu tenang saja ya!"


Linda kembali menganggukkan kepalanya, mengiyakan perkataan yang diucapkan oleh pak Komarudin.


Ting!


Handphone milik pak Komarudin berdenting. Tanda jika ada notifikasi pesan yang masuk.


"Sebentar ya!"


Pak Komarudin membuka pintu, dan keluar dari ruangan tersebut. Sedangkan Linda, masih duduk di sofa yang tersedia.


Sambil menunggu kedatangan pak Komarudin lagi, Linda mencoba untuk menyalakan televisi yang berbentuk datar.


Setelah beberapa saat kemudian, pak Komarudin sudah kembali masuk. Dia juga sudah tidak melakukan panggilan telpon, atau sekedar melihat layar handphonenya.


Bahkan, handphone tersebut sudah tidak ada di tangan Pak Komarudin. Tapi sudah di simpan di dalam kantong celananya.


Sepertinya, pak Komarudin tidak ingin di ganggu waktunya untuk saat ini. Sehingga dia menonaktifkan handphone miliknya.


Apalagi, handphone tersebut dikeluarkan dan di taruh di atas meja. Dan pak Komarudin, menyusul Linda yang sedang duduk di sofa.


"Aku tidak mau di ganggu dengan bunyi telpon atau pesan yang masuk. Jadi, kira bisa menikmati waktu ini secara intens."


Tapi pembicaraan mereka berdua terhenti. Karena ada ketukan pintu dari luar.


Tok tok tok!


Pak Komarudin berdiri, kemudian berjalan menuju ke arah pintu. Dia membuka pintu tersebut, dan terlihatlah seorang laki-laki muda, yang menjadi pelayan di tempat tersebut.


"Ini pesanan Anda Pak!"


"Oh ya, terima kasih."


Pak Komarudin menerima sebuah kereta makan, yang terisi penuh.

__ADS_1


Setelah memberikan kereta makan dan menerima tips, pelayan tersebut meninggalkan tempat, tanpa masuk ke dalam ruangan.


Dan pak Komarudin, mendorong sendiri kereta makan tersebut. Untuk bisa dinikmati bersama dengan Linda. Tanpa harus terganggu dengan pengunjung yang lain.


"Banyak sekali Pak pesan makanannya?" tanya Linda, yang melihat keberadaan kereta makan tersebut.


Selain makanan ringan, yang biasa ada di mini market, ada makanan beratnya juga.


Seperti nasi yang ada di bakul dan lauk pauknya yang bermacam-macam jenis. Karena ada ayam goreng, sate kambing, udang yang besar-besar, dan ada juga tahu tempe.


Ada juga sambel dan lalapan yang tersedia di kereta makan tersebut.


"Kita gak perlu keluar untuk cari makan nanti. Jadi, Aku pesan sekalian tadi," jawab pak Komarudin, yang menata piring dan gelas untuk mereka berdua.


"Kita sarapan dulu ya! Aku tahu, sarapan ini udah terlambat. Tapi tak apa, yang penting kita ada tenaga untuk melakukan sesuatu nanti."


Pak Komarudin mengatakan apa yang dia inginkan, sambil tersenyum melihat ke arah Linda.


Dengan tersenyum canggung, Linda hanya mengangguk saja kemudian menerima piring yang sudah berisi nasi.


Pak Komarudin juga mengambilkan lauk untuk Linda. "Mau yang mana?" tanya Pak Komarudin, meminta pada Linda untuk memilih lauk yang dia suka.


"Udang itu saja Pak!"


Linda merasa sangat senang, karena dilayani oleh pak Komarudin. Hal yang hanya bisa dia baca di novel-novel, sekarang ini alami sendiri.


'Apakah pak Komarudin sama seperti tokoh-tokoh di novel. Yang sedang jatuh cinta pada tokoh wanita utama?'


Begitulah kira-kira pemikiran yang ada pada Linda saat ini.


Merasakan bagaimana rasanya dilayani oleh seorang laki-laki dewasa. Membuatnya merasa dimanjakan.


"Cukup Pak!"


Pak Komarudin tersenyum, mendengar suara Linda yang terdengar lembut di telinganya. "Mau lalapan dan sambelnya juga?" tanya pak Komarudin, yang sedang menuangkan nasi ke dalam piringnya sendiri.


"Eh, gak usah sambel ya! Nanti harus gosok gigi lagi sebelum kita..."


Pak Komarudin mengantungkan kalimatnya, yang membuat Linda memicingkan mata, melihat ke arah pak Komarudin yang tersenyum penuh arti.


"Ya sudah kalau mau sambel. Tapi Kamu harus gosok gigi lagi nanti, sehabis makan!"


"Oh ya, alat-alat mandi, ada kok di kamar mandi. Baru semua itu!" kata pak Komarudin memberitahu pada Linda.


Dia juga menunjuk ke arah kamar mandi, yang memang ada di sebelah tempat tidur.

__ADS_1


__ADS_2